Kabar bahagia membuatku juga ikut merasakan sangat bahagia. Salah satunya jagong bayi, entah bahasa baku dalam Bahasa Indonesianya apa, intinya menjenguk bayi. Mungkin daerah lain juga memiliki bahasa yang berbeda seperti "tilik bayi".
Rasanya membayangkan bagaimana bungahnya atau bahagianya ketika bayi yang dikandung seorang ibu kurang lebih sembilan bulan lahir dengan sehat dan selamat. Sehingga banyak saudara, kerabat, teman semuanya juga merasakannya direalisasikan dengan jagong bayi. Banyak sekali tradisi-tradisi ketika bayi lahir dilakukan bahkan masih dalam kandungan. Saya mungkin tidak akan membahas hal tersebut.
Saya menulis tentang jagong bayi, dalam hati kecil selalu berdoa "Gusti,,,, mugi-mugi dalem inggal njenengan paringi amanah meniko". Amin amin amin. Dibalik senyum bercengkrama dengan ayah dan ibu bayi membuatku selalu bersyukur "Alhamdulillah, Subhanallan, Masyallah" betapa indahnya dan bahagianya.
Hari ini jagong bayi sedikit berbeda, tiba-tiba cucuran air mata itu mengalir deras. Kolega-kolega dosen, teman dekat membuat haru biru atas kebaikan doa-doanya. Kemudian selalu diberikan kesempatan ketika jagong bayi untuk sekedar memangku menggendong si bayinya. Ah,,,,rasanya indah sekali. Memang urusan hal ini saya sedikit cengeng. Menulis ini saja, tidak terasa basah penuh air mata.
Setiap kali jagong bayi atau acara pernikahan selalu semangat dan penuh dengan bungah/bahagia. Seperti memberikan energi positif kembali. Dan mengingatkan bahwa ibadah yang sangat luar biasa itu memang di rumah tangga. Istri berbakti pada suami. Istri menjadi ibu yang merupakan madrasah pertama nantinya dari putra putrinya.
Perlu diingat, bahwa amanah putra atau putri itu hak prerogatif Allah SWT. Manusia hanya wajib berusaha dan ikhtiar doa sekencang-kencangnya. Kadang manusia lain belum memahaminya, pertanyaan atau hanya sekedar pernyataan tentang hal tersebut jika tidak ditata sedemikian rupa cukup membuat sensitif. Begitu juga dengan momen atau situasi dan kondisinya.
Belum menikah di cukup usia bukanlah suatu aib. Begitu juga dengan usia pernikahan yang menurut hitungan manusia itu sudah lama, belum memiliki momongan. Allah memberikan jalan kepada makhlukNya sesuai kehendakNya. Maka jangan lupa terus bersyukur. Husnudzon berbaik sangka kepada Allah. Pejuang garis dua, tetap semangat, ikhtiar terus jalan, jangan pernah merasa sendiri apalagi hina. Kita masih punya Allah tenang, di syukuri, dijalani dan dinikmati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar