Jumat, 17 Maret 2023

Good looking and privilege

 



Dua hal yang sering digaungkan oleh beberapa orang dari sudut pandang fisik. Misalnya dalam dunia pendidikan, kerja, percintaan bahkan kehidupan sosial sehari-hari. Ketika sebagian orang mengatakan bahwa tampan dan cantik adalah relatif, memang tidak salah. Namun, sepertinya boleh kita dalami konteksnya. Ada sebuah quotes mengatakan bahwa setiap perempuan itu cantik, cantik di bidangnya masing-masing dan istimewa. Beberapa kelompok orang juga mengatakan cantik fisik lebih utama dibandingkan dengan keterampilan yang dimiliki.

Wajib kita syukuri, jika Allah memberikan keadaan fisik yang sempurna dan sehat. Kemudian rasa syukur tersebut ditandai dengan selalu menjaga dan memberikan perawatan yang terbaik. Hal ini sah-sah saja, bahkan jika memang dianggap masih kurang, demi tampil lebih percaya diri dirawat sedemikan ekstranya. Ini adalah keadaan fisik. Sebegitu kita pedulinya, lalu bagaimana dengan keterampilan dan kompetensi yang melekat pada fisik tersebut? Sudahkah sesuai atau malah berat sebelah?

Belajar dari pengalaman, kalau bahasa sekarang seperti Body shaming, dianggap yang memiliki berat badan yang lebih itu kurang menarik. Sehingga dalam suatu pertemanan dianggap tidak populer bahkan dianggap kurang pantas di komunitas tersebut sampai menjadi bahan ejekan. Padahal kita tahu, bahwa good looking atau penampilan fisik bukan satu-satunya modal untuk lebih berprestasi. Jika memang memiliki good looking dan memiliki sebuah privilege setidaknya harus memiliki sikap, diantaranya:

a)   Tawadhu’

b)   jauh menyadari, mengenali diri sendiri dari sisi kelemahan dan kelebihan yang dimiliki

c)    menyadari dan faham betul keadaan fisik bukan segalanya

d)   fair dalam artian jangan memanipulasi orang lain hanya sebab memiliki privilege malah tega mengambil keuntungan yang akhirnya merugikan orang lain

Di sinilah muncul kembali rasa toleransi, menghargai dan menghormati kepada siapapun. Menanamkan bahwa semuanya istimewa dalam pertemanan, persaudaraan apapun. Siapapun kita semuanya adalah istimewa sesuai, di bidangnya masing-masing dan saling melengkapi. Cantik dan tampan bahkan kaya pun juga tidak menjamin. Sehingga apa yang membuat rasa “paling” itu muncul. Astaghfirullahal’adzim

Mari senantiasa belajar menjadi manusia yang lebih bijak. Mensyukuri atas segala yang telah dimiliki. Dan paling penting adalah jangan lelah untuk terus berbuat baik, sekalipun wajah tak secantik yang dipikirkannnya. Memberi dukungan dan saling memotivasi untuk meraih tujuan yang lebih baik. Sekali lagi good looking dan previlege bukan satu-satunya penentu kesuksesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...