Selasa, 08 November 2022

Dosen Bukan Sembarang Dosen



Setiap orang memiliki cita-cita yang tinggi. Setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam menjalani kehidupannya. Salah satunya memilih untuk sebuah profesi. Menurut saya profesi bukan hanya yang menghasilkan materi, namun bagaimana di profesi tersebut bisa sebagai ladang ibadah, pengabdian kepada masyarakat dan bermanfaat bagi orang lain.

Mengajar di perguruan tinggi atau di sekolah tinggi salah satu cita-cita yang lama telah saya impikan. Mungkin awalnya saya merasa jenjang karir saya berhenti di guru Mi, namun saya salah. Ketika ada suatu niat yang kuat, usaha yang maksimal serta ikhtiar yang kencang bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Daftar list cita-cita yang sejak duduk di pesantren saya tulis, satu persatu terwujud. Mungkin memang tidak semua yang saya tulis terwujud di waktu yang singkat, namun saya yakini saja dengan berjalannya waktu yang tepat menurut Allah, pasti akan Allah akan mengijabah atau mengabulkan dan semua terbukti benar. Perjalanan saya sampai di titik ini memang tidak terlepas dari banyaknya do'a-do'a keluarga besar, saudara, guru-guru bahkan teman atau orang lain di luar sana.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Kadang-kadang manusia biasa pasti ada rasa lelah. Ingat kembali perjuangan awal, lihat kembali pada tokoh inspirator serta motivasi yang ada, semangat itu kembali membara sampai lelah bukan alasan. Jika lelah solusi utamanya buat tidur atau makan yang enak versi saya. Misalnya, es cream, coklat bahkan ayam geprek sambel bawang yang pedasnya nampol. So satisfiyed guys.

Mungkin sebagian orang berpendapat dosen dan guru sama saja yakni mengajar, sebagai pendidik untuk generasi muda. Tetapi, setelah berada di posisi sebenarnya yakni dosen, sangat berbeda. Salah satu teman mengeluarkan joke "dosen singkatan dari penggaweane sak dos, bayarane sak sen" lalu ada yang memandang sebelah mata dengan suara ketusnya "sek dosen anyar, perguruan tinggi swasta, pisan! Alah jadi dosen, sebab ini itu" Nyinyiran-nyinyiran seperti itu, saya anggap orang tidak berpendidikan yang tuntas, jadi saya anggap angin lewat. Bisa jadi, mereka yang nyinyir begitu, ingin diposisi kita, tapi sayang belum bisa. Jangan hiraukan, terus jalan saja.

Cukup dibuktikan dengan profesionalitas yang tinggi. Lebih disiplin dan utamanya persembahkan dan tunjukkan prestasi. Bercerita ketika awal menjadi dosen, banyak sekali ilmu, serta pengalaman yang belum pernah saya rasakan. Mulai dari proses dokumentasi yang harus dibuat, proses pembelajarannya, berhadapan dengan mahasiswa, publik speaking, body languages yang harus tertata dengan baik, cara berinteraksi dengan teman sejawat. Belum terkait keilmuan, sangat berbeda jauh, lingkungannya yang selalu membawa nilai kebermaknaan adanya keilmuan bagi saya. Alhamdulillah Tsumma Alhamdulillah.

Pesan guruku "cintai pekerjaanmu dan jadikan sebagai ladang untuk menggapai ridho illahi". Yang masih memandang remeh profesi ini. Mohon Maaf, Sampean Mainnya Kurang Jauh.

Finally,

Yuk, Bro And Sis Sekolah Lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...