Menjelang hari guru di tanggal 25 November, saya sedikit bercerita suatu malam saya didatangi salah satu santri di Madrasah. Dia memang aktif cukup berprestasi di Madrasah dan kerap mewakili beberapa ajang kompetisi. Sebut saja nama santri tersebut dengan samaran Zubaidah.
Ketika selesai berjamaah sholat Isya' dia duduk di serambi masjid, sengaja menunggu salah satu Ustadzahnya. Setelah saya keluar tiba-tiba dia sungkem dan berkata "Ustdzah, mohon waktunya sebentar boleh?"
Saya pun menjawab "Monggo, Mbak? Ada masalah?" Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, sambil berkata "Ustadzah, apakah betul suatu keharusan ketika Hari Guru memberikan kado kepada salah satu guru disini?" Dari pertanyaan dia, rasanya serasa tertampar, bahkan sebelumnya tidak ada anjuran hal demikian. Tradisi sebelumnya juga tidak ada kado-kadoan.
Zubaidah mulai menceritakan dan membeberkan alasannya salah satunya ketika dia memberi kado kepada guru yang dianggapnya "paling", dia merasa mengurangi sebuah kemanfaatan keilmuannya. Sebab di Madrasah, guru tidak hanya satu dalam membimbingnya. Zubaidah bercerita bahwa ketika satu guru mendapat kado, maka menurut dia semuanya juga mendapatkan kado. Namun, dia menyadari hal tersebut tidak mungkin sebab tidak mampu dam takut membebani orang tuanya. Zubaidah ini memang seorang santri yang menurut umur masih MTs, namun pemikiran sangat kritis.
Ketika menemukan cerita seorang santri atau siswa yang demikian, saya harus berfikir dan bijaksana untuk menjawab serta mencoba memberikan pengertian dan memahamkan dia. Memang, sejatinya Hari Guru Nasional bukan identik dengan kado untuk guru. Kado atau bingkisan adalah sebatas simbolik rasa terima kasih kepada guru. Tetapi, yang perlu diingat setiap guru saya yakin bahwa hal demikian bukan suatu keharusan. Bahkan sewaktu saya di Malang, ketika salah satu mendapat bingkisan dari wali murid, ada SOP untuk dikumpulkan lalu akhir tahun akan dilelang. Mungkin salah satu tujuannya, adalah untuk keadilan dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Ketika saya menulis hal demikian bukan berarti fanatik untuk menerima atau bahkan menolak mentah-mentah pemberian. Hanya saya tidak ingin santri, siswa atau peserta didik terbebani dan menyalah artikan Hari Guru Nasional identik dengan kado kepada guru, kemudian imbasnya ketika di kelas seenaknya berbuat kepada guru bahkan tidak peduli jika ditegur. Sebab mereka bisa berpikiran "Bu guruku, sudah diberi banyak kado dariku, pasti bu guruku tidak berani menegurku". Ini adalah konsep yang salah.
Kemudian menjadi guru, jangan sampai mengharapkan kado apalagi mengharuskan siswanya untuk membawa kado. Hal demikian, menurut saya menurunkan marwah sebagai pendidik. Lalu bagaimana menyikapinya? Jika Hari Guru Nasional memberikan kado hanya simbolik, isinya pun bisa dibagi di kelas atau untuk inventaris lembaga. Memberikan pengertian makna terdalam yang Hari Guru Nasional.
Guru tidak mengharapkan materi atau kado dari siswa. Namun, bagaimana esensi makna keberadaan guru dimata siswa, siswa di mata guru. Bagaimana karakter, sikap, akhlak, itu utama. Ta'dzimnya siswa, menghormati, menghargai, toleransi dan tidak perlu diperbandingkan guru satu dengan guru lain. Perubahan yang awalnya belum baik menjadi baik. Contoh kecil, belum bisa menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, mereka komunikasi dengan yang lebih tua sudah menggunakan. Hal demikian, membahagiakan guru. Sebaliknya, juga demikian menjadi guru, bagaimana berlaku adil, menghargai siswanya yang memiliki karakter yang bermacam-macam dan saling bertoleransi. Sehingga, kebarokahan dari doa serta ridho gurunya bisa menghantarkan kemanfaatan ilmu.
Saya juga santri, saya juga murid, saya juga masih anak-anak yang masih mengharapkan doa dan ridho para guru saya. Tidak ada mantan guru begitu juga tidak ada mantan santri. Jika kita mampu memelihara segalanya dengan baik dan memposisikan diri. Guru tetaplah guru sampai kita nanti tua. Guru adalah orang tua kedua kita. Ketika bertemu, jangan malu, sapa saja, sungkem dan minimal menanyakan kabar dan utamanya meminta doa. Hal tersebut juga saya dapatkan dari guru saya. Semoga guru-guru kita senantiasa diberikan kesehatan dan panjang umur. Dan untuk guru yang sudah mendahului kita, maka senantiasa kita doakan semoga mendapatkan maghfiroh dan surgaNya. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar