Suatu hari dalam perjalanan untuk silaturahmi kepada salah satu tokoh besar saya bersama suami seperti biasa mengendarai sepeda motor. Memang kami tidak membuat janji terlebih dahulu, inginnya langsung menuju ke lokasi. Singkat cerita sampai ditempat tujuan dan Alhamdulillah bertemu dengan beliau dan keluarga, mengutarakan maksud dan tujuan dan selesai.
Ketika perjalanan, sepeda motor yang awalnya baik-baik saja, sepulang dari tempat tujuan, merasakan ada yang aneh. Ternyata ban depan habis, kami tidak tahu apakah itu kena paku atau sekedar bocor halus. Sempat berhenti lalu memeriksanya. Ternyata tidak ada paku. Intinya bocor saja.
Niat awalnya ingin kami dorong saja. Takut jika dinaiki semakin bocor dan rusak. Namun, apadaya, menuju jalan utama masih jauh dan semakin malam. Akhirnya terpaksa kami naiki, agar segera menuju jalan utama. Sepanjang jalan, terlihat sangat sepi, jarang orang berlalu lalang dan hanya ada satu dua rumah yang terbuka. Suami memilih secara random saja, tiba-tiba belok kesebuah rumah.
Ternyata ada Bapak dengan putri kecilnya memakai gaun ala princes warna pink. Suami langsung bertanya
"Ngapunten pak, gadhah kompo?"
Bapak tersebut langsung menjawab "enggeh mas, kulo pundhutne" selesai memompa akhirnya kami pun mengucapkan terima kasih. Dan melanjutkan perjalanan, sambil melihat kanan kiri jika ada tukang ban.
Malam semakin sepi di jalanan, meskipun itu jalan raya utama. Alhamdulillah ada tukang ban, sambil menunggu ban diperbaiki. Ada sebuah baleho yang tidak terpakai lagi, baleho caleg rupanya. Saya mengambil beberapa nasihat dari obrolan suami dan tukang ban. Entah topik utama dari awal apa, saya kurang mengikuti dari awal.
Saya mencoba mendekat mendengarkan saja. Menerima kelebihan setiap orang itu sangat mudah. Tetapi, tidak untuk kekurangan. Kadang memang sebagai rakyat kita menuntut pemimpin untuk selalu sempurna dan berpihak pada kita. Tetapi yang perlu diingat adalah rakyat itu banyak sekali, mimpi, keinginan serta kemauan mereka juga banyak sebab isi kepala mereka semua berbeda.
Perlu diingat menjadi pemimpin itu berbagai resiko sudah diperhitungkan, sehingga kebijakan yang telah diputuskan bersama mungkin itu yang terbaik. Sebagai rakyat biasa kadang ada sisi kurang menerimanya, saya pun juga sering merasakannya. Hal ini beralasan bahwa kaum elit di sana dan yang berdasi seakan tak memperdulikannya.
Hmm....suara rakyat bisa terdengar dengan jelas apabila mereka mampu mendengarkan dengan saksama tanpa harus ada embel-embel lain. Ah... hiruk pikuk negeriku sampai kapan akan selesai. Jalan utamanya adalah kita sebagai manusia biasa tetap harus bersyukur. Bersyukur dengan sungguh-sungguh, sehingga apapun masalah dan dinamika yang terjadi kita bisa mengambil hikmahnya. Ademnya pikiran, sehat jasmani dan rohani, bahagianya hati serta nyaman nan damai benar-benar bisa kita ciptakan dengan menerima.
Iya,,,,,, seperti menerima diakhir penambalan ban, ternyata pompa diselnya si tukang ban rusak. Otomatis mencari pompa lagi untuk mengisi angin agar bisa digunakan sampai rumah. Ya Salam,,, Tetap semangat hitung-hitung olahraga malam.
Kepada para pembaca mohon maaf yang sebesar-besarnya, meskipun cerita saya tidak nyambung. Hubungan antara ban bocor dan kegelisahan rakyat, setidaknya tulisan ini menjadi penghibur untuk saya dan anda, hihihi. Dan untuk para pembaca terima kasih telah meluangkan untuk membaca. Semoga bisa mengambil hikmahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar