Ketulusan yang terus diasah.
Keikhlasan yang terus dilatih. Ketawadhuan yang terus dikedepankan. Kurangi
membuktikan sesuatu pada manusia. Karena kecil tidak dihargai, besarpun sesekali
diungkit. Bahkan bagus sekalipun tetap tidak dihargai, dan bahkan benarpun
kadang kita tidak akan dighibahi.
Beberapa orang beorientasi
untuk membuat bahagia orang lain dengan selalu berkata “iya”. Padahal dibaliknya,
rasanya beban yang terlalu berat menghantui. Sebab, hanya ingin dipuji bukan
atas kesadaran akan kewajiban. Dibenturkan dengan kata “iya” dan harapan penuh
pujian “hanya kamu”, “satu-satunya” namun, tak berterus terang sebetulnya yang
terjadi. Sehingga dia lupa untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Berbagai karakter telah
ditemui, semakin banyak teman dan relasi akan tahu bagaimana cara menghadapi. Bukan
perkara sikap dewasa atau tidak, namun pentingnya saling menghormati, menghargai
dan memahami. Setiap orang pasti memiliki rasa kecewa bahkan jengkel. Tinggal bagaimana
cara mengemasnya, marah itu boleh dan wajar sebagai manusia biasa. Yang harus
diperhatikan sebetulnya adalah bagaimana mengendalikannya.
Kesabaran demi kesabaran dipelajari
mencoba untuk melakukannya dan menerapkannya. Entah mengapa, mulut tidak bisa
berkata bohong, bahwa ketidak tepatan dalam suatu hal membuat bertindak jelas
dan terang. Sehingga ketidak setujuan juga semakin mudah dibaca oleh orang
lain. Padahal sudah berusaha mati-matian untuk menutupi. Dari awal sudah mencoba
mengingatkan, tetapi hasilnya nihil.
Demi ketenangan jiwa dan
raga. Demi kesehatan mental dan hati, selalu dibarengi dengan rasa tanggung
jawab. Ketika mengetahui niat itu tidak terlihat, jalan satu-satunya adalah
memperbaiki tingkah laku supaya mereka faham betul bahwa niat kita benar-benar
baik. Dan yang berhak menilai dan mencatatat amal kebaikan atau keburukan bukan
dia yang terbuat dari tanah dan kembali ke tanah namun Allah Yang Maha Esa.
Intinya, lakukan sebaik
mungkin bila belum menjadi prioritas dan belum sanggup berterus terang saja. Artinya
budayakan berkata ”tidak” jika benar-benar belum mampu. Tidak perlu memaksakan diri untuk menunjukkan
rasa “aku”. Semua tidak akan berarti dan bernilai baik bagi orang yang menilai
dari awal buruk. Pelabelan yang melekat sulit dihilangkan sebab sudah tak punya
rasa suka atau peduli.
Jalani saja, hidup sekali buat
yang bermanfaat seluas-luasnya. Kalau berdiri di atas kebenaran, maka tidak
perlu risau. Asal tahu saja, hidup itu penuh perjuangan. Perjuangan itu tidak
hanya satu tempat, namun berjuang dan perjuangan adalah dimana saja kita selalu
di letakkan, ditempatkan dan dipilihkan oleh Allah. So, always to smile, don’t care
with negative opinion others.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar