Sabtu, 10 September 2022

Kami Mengidolakannya


Saya pernah menuliskan sebuah puisi. Puisi tersebut untuk guruku yang menjadi inspirasiku hingga saat ini. Mungkin beliau tidak pernah merasa, jika sosoknya bisa menginspirasi murid seperti saya. Beliau sangat tawadhu'. Sebab, saya diwaktu itu kenakalan, kesalahan bahkan kekecewaan pernah saya buat untuk beliau. Normalnya, jika mengidolakan sosok guru, harusnya terus bagaimana mendapatkan label "baik" di mata beliau.

Masih saya ingat, ketika beliau menjelaskan dengan gamblang "Keteladanan Kepemimpinan Umar Bin Khottob" beliau awalnya menjelaskan dengan suara keras dan tegas namun tiba-tiba suaranya parau dan menangis. Satu kelas bingung, apa yang terjadi. Pada saat itu, hanya bisa penasaran mengapa hal tersebut membuat beliau menangis.

Penasaran itu, terus saya cari dan mencoba mencari solusi, tapi saat itu masih ada gengsi untuk bertanya langsung. Saya baca dan baca tentang Khulafaurrasyidin, satu persatu perjuangan sahabat-sahabat Nabi tersebut. Ternyata, saya menemukan jawaban dari hal itu, kurang lebih lima hari. Beliau yang tawadhu' dengan siapapun, ternyata mempunyai kepekaan hati yang amat luar biasa. Rasa syukur atas segala yang dimiliki tidak membuat beliau terlihat sedih atau bahagia, beliau selalu terlihat biasa bahkan sebetulnya beliau luar biasa prestasinya dan pribadinya. Seakan suasana apapun yang beliau miliki tetap menjadi dirinya sendiri. 

Sekarang papan, sandang dan pangan sepertinya bukan hal yang sulit didapatkan jika kita mau berusaha keras dan ikhtiar. Namun, mengapa norma, moral bahkan karakter bisa terkikis oleh perkembangan zaman? Sosok kepemimpinan juga demikian. Mungkin jawaban yang saya dapatkan demikian. Menjadi pemimpin dengan tetap menjadi sosok sederhana, bahkan meninggalkan jabatan formalnya hanya untuk kemaslahatan umat. Dan saya rasa guru saya menjadi sosok yang begitu. 

Semoga semua guru kami diberikan kesehatan, umur panjang serta keberkahan dan tetap menjadi pejuang untuk mendidik anak bangsa dari generasi ke generasi. Salam ta'dzim kami untuk panjenengan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...