Selasa, 05 Maret 2024

Pembelajaran Menulis Diskripsi

 



Mengajarkan kepada anak-anak kelas V tentang menulis diskripsi dimata pelajaran Bahasa Indonesia mungkin masih tergolong mudah. Sebab pengantar, definisi dan struturnya disampaikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Kita tahu bahwa teks diskripsi adalah teks yang menggambarkan segala sesuatu dengan detail. Paling mudah ketika mengajar dengan mencontohkan pembuatan teks tersebut mengawalinya dengan mengidentifikasi dan menetukan suatu benda yang sering ditemukan dan tidak asing bagi peserta didik, misalnya makanan, tempat wisata dan permainan.

Struktur teks diskripsi terdiri dari identifikasi, deskripsi atau penggambaran secara rinci dan kesimpulan. Pembelajaran menulis diskripsi diawali dengan menentukan benda atau tempat yang akan didiskripsikan, menulis kerangka karangan, menentukan judul dan menyusunnya sesuai dengan struktur teks diskripsi. Pengembangan kalimat akan lebih mudah dilakukan mana kala kerangka karangan yang mereka buat berurutan. Sehingga sebagain besar peserta didik kelas V, mereka mampu untuk menyelesaikannya.

Kondisi berbeda saat pembelajaran Bahasa Jawa, terdapat menulis teks diskripsi tentang lingkungan. Harusnya menulis teks diskripsi menggunakan Bahasa Jawa jauh lebih mudah, karena bahasa daerah dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kami memprediksinya peserta didik akan lancar dan cepat selesai.

Faktanya, mereka menemukan banyak kesulitan diantaranya ketika pelafalan Bahasa Jawa dengan penulisannya berbeda. Misalnya dalam kalimat berikut jika dilafalkan akan berbeda dengan penulisannya.

“Kula lan keluarga dolan menyang segara Sine. Segara Sine kathon endah lan cemarane iso kanggo iyup-iyup para pengunjunge”

Dari cuplikan kalimat diatas, banyak peserta didik yang menuliskan sesuai dengan pelafalannya. Misalnya, kula=kulo, cemara=cemoro, para= poro dan seterusnya. Sehingga peserta didik perlu sekali untuk pengenalan dan faham dengan penulisan Bahasa Jawa dengan betul.

Saya menjadi teringat, bahwa benar sekali jika bahasa daerah atau lokal tidak dihidupkan dan dilestarikan lalu siapa yang akan melanjutkannya. Zaman terus berkembang dan maju, begitu pula penggunaan bahasa. Gen Z, cenderung tidak faham penggunaan, bahasa daerah mulai dari ngoko alus, ngoko lugu, krama alaus dan krama inggil. Oleh sebab itu, meskipun hanya dua jam seminggu sekali dalam pembelajaran Bahasa Jawa di madrasah hendaknya haris dimaksimalkan.

Ini catatan besar bagi seorang guru. Mungkin tidak hanya penulisan Bahasa Jawa dengan redaksi latinnya, tetapi juga dengan tulisan yang menggunakan aksara Jawa dengan pasangan-pasangannya. Mari terus belajar untuk meneruskan dan melanjutkan budaya-budaya lokal kita dengan terus mempelajarinya dan mempraktikkan dalam kehidupan. Semoga bermanfaat

2 komentar:

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...