Bergabung di webminar dengan beliau-beliau Profesor dan Doktor niat tolabul'ilmi. Bertemu dengan semua peserta yang luar biasa. Minimal dalam satu niatan yakni tolabul'ilmi dan mencintai dunia menulis.
Pada webminar kali ini dengan dibantu aplikasi zoom, beberapa kali keluar masuk, sebab terkendala wifi. Saya mengikutinya menggunakan hp, di kantor suami dan menunggu beliau yang masih mengajar. Sebelumnya, sempat diingatkan teman, sebab ternyata belum saya mute. Malunya diriku ini.
Pada materi pertama disampaikan oleh Prof Naim. Beliau menjabarkan tipe-tipe menulis. Setidaknya ada lima tipe, dengan segala masalah, kendala serta prioritasnya. Catatan utamanya adalah orang yang produktif, sebetulnya bukan orang yang diam saja. Melainkan mereka yang justru banyak sekali pekerjaan, kegiatan namun tetap mampu menulis.
Menulis juga akan menjadi kecondongan hati, dalam dunia santri biasa disebut ta'alluq. Kalau hati sudah condong dan mungkin belum melakukannya, rasanya ada yang kurang. Maka dia akan selalu memberikan waktu dan memanfaatkan waktu untuk selalu menulis.
Beliau dalam sesi tanya jawab juga memberikan tips bagaimana mengatasi ketika menulis mengalami kemandegkan. Salah satunya adalah diskusi, membuat template jika menulis ilmiah, membaca dengan nyemil artinya satu buku tidak harus dihabiskan dalam satu duduk. Mengatasi perasaan "tulisan seperti kurang, tapi tidak tahu dimana kurangnya" itu bukan perasaan tapi memang kenyataan kata beliau. Solusinya yakni dengan tulisan yang ada di laptop bisa dicetak atau di print out.
Menulis itu memang ada tahapnya yakni pre-writing, writing, editing with reading. Pada tahap editing inilah kadang kita masih belum maksimal. Salah satu cara edit yang paling mudah adalah print out dan corat coret pakai bolpoin atau pensil. Dan dibaca berulang-ulang.
Beberapa catatan penting inilah yang menjadi suntikan semangat untuk tetap menulis. Materi kedua disampaikan oleh Prof Chirzin, dalam muqaddimahnya beliau membacakan surah Al'Alaq ayat satu sampai lima. Beliau memberikan semangat bahwa menulis adalah tanda keberadaan.
"Aku Berfikir Karena Aku Ada"
"Aku Menulis Karena Aku Ada"
Menulis juga bagian dari cinta dengan sesama. Bahan menulis bisa dengan membaca buku dengan sebanyak-banyaknya. Sebagai penulis harus selalu memiliki komitmen yang kuat. Sehingga, sesibuk apapun pasti ada sisa waktu untuk menulis.
Alhamdulillah acara ini sangat luar biasa sesuai dengan temanya yakni Ruang Inspirasi. Saya menjadi ingat betul, pada tipe-tipe penulis, menemui kemandegan penulis dalam menulis itu adalah bagian dari proses. Namun, sebagai catatan bagi diri saya sendiri, didalam berproses jangan lantas terlena untuk berhenti. Oleh sebab itu, mari terus menulis dan salam literasi


Terimakasih mbk filza untuk catatannya. Saya pas ada kendala. Jd gak bisa mengikuti😁
BalasHapusSami2 bu,,,
BalasHapus