Kamis, 08 April 2021

Surabaya Part 2



Dari delapan orang tersebut mempunyai karakter yang berbeda. Diperjalanan berangkat memang sangat asyik dan tak ada dari kami yang tertidur semu ngobrol ngalor dan ngidul. Bu shofi yang notabennya ketua organisasi pelajar NU, tentu jiwanya lebih pemberani dan banyak bahan untuk diceritakan. Bu Arina yang selalu santai semua dibawa happy berfoto-foto dan suka mengedit.

Bu Choir yang kalau lapar membuat orang disekitarnya tidak nyaman, karena mengeluh dan kali pertama naik kereta api. Lalu Bu Diah yang lemah lembut, agak penakut dan jarang keluar rumah. Ada Bu Roi yang kalem dan sering  jadi bahan ledekan. Sedang saya yang tak berhenti makan disepanjang perjalanan. Membekal tahu goreng bulat membuat suasana makin renyah.

Kami berangkat dari stasiun Sumbergempol pukul 14.17 WIB, lalu harusnya turun di stasiun Semut. Akan tetapi tujuan pertama dekat dengan stasiun Gubeng, akhirnya turun di stasiun tersebut tepat pukul 18.35 WIB. Selanjutnya sholat dan persiapan ke tujuan pertama yaitu Tunjangan Plaza 1. 

Mulai terdapat drama, karena harus pesan mobil sewa menggunakan aplikasi yang menyebabkan saya dan suami pisah rombongan. Singkat cerita sampai ke TP 1, keliling cari minum dan tak terasa kita keliling sampai TP 3. Bu Choir mulai merengek kelaparan, akhirnya cari makan di foodcourt TP 3. Semua makan di meja masing-masing, karen dibatas satu meja berdua itu pun menggunakan pembatas.

Lalu sudah cukup kita tolak ke tujuan utama yakni Makam Sunan Ampel. Masih menggunakan aplikasi penyewaan mobil, namun kali ini saya bersama dengan suami. Akhirnya sampai tetapi kondisi makam full sangat. Ramai pol, akhirnya kita memutuskan untuk cari teh panas. Karen Bu Diah mengeluh seperti masuk angin. Jalan kaki dong dekat parkiran bus atau terminal. Di sana kami ngeteh, sampai pukul 23.00 WIB. Dirasa Bu Diah sehat, kita memutuskan tidur di mushola dekat makam, yang biasa digunakan orang-orang peziaroh putri untuk istirahat.

Rombongan tepar semua kecuali saya dan Bu Arin yang tidak bisa tidur. Karena di sana banyak nyamuk dan lumayan ramai terus. Melihat kondisi pandemi seperti sekarang ini, makan wali sunan ampel tetap ramai. Seperti tidak ada perbedaan. Lalu saya dan Bu Arin terjaga sampai tahajud dan subuh dini hari. Kita bergiliran mandi karena kondisi full dan ramai. Maka harus segera antri. Lalu kita berjamaah di masjid besar. Dan berziaroh di makam.



Surabaya Part 1



Alhamdulilah 3 April kemarin kami berkesempatan untuk berziaroh ke Makam salah satu wali songo di kota Surabaya. Tak lain adalah Raden Rahmat, biasa kita sebut dengan Sunan Ampel.

Kita tahu Raden Rahmat atau Sunan Ampel adalah putra dari Syeh Ibrahim Asmorokondi yang dimakamnya di Tuban. Dan Syeh Asmorokondi merupakan putra dari Syeh Jumadil Kubro yang bermakam di Mojokerto. 

Saya dengan rombongan awalnya berjumlah sembilan orang. Karena suatu hal yang berangkat delapan orang dengan hanya dua laki-laki, selebihnya perempuan. 

Ini rombongan kecil berawal dari rujakan, lalu berlanjut dengan berziaroh. Berdelapan menggunakan kereta api, pulang pergi lewat Kertosono. Ini pengalaman baru lagi buat saya pribadi. Pasalnya selama naik kereta api tujuan Surabaya selalu lewat Malang.

Ternyata ada trik tertentu agar bisa lewat Kertosono. Yakni pahami nama kereta jam berangkat serta tujuan dengan teliti. Awalnya agak ragu ketika ada rencana naik kereta, karena di awal ada kabar kalau naik kereta harus swab. Namun, ternyata tidak hanya diwajibkan memakai masker, jaga jarak dan yang laki-laki wajib berlengan panjang.

Melalui teman-teman inilah saya belajar. Ada Bu Arin, Bu Shofi, Bu Roi, Bu Choir, dan Bu Diah, Pak Muhsin, dan saya ditemani dengan suami.



Penataran



Candi Penataran, mungkin sudah tak asing bagi kita mendengar nama candi tersebut. Dikenal karena letaknya juga di desa Penataran, kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Memang ini kali pertama saya berkunjung ke candi tersebut. Kesan pertama adalah daya tarik candi tersebut sangat bersih dan terawat. Lokasinya cukup luas.

Kemudian rerumputan dihalaman dan taman-tamannya menambah keelokan candi Penataran ini.  Batu-batunya candi tersebut terlihat masih asli dari peninggalan terdahulu. 

Konon cerita candi Penataran ini di bangun untuk pemujaan, sehingga dibangun di lereng barat daya gunung Kelud. Karena pada waktu itu warga Blitar yang sering terancam letusan gunung tersebut. 

Pada waktu itu wisatawan lokal tidak begitu banyak yang berkunjung, mungkin dibatasi karena masih di era pandemi seperti sekarang ini. Awalnya saya hanya ingin berkeliling dan mengambil beberapa foto saja. Namun rasa penasaran saya muncul, bagaimana rasanya melihat pemandangan dari atas.

Padahal saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, tapi saya nekat naik ke atas. Subhanallah memang betul, pemandangannya sangat indah, disuguhkan hijaunya daun-daun kelapa yang masih subur disekitar sana.

Di candi penataran ini ada lokasi seperti kolam kecil. Posisi letaknya dibelakang candi utama agak menurun kebawah kemudian belok kanan kita akan menjumpai kolam kecil airnya berwarna biru. Air kolam ini berisi banyak ikan, saya melihat ikan lele yang sangat panjang ekornya dan besar. Ada juga ikan seperti mujaer. Banyak banyak juga pengunjung yang duduk disekitaran kolam tersebut.

Sebagai generasi muda, kadang kita hanya berkunjung dan melihat tempat wisatanya. Namun, tidak banyak dari kita yang mengulik bagaimana sejarahnya. Maka disinilah kita sangat di wajibkan untuk belajar sejarah. 

Salah satu bukti sejarah di masa kerajaan terdahulu dengan peninggalannya yaitu candi. Selain itu candi merupakan cagar budaya yang harus kita jaga dan kita rawat. Maka sebagai wisatawan atau berkunjung di suatu tempat, kita harus menjaga kebersihannya, membuang sampah pada tempatnya.



April



Bulan yang menurut saya indah, karena dia berada di sepertiga tahun Masehi. Sebenarnya semua bulan istimewa karena mengandung banyak peristiwa yang menjadikan sejarah. Salah satu yang membuat bulan ini indah adalah bulan dimana saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat hebat.

Lalu bertepatan dengan lahirannya sepupu. Iya 10 April, dengan tanggal kelahiran yang sama meskipun tahun kelahiran berbeda kita bisa merayakannya bersama. Cara merayakannya pun tidak dengan berpesta, hanya sekedar berkumpul dengan keluarga lalu berdoa bersama.

Karena saya sangat senang berkumpul bersama keluarga melepas kangen dan silaturrohim bertukar pikiran. Saya rasa hal itu juga menjadikan kedekatan keeratan tali persaudaraan kita.

Yang tak kalah istimewanya adalah bulan April di tahun 2021 Masehi ini bertepatan dengan bulan yang sangat dinantikan kaum muslim, yakni Bulan Suci Ramadhan. Kita tahu bulan tersebut merupakan bulan yang suci, penuh maghfiroh atau ampunan dan bulan penuh keberkahan dan rahmat.

Menjalankan puasa di bulan Ramadhan sebagai orang muslim adalah kewajiban. Rasanya tidak hanya kaum muslim saja yang menyambut bulan tersebut dengan senang hati. Melainkan hampir semua orang merasakan senang. 

Sebelum pandemi banyak tradisi ngabuburit berburu makanan berbuka puasa, lalu pusat-pusat perbelanjaan ramai, kegiatan ekonomi akan meningkat. Dan mereka yang berjualan tidak semua beragama Islam tentu banyak orang nonmuslim yang berjualan dan menyambut bulan ini dengan senang juga.

Sudah dua kali Ramadhan ditengah-tengah era pandemi seperti sekarang ini. Namun, jangan patah semangat terus kencangkan ibadah untuk menggapai RidhaNya. Justru momen Ramadhan kali ini harus kita manfaatkan dengan sangat lebih untuk meminta terjuahkan dan segera musnah di bumi pertiwi ini virus tersebut.

Semoga kita selalu dalam lindungannya, sehat dan bisa menjalankan ibadah puasa di bulan yang suci ini yakni Ramadhan.

Selamat Menunaikan ibadah puasa semua.

Sabtu, 03 April 2021

Kualitas



Melihat Dengan Mata

Melangkah Dengan Kaki

Melambai Dengan Tangan

Berkata Dengan Mulut Yang Bersuara

Lembut Menenangkan Hati

Tanpa Sadar

Tanpa Diketahui

Menunjukkan Kepribadiannya

Yang Tak Pernah Melukai

Sungguh Wajar

Banyak Yang Mengagumi

Tapi Kadang Mereka Buta

Bagaimana Cara Meneladani

Keras



Tutupnya Yang Keras

Seperti Batu 

Di Hamparan Yang Panas

Menampakkan Muram Merah

Tersulut Oleh Amarah


Hanya Segelintir Harta

Membutakan Pandangan

Hanya Sebuah Titipan Sementara

Akan Hilang Atas KehendakNya

Tetap Saja Manusia Biasa

Manusia Yang Penuh Kelemahan

TanpaNya


Jangan Sesekali Kau Busungkan

Karena Hal Yang Tak Seberapa

Toh Ujungnya Sama

Kafan Putih Yang Bersama

Jumat, 02 April 2021

Kesiapan



Rasa Nyaman

Yang Kadang Kurang Tantangan

Membuka Mata Dengan Ringan

Mereka Menyapa Dan Bertanya

Tentang Kesiapan


Terdiam Dan Mencoba

Bertahan Dengan Berdiri Tegak

Namun Tak Mungkin Selamanya

Badai Angin Pasti Akan Datang

Jika Tanpa Bekal 

Rasanya Seperti Melayang

Tanpa Arah Tanpa Angan


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...