Part 2
“Zoya, sudah bangun?” (Zoya
tidak serta merta langsung menjawab)
setelah pukul enam pagi
Hibu mengiri pesan lagi
“Zoya, kalau ada waktu
longgar, mohon di balas ya..” (Zoya, bergumam, kok pesannya tidak seperti
biasa) kemudian, Zoya menjawab dengan gaya bahasanya yang akrab seperti biasa.
“Yoi Brow, aku mager nih, tap
janjian mau ke Pasar Minggu sama konco-konco persiapan”. Kata Zoya
“Aku gabung ya? Boleh ya…”
jawab Hibu
“lha ini cewek-cewek entar
kamu cowok sendiri kagak sungkan apa :P” jawab Zoya
“okelah, next time aja,
tapi boleh gak aku telfon sebenar ke kamu” kata Hibu
Zoya mulai tahu gerak-gerik
Hibu, dibenak Zoya berkata pasti ini mulai tanya-tanya dan kepo tentang Dini,
padahal mereka sering bareng kenapa aku yang ditelfon. Pesan Hibu pun tidak di
jawab, sampai seminggu berjalan tanpa adanya kabar. Zoya tak ambil pusing, dan
Dini hanya satu dua kali memberi kabar kalau dia dan Hibu lagi sibuk di
organisasi.
Dua hari setelah Dini
menghubungi Zoya, tiba handphone Zoya berdering dan itu telfon dari Hibu, sebenarnya
Zoya tak ingin menerima telfon tersebut. Namun, dia khawatir jika terjadi
apa-apa kepada Dini.
“Assalamualaikum Zoya” sapa
Hibu
“Waalaikumsalam Bro, ada
apa tumbenan telfon?” Tanya Zoya
Hibu terlalu banyak
basa-basi, sedangkan Zoya tak begitu menanggapi sebab dia sangat cuek dan beum
kepikiran akan pasangan. Setelah bercerita kesana kemari, Hubi mengutarakan
semua isi hatinya. Zoya masih berfikir dia curhat tentang Dini, yang lebih dekat
dengan dia. Zoya yang tak begitu menanggapi dan tidak mau mengganggu pikirannya, akhirnya ungkapan isi hati itu berlalu sebulan tanpa jawaban. Malah
Zoya enggan bertemu Hubi, sebab takut akan terbawa perasaan dan kondisi.
Zoya masih nyaman akan
dirinya yang single, karena dia mempunyai prinsip jika memang ada seorang
laki-laki menyukai atau tertarik, langsung saja datang ke rumah dengan tujuan
agar tahu akan latar belakang Zoya sebenarnya. Entah apa yang terjadi, suatu
ketika di depan perpustakaan kampus yang megah itu. Dari kejauhan Zoya melihat
Dini, kemudian menyapanya “Din…Din..Din”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar