Sering sekali di masa masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, setingkat sekolah dasar, suka sekali bermain guru-guruan dan dokter-dokteran. Entah apa yang saya cita-citakan di waktu kecil tersebut. Namanya anak kecil kalau ditanya apa cita-citamu masih berganti-ganti menyebutnya. Kadang dokter kadang guru, kadang pegawai. Seenaknya kami sebut karena masih polos.
Seiring berjalannya waktu ketika sekolah menengah pertama suka dan aktif di kegiatan OSIS, Pramuka dan PMR. Sering diajak kegiatan keluar, belajar menjadi kakak pembina di beberapa sekolah dasar, persami, dan lomba-lomba puisi, pidato, bahkan MTQ.
Atas kehendak Allah, sekolah menengah atas saya harus masuk pesantren. Notabennya, dalam pesantren santri tidak boleh keluar area pesantren. Seluruh kegiatan didalam pesantren itu sendiri. Ikutlah kegiatan kumpulan Master Of Ceremony, OSIS pondok, OSIS Sekolah, Teater, Marawis, dan berbagai kegiatan ekstra intra di pesantren saya ikuti. Alhamdulillah, cukup aktif mengikuti lomba-lomba meski kadang modalnya hanya tekat saja seperti lomba MSQ, Pidato tiga bahasa dan MTQ.
Kenapa kelihatan banyak sekali dan padat dan bagaimana cara membagi waktu. Karena bawaannya senang, happy, bahagia mengikutinya tanpa beban dan paksaan. Jadi, sangat enjoy melakukannya sehingga capek pun kadang tak dirasa.
Di waktu itu masih ingat sekali, saya sangat senang menulis essay, paper dan dilatih membuat makalah. Pada waktu masih kelas sebelas, saya mengikuti salah satu program pertukaran pelajar. Ada salah satu kakak kelas yang sudah berhasil, selama satu tahun ke Negeri Paman Sam.
Program yang di tahun saya, pertukaran ke Jepang dan Amerika. Tahap yang harus ditempuh pun tidak sedikit. Mulai dari membuat essay, paper pada waktu masih menggunakan tulisan tangan. Tes pengetahuan pertama saya masih ingat, di SMA Wahid Hasyim Tebuireng. Kami satu pondok sekitar sepuluh santri diantar memakai elf. Ternyata sesampai di sana, pesertanya sekitar ratusan santri pilihan dari berbagai sekolah menengah atas negeri atau swasta Sekabupaten Jombang.
Dalam satu ruangan, ada dua puluh santri, dengan dua pengawas.
Selang lima hari, ada pengumuman untuk tahap kedua, membawa essay yang kita tulis. Pada waktu tes dilaksanakan di Universitas Merdeka Malang, yang berhasil ke tahap dua ini hanya lima santri dari pesantren kami, salah satunya saya.
Kami dipanggil satu persatu dalam ruangan tersebut ada empat dewan juri. Dua orang dosen dan dua orang bule. Pada waktu itu, saya ditanya tentang culture (budaya) asal daerah saya yaitu Tulungagung. Saya mengenalkan dan menjelaskan culture mulai dari masyarakatnya, adat istiadat dan segala ikon yang ada di Tulungagung. Dan saya merasa bangga, bisa mengenalkan kota kelahiran saya kepada para dewan juri yang berkewarganegaraan Australia tersebut.
Pada tes wawancara tersebut tentu saja bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Lagi-lagi modal saya tekad kuat, pangestu dari abah umi dan para guru, bismillah.
Alhamdulillah tes tersebut saya lewati tanpa halangan apapun artinya sangat lancar, untuk keputusan hasil saya pasrah dan berdoa kepada Allah yang terbaik.
Tahap ketiga ke Jakarta untuk dikarantina, dari lima santri tersebut yang lolos ditahap ini ternyata hanya dua santri. Namun, jalan terbaik untuk saya pada waktu itu, saya belum seberuntung mereka. Saya masih ingat nama teman saya yang lolos ada Mbak Wilda dan Gus Rofiq Hudawi.
Setelah pada tahap tersebut, ada tahap akhir sebelum berangkat ke luar negeri. Pada akhirnya yang lolos hanya satu Mbak Wilda dan berangkat ke negeri paman sam.
Itulah, sepenggal cerita pengalaman bagaimana perjalanan diri ini, yang masih perlu banyak belajar berbagai hal. Jangan berhenti belajar dan terus berproses.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar