Guru, salah satu profesi yang mulia. Kita tahu dengan segala aturan yang berlaku profesi tersebut bisa dijalankan. Dengan adanya prosedur dan beberapa perangkat yang harus dipenuhi. Menjadi guru bukan hal yang mudah, mungkin sebagian orang masih menilai dari materinya. Kita harus ingat betapa mulia, akan jasanya mendidik, mengantarkan anak-anak bangsa untuk menjadi generasi yang lebih baik.
Perlu diketahui, guru bukan hanya datang dan pergi ketika sampai pada tempat ia mengabdi. Namun, menjadi guru yang energik juga harus kita punyai. Kalau guru yang ideal, saya rasa banyak kriteria serta ulasan yang lebih detail akan hal itu dan sudah tidak asing lagi. Nah, bagaimana nih, resep atau guru yang bisa dikatakan enerjik itu?
Enerjik, bukan selalu gerak kesana kemari, lari kesana kemari tanpa tujuan. Enerjik, saya memaknai dengan "cak-cek, sat-set, wat-wet" dengan segala keadaan. Ringan tangan, cepat respon, selalu update, terkini dengan informasi utamanya multitalenta. Guru menjadi guru tari bisa, mentor menyanyi bisa, mc, pidato, puisi biasa, mengaji Quran sohih fasih, sekretaris ok, juru masak ok, juru konsep, juru acara ok. Tapi, ingat jangan hanya pinter menjadi juru komentar. Kalau tidak gerak, maka tidak enerjik. Berarti guru yang hanya bisa memerintah, tanpa bekerja secara langsung itu belum enerjik.
Enerjik, bisa dilihat ketika pembelajaran SBDP (seni budaya dan prakarya) mungkin di kelas bawah, mengenalkan lagu daerah , lagu nasional, banyak praktek menyanyi, menari, mempelajari pola serta gerakan ada di kelas atas. Minimal kita kenalkan dan kita sebagai pengajar harus turun langsung untuk mengajarinya. Kalau benar-benar tidak bisa, sebagai pengajar kita harus, berani belajar terlebih dahulu. Misalnya sebelum mengajar lagu daerah mempersiapkannys, dengan menghafalkan terlebih dahulu. Kalau ada media proyektor dan sound, kita bisa gunakan untuk melafalkan dan bernyanyi bersama. Artinya, jangan malas untuk menjadi guru enerjik dengan performen yang terbaik, tunjukkan bahwa guru seperti kita ini maksimal mengajarnya.
Memang kadang dilema menghampiri ketika kita sudah semangat berjuang menjadi guru enerjik, guru profesinal, guru multitalenta, guru dengan segudang prestasi, ada bentrokan hati baik dari diri sendiri atau teman serta lingkungan dan berkata "jangan capek-capek, toh gajimu tak seberapa". Kalimat itu bisa saja benar, bisa tidak dan itu manusiawi, tapi kita harus segera istighfar, dan kembali ke niat awal. Optimis saja, tugas mulia tidak hanya dunia orientasinya namun akhirat.
So, ayo segera bangun kembali niat dan semangat kita, tunjukkan bahwa kita mampu dan pantas menjadi guru enerjik, kreatif, profesional dan multitalenta. Salam Semangat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar