Guru kelas berbeda dengan guru mata pelajaran. Kami dituntut untuk menguasai segala mata pelajaran, bahkan seni rupa, tari maupun musik. Kadang itu menjadi istimewa tapi adakalanya menjadi kelemahan. Tidak hanya itu, kepramukaan dan olahraga juga tak luput, guru kelas harus juga menguasai.
Terlepas dari itu, pendidikan itu tetap menyenangkan. Belajar untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Belajar untuk menjadi pelayan publik dengan segala dinamikanya. Kemudian berhadapan dengan anak-anak yang sangat luar biasa. Banyaknya karakter dengan latar belakang yang berbeda. Hal tersebut kita menjadi sangat tahu untuk bersikap dan belajar sabar.
Sejak tahun 2013 sampai sekarang, menjadi guru kelas secara garis besar yang paling menonjol perbedaannya adalah dimana daerahnya lalu lembaga naungannya. Misalnya di Malang di SD Negeri menjadi guru kelas, sedikit terbantu dengan guru mata pelajaran misalnya agama, olahraga, Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Saya menemukan yang berbeda ketika di Madrasah Ibtidaiyah di daerah semua mapel diserahkan kepada guru kelas, kecuali olahraga. Sebetulnya ini kesempatan yang luar biasa untuk mengasah segala skill dan kemampuan guru tersebut.
Ketika guru kelas fokus dikelas dengan segala kegiatan belajar mengajar, banyak kegiatan dengan siswa, ternyata belum selesai sampai disini. Guru juga diharuskan membuat dokumen yang lain. Seperti, rencana pembelajaran, silabus, prota dan promes. Dokumen-dokumen tersebut memang wajib dibuat dan dimiliki oleh setiap guru sebagai acuan pembelajaran dalam seminggu, sebulan, satu semester sampai satu tahun.
Setiap guru istimewa, namun porsi guru kelas yang lebih banyak dikelas, setiap hari bertemu anak-anak inilah yang membuat lebih istimewanya guru kelas. Mari terus semangat untuk mengabdi dalam mengantarkan generasi untuk yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar