Perbandingan mental dan karakter generasi ke generasi pasti akan menemukan banyak perbedaan. Kali ini kami mencoba mengamati lalu menuliskan dengan dasar hasil observasi kecil. Mengapa saya katakan observasi kecil, sebab observasi yang kami lakukan hanya melibatkan orang yang tidak banyak lalu berasal dari lingkungan kami berada. Waktu yang kami gunakan juga tidak sampai berbulan-bulan. Kurang lebih dua minggu.
Ada beberapa alasan yang mendasari kami menulis hal ini. Pertama adalah ada peristiwa ketika anak berselisih dengan teman, tapi orang tuanya ikut-ikutan, padahal hanya masalah kecil. Kedua, banyak anak yang hanya berani berpendapat atau tampil ketika dengan orang tuanya saja. Ketiga, gaya hidup anak yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Ternyata, di lapangan kami menemukan permasalahan seperti nomer satu, bisa disebabkan oleh kurangnya kepercayaan orang tua kepada penilaian orang lain kepada anaknya, atau sebaliknya terlalu percaya kepada anaknya. Sebab di rumah dia tergolong anak yang taat, namun sebetulnya kelakuannya diluar sungguh berbeda. Tetapi, orang tua tidak terima jika anaknya dinilai tidak benar. Lalu, kemungkinan ketiga, disebabkan pola asuh nenek kakek, yang mengaggap segala hal yang dilakukan cucu itu benar. Sehingga dia selalu meminta perlindungan orang lain, mana kala ada permasalahan. Banyak orang menganggap hal ini remeh, nanti ketika dewasa jika tanpa treatment yang baik anak seperti ini akan menjadi pribadi yang sangat "megelne, nganyelne serta egois dan sak karepe dewe"
Permasalahan kedua, mental berani untuk berkompetisi, jangan hanya ada ketika di depan orang tua. Menumbuhkan keberanian di setiap lapisan keadaan itu perlu. Artinya kita harus kuat atas nama kita sendiri, mempertanggung jawabkan serta menaruhkan nama kita sendiri. Boleh lemah tapi bukan melulu merasa kalah. Lalu berani membully teman karena Bapaknya juga guru dimana dia disekolahkan. Ini berarti kan kurang baik dari segi mentalnya. Lagi-lagi merasa dilindungi, dan mendapat keuntungan besar.
Lalu permasalahan ke tiga, gaya hidup. Gaya hidup yang mereka tiru adalah di sosial media, yang semuanya apik, motor apik, baju bermerk, ngemall belanja lalu pesan minuman di cafe bermerk dan hits atau nongki tanpa beban. Padahal di rumah, keadaan ekonomi keluarga pas-pasan bahkan dia sendiri belum bekerja. Fenomena seperti ini, sedikit norak menurut saya. Sebab endingnya akan memaksakan demi gengsi yang tidak tahu diri terus diikuti.
Oleh sebab itu, apa solusinya dari tiga masalah tersebut? Salah satunya dekatkan diri kepada keluarga inti terutama Ayah, Ibu, kakak atau adik. Lalu belajarlah mandiri, meskipun berkecukupan, cobalah menghadapi perjuangan. Belajar sulit itu perlu, agar mental kita lebih kuat. Sehingga tidak pernah menjadi pecundang. Hanya berani diawal saja, setelah itu menghilang entah kemana.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar