Rabu, 29 Maret 2023

Kisah Santri Bernama Arsya Demi Ilmu Yang Manfaat

 


Sebagai santri atau murid bahkan mahasiswa sekalipun pada muatan materi atau mata pelajaran tertentu pasti akan menemukan sebuah kesulitan. Entah kesulitan sebab dari keilmuannya atau memang dari diri sendiri yang kurang belajar. Atau dari guru yang menyampaikannya kurang bisa di mengerti. Pada siswa yang ekstrim ada rasa kurang cocok dengan guru. Ini berbahaya, mengingat kedudukan kita sebagai murid.

Yang sangat perlu diingat adalah bagaimana peran guru yang kedudukan guru. Guru tidak boleh dipersalahkan pada muatan ilmu. Bila guru itu sekiranya ada kesalahan itu suatu pahala. Sebab dilihat bagaimana kemuliaan seorang guru dengan segala keilmuan yang dimiliki dan beliau berikan kepada semua muridnya. Sekalipun pengetahuan atau wawasan kita yang lebih luas, saya tekankan bahwa tetap wajib untuk ta'dzim kepada beliau-beliau.

Secara tidak langsung saya belajar dari seorang mahasiswa, katakan namanya adalah Arsya. Saya sadari betul bahwa tidak semua mahasiswa akan cocok dengan dosennya. Namun, Arsya sudah memiliki benteng bagaimana menjaga akhlaknya. Selalu tawadhu', sopan dan santun. Selain sebagai kewajiban apapun yang diperintahkan dan ditugaskan oleh dosen tersebut dijalankan dengan baik. Meskipun hasilnya memang belum maksimal sebab ia masih dalam proses belajar.

Uniknya si Arsya tersebut, sebetulnya memiliki wawasan yang sangat luas. Namun, lebih banyak diam jika berhadapan dengan salah satu dosennya. Memang pada karakter dosen atau guru memiliki cara tersendiri menyampaikan materinya. Entah apa yang terjadi di mata kuliah yang diampu oleh dosen tersebut, satu kelas terlihat tegang dan lebih pasif.

Sebetulnya pasif itu bisa diartikan beberapa. Pertama sebetulnya mereka tahu tapi tidak ingin berbicara sebab menghargai. Pasif kedua lebih kepada perasaan "ya sudahlah". Ketiga ketika mencoba aktif, tapi malah dicecar dengan banyaknya pertanyaan sehingga mereka seperti cari aman saja.

Apakah yang dimaksud dosen itu saya? Tentu bukan, saking Arsya itu sangat ta'dzim ia memiripkan dosen tersebut dengan idolanya dalam lagu gambus yang lagi viral. Dengan slogannya "Ya Salam" siapa lagi kalau bukan Pak Muqadam. Mengapa Arsya menanamkan hal demikian? Agar ia tetap senang dengan mata kuliah tersebut dan tetap senang dengan karakter dosen tersebut. Selain itu, agar tidak bosan, tidak mengantuk dan tetap semangat mengikuti kuliah. Saya rasa hal ini sah saja, sebab demi kebaikan dan tujuannya juga baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...