Ning Khilma Anis, kepanggeh beliau masih yang ketiga kali. Namun rasa kagumnya tetap sama. Kita tahu beliau memang salah satu tokoh perempuan yang luar biasa di bidang menulis. Serta dari kalangan pesantren (santri), menurut saya beliau sosok inspirasi yang luar biasa.
Memang nama beliau kencang dikenal pada novel Hati Suhita dan telah difilmkan. Perjalanan dalam menulis serta pengalaman beliaulah yang hari ini benar-benar kita simak. Setiap penulis memiliki perjalanan yang luar biasa. Beliau menjelaskan dengan gamblang. Mulai dari pertama menulis hingga corak menulisnya.
Tulisan Ning Khilma memang identik dengan perempuan Jawa. Perempuan dan Pulau Jawa dengan segala budaya dan tradisi bahkan sejarahnya. Beliau mulai menulis ketika mahasiswa semester tiga. Memulai dengan cerpenis komunitas kampus di UIN Kalijaga. Yang menarik adalah beliau dengan gamblang memaparkan tips serta motivasi dalam menulis. Bahkan barokahnya menulis.
Dalam kesempatan ini beliau selalu menyampaikan pesan almarhum Abah beliau. Diantaranya adalah kuasai satu hal, pelajari, gali dan geluti. Beliau akhirnya benar-benar mempelajari, mendalami dan menggeluti dunia menulis. Hingga hasil sampai salah satu karyanya Hati Suhita, yang menurut beliau ketika itu berangkat dari keisengan menulis di FB.
Beliau mengatakan bahwa menjadi penulis jangan alergi dengan teknologi, harus kreatif dan inovatif. Ketika beliau mendapatkan peristiwa tidak enak di FB, maka tetap harus maju. Sehingga menjadi penulis yang kreatif dan inovatif ternyata tidak cukup, harus ada kolaboratif dan adaptif. Keempat hal tersebut harus jalan.
Selanjutnya beliau menjelaskan memang menulis itu awalnya pasti dipaksa dan terpaksa, namun jangan pernah patah semangat. Beliau memberikan resep agar tidak terpaksa diantaranya "seneng, kenceng, kepareng, wilujeng".
"Seneng" memiliki arti senang, dan orang yang senang pasti akan langgeng.
"Kepareng" jika memang mau menulis cobalah untuk wudhu dan kirim doa-doa serta izin dan dukungan dari orang terdekat.
"Wilujeng" akan berhasil dan berkah tambah kebaikan. Dan berkah tidak selalu dinilai dengan materi.
Ketika menulis berilah niat untuk "lung-tinulung" yang memiliki makna saling menolong. Sebab dari tulisan kadang kita akan tersadar dan berubah. Lalu ingat pesan salah satu tokoh pewayangan yakni Semar "ojo mati tanpo aran, ojo mati tanpo jeneng, lan ojo mati tanpo karya". Dan Ning Khilma juga memberikan dorongan bahwa lebih baik kita menulis walau sedikit, kita sumbangkan di jagat literasi, dari pada tenggelam diangan-angan saja. Sehingga mari menulis mungkin salah satunya dengan bergabung dengan komunitas.
Karakter tulisan Ning Khilma selain identik dengan perempuan Jawa, menurut beliau menulis hendaknya memiliki karakter yang kuat serta ada muatan intelektualnya. Semua itu didapat dengan membaca buku. Namun, membaca buku pun tidak cukup maka seorang penulis harus sering berdiskusi. Ning Khilma juga menjelaskan sebagai penulis pemula "Harus memiliki tokoh idola penulis" tentukan buku pertama sampai terakhir lalu membuat kerangka karangan.
Disitulah saya pribadi merasakan bahwa kegiatan ini berisi daging semua. Segalanya sangat penting dan membuat saya semakin bersemangat untuk menulis. Kesempatan yang luar biasa ini patut disyukuri, sebab tidak semua orang mendapatkannya. Terima kasih kepada semua teman-teman SPK Tulungagung terutama kepada Prof. Ngainun Naim, M.HI


Keren pool bu....
BalasHapusPangestunipun pak
BalasHapus