Setiap penulis memiliki mental yang berbeda. Saya pernah membaca salah satu buletin mingguan dari SPK Tulungagung yang telah ditulis oleh Bu Eti, ada sebuah toxic di dunia penulisan. Mental penulis ketika akan menulis yang biasanya sering muncul adalah kurang atau bahkan tidak percaya diri.
Hal ini akan dirasakan setiap orang yang akan memulai menulis atau pemula. Kadang rasa kurang percaya diri akan muncul dari diri sendiri atau bahkan dari luar. Tetapi, kita sebagai penulis harus meminimalisir hal tersebut dengan berbagai cara.
Ketika kita memiliki tulisan, kita harus memiliki orang yang tepat untuk sekedar membaca, memberikan kritik atau saran. Orang yang tepat dalam artian ketika ada kritik atau saran, kita malah semangat bukan malah menyerah atau bahkan marah. Hingga kehilangan keahlian menulis lenyap, sebab orang yang kurang atau tidak tepat kita pilih sebagai penyemangat.
Sadar atau tidak sadar bahwa ada "fadhol" dalam menulis yakni sesuatu yang harus dan bahkan patut disyukuri ketika kita mampu menulis. Hal dasar tersebut harus sering kita munculkan, agar tetap menulis. Menulis itu tidak salah, tetapi kita harus tahu apa yang kita tulis.
Mental yang kuat harus ditanamkan yakni dengan tekad serta semangat. Bertekad untuk tetap menulis, sekalipun tulisan kita ringan dan seputar cerita sehari-hari. Justru dari tulisan ringan akan segera menghantarkan kepada dunia. Entah dunia yang di bagian mana.
Ketika mengikuti acara kemarin, ada seorang mahasiswa yang bertanya kepada narasumber. Dia mengaku bahwa ketika sedang galau, dia menulis puisi. Puisi tersebut dia katakan sebagai "pujangga culun". Seketika itu direspon dengan baik oleh narasumber.
"Pujangga Culun" akan diantarkan sebagai puisi yang keren. Puisi sejatinya juga tulisan, dan tidak ada yang salah. Namun, puisi akan bagus ada banyak kalimat yang menggunakan majas. Misalnya majas ironi, hiperbola, personifikasi dan majas lain. Dikemas dengan menghadirkan jiwa.
Kemudian menjadi penulis harus berterus terang. Dunia tidak akan mengetahui bahwa kita penulis, jika tidak berterus terang. Jangan malu dengan tulisan kita. Terus saja menulis, apapun yang telah dihadapi bahkan komentar mereka yang mencibir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar