Bijaksana adalah sikap yang semestinya dimiliki setiap orang. Sikap kepemimpinan pun juga tak lepas dari bijaksana. Bijaksana adalah salah satu sifat terpuji, Rasulullah pun juga memberikan tauladannya. Bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah dengan para sahabatnya. Sebab, tidak memungkiri pada zaman tersebut sudah ada perbedaan.
Perbedaan itu suatu hal yang lumrah terjadi disekitar kita, seperti pendapat atau opini. Namun, bagaimana kita bisa mengemas perbedaan-perbedaan tersebut dengan bijaksana, mengambil sisi baiknya. Pertimbangan-pertimbangan atas semua kejadian serta konsep suatu acara harusnya juga di pikirkan, di musyawarahkan agar bisa mencari solusi atau jalan keluar bersama.
Sepertinya tidak etis jika kebijakan yang diambil atas kemauan sendiri. Tanpa kesepakatan bersama. Harus berani memberikan jawaban yang tepat dan sesuai dengan permasalahan. Jangan hanya cari muka, cari aman saja, orang seperti ini biasanya tidak mau diajak maju dan tidak akan bisa menjadi besar.
Pernah mendengar jangan hanya pada di zona nyaman, out of the box, cobalah keluar pada zona nyaman. Mencari aman tidak mau menjadi orang jelek itu juga penting, jaga image juga perlu, tapi kita perlu melihat situasi dan kondisi. Jika menjadi pelayan publik hanya mencari citra yang baik, sesungguhnya kita patut mewaspadai, alasannya. Harusnya kita sadar menjadi manusia tidak akan pernah sempurna.
Mari terus belajar untuk dewasa dan terus belajar bijaksana. Memahami segala sifat dan karakter uniknya manusia. Hal demikian sangat memberikan kita suatu pelajaran, hikmah dalam kehidupan. Jika ingin menjadi besar, cobalah hal baru, wajah baru, konsep baru. Jangan hanya cari aman, bingung membangun image bahwa dirimu bersih dari segala noda dan dosa. Bijaksana berbeda dengan bijaksini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar