Minggu, 17 April 2022

Terbawa Suasana




Lelah dengan ketidak seriusan mereka. Seenaknya sendiri tanpa mengetahui perjuangan dibaliknya. Seandainya saya tidak mempersiapkan segalanya. Betapa berantakannya mereka. Tanpa teks, tanpa bahan hanya bawa diri tanpa persiapan.

Betul, perjuangan itu tidak untuk dipamerkan. Tetapi menghargai, menghormati dengan keseriusan dalam belajar harusnya dikedepankan. Sepertinya, motivasi yang saya berikan sudah banyak. Saya juga tidak perlu angka sebagai nilai untuk akhir dari keberhasilan. Namun, keseriusan, kesungguhan dalam usaha untuk menjadi terbaik mohon ditunjukkan. Jangan hanya ledha ledhe teks hilang, ujian susulan kalau belum ditagih tidak dilakukan. Mereka lupa, bahwa sekolah tidak cukup hanya untuk itu. Keberkahan ilmu salah satunya juga dari guru. Tetapi mereka lupa atau pura-pura tidak faham, dianggap angin lalu seperti radio rusak. Reward juga tidak berarti.

Pukulan bagi saya sendiri, sudahkan segala peristiwa untuk instrospeksi? Tentu saja setiap langkah yang saya lakukan harus ada instrospeksi, koreksi dan evaluasi. Bahkan di luar jam yang seharusnya tetap harus dijalankan. Kalau tidak dikoreksi, evaluasi ngapain saya harus repot-repot mendesain segala bentuk soal dan ujian praktek. Dan ngapain saya harus repot-repot membuat penilaian dan rapot. Toh mengarang nilai itu mudah sekali, semua saja di tulis sembilan puluh. Tanpa kita tahu kualitas yang sebenarnya. Pembenahan serta pembenahan sekecil apapun tetap saya lakukan tanpa mereka, dia tahu menahu. Tahunya lulus saja.

Riyadhoh tirakat, sudahkah dilakukan? Tentu saja, perlu diingat juga riyadhoh tirakat itu tidak hanya cukup satu orang, melainkan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Sabar, definisi sabar menahan segalanya. Berkata jauh lebih mudah coba praktek dan jadilah seperti posisiku kali ini. Ketika mempunyai tujuan dan cita-cita demi masa depan untuk lebih baik. Mengapa harus kalian nodai, dengan wajah yang menantang, mengece, meremehkan serta menertawakan.

Sedih, kecewa itulah yang sedang saya rasakan. Tidak pernah sebelumnya perasaan tersebut ada apalagi dengan urusan peserta didik. Namun, kali ini berbeda. Ya sudahlah ambil hikmahnya, semua mungkin salah saya yang belum menjadi guru terbaik mereka. Saya pun juga manusia biasa.

Saya tidak membayangkan bagaimana guru yang hanya berangkat pulang pergi tanpa persiapan. Produk yang dihasilkan nantinya seperti apa? Saya saja yang jungkir balik seperti ini, mendesain melakukan banyak ide ulala masih kecolongan. Ya sudahlah, buat kamu Filza tetaplah semangat. Terus maju, memnag begitu menuju puncak kesuksesan bukan hanya santai-santai terus berjuang. Hapus air mata kekecewaanmu. Waallahu'alam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...