Menjadi public speaker sebetulnya sudah
dimulai sejak dini. Seperti halnya dalam proses belajar mengajar ada sesi untuk
presentasi dan sebagai pendidik juga menjelasakan muatan-muatan materi. Itu
sebetulnya juga modal untuk menjadi public speaker. Perbedaanya audience atau
penontonnya. Jika yang dihadapi di luar sekolah adalah masyarakat yang lebih
luas dan menggunakan alat pengeras suara atau microphone.
Membawa microphon tidak hanya sekedar
membawa, namun bagaimana mampu memanfaatkan microphone tersebut dengan baik. Beberapa
kesempatan untuk menjadi pembawa acara, pembicara, tentu tidak hanya modal
suara seperti layaknya penyanyi. Tehnik-tehnik dalam memandu, membacakan acara,
mengolah vocal suara juga harus dikuasai. Selain itu, hal utamanya adalah
bagaimana membentuk dan mempunyai mental untuk menghadapi banyaknya penonton
atau audience.
Mulai dari Mi, SMP menjadi petugas pembaca
acara resmi, semi formal bahkan non formal pun seperti ledang, kegiatan
karnaval selalu diminta guru untuk mengikuti. Ternyata hal-hal seperti itu
adalah modal belajar dan bekal untuk pengalaman. Ketika di pesantren adalah
waktu untuk mengembangkannya salah satunya rajin mengikuti seminar, diklat
master of ceremony dan praktek di berbagai kesempatan misalnya pada saat muhadhoroh,
dibaan, khitobah dan beberapa kompetisi. Awalnya juga berfikir untuk apa, ternyata
kemanfaatannya baru terasa di kemudian hari.
Saya masih sangat ingat guru saya di SMP
Negeri 1 Ngunut Alm. Bapak Muhaimin beliau dalam suatu kesempatan berkata
dengan saya “Ojok wedi opo maneh isin untuk belajar, duweni suara kayak awakmu
kuwi kudu dipoles, supaya luweh luwes” kurang lebih artinya jangan takut apalagi malu
untuk belajar, suara yang kamu miliki harus dikembangkan agar lebih bagus. Sehingga
apapun yang dijalani kini adalah sebuah proses untuk terus belajar. Kesempatan yang
ada untuk belajar, tugas yang ada dikerjakan dengan baik dan selalu berusaha
semaksimal mungkin.
Jika ada cibiran dan komentar merupakan hal
wajar. Tidak perlu risau justru menjadi cambuk atau motivasi agar lebih baik
dalam segala hal. Mental yang dipunyai pun agar tetap kuat. Kalau Bahasa
Jawanya “tidak mudah ceklekan” intinya akan santai untuk menghadapi. Namun,
bukan juga gila panggung, atau gila microphone. Misalnya seakan jika ketemu
alat tersebut harus ada suara kita. Intinya tetap harus pinter-pinter nyeleh
awak. Jangan sampai juga sebaliknya, dengan alat pengeras suara “phobia”. Solusinya
adalah latihan dan latihan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar