Mayoran pertama kali mengenal kata dan istilah itu sewaktu di pesantren. Mayoran adalah kegiatan makan bersama di suatu wadah lengser. Lengser semacam wadah besar.
Biasanya satu lengser terdiri dari lima sampai tujuh orang. Menu dalam mayoran bukan menu yang mewah. Justru dengan menu sederhana dan satu lengser untuk bersama itu yang menjadi mewah.
Menunya sangat amat sederhana, seperti nasi, sambal pecel, aneka sayur rebus dan kerupuk. Menu yang sederhana itu Subhanallah sangat nikmat. Awalnya agak gimana gitu, karena banyak tangan si A, si B tapi tak peduli. Kita semu beralmamater sama, senasib dan seperjuangan tetap lezat dan nikmat.
Mayoran, biasa kita adakan di hari yang istimewa seperti setelah rutinan kegiatan malam jumat dibaan, muhadoroh atau tahlilan bahkan acara besar temu alumni atau Haul. Dulu jiika salah satu dari kita yang ulang tahun, kita juga adakan mayoran. Sekali lagi dengan menu yang sederhana.
Kisah mayoran yang hampir sepuluh tahun lalu, sungguh indah, namhn kali ini berbeda. Mayoran bersama kawan-kawan seperjuangan ditunda dulu, karena musim Pandemi. Untuk mengobati rasa kangen itu, saya dan suami adakan mayoran. Iya, hanya berdua, biasanya pasangan suami istri sepiring berdua. Kali ini, selengser berdua.
Waw... kelihatan banyak selengser berdua. Tapi tenang, lengsernya kecil guys. Menunya apa? Iya nasi wajib ada, kotok gerih (ikan asin, tempe tomat dab cabaibutuh dibumbuhi) dan dadar jagung. Hemm so yummy. Memambah keromantisan pasutri dan mengobati kangennya mayoran di pesantren. Mayoran juga menambah rasa nikmat pada hidangannya. Buktinya suami nambah terus. Allahmdulillah... mari mencoba....


Tolong dicarikan asal usul tembung mayoran itu:
BalasHapusDari mana, siapa pencetusnya, dan berasal dari kata apa. Saya masih dengar kali ini. Kalauarm kembol lsin lagi ya?