Sabtu, 12 April 2025

Pejuang Garis Dua




Sebetulnya saya bingung harus memulainya dari mana. Tulisan dengan judul ini mungkin banyak part atau bagian yang tidak semudah itu dituliskan. Sebetulnya diluar sana, masih banyak pejuang garis dua lainnya yang mungkin belum dikenal atau mengenal. Namun, kadang-kadang kita hanya fokus ke salah satu orang saja.

Hmm...tidak semua orang mudah pada posisi ini. Saya menyadari bahwa setiap manusia yang hidup ada "PR" untuk selalu dikerjakan dan diperjuangkan. Begitu juga akan hal satu ini.

Saya menjalani bahtera rumah tangga baru enam tahun berjalan. Dan jika melihat perjalanannya itu memang tidak mudah, banyak cerita, peristiwa, pelajaran dan hikmah. Sehingga kami yang menjalaninya pun seperti tidak terasa. Bahkan banyak orang yang melihat kami mungkin ada yang kurang, nyatanya kami selalu mensyukurinya dan bahagia.

Tangis air mata akan kesedihan bahkan haru akan kebahagiaan tetap kami rayakan dengan cara kami. Saya rasa pada setiap rumah tangga juga demikian. Banyak orang baik yang selalu mendoakan dan memotivasi kami akan hal satu ini. Bahkan lengkap dengan segala usaha dan ikhtiarnya, saya tidak lupa bahkan kepada salah satu guru kami, kami difasilitasi dan diantarkan sampai kepada tempatnya.  

Ada juga tipe yang hanya sekedar di bibir saja, namun hatinya lain setelah itu digosipkan macam-macam. Part-part demikian sudah kami rasakan. Teman sejawat baru nikah langsung isi, sodara dekat baru menikah langsung isi. Belum lagi ketika musim lahiran. Kami dihujani pertanyaan, pernyataan yang kadang kami bingung menjawabnya.

Tentu, kami menerimanya dengan tidak instan, masih dengan belajar dan berusaha menjadi manusia yang waras, harus memaklumi meski itu kadang sangat pahit. Salah satunya bersabar dan bersyukur.

Perlu digaris bawahi bahwa para pejuang garis dua juga manusia biasa seorang perempuan yang menjadi istri dan laki-laki menjadi seorang suami. Perempuan-perempuan tersebut yang menurut saya sangat kuat. Begitu juga dengan suaminya yang sangat luar biasa. Dan mereka bukan manusia yang gagal. Dan mereka bukan manusia yang hina.

Para pejuang garis dua saya rasa tidak diam, dalam artian mereka tidak berusaha. Pasti mereka berusaha dhohir batinnya untuk berjuang, berikhtiar akan hal itu. Bukankah hal itu termasuk menjadi upaya mereka agar seperti yang lain. Tangguh dan terus berusaha.

Namun semua hal itu tidak pernah terlihat oleh pengamat diluar sana. Berapa dokter yang harus mereka kunjungi, berapa alternatif yang harus mereka temui, obat, vitamin, jamu, membenarkan pola hidup, mulai diet dan semua olahraga mereka jalani. Apakah semua hal itu, perlu dikoar-koarkan disiarkan kepada anda semua? Tentu tidak, sudah hakikatnya manusia yang akan ditampilkan adalah yang terbaik, terbahagia dan terbaik.

Dibalik itu semua, jika melihat, mengalami, mengetahui akan hal-hal itu berusaha bijaklah. Tidak hanya pada pejuang garis dua, kepada mereka yang belum menikah, belum memiliki rumah, belum lulus, atau belum-belum yang lain. Jika ada benak-benak yang tidak benar, cukup simpan dibenak dan hati yang paling dalam. Cukup kamu simpan saja untuk dirimu sendiri. Kadang basa-basi malah berujung melukai, sebab hal ini sangat sensitif.

Semoga kita dihindarkan dari semua bala' dan senantiasa bersyukur akan nikmat yang telah diberikan Allah. Tetap semangat dan selalu bersyukur, ikhtiar dan berdoa. Allah Maha Segala-galanya. Pasti Allah akan mengabulkannya segera. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...