Adrenalin sebetulnya adalah suatu hormon yang membantu tubuh untuk menghadapi reaksi atau kejadian sesuatu yang menegangkan. Nah, dari hormon tersebut ketika ada rasa takut, resah, tidak percaya diri, lalu rasa betul atau salah akan muncul di benak ketika menulis. Perasaan itu muncul dan menguji kembali. Perasaan yang naik turun ketika menulis, secara tidak langsung juga akan mempengaruhi. Terlepas dari konteks yang ditulis.
Mood dalam menulis juga sangat perlu dibangun. Pada setiap orang mood yang dihadapi berbeda, serta solusinya pun beragam. Dianalogikan bahwa ketika jatuh cinta pertama kali pada seseorang pasti bertemu berbunga-bunga dan mendebarkan. Namun, akan berbeda, jika cinta sudah tumbuh kepada rasa sayang yang mendalam. Bagi orang tersebut, pasti mencari bagaimana merawat rasa sayang tersebut dan agar tetap memiliki rasa perasaan dan cinta seperti pertama kalinya.
Menulis juga demikian, perasaan yang bermacam-macam yang dihadapi juga luar biasa. Baik dari diri sendiri atau dari orang lain. Jika tulisan yang sedikit yang membaca perasaan atau benak berkata "tulisanku sepertinya tidak manfaat atau tidak penting" lalu jika tulisan yang membaca banyak "ternyata, keren ya tulisan ini" tapi keesokannya tidak menulis, hal ini sangat disayangkan.
Demikian rumitnya perasaan kita hadapi, hendaknya dihempas jauh. Kadang ada perasaan "aku adalah orang begini" menuntut untuk ideal tapi tak kunjung menulis. Letakkan dan jauhkan rasa "aku" langsung saja menulis. Perkaya pengetahuan dengan membaca pilih topik yang benar untuk menulis.
Jika menulis masih di tahap tentang pengalaman, bagi saya tidak masalah. Tetapi, lambat laun akan meningkat kemampuan menulis tersebut. Jika belum sampai di tahap lebih tinggi, jangan hanya berpangku tangan. Bangun semangat dan lakukan kegiatan yang positif agar menambah wawasan yang lebih luas. Mari terus hadapi adrenalin tantangan dalam menulis dengan melakukan menulis yang tiada henti.
Salam semangat menulis
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar