Rabu, 16 Juni 2021

Handphone Dimasa Pandemi



Berakhirnya tahun ajaran baru ini, mengingatkan bahwa satu tahun penuh siswa tidak bersekolah dengan tatap muka seperti biasa. Tahu-tahu mereka sudah lulus dan naik kelas. Lalu untuk kefahaman atau kualitas perlu ditinjau ulang.

Pandemi, benar-benar mengubah segala pola kehidupan. Terutama di dunia pendidikan. Mereka di paksa, untuk mengikuti segala teknologi. Terutama handphone.

Saya kira handphone ini akan banyak memberikan dampak yang sanga luar biasa. Jika manusianya tidak siap dan tanpa pendampingan saya yakin akan banyak merugikan. Sekarang bisa mengaca, siapa hari ini yang tidak mempunyai handphone.

Hampir semua merasakan demikian, lalu bagaimana solusinya. Semua balik kepada lingkungan mereka besar. Terutama keluarga, setidaknya membatasi durasi dalam menggunakan handphone itu sudah meminimalisir mereka untuk disiplin.

Jangan percaya penuh terhadap anak. Kita mungkin kalah canggih dari mereka. Kalah terampil dalam menggunakan handphone. Oleh karena itu, membatasi, mendisiplinkan dalam menggunakan handphone sangat perlu.

Beberapa orang tua telah mencurahkan hati, game di handphone perlu token, token perlu uang. Harusnya mereka belajar hemat dengan menabung, tapi mereka sebaliknya mereka lebih boros. Dan jika sudah akut atau kecanduan dengan game, jika tidak beri uang token mereka akan marah dan rela tidak makan seharian. Ini sangat memprihatinkan.

Belum lagi dampak kesehatan, terutama.kesehatan mata. Banyak sekali anak-anak yang masih duduk dikelas satu sekolah dasar, harus memakai kacamata minus. Dampak sosialnya kadang seusia anak-anak harus banyak bermain secara langsung. Seperti permainan congklak, gubak sodor, petak umpet, gatheng dan permainan tradisional yang lain. Lalu, mereka sekarang sudah jarang mengetahui permainan itu semua. Karena sudah ke geser dengan adanya permainan online di handphone. Sangat disayangkan, padahal kita tahu permainan tradisional banyak sekali manfaatnya. Salah satunya melatih motorik mereka, cara bersosial dengan teman. 

Mari, bersama-sama menjaga anak kita, atau generasi penerus dalam menggunakan handphone. Dan mengenalkan kembali permainan tradisional agar tetap lestari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...