Hari Minggu, metime bersama keluarga. Salah satunya masak kesukaan keluarga. Hari ini menu sarapannya adalah sego tahu. Sego tahu atau nasi tahu dengan ke khasan keluarga.
Jam tujuh sudah siap untuk sarapan. Sego tahu, tentu disajikan dengan nasi hangat dilengkapi dengan kontimen lain. Tempe goreng, irisan tahu kecil goreng setengah matang, kacang tanah goreng, irisan bawang merah goreng, kecambah kecil dan irisan daun kecei, kemudian sambel bawang cair, siram dengan kecap dan teh hangat.
Setelah sarapan baru membuat menu siang. Sekitar jam delapan baru mulai. Dengan menu kalau dalam bahasa Jawa kelan jangan rebung dan koro ose. Saya kurang tahu bahasa Indonesianya mungkin lebih ke lodeh kali ya.
Ketika bumbu sudah siap bahan sudah siap. Salah satu bahan bakunya adalah santan. Kita tahu santan dari kelapa yang biasa harus kita parut dengan mesin. Kalau zaman dulu, pasti di parut dengan alat manual atau lebih ke tradisional. Dan saya sama sekali tidak terbiasa. Bisa menggunakan tapi tidak maksimal, kalau Umi misal memakai parut tradisional tersebut kelapa itu sampai habis tinggal sisa kecil sedikit banget. Sedangkan saya masih besar udah saya akhiri. Karena takut kena parut tersebut.
Nah, kali ini berbeda, biasa menggunakan mesin. Tiba-tiba mesin parut yang biasa kita gunakan setiap hari itu, tidak bisa berjalan. Nyala powernya tapi tidak berputar mesinnya. Tidak panik, kalau ada Umi, tapi kali ini Umi sudah ada acara dari pagi sama Abah. Sehingga hari ini masak sendiri. Mau pakai blender juga kekentalan santan akan berbeda. Sebab santan itu setiap perasan dalam Jawa ada namanya, seperti kanil dan gebrah. Santan kanil itu santan yang masih kental biasanya tiga kali perasan saja, dan lebih sedikit. Kalau gebrah santan yang diperas setelah kanil dan biasanya lebih banyak sampai perasan kelapanya agak bening.
Ya sudahlah, sebisa saya menggunakan parut manual tersebut. Saya parut dan parut sebisanya, dan yang penting menghasilkan santan yang cukup buat kuah lodehku. Meskipun sisa-sisa kelapa masih besar-besar. Alhamdulillah lumayan banyak, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lumayan. Dan jangan rebung dan koro ose atau apalah lodeh rebung dan koro ose sudah jadi. Dan so yummy, dengan selera pedasnya.
Oh iya ada tips buat ibu-ibu kalau memasak koro ose, agar masih segar dan warnanya tetap hijau seperti punya saya. Caranya, setelah dibuang ujungnya langsung rebus di air mendidih, setelah empuk, tiriskan baru di cuci di air mengalir. Nah, dijamin koro osenya masih hijau segar. Dan ada rasa krancinya. Selamat mencoba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar