Musim panen bawang merah. Di desaku kali ini panen raya, bawang merah. Awal bulan Juli kemarin harga masih melangit, tapi belum begitu banyak petani yang panen, masih satu du tempat bisa dihitung jari. Pada waktu itu rata-rata semua petani, menjualnya dengan sistem diborong di sawah langsung. Artinya, petani tidak perlu repot-repot membawa pulang dan mengguntingnya di rumah.
Ukuran tanah mayoritas lima puluh, atau sebutannya dengan sak kedok hampir meraih laba tiga kali lipat. Artinya satu kedok bisa mendapatkan harga melangit dengan minimal tiga puluh juta ke atas. Bahkan jika bawang merahnya sehat dan kualitasnya bagus, merah merona, besar dan bulat itu akan lebih mahal. Satu kedok minimal empat puluh juta ke atas.
Di pertengahan bulan Juli seperti hari-hari ini, tiba-tiba harga menurun dengan drastis. Banyak orang berpendapat hal ini disebabkan kota Brebes telah kebanjiran, sehingga petani di sana terpaksa memanen bawang merahnya meski belum cukup umur, dengan harga murah. Lalu ada yang berpendapat bahwa, bawang merah dari Lombok telah datang memenuhi stok pasar, sehingga barang melimpah.
Akibatnya, panen kali ini biasanya perkilo mencapai tiga puluh lima ribu rupiah berubah dan menurun mencapai lima belas ribu rupiah. Lagi-lagi petani yang panen raya di desaku, harus lebih sabar menghadapi perubahan harga. Kalau melihat kualitas bawang merahnya hampir semuanya petani di sini berhasil, artinya bawang merahnya sehat dan bagus.
Itulah namanya perekonomian terus berputar. Apapun yang telah di dapat harus disyukuri dengan sepenuhnya. Tidak perlu berkeluh kesah kepada sesama manusia, jika belum sesuai harapan, husnudzon atau berprasangka baik saja kepada Allah. Semuanya pasti ada hikmahnya dan pasti ada rizki lainnya. Terima kasih para petani bawang merah di desaku. Saya juga termasuk di dalamnya, sehingga tahu betul proses dan pencapaiannya. Kita semua hebat. Dan salam selalu semangat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar