Sabtu, 01 Oktober 2022

Krisis Moral Tentang Sampah


Fenomena yang terjadi, ternyata krisis moral tidak hanya dilakukan seperti para elit yang memiliki pejabat mentereng yang sekarang menjadi tersangka koruptor. Krisis moral sudah merambah kepada masyarakat yang berada di bawah, yang justru dilakukan bukan karena tidak tahu. Seperti hal sepele tentang sampah.

Sampah pampers dan pembalut meraja lela dipinggir jalan raya besar. Pinggir jalan tersebut yang justru dilalui oleh banyak orang dan merupakan fasilitas umum. Bahkan jalan raya yang dicari oleh oknum pembuang sampah tersebut sengaja dipilih yang sepi rumah, misalnya jalan raya yang sekelilingnya sawah, sungai, jembatan dan pohon-pohon besar. Jika demikian, sampah yang dibuang berceceran di jalan raya, dengan bau menyengat dan sangat mengotori jalan.

Membuang sampah yang seperti itu, bagian dari krisis moral. Pasalnya hal sepele tentang sampah saja, bisa merugikan banyak orang dan sangat tidak terpuji. Coba dipikirkan jika membuang sampah bekas pampers bayi atau pembalut, apa tidak khawatir tentang akibat atau istilah Jawanya "sawan" yang ditimbulkannya. Apalagi di tempat umum.

Pengalaman saya pribadi, melihat di depan mata, pasangan suami istri membawa bayinya, dengan mengendarai sepeda motor keluaran terbaru dengan pakaian yang keren, lalu membawa kresek merah sebanyak tiga kantong, dan tanpa dosa dia melempar kantong tersebut ke sungai. Seketika saya sorot dengan lampu kota, mencoba akan menegur, tapi mereka keburu malu. Sehingga mereka tancap gas sekencang-kencangnya. 

Apa yang harus dilakukan, jika menemukan seperti ini? Pertama, hati nurani serta kepribadian kita harus waras dan sadar jika hal tersebut tercela. Sekarang, jejak digital sangat mudah untuk mengabadikannya. Namun, kita harus berani bertanggung jawab. Sepertinya jika belum viral, atau disebar luaskan oknum tersebut tidak memiliki jera sekalipun denda. Padahal tertera poster, slogan atau himbauan "Yang membuang disini, berarti monyet" kalimat ini sangat dalam maknanya, bagi mereka yang sadar. 

Selain itu, anehnya dan membuat sangat prihatin, jika ada satu kantong di pinggir jalan, mengapa ada yang menirukan. Artinya oknum yang membuang pertama secara tidak langsung mendorong orang lain untuk menirukan. Maka bukan pahala baik yang mengalir, adanya dosa yang makin menumpuk sebab menularkan kebiasaan jelek tersebut. 

Oknum tersebut, kadang-kadang melakukannya sebab tidak memiliki lahan untuk pembuangan. Mencari solusi yang instan, sehingga merugikan, banyak orang bahkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu ayo, mencari solusi yang tepat dan terbaik untuk sampah yang dihasilkan. Saya pribadi sangat miris, jika nantinya ada akibat yang harus diterima baik untuk bayinya atau orang tuanya yang melakukan hal demikian. Lewat tulisan ini minimal kita tahu dan belajar, lalu jangan pernah melakukannya.

Selain mengotori fasilitas umum, hal tersebut merusak lingkungan. Lingkungan yang bersih, juga menunjang kesehatan kita. Jika nanti bencana datang, disalahkan Tuhan. Padahal itu akibat perbuatan manusia itu sendiri. Mari lebih bijaksana dan sadar akan cinta lingkungan. 

Salam Semangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...