Jumat, 17 November 2023

Jangan Patah Hanya Sebab Perkataan


Melakukan suatu hal lebih baik dari pada tidak sama sekali. Mencoba hal baru memang tidak mudah. Pasti akan menemukan ketidak tepatan, kurang pas bahkan salah. Itu bagian dari proses.

Mungkin saya adalah salah satu orang yang banyak nekatnya. Seperti halnya menulis kali ini. Saya masih ingat pesan Prof Naim, ketika ada ide segera ditulis dan menulis  mengalir saja dan tentu saja tetap kupaksa untuk menulisnya.

Mungkin bagi pembaca ada yang merasa tidak penting dan "ngene ae ditulis". Semua orang berhak menilai. Bagi saya menulis itu seni, ketika menulis pasti ada nilainya, maka penulis siap untuk bertanggung jawab dan terbuka untuk menerima saran bahkan kritikan tersebut. 

Ketika tidak pernah melakukan mungkin saja kita tidak akan pernah tahu letak salahnya atau pembenahannya. Sehingga benar sekali pengalaman adalah guru terbaik. Saya akui saya masih pemula dan masih belajar. Pernah juga dalam beberapa minggu yang lalu saya sangat patah semangat.

Kalau ditanya pernah mendapat omongan tentang buku dan tulisan yang "nylekit" tentu saja pernah. Misalnya "kata-kata dalam puisimu, pasaran" "tulisanmu tidak menarik" "lak nulis ki, kayak kae lo, keren kata-katanya, dan mendalam". Dijawab saja "nggeh, maturnuwun semoga nanti bisa terbit buku lagi dengan yang lebih baik"

Motivasinya adalah saya mencoba membaca kembali buku-buku yang ada terutama buku saya sendiri. Sehingga semangat itu kembali lagi. Jangan sampai berantakan, hanya karena perkataan. Mari tetap menulis dan terus semangat. Salam Literasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...