Setiap langkah yang telah
ditempuh oleh siapapun, pasti memiliki banyak pelajaran. Salah satu yang harus
kita pelajari adalah bagaimana bersikap bijaksana dalam menghadapi orang lain
dan permasalahan yang telah diterima. Mungkin saya belum dikatakan bijaksana,
namun sebagai manusia biasa, saya harus mau dan memaksa untuk selalu belajar
dari berbagai pengalaman dan tempaan persoalan.
Bijaksana dalam menentukan hak,
dengan terlebih dahulu melaksanakan kewajiban dengan semaksimal mungkin
berusaha bagaimana agar mendapatkan predikat terbaik. Ketika sudah dititik maksimal
atas segala ikhtiar, tawakal, usaha dan doa, maka tinggal bagaimana hasilnya. Dalam
prosesnya yang jatuh bangun dengan diremehkan oleh beberapa segelintir orang,
tetap saja harus kuat dan maju.
Bijaksana akan terus
menghasilkan sebuah ketenangan dan keadilan, jika sikap bijak itu benar-benar
diterapkan. Jika kebijakan hanya sebatas “omongan” rasanya itu dinamakan
sebagai angan-angan saja. Ibarat kata, menunggu demo dulu, baru kebijakan akan
dilahirkan. Rasanya itu kurang pas, apalagi berurusan dengan hak-hak orang
banyak.
Disitulah saya mengatakan
bahwa “cukup tahu saja dan terima kasih” setidaknya kritikan pedas itu telah
sampai. Entah bagaimana redaksinya dan siapa yang menyampaikan. Perjuangan
tidak akan berhenti sampai disini, pintu-pintu kesuksesan menanti dan terbuka
bagi siapa saja yang akan memanfaatkan dan mengambil kesempatan itu.
Bukan selamanya orientasinya
adalah materi, namun materi itu penting adanya agar menompang dan menunjang agar
hasil yang diharapkan maksimal. Mari terus belajar bijaksana dalam menentukan
kebijakan yang setidaknya akan menentramkan dan rasa adil bisa
dirasakan oleh semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar