Pentas seni, kali ini di kelas VI mengeluarkan konsep yang sangat berbeda. Berbeda dalam artian, belum pernah dilakukan di madrasah kami sebelum-sebelumnya, kalimat sederhananya konsep terbaru. Dan saya berserta anak-anak kelas VI, ternyata sangat bisa melakukannya. Betul, tidak mudah, melatih dan perlu latihan berulang-ulang, saya akui itu.
Melatih bukan semata hanya memberi video dan setelah itu selesai. Kelas VI kan sudah besar, sudah mandiri sehingga ada pikiran orang berkata "halah kon belajar dewe", hal ini kurang tepat. Oleh karena itu, konsep utama atau ide memang dari saya sebagai wali kelasnya, sehingga saya pun harus berani terjun, dan bertanggung jawab penuh dan utamanya menunjukkan kami bisa. Alhamdulillah adanya persiapan serta konsep yang matang, saya menciptakan gerakan, pola dalam tarian wonderland dengan sangat mudah dan saya pun bisa melakukannya dengan senang dan ringan.
Konsep tari wonderland saya ambil dari tema lagunya yang dinyanyikan oleh Novia Bachdim dengan mengangkat banyaknya budaya di negeri ini. Lalu, gerakan setiap tarian saya membuat dengan gerakan sederhana, yang mudah di hafalkan, begitu juga dengan pola tariannya saya ciptakan sendiri.
Pada konsep Wonderland ini ada beberapa tarian diantarnya tarian Kalimantan, Sulawesi, Padang, Papua, Bali, Jawa dan kontemporer atau campuran diakhir penampilan. Properti yang dibutuhkan kami siapkan sendiri dan membuat sendiri ada rumbai-rumbai untuk tarian dari Papua. Lalu bendera besar dan bendera kecil, boneka bayi yang dibedong, piring untuk tari piring. Semua bekerja sama dan saling membantu untuk mensukseskan Wonderland ini.
Saya akui ketika latihan banyak sekali, tenaga yang kita butuhkan sebab menari itu sebetulnya seperti olahraga. Sehingga semua pasti akan melelahkan jika tidak diniati dengan baik. Tidak jarang, saya sebagai pelatihnya juga sering berteriak menghitung, menginstruksikan serta memberikan contoh gerakan yang tepat. Karena tari ini sangat variatif, tentu personilnya pun juga banyak, dan itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi terutama ketika pergantian grup.
Kostum yang kami siapkan juga tidak biasa. Semua menggunakan baju adat sesuai tarian yang di tampilkan. Alhamdulillah, siapa sangka, antusias semua penonton, baik dari masyarakat warga sekitar, wali murid ketika wonderland tampil semua mengabadikan, dan berkata ini penampilan yang ditunggu-tunggu, bahkan semua penonton maju ke depan panggung, demi mengabadikan tarian Wonderland dari kelas VI. Bahkan tamu undangan yakni UPT Kecamatan Sumbergempol, mengacungkan jempolnya kepada kami. Salah satu dari beliau berkata "Wonderlandnya sangat bagus, konsepnya sangat bagus dan kompak". "Alhamdulillah terima kasih Ibu", jawab saya
Saya sangat terharu melihatnya, wajah sumringah tanpa tegang sama sekali tidak terlihat dari anak-anak semua menikmati penampilan dan perannya masing-masing. Di opening ada lima anak yang terdiri dari, peran utama di seni bela diri ada Noviansyah, lalu bendera besar ada Maxcellino, Fakhri, Depanu, Fatir. Tari Kalimantan ada tiga anak yakni Marsa, Yumna dan Syufia.
Pada tari Sulawesi ada Hakim, Azki dan Vresil. Kemudian di Papua ada Rizki, Aldo, Ali, Alvino. Tari Bali ada Atina dan Asywa, Jawa ada Mifta. Nah yang bertiga inilah bertugas juga di tari penutup tari kontemporer.
Kemudian ada tim properti ada Sila, Diana, Diani, Bilqis, Naira dan Davin. Semua satu kelas kompak, dan saling support. Bahagia, campur haru menyelimuti setelah mereka selesai tampil. Kemudian mereka mengeluarkan jargonnya "Kami dari kelas VI, angkatan ke tiga, Mi Al Qur'an Jabalkat, Jaya!" . Mungkin ada yang bertanya, mengapa kelas VI harus tampil? Benar, penampilan ini sebagai persembahan dari kelas VI angkatan ke tiga yang akan lulus untuk semua keluarga besar Pondok Pesantren Jabalkat serta adik-adik kelas kami. Penampilan ini juga menggambarkan, betapa cintanya dan peduli generasi muda terhadap budaya-budaya Indonesia.
Di pentas seni kali ini juga masih banyak penampilan lain, ada angklung, tarian daerah lain, senam kreasi, pidato bahasa asing, puisi, serta banyak program plus setiap lembaga di naungan Yayasan Pondok Pesantren Jabalkat. Semoga pentas seni kali ini, memberikan makna yang baik bagi kita semua. Dan mari terus berkarya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar