Malam minggu yang istimewa, tanpa terencana
tiba-tiba saya celetuk kepada suami ingin ngaji di Ploso. Tanpa basa-basi
beliau meng-iyakan, dan sekitar pukul setengah lima sore kita berangkat. Ngaji
perdana bersama Gus Kautsar di Teras Gubuk di Ploso, yang sebelumnya tidak ada
bayangan sama sekali.
Kami berdua sudah menyiapkan bekal, bahkan
membawa banner persiapan untuk alas duduk, serta alat sholat. Tidak ada bayang
sedikitpun disana bahkan lokasi tepatnya dimana. Intinya Bismillah niat
ingsun ngaji dan ngalab berkah. Kami sempat gojlokan dijalan, sesampai disana
kita tidak mengenal siapapun lalu nantinya bagaimana kataku, beliau menjawab nggeh
nderek dan nibrung saja.
Kami sholat maghrib di masjid Al Muslimun
Kepatihan Tulungagung, kemudian melanjutkan jalan, dengan sangat santai tanpa
ngebut menikmati ramainya malam minggu di jalan raya. Lalu kita iseng lewat di
Pondok Mbaran Maesan, disitulah kita mulai menggunakan maps untuk memastikan lokasi
ngajinya.
Cuacanya sangat dingin, sehingga saya pun
lengkap dengan jaket serta kaos kaki. Kami melihat bendera besar diatas masjid
pondok induk Ploso, itu artinay lokasi sudah dekat dan Alhamdulillah telah
sampai. Rasanya lega dan senang sekali, mungkin kami tergolong masih awal
sehingga jamaah belum terlalu berjubel. Kemudian banyak panitia mengarahkan
untuk parkir, kami memasuki gang kampung kecil dan ada mushola, suami mengambil
wudhu dimushola tempat kita parkir. Setelah itu kami diarahkan untuk ke lokasi
dan suara gema sholawat berkumandang tidak jauh.
Kami melewat jembatan kecil dan kanan
kirinya adalah pohon bambu. Kemudian depan lokasi Gubuk Teras terbentang sawah
yang luas, Subhanallah tempatnya sangat nyaman, Gubuk Teras dihiasi lampu-lampu
dan taman serta gedung di sisi barat serta paling pojok utara barata ada toko
beliau dan disisi timur ada toilet serta tempat wudhu. Pokoknya tempatnya
sangat nyaman, keren dan asri.
Luar biasa kami diberikan selembar fotocopy
Kitab Irsyadul Ibad, kantung kresek untuk sandal, air minum tersedia
untuk mengambi dan memilih sendiri apakah mineral, kopi panas atau teh panas. Alas
duduk sudah ditata sedemikian rupa disana, sehingga alas yang kubawa pun tak
terpakai. Lalu antara jamaah putra dan putri dipisah. Putri disisi barat putra
disisi timur gubuk. Selanjutnya saya duduk dan tidak lama mbak-mbak santri
menghampiri dan memberikan satu kotak mika buah klengkeng.
Surprisingly, beliau Ning Jazil yang merupakan istri
dari Gus Kautsar menghampiri setiap jamaah dengan sangat sangat ramah dan
senyumnya beliau, termasuk saya. Ini membuat saya sangat kaget dan saya mengikuti
jamaah yang lain untuk mushofahah dengan beliau. Lalu, beberapa jamaah
meminta tolong saya untuk memfotokan, sontak saya tremor dan memfotokannya
hampir lima kali klik dan memastikan tidak blur.
Lalu beliau ngendikan “mbak njenengan
belum kefoto lo, monggo-monggo mriki” saya sangat speechless tidak
bisa berkata-kata. Mungkin wajahku sudah tidak terkontrol bahagianya, sebab
selama ini saya hanya melihat beliau di Ig. Ini bertemu langsung dan mushofahah.
Masyallah semoga ini membawa berkah.
Sambil menikmati gema sholawat saya berkenalan dengan beberap jamah putri yang tak lain adalah warga sekitar gubuk, beliau bercerita bahwa gubuk ini termasuk bangunan baru dan baru saja beberapa hari diresmikan dan malam ini untuk pembukaan ngaji. Next part 2


Tidak ada komentar:
Posting Komentar