Kamis, 24 Maret 2022

Sementara Gawai Saya Tahan



Ada kurang lebih dua puluh tujuh siswa saya di kelas mempunyai gawai. Lebih hebatnya lagi, mereka memiliki secara pribadi. Hal ini tidak salah, sebab kita tahu sekolah di erapandemi media gawai diperlukan. Kemudian di kelas VI ini mereka memerlukan sebagai media untuk ujian try out CBT mandiri.

Ujian itu sengaja saya adakan dengan tujuan sebagai latihan, seperti di tulisan saya sebelumnya, bahwa adanya ujian try out CBT mandiri yang harusnya menggunakan computer tapi kami menggunakan gawai. Setiap hari sebagai wali kelas saya juga mengevaluasi minimal dari hasil try outnya.

Hari ini tepat empat hari berjalan, tetapi terlihat sekali di server bahwa mereka hanya mengerjakan hanya tiga puluh menit sudah selesai. Sepertinya ada yang kurang beres, ternyata betul. Waktu setiap mapel enam puluh menit sampai tujuh puluh menit bahkan di mapel tertentu kami membuat sembilan puluh menit. Ajaib mereka hanya tiga puluh menit sudah rampung.

Ternyata, sisa waktu yang ada digunakan untuk membuka aplikasi lain. Seperti chatingan dan games. Sontak saya terkejut, menegur pastinya. Tapi kali ini saya lebih tegas untuk mengambil kebijakan, yakni semua gawai setelah ujian saya instruksikan saya bawa pulang, tidak diperkenankan mereka membawa dan bermain gawai selama ujian berlangsung selama hampir seminggu. Saya serahkan di hari setelah ujian selesai.

Sebagian besar dari mereka memiliki wajah tak rela jika gawainya harus saya bawa, cengar-cengir terlihat ada yang kurang diaktivitasnya bahkan ada dari mereka yang terlihat sedih tak terkira, menyimpan kedongkolanya. Namun, hal ini tetap saya lakukan, dengan tujuan tidak lain dan tidak bukan, agar mereka tahu akan tanggung jawabnya, lebih fokus dan konsentrasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Sebelumnya saya juga permisi dan mohon maaf kepada semua wali murid dan saya kira, saya mendapatkan teguran, namun ternyata hampir semua setuju dan  mengapresiasi kebijakan yang saya buat. Kepala Madrasah pun juga memberikan dukungannya. Sebab banyak keluhan, jika anaknya ada yang kecanduan gawai terutama games, lupa makan, sampai harus sering cekcok dengan ibunya, gegara sepele diingatkan untuk istirahat dan makan. Kemudian sering bermain sosial media di aplikasi tertentu, jika dimintai tolong tidak bergegas segera dilaksanakan.

Itulah gawai, jika kita tidak pintar menyaring informasi dampak negatifnya juga sangat banyak. Tanpa menutup kemungkinan juga dampak positifnya juga ada. Semoga kebijakan dan keputusan ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua. Minimal belajar mengurangi dan menyembuhkan kecanduang games yang membuat kita lupa waktu dan tanggung jawab kita. Perlu diingat dari dua puluh tujuh anak tidak semua saya bawa, ada tujuh anak yang harus saya relakan dibawa sendiri sebab gawainya bergabung dengan orang tuanya, artinya satu gawai di pakai oleh lebih dari satu orang, dan saya sangat memaklumi hal tersebut.

Mari, terus berusaha semaksimal mungkin untuk terus mengukir prestasi dengan belajar dan belajat. Jangan disalahgunkann gawai. Gunakan dengan bijak dan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...