Mengajarkan kepada anak-anak kelas V tentang menulis
diskripsi dimata pelajaran Bahasa Indonesia mungkin masih tergolong mudah. Sebab
pengantar, definisi dan struturnya disampaikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
Kita tahu bahwa teks diskripsi adalah teks yang menggambarkan segala sesuatu
dengan detail. Paling mudah ketika mengajar dengan mencontohkan pembuatan teks
tersebut mengawalinya dengan mengidentifikasi dan menetukan suatu benda yang
sering ditemukan dan tidak asing bagi peserta didik, misalnya makanan, tempat
wisata dan permainan.
Struktur teks diskripsi terdiri dari identifikasi,
deskripsi atau penggambaran secara rinci dan kesimpulan. Pembelajaran menulis
diskripsi diawali dengan menentukan benda atau tempat yang akan didiskripsikan,
menulis kerangka karangan, menentukan judul dan menyusunnya sesuai dengan
struktur teks diskripsi. Pengembangan kalimat akan lebih mudah dilakukan mana
kala kerangka karangan yang mereka buat berurutan. Sehingga sebagain besar
peserta didik kelas V, mereka mampu untuk menyelesaikannya.
Kondisi berbeda saat pembelajaran Bahasa Jawa,
terdapat menulis teks diskripsi tentang lingkungan. Harusnya menulis teks diskripsi
menggunakan Bahasa Jawa jauh lebih mudah, karena bahasa daerah dan digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga, kami memprediksinya peserta didik akan lancar
dan cepat selesai.
Faktanya, mereka menemukan banyak kesulitan
diantaranya ketika pelafalan Bahasa Jawa dengan penulisannya berbeda. Misalnya
dalam kalimat berikut jika dilafalkan akan berbeda dengan penulisannya.
“Kula lan keluarga dolan menyang segara Sine. Segara Sine
kathon endah lan cemarane iso
kanggo iyup-iyup para pengunjunge”
Dari cuplikan kalimat diatas, banyak peserta didik
yang menuliskan sesuai dengan pelafalannya. Misalnya, kula=kulo, cemara=cemoro,
para= poro dan seterusnya. Sehingga peserta didik perlu sekali untuk pengenalan
dan faham dengan penulisan Bahasa Jawa dengan betul.
Saya menjadi teringat, bahwa benar sekali jika bahasa
daerah atau lokal tidak dihidupkan dan dilestarikan lalu siapa yang akan
melanjutkannya. Zaman terus berkembang dan maju, begitu pula penggunaan bahasa.
Gen Z, cenderung tidak faham penggunaan, bahasa daerah mulai dari ngoko alus,
ngoko lugu, krama alaus dan krama inggil. Oleh sebab itu, meskipun hanya dua
jam seminggu sekali dalam pembelajaran Bahasa Jawa di madrasah hendaknya haris
dimaksimalkan.
Ini catatan besar bagi seorang guru. Mungkin tidak
hanya penulisan Bahasa Jawa dengan redaksi latinnya, tetapi juga dengan tulisan
yang menggunakan aksara Jawa dengan pasangan-pasangannya. Mari terus belajar
untuk meneruskan dan melanjutkan budaya-budaya lokal kita dengan terus
mempelajarinya dan mempraktikkan dalam kehidupan. Semoga bermanfaat

Mbak Filza, mari terus berkarya
BalasHapusnjih pak,, terus semangat kados njngan
Hapus