Senin, 30 November 2020

Ketika Juga Menjadi Jangan

 


Berawal dari kata "juga" dan "jangan". Sungguh membuatku malu kepayang. Di suatu pagi, saya sedang mencuci beberapa pakaian. Sambil menunggu mesin pengering, saya membuka handphone. Mulai membuka beberapa aplikasi, instagram, YouTube, dan WhatsApp.

Saya membuka aplikasi WhatsApp dan membuka salah satu grup. Lalu saya membaca sambil mengeluarkan pakaian dari mesin pengering. Bertemu sebuah kalimat kurang lebih seperti ini  "mohon juga dikirim ya". Apa yang terjadi di mata dan fokus saya di otak. Hemm... saya membacanya dengan "mohon jangan dikirim ya". Sungguh kesalahan yang fatal dan memalukan, karena pesan tersebut dari guru saya.

Kata "juga" dan "jangan" dari segi makna saja sudah sangat berbeda. Kata  "juga" bisa sebagai kata hubung. Tentunya menghubungkan dua hal yang berbeda atau sama. Kata "juga" bisa jadi suatu perintah. Misal seperti contoh kalimat di atas "mohon juga dikirim ya". Dari kalimat itu sudah jelas, itu bermakna perintah.

Sedangkan kata "jangan" dalam makna bahasa Indonesia sudah mengarah pada suatu larangan. Kecuali dalam bahasa Jawa Timuran, "jangan" bisa diartikan sebagai lauk pauk. Mari, kita bandingkan dua contoh di atas. Pertama, "mohon juga dikirim ya". Kedua, "mohon jangan dikirim ya". Amati dan rasakan kedua kalimat tersebut, sungguh berbeda maksud dan maknanya.

Tetapi, kenapa saya bisa salah fokus?.

Sudah jelaslah, karena membacanya kurang teliti, kurang konsentrasi karena fokusnya antara jemur baju dan membaca pesan. Sehingga menimbulkan kesalahan makna perintah menjadi suatu larangan. Oleh karena itu, membaca dengan sungguh-sungguh adalah kunci dalam memahami segala makna tersurat maupun tersiratnya. Membaca juga membutuhkan konsentrasi dan fokus.

Untuk Bapak Guru yang saya hormati, saya sungguh mohon maaf, akibat salah baca pesan njenengan. ๐Ÿ™๐Ÿป

Seberapa penting ilmu?


Ilmu agama dan ilmu umum. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Saya teringat dawuh  guru saya "berhati Masjidil Haram, berotak London". Dulu sewaktu masih di pesantren, saking seringnya kita dengar tentu selalu hafal dengan kalimat tersebut. Namun, namanya anak di masa seragam putih abu-abu, semua seperti angin berlalu.
Berjalannya waktu ke waktu, perjalanan mencari ilmu serta pengalaman yang diperoleh, maka semakin faham dan tahu apa maksud dari kalimat tersebut. Yaitu tentang ilmu agama dan ilmu umum.
Kedua ilmu tersebut menurut saya tidak bisa dipisahkan. Porsinya pun harus sama, artinya tidak boleh berat sebelah. Ilmu umum tanpa didasari ilmu agama akan kacau. Misalnya saja, seorang anak yang genius menemukan alat atau robot yang bisa mencuci baju. Jika tidak didasari dengan ilmu agama yang kuat. Dia bisa saja, merasa dirinya paling hebat, akhirnya menjadi orang yang takabur atau bisa jadi  robot yang diciptakan tidak menggunakan konsep fiqih, bagaimana mencuci bersih dan suci pada suatu pakaian, atau bahkan sebaliknya. Dari uraian tersebut, keseimbangan kedua ilmu itu penting dilakukan.
Di jaman modern ini, penuh dengan kecanggihan tekhnologi maka keberadaan ilmu agama sangat diperlukan. Namun, jangan salah, ilmu pengetahuan umum di era kemajuan ini semakin maju dan berkembang kita harus mengikutinya. Mau tidak mau tetap mengikutinya. Jika tidak ingin berubah menjadi lebih maju, ibarat orang berlomba lari teman sudah lari demi garis finis tapi kita masih berjalan ditempat.
Keseimbangan antar kedua ilmu itu penting. Seperti Rasulullah bersabda sebagai berikut:  

ู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุงْู„ุนِู„ْู…ِ، ูˆَู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ุขุฎِุฑَู‡َ ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุงู„ْุนِู„ْู…ِ، ูˆَู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَู‡ُู…َุง ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจุงِู„ุนِู„ْู…ِ

"Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu." (HR. Bukhori dan Muslim)

Itulah penjabaran dari kalimat "berhati masjidil haram berotak london". Intinya setinggi apapun ilmu kita, jangan meremehkan antar ilmu yang lain. Dan di manapun kita berada hendaknya selalu kita tetapkan karena mengharap RidhoNya.

Minggu, 29 November 2020

Cinta

Setiap manusia, sudah menjadi kodratNya mempunyai rasa cinta. Allah menganugerahi rasa cinta, bukan tanpa alasan. Bayangkan saja, jika manusia tanpa rasa cinta, sayang atau tepo seliro dan welas asih terhadap sesama. Mungkin perpecahan, perselisihan akan selalu terjadi setiap detiknya. 

Rasa cinta itu harus dibuktikan secara nyata. Misalnya, jika ada seseorang mengaku cinta, tetapi tanpa bukti konkret, hal itu hanya ilusi saja. Seperti cinta kita kepada Allah Maka harus kita buktikan secara nyata. Allah menjelaskan dalam Al Quran tentang cinta, dalam surah Ali Imran Ayat 31 sebagai berikut: 

 

ู‚ُู„ْ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชُุญِุจُّูˆู†َ ุงู„ู„َّู‡َ ูَุงุชَّุจِุนُูˆู†ِูŠ ูŠُุญْุจِุจْูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ۗ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ

Artinya: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di ayat tersebut, sudah jelas sekali cara membuktikan rasa cinta kita kepada Allah diantara ada "ikutilah Aku". Maka harus selalu kita taati segala perintahNya dan laranganNya, apapun itu. Contoh sederhananya, memenuhi segala kewajiban rukun Islam serta rukun ImanNya. Sepertinya terdengar umum menaati serta menjauhi laranganNya. Namun, jangan salah, kata "fattabi'unii" atau "ikutilah Aku" bisa dibuktikan dengan mengikuti segala sunnah RasulNya. Artinya, mencintai Allah itu dapat dibuktikan dengan banyak jalan. 

Seperti halnya mencari jodoh, masih selalu saya ingat, dawuh guru saya berkaitan tentang cinta. Pada waktu itu, saya yang menginjak jenjang masa remaja detik-detik mau diambang kelulusan dan menyandang sebagai alumni di madrasah tersebut. 

Tepatnya di bulan Ramadhan dihadapan para siswa, yang sedang mengikuti kegiatan  pondok Ramadhan. Setelah sholat dhuhur beliau menyampaikan apa sebenarnya makna cinta. Karena secara tidak sengaja, beliau menemukan surat milik salah satu santri yang kebetulan isinya dia sedang jatuh cinta kepada seseorang.

Lalu, beliau bertanya "apa sebenarnya cinta itu?". Semua santri terdiam, entah tahu atau susah menjelaskannya. Saya yang diantara mereka pun ikut berfikir bahkan mempunyai konsep bahwa cinta itu rasa senang atau suka terhadap seseorang. Tanpa ada embel-embel syarat tertentu.

Tetapi, konsep baru saya temukan akan makna Cinta itu sendiri dari beliau. Kata cinta terdiri dari lima huruf, yaitu C-I-N-T-A. Ada makna dibalik semua susunan huruf tersebut, diantaranya:

C=Carilah Ridha Allah

I=Ingin Selamat

N=Nurut Orang Tua

T=Tetapkan Semua Hal Untuk Ibadah

A= Allhamdulillah

Susunan makna perhuruf pada kata cinta di atas menurut saya sangat mendalam. Ternyata, konsep yang saya bangun di masa remaja waktu itu, masih kurang tepat. Membangun cinta dalam hal mencari jodoh, dasar paling awal dan utama adalah karena Allah. Lebih luasnya, cinta terhadap segala hal, harus kita libatkan Sang Pemberi Cinta itu sendiri yaitu Allah SWT. 

Tidak ada larangan menyukai, saling menyayangi dan mencintai antar sesama manusia. Namun, ada porsinya. Karena antara cinta dan nafsu jika tanpa benteng yang kuat, akan berbahaya.

Cinta, di akhir kata tersebut ada huruf "a" dimaknai dengan Alhamdulillah. Maka sudah jelas jika cinta yang dibangun atas dasar nama Allah, pasti akan menemukan kebahagiaan dan rasa syukur yang dalam.

Begitu juga di penjelasan akhir ayat di atas bahwa jika kita mampu mengikuti, membuktikan rasa Cinta kita kepada Allah, maka sudah jelas Allah akan balik mencintai, mengasihi serta mengampuni dosa kita. Subhanallah...

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apa makna cinta sesungguhnya? Sudahkan kita buktikan cinta kita terhadapNya? Dan seberapa besar cinta kita kepadaNya dan para utusanNya?

Jumat, 27 November 2020

Delicious Of Sambal Tomat

Sebagai pencinta kuliner pedas, ukuran rasa pedas yang menurut orang lain abnormal namun di lidah sudah terbiasa. Selain itu, tidak akan bosan dengan aneka cita rasa yang dikeluarkan dari puluhan cabai dengan perpaduan bumbu lain dalam suatu menu. Cabai biasanya sebagai bahan pokok untuk bumbu dalam memasak. Atau hanya disajikan menjadi menu pendamping seperti cabai dimakan secara langsung untuk lalapan atau dibuat sambel. Apapun yang dimasak tanpa cabai, menurut saya, masakan tersebut kurang sedap dan nikmat.

Mengenal berbagai macam sambel. Tentunya banyak sekali ibu-ibu hang sudah handal untuk membuat sambel. Ada berbagai jenis sambel yang bisa kita ketahui seperti, sambal korek, sambal santan, sambal pecel, sambal tomat, sambal bawang, sambal teri, sambal ikan asin, sambal jlantah (sisa minyak goreng) dan masih banyak lagi. Bahan pokok untuk membuat berbagai macam sambal tersebut ya cabai itu sendiri.

Sambal Tomat adalah sambel terfavorit buat saya, karena sambel tomat menurut saya, ada cita rasa yang lengkap, perpaduan pedas, segar dan sedikit rasa asam dari tomat membuat lebih sedap. Ditambah aroma bawang putih yang segar. Mantab sekali.

Lalu keahlian dalam tehnik mengolah sambel atau mengulek nya, itu juga berpengaruh pada cita rasa yang dikeluarkan. Nah, saya akan berbagi sedikit tips untuk cara mengolah sambal tomat agar tetap segar dan nikmat. Siapkan beberapa alat dan bahan, diantaranya:

1. Cabai (ambil sesuai selera), kalau saya biasanya 25 cabai atau 35 cabai

2. Tomat (2 atau 3 buah)

3. Bawang Putih ( 1 siung saja)

4. Garam

5. Cobek dan huleknya

Iyakan, bahannya saja sangat sederhana dan simpel.

Untuk Langkah dalam mengolahnya,

1. Cuci terlebih dahulu semua bahan (cabai, tomat dan bawang putih)

2. Iris tomat menjadi 6 bagian

3. Jadikan cabai dan tomat irisan dalam satu wadah mangkuk yang tahan rebusan,

Ingat bawang putih jangan ikut direbus.

4. Kemudian rebus (bahasa jawanya di dhang atau sambil diletakkan diatas menanak nasi)

5. Tunggu sampai lima hingga sepuluh menit untuk menunggu cabai dan irisan tomat agak lunak

6. Tips, biasanya, ada kandungan air tomat di mangkuk rebusan tersebut, bisa dibuang agar tidak terlalu banyak campuran air ketika sudah di haluskan

7. Siapkan lemper atau layah beserta huleknya untuk menghaluskan bahan tersebut, jangan lupa dicuci yerlebih dahulu.

8.Masukkan bawang putih mentah dan garam secukupnya lalu rebusan tomat dan cabai campurkan untuk dihaluskan bersama

9. Haluskan dengan cara mengulek secara perlahan dan sedikit memutar dan merata

10. Tips, tidak usah terlalu lembut, sehingga ketika disantap ada tekstur kasarnya sedikit.

11. Tara... sambal tomat segar siap disajikan


Kemudian, apa menu yang pas buat sambal tomat itu sendiri. Sering saya padukan dengan sayur kubis atau bayam yang sudah direbus serta tahu goreng dengan nasi yang hangat. So..Yummy Delicious 

Yakin tidak mau mencoba...

Yuk segera jangan ragu, untuk mencobanya...


Untaian Doa




    Manusia diantara makhluk yang lain adalah makhluk yang sempurna karena dikaruniai oleh Allah sebuah akal dan pikiran. Sehingga manusia dapat membedakan mana hal baik dan buruk. Disisi kesempurnaan sebagai manusia, tetap saja, manusia tempat salah, lupa dan penuh dengan kekurangan. Berbeda dengan Rasul Nabi kita, Muhammad SAW, paling sempurna dengan akhlak kemuliaannya dan beliau dijamin Allah Ma'shum (bebas dari dosa) dan sudah menjadi keharusan untuk mengidolakan, meneladani segala hal tentang beliau.

    Nabi Muhammad yang sudah dijamin Allah, ma'shum, tetap selalu istighfar dan berdoa kepada Allah. Setiap sekonnya beliau mengingat Allah, lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa, yang berlumur dosa setiap detiknya? Maka, kewajiban sebagai manusia yang penuh dengan dosa serta kelemahan, salah satunya dengan Berdoa.

    Berdoa adalah bentuk salah satu ibadah, dzikir atau mengingat untuk selalu memohon kepda Allah Yang Maha SegalaNya. Dalam Al Quran banyak sekali Firman Allah yang menjelaskan tentang Berdoa. Sebagian dari kita mungkin sudah familiar dengan salah satu firman Allah tentang berdoa, yaitu dalam Al Quran Surah Al Ghafir ayat 60: 

ูˆَู‚َุงู„َ ุฑَุจُّูƒُู…ُ ุงุฏุۡนُูˆูۡ†ِู‰ۡۤ ุงَุณุۡชَุฌِุจۡ ู„َู€ูƒُู…ۡؕ ุงِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠูۡ†َ ูŠَุณุۡชَูƒุۡจِุฑُูˆูۡ†َ ุนَู†ۡ ุนِุจَุงุฏَุชِู‰ۡ ุณَูŠَุฏุۡฎُู„ُูˆูۡ†َ ุฌَู‡َู†َّู…َ ุฏَุงุฎِุฑِูŠูۡ†َ

    Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina."

    Sudah sangat jelas, lantang dan gamblang Allah menjelaskan tentang Doa. Doa-doa yang kita panjatkan akan dikabulkan olehNya. Di kelanjutan ayat tersebut, diterangkan juga sebuah peringatan, jika kita sebagai manusia tidak mau berdoa, hanya mengandalkan otak serta kemampuan yang dimiliki, maka orang tersebut tergolong orang yang sombong dan pantas untuk masuk Neraka Jahanam. Naudzubillah..

    Untaian lafal doa yang kita lantunkan merupakan bentuk untaian kalimat-kalimat tayyibah yang isinya memuja, memuji keagungan dan memohon segala hal baik untuk diri kita , keluarga, serta orang-orang di sekeliling kita. Maka dalam memanjatkan doa, bisa dilakukan dalam segala kesempatan. Memang, lebih dianjurkan dimana waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Namun, juga tidak salah, akan lebih bagus jika dalam setiap hembusan nafas kita mengingat Allah dengan selalu berdoa dalam hati.

    Doa yang kita panjatkan, ada yang secara langsung, seperti halnya ketika kita membeli bakso, pesan langsung dapat di makan ditempatnya. Ada kala doa-doa yang dipanjatkan masih membutuhkan waktu yang tepat untuk kita dapatkan. Apapun hajat kita, bentuk pontang-panting ikhtiar yang dilakukan, JANGAN LUPA BERDOA. Tetapi, jangan disalah artikan, hanya mengandalkan doa tapi tidak mau berusaha hanya modal pangku tangan. Jangan ya..

    Jadi, jika diantara kita yang mungkin ada beberapa doa yang masih belum terwujud jangan putus asa, jangan bosan untuk selalu mengulang-mengulang doa tersebut. Bisa jadi doa tersebut, tidak sekarang bisa saja nanti untuk anak cucu keturunan kita. Dan bentuk doa-doa yang kita ulang-ulang sebagai bukti husnudzon kita kepada Allah. Yaqin Se Yaqinnya Doa Itu Akan Terwujud Dengan Waktu Yang Pas, Tepat Menurut Allah bukan kaca mata manusia biasa. Fighting๐Ÿ’ช๐Ÿป
 

Kamis, 26 November 2020

Berproses

Siapapun akan selalu menantinya. Malam Jumat atau hari Jumat adalah sayyidul ayyam, malam yang istimewa, selalu dianjurkan untuk memperbanyak sholawat, membaca Al Quran maupun sedekah.

Malam ini, malam jumat yang istimewa tidak sepertinya biasanya, setelah rutinan yasinan dan tahlil. Sambil menunggu waktu sholat isya' rebahan sambil membuka WhatsApp grup kelas dan grup olimpiade anak-anak. Sambil ngecek pembelajaran dan beberapa hasil sertifikat olimpiade.

Mendapat pesan dari beliau Bu Ma'rifah Hidayah tentang untaian sajak yang berjudul "Salam Satu Jiwa, Salam Literasi" di Grup Gubuk Literasi Pergunu Tulungagung, kemudian saya baca. Belum sempat selesai, masih membaca kira kira dapat satu bait, ada pesan lagi dibawahnya kemudian ada file. Ternyata, file tersebut hasil pengumuman lomba menulis "Spirit Literasi Pergunu" dalam rangka Hari Guru Nasional tahun 2020.

Tak disangka-sangka, nama saya muncul di barisan pertama dan ada keterangannya. Dari posisi awal rebahan auto menjadi posisi duduk. Membaca dengan seksama. Masih belum percaya file tersebut saya kirim ke handphone suami, agar lebih jelas lagi. Dan kebetulan suami masih rutinan jadi handphone di rumah. Ku baca ulang-ulang memang benar namaku di barisan pertama. Bisa dicek di tabel berikut ya:

Alhamdulillah, syukur tiada henti, impian akan semakin dekat untuk menjadi nyata. Pengumuman ini akan menjadi tombak awal untuk perjalanan kedepannya. Bukan untuk riya', saya ingin membuktikan bahwa menulis itu akan merubah hidup seseorang menjadi lebih baik, menulis sebagai ladang untuk kebaikan, untuk lebih manfaat dan tentunya mencari Ridho dan barokahNya.

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran pengurus Pergunu Tulungagung di bawah pimpinan Bapak Muslim, yang telah menyelenggarakan dan memberikan kesempatan saya mengikuti acara workshop literasi di awal bulan November 2020 lalu, bersama pakar literasi yang hebat. Dan terimakasih juga saya sampaikan kepada dewan juri Bapak Moh. Anshori, Ibu Ma'rifah Hidayah dan Bapak Nurhadi. Khususnya kepada sang inspirator literasi Bapak Dr. Ngainun Naim, MH.I.

Saya juga mohon untuk motivasi serta  bimbingan dari beliau untuk selalu ajeg dalam menulis.

Menulis yang baik adalah melakukan kegiatan menulis itu sendiri. Jadi, jangan ragu untuk menulis apapun, yang penting menulis.


Rabu, 25 November 2020

Untuk Guruku


 

Kami Bisa Berdiri
Sampai Detik Ini
Tak Lain 
Hasil Akumulasi
Bimbingan, Pengajaran, 
Serta Pengarahan
Darimu Wahai Guruku

Dikala Itu
Semangat Teriakanmu
Membangkitkan Rasa Percaya Diriku
Atas Segala Kemampuanku
Wahai Guruku,
Segala Yang Terlihat Darimu
Cerminan Kemuliaan Jasamu

Kuucapkan Bermilyaran Terimakasih
Atas Segala Jasa Pengorbananmu
Demi Anak Bangsamu
Kini Engkau Abadi 
Disanubariku
Dan
Kami Akan Meneruskan Perjuanganmu


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...