Minggu, 12 Maret 2023

Masih Terus Belajar To Good Public Speaker

 



Menjadi public speaker sebetulnya sudah dimulai sejak dini. Seperti halnya dalam proses belajar mengajar ada sesi untuk presentasi dan sebagai pendidik juga menjelasakan muatan-muatan materi. Itu sebetulnya juga modal untuk menjadi public speaker. Perbedaanya audience atau penontonnya. Jika yang dihadapi di luar sekolah adalah masyarakat yang lebih luas dan menggunakan alat pengeras suara atau microphone.

Membawa microphon tidak hanya sekedar membawa, namun bagaimana mampu memanfaatkan microphone tersebut dengan baik. Beberapa kesempatan untuk menjadi pembawa acara, pembicara, tentu tidak hanya modal suara seperti layaknya penyanyi. Tehnik-tehnik dalam memandu, membacakan acara, mengolah vocal suara juga harus dikuasai. Selain itu, hal utamanya adalah bagaimana membentuk dan mempunyai mental untuk menghadapi banyaknya penonton atau audience.

Mulai dari Mi, SMP menjadi petugas pembaca acara resmi, semi formal bahkan non formal pun seperti ledang, kegiatan karnaval selalu diminta guru untuk mengikuti. Ternyata hal-hal seperti itu adalah modal belajar dan bekal untuk pengalaman. Ketika di pesantren adalah waktu untuk mengembangkannya salah satunya rajin mengikuti seminar, diklat master of ceremony dan praktek di berbagai kesempatan misalnya pada saat muhadhoroh, dibaan, khitobah dan beberapa kompetisi. Awalnya juga berfikir untuk apa, ternyata kemanfaatannya baru terasa di kemudian hari.

Saya masih sangat ingat guru saya di SMP Negeri 1 Ngunut Alm. Bapak Muhaimin beliau dalam suatu kesempatan berkata dengan saya “Ojok wedi opo maneh isin untuk belajar, duweni suara kayak awakmu kuwi kudu dipoles, supaya luweh luwes”  kurang lebih artinya jangan takut apalagi malu untuk belajar, suara yang kamu miliki harus dikembangkan agar lebih bagus. Sehingga apapun yang dijalani kini adalah sebuah proses untuk terus belajar. Kesempatan yang ada untuk belajar, tugas yang ada dikerjakan dengan baik dan selalu berusaha semaksimal mungkin.

Jika ada cibiran dan komentar merupakan hal wajar. Tidak perlu risau justru menjadi cambuk atau motivasi agar lebih baik dalam segala hal. Mental yang dipunyai pun agar tetap kuat. Kalau Bahasa Jawanya “tidak mudah ceklekan” intinya akan santai untuk menghadapi. Namun, bukan juga gila panggung, atau gila microphone. Misalnya seakan jika ketemu alat tersebut harus ada suara kita. Intinya tetap harus pinter-pinter nyeleh awak. Jangan sampai juga sebaliknya, dengan alat pengeras suara “phobia”. Solusinya adalah latihan dan latihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...