Minggu, 25 Agustus 2024

Surprisingly Ngaji Di Teras Gubuk Ploso

 



Malam minggu yang istimewa, tanpa terencana tiba-tiba saya celetuk kepada suami ingin ngaji di Ploso. Tanpa basa-basi beliau meng-iyakan, dan sekitar pukul setengah lima sore kita berangkat. Ngaji perdana bersama Gus Kautsar di Teras Gubuk di Ploso, yang sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali.

Kami berdua sudah menyiapkan bekal, bahkan membawa banner persiapan untuk alas duduk, serta alat sholat. Tidak ada bayang sedikitpun disana bahkan lokasi tepatnya dimana. Intinya Bismillah niat ingsun ngaji dan ngalab berkah. Kami sempat gojlokan dijalan, sesampai disana kita tidak mengenal siapapun lalu nantinya bagaimana kataku, beliau menjawab nggeh nderek dan nibrung saja.

Kami sholat maghrib di masjid Al Muslimun Kepatihan Tulungagung, kemudian melanjutkan jalan, dengan sangat santai tanpa ngebut menikmati ramainya malam minggu di jalan raya. Lalu kita iseng lewat di Pondok Mbaran Maesan, disitulah kita mulai menggunakan maps untuk memastikan lokasi ngajinya.

Cuacanya sangat dingin, sehingga saya pun lengkap dengan jaket serta kaos kaki. Kami melihat bendera besar diatas masjid pondok induk Ploso, itu artinay lokasi sudah dekat dan Alhamdulillah telah sampai. Rasanya lega dan senang sekali, mungkin kami tergolong masih awal sehingga jamaah belum terlalu berjubel. Kemudian banyak panitia mengarahkan untuk parkir, kami memasuki gang kampung kecil dan ada mushola, suami mengambil wudhu dimushola tempat kita parkir. Setelah itu kami diarahkan untuk ke lokasi dan suara gema sholawat berkumandang tidak jauh.

Kami melewat jembatan kecil dan kanan kirinya adalah pohon bambu. Kemudian depan lokasi Gubuk Teras terbentang sawah yang luas, Subhanallah tempatnya sangat nyaman, Gubuk Teras dihiasi lampu-lampu dan taman serta gedung di sisi barat serta paling pojok utara barata ada toko beliau dan disisi timur ada toilet serta tempat wudhu. Pokoknya tempatnya sangat nyaman, keren dan asri.

Luar biasa kami diberikan selembar fotocopy Kitab Irsyadul Ibad, kantung kresek untuk sandal, air minum tersedia untuk mengambi dan memilih sendiri apakah mineral, kopi panas atau teh panas. Alas duduk sudah ditata sedemikian rupa disana, sehingga alas yang kubawa pun tak terpakai. Lalu antara jamaah putra dan putri dipisah. Putri disisi barat putra disisi timur gubuk. Selanjutnya saya duduk dan tidak lama mbak-mbak santri menghampiri dan memberikan satu kotak mika buah klengkeng.

Surprisingly, beliau Ning Jazil yang merupakan istri dari Gus Kautsar menghampiri setiap jamaah dengan sangat sangat ramah dan senyumnya beliau, termasuk saya. Ini membuat saya sangat kaget dan saya mengikuti jamaah yang lain untuk mushofahah dengan beliau. Lalu, beberapa jamaah meminta tolong saya untuk memfotokan, sontak saya tremor dan memfotokannya hampir lima kali klik dan memastikan tidak blur.

Lalu beliau ngendikan “mbak njenengan belum kefoto lo, monggo-monggo mriki” saya sangat speechless tidak bisa berkata-kata. Mungkin wajahku sudah tidak terkontrol bahagianya, sebab selama ini saya hanya melihat beliau di Ig. Ini bertemu langsung dan mushofahah. Masyallah semoga ini membawa berkah.


cuplikan momen saat memfotokan


Sambil menikmati gema sholawat saya berkenalan dengan beberap jamah putri yang tak lain adalah warga sekitar gubuk, beliau bercerita bahwa gubuk ini termasuk bangunan baru dan baru saja beberapa hari diresmikan dan malam ini untuk pembukaan ngaji. Next part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...