Guru digugu lan ditiru dari kalimat Jawa yang sangat benar. Bahwa guru pasti didengarkan dan dicontoh. Apapun tutur kata guru dan tingkah atau perilaku seorang guru pasti akan direkam oleh siswa. Bahkan cara berjalan dan cara berbicara.
Sebagai guru dalam berpenampilan juga bagian dari representasi. Kenyamanan dalam berpenampilan, kerapian akan membawa kepada suasana proses belajar mengajar. Misalnya saja, setiap hari seorang guru perempuan menggunakan bros dan warna lipstik yang sama, ketika tidak memakainya dapat dipastikan ada siswa yang menanyakan.
Segala yang diucapkan atau dijelaskan akan didengarkan oleh siswanya. Namun, adakalanya guru belum diperhatikan atau didengarkan jika posisi kelas belum siap, belum fokus untuk belajar. Sehingga guru perlu memiliki ciri khusus misalnya suara yang berwarna-warni. Menirukan suara burung misalnya, membuat ice breaking yang terbaru dan membuat mereka antusias mendengarkannya.
Guru juga memberikan nasihat kepada siswanya, sebetulnya hal itu dilakukan untuk menasihati diri sendiri. "Jangan boros, beli jajan secukupnya" hal ini dilakukan untuk mengingatkan diri sendiri. Kemudian "jangan menunda-nunda pekerjaan, sebab sama halnya melamar kegagalan" "tepat waktu dalam segala hal". Semua nasihat itu akan menjadi omong kosong, mana kala yang memberikan nasihat tidak mengamalkannya.
Guru sepanjang hayatnya akan terus belajar dan belajar. Untuk selalu lebih baik dalam segala hal. Mungkin wujud keberhasilan guru sebagian orang mengukurnya dengan keberhasilan nilai siswanya yang serba seratus atau sembilan. Namun, sejatinya keberhasilan guru akan lebih berarti jika karakter dan akhlak siswanya dan ketaatan kepada Allah bisa bertambah.
Semoga slogan guru digugu lan ditiru tidak hanya terpampang nyata untuk dibaca saja. Namun mampu untuk dihayati, sehingga hari demi hari mampu berinovasi, berkreasi dan mengembangkan dunia pendidikan yang lebih berarti dan bermakna.
Salam Semangat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar