Cerita jarum pentul, memberikan kesan tersendiri. Bagaimana seorang insan yang masih buta atas rasa. Bersemai dengan hanya sebatas senyuman. Jauh terhalang oleh jarak dan waktu.
Perbedaan yang selalu menjadi persoalan. Berdiri tegak atas rasa batin yang membelenggu. Jika persoalan pantas dan tidak, rasanya hanya pemilikNya yang mengetahui.
Hanya sebatas mengidolakan dan mengagumi tetap saja tidak mampu memiliki bahkan mustahil terjadi. Di atas dia hanya melihat seklebat tanpa memperhatikan. Dan setelah itu lupa bahkan tak peduli. Sedang yang menjadi penonton berseru berebut memanggil namanya, demi agar mendapatkan kesempatan untuk sekedar dilihat atau dilirik saja.
Baru kusadari, kumpulan jarum pentul yang berwarna-warni tetaplah jarum dan tajam. Akan menyakitkan jika tidak bisa menggunakannya. Cantik memang warnanya, tapi juga tetap bisa menusuk, jika kasar perkataannya.
Warna-warni di kumpulan jarum pentul, akan dipilih sesuai dengan keinginan. Apakah hijau yang menghidupkan, apakah merah yang memberanikan apakah biru yang justru mendinginkan semua rasa. Semua terkumpul satu kotak, dilihat dan secara random memilih atau terpilih.
Keberadaan jarum pentul untuk kelangsungan kebaikan segala yang dilakukan. Harusnya menjadi perekat kedua perbedaan agar semakin selaras untuk di lihat. Misalnya, untuk mengunci jilbab. Berjilbab, berias dan berhias untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Gegara jarum pentul yang tajam membuat tulisan ini menjali nglantur entah kemana arahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar