Dua hal yang sering
digaungkan oleh beberapa orang dari sudut pandang fisik. Misalnya dalam dunia
pendidikan, kerja, percintaan bahkan kehidupan sosial sehari-hari. Ketika sebagian
orang mengatakan bahwa tampan dan cantik adalah relatif, memang tidak salah. Namun,
sepertinya boleh kita dalami konteksnya. Ada sebuah quotes mengatakan bahwa
setiap perempuan itu cantik, cantik di bidangnya masing-masing dan istimewa. Beberapa
kelompok orang juga mengatakan cantik fisik lebih utama dibandingkan dengan keterampilan
yang dimiliki.
Wajib kita syukuri, jika
Allah memberikan keadaan fisik yang sempurna dan sehat. Kemudian rasa syukur
tersebut ditandai dengan selalu menjaga dan memberikan perawatan yang terbaik. Hal
ini sah-sah saja, bahkan jika memang dianggap masih kurang, demi tampil lebih
percaya diri dirawat sedemikan ekstranya. Ini adalah keadaan fisik. Sebegitu kita
pedulinya, lalu bagaimana dengan keterampilan dan kompetensi yang melekat pada
fisik tersebut? Sudahkah sesuai atau malah berat sebelah?
Belajar dari pengalaman, kalau
bahasa sekarang seperti Body shaming, dianggap yang memiliki berat badan
yang lebih itu kurang menarik. Sehingga dalam suatu pertemanan dianggap tidak
populer bahkan dianggap kurang pantas di komunitas tersebut sampai menjadi bahan
ejekan. Padahal kita tahu, bahwa good looking atau penampilan fisik
bukan satu-satunya modal untuk lebih berprestasi. Jika memang memiliki good
looking dan memiliki sebuah privilege setidaknya harus memiliki
sikap, diantaranya:
a)
Tawadhu’
b)
jauh menyadari, mengenali
diri sendiri dari sisi kelemahan dan kelebihan yang dimiliki
c)
menyadari dan faham
betul keadaan fisik bukan segalanya
d)
fair dalam
artian jangan memanipulasi orang lain hanya sebab memiliki privilege malah
tega mengambil keuntungan yang akhirnya merugikan orang lain
Di sinilah muncul kembali
rasa toleransi, menghargai dan menghormati kepada siapapun. Menanamkan bahwa
semuanya istimewa dalam pertemanan, persaudaraan apapun. Siapapun kita semuanya
adalah istimewa sesuai, di bidangnya masing-masing dan saling melengkapi. Cantik
dan tampan bahkan kaya pun juga tidak menjamin. Sehingga apa yang membuat rasa “paling”
itu muncul. Astaghfirullahal’adzim
Mari senantiasa belajar
menjadi manusia yang lebih bijak. Mensyukuri atas segala yang telah dimiliki. Dan
paling penting adalah jangan lelah untuk terus berbuat baik, sekalipun wajah
tak secantik yang dipikirkannnya. Memberi dukungan dan saling memotivasi untuk
meraih tujuan yang lebih baik. Sekali lagi good looking dan previlege bukan
satu-satunya penentu kesuksesan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar