Rabu, 30 Desember 2020

Kerajinan

Kerajinan membuat kalo atau irek dari desaku Mirigambar, Tulungagung, Jawa Timur. Kerajinan ini bahan bakunya adalah pohon bambu. Di proses dengan sedemikian rupa dan dianyam. Umumnya yang menganyam adalah para ibu-ibu rumah tangga. 

Kerajinan ini sudah turun temurun dari engkong, kaki, buyut, kakek, nenek hingga cucu sampai sekarang. Seakan di desa kami membuat kerajinan kalo dan irek atau tompo ini adalah satu hal yang harus perempuan  bisa lakukan, selain keahlian lain misalnya di dapur.

Kerajinan kalo, irek atau tompo ini biasanya digunakan untuk wadah. Bisa wadah sayur, buah atau untuk memeras parutan kelapa.

Kerajinan ini cukup membantu perekonomian ibu-ibu. Umumnya mereka menjual dengan hitungan perkodi. Satu kodi bisa mencapai tiga ratus ribu sampai empat ratus ribu. Tergantung dengan ukuran, kehalusan anyaman dan tentu kerapian.

Mbak-mbak, ibu-ibu muda dan ibu-ibu paruh baya bahkan janda atau single parents di desa Mirigambar ini hampir semua bisa dan suka menyanyam. Membuat kalo, irek atau tompo. Butuh ketlatenan, konsentrasi dan konsisten dalam menyanyam. Terasa sulit jika kita belum terbiasa.

Saya sendiri dari SMP belajar sampai sekarang belum bisa. Namun, saya suka membawa hasil kerajinan ini, ke event seperti bazar. Pernah saya bawa dan promosikan di kampus Malang juga. 

Saya bangga dengan ibu-ibu desa saya. Oleh karena itu, waktu saya nikah kerajinan ini, saya buat untuk sovenir. 

Sejak pandemi ini ibu-ibu semakin rajin dan menghasilkan kerajinan dua kali lipat. Tetapi pemasarannya terbatas. Baru-baru ini ada saudara dari Kediri memesan sekitar lima kodi untuk tasyakuran. Allhamdulillah.

Uniknya, ibu-ibu suka juga berkumpul di rumah salah satu dari mereka yang sering buat pangkalan pengepul karo, irek dan tumpo. Kemudian sambil membawa camilan kecil dan disambi dengan momong putra putrinya.

Komunitas dalam membuat kerajinan kalo, irek atau tomp perlu sekali untuk dikembangkan dan  dimaksimalkan. Agar bertambah berkembang luas dan arah pemasarannya semakin tinggi.

Syukron Honey


Atas TakdirNya
Jalan Yang Teramat Indah
Tak Menyangka
Kamu Bukti Doaku

Keluasan Hati
Keluasan Rasa Sabar
Yang Tak Pernah Sama
Menjadi Pelengkap
Kehidupanku

Ya..
Bukan Karena Sama
Memang Karena Perbedaan
Kita DisatukanNya

Kelembutan Tuturmu
Membuatku Luluh Lantah
Tak Bisa Membantah
Apalagi Menolak

Selalu Berusaha
Mengupayakan
Memberikan Segala 
Yang Terbaik Untukku

Engkau Selalu Membimbingku
Menasihati
Mengarahkan
Tanpa Sedikit Mengguruhi

Berangkat Bersama 
Untuk Memulai
Berproses Dari Nol
Membuat Kumengerti Dan Faham
Arti Belajar Dan Perjuangan

Terimakasih Imamku
Terimakasih Suamiku
Banyak Doa serta Harapan
Semoga Keberkahan KeridhoaNya 
Mengiringi Mahligai Rumah Tangga Kita 
Amin....


Jangan


"Jangan merasa soleh karena itu salah"

"Merasalah salah karena itu soleh"

Dua kalimat yang mempunyai arti yang sangat dalam. Kalau manusia merasa salah pasti ada tindak lanjut untuk selalu mengevaluasi, mengoreksi dan akhirnya akan memperbaiki diri.

"salah" jangan diartikan segala tindakan dan keputusan yang kita ambil salah. Bukan seperti itu, memang dimata manusia kadang tidak ada benarnya. Namun, setidaknya hal yang kita lakukan tidak menyakiti, melukai atau bahkan menghakimi seseorang. Maka, berbuatlah sebaik mungkin kepada orang lain.

Berfikir sebelum berbicara, lalu lihatlah lawan kita bicara. Tempatkan diri pada posisinya yang sesuai. Masih, saya ingat saya sedang duduk di salah satu warung sate kambing dengan beberapa keluarga. Disalah satu meja ada sekelompok bapak-bapak tentu sedang makan dan berbincang-bincang dengan keras.  Karena posisi duduk yang tidak jauh otomatis mendengar dong, apa yang dibicarakan.

Salah satu dari mereka menjelaskan dengan percaya diri dirinya akan berangkat haji. Dia bercerita dihadapan beberapa temannya bahwa begini begitu proses daftar haji. Dan bagaimana nanti ibadahnya disana bla bla and bla. Ada dua lawan berbicaranya. Katakan "si A" dan "Si Z". Tetapi mereka terus diam sambil makan dengan mendengarkan secara saksama apa yang dibicaralan "si K".  Dan sesekali melempar senyum dan menganggukan kepala. Tanpa sedikit mencela bahkan memotong pembicaraannya. 

Kemudian salah satu dari lawan bicaranya, yaitu "si Z" bertanya ke "si A" dan  berkata:  "panjenengan niko sampun tindak dateng Makkah, Madinah sampung kaping pinten?" (Kamu, sudah pernah haji berapa kali?)

Dengan sederhana si A menjawab "kersane Allah, sampun diizinkan pengeran meniko tasek peng tigo" (atas izin Allah masih tiga kali)

Lalu si Z bertanya lagi "prosedurnya, apa demikian seperti yang dijelaskan si K?"

Si A menjawab dengan lebih santai dan lembut "setiap tahun niku kadang berbeda sistemnya, tapi kurang lebih begitu"

Karena posisi duduk mereka dihadapan saya. Reflek saya melihat raut wajah "si K" ini berubah dan terlihat makan dengan lahap tanpa melanjutkan perbincangannya.

Namun kedua temannya, sangat santai dan mencoba mencairkan dengan mengalihkan topik berbicara yang berbeda.

Dari cerita di atas, banyak belajar bahwa di atas langit masih ada langit. Ketawadu'an itu penting.


Selasa, 29 Desember 2020

Buah Apa ini?


Buah apa ini?

Bulat kecil, kulit yang bertekstur halus. Membuat ku semakin penasaran. Sekilas menyerupai buah kelengkeng. Tapi, ini bukan. 

Hanya kulihat, kemudian dalam setangkai ku hitung. Berapa isi buah tersebut, sekitar sepuluh sampai lima belas. Benar-benar asing, apakah nama buah itu.

Lalu kucoba mengupasnya. Cara mengupasnya juga cukup unik. Tidak perlu pisau atau alat lainnya. Cukup digigit tengahnya pakai gigi seri. Pecahlah buah tersebut.

Isinya yang berwarna merah keunguan semacam merah fanta tua. Benar, ku kira rasanya manis seperi buah kelengkeng pada umumnya. Istimewa, rasanya sungguh asam tak ketulungan. Tapi sangat segar.

Buah tersebut hanya dihisap dan bijinya boleh di telan, ingat tanpa dikunyah. Tetapi, ku tak bisa makan model demikian. Setelah ku hisap ya sudah ku buanglah bijinya. 

Apa sih nama buah tersebut?

Boleh isi dikolom komentar ya...

Wedding


Dunia pernikahan, manusia mana yang tak bahagia jika mendengar kata pernikahan. Karena pernikahan memulai lembaran baru dan harus dilalui, dijalani dengan sepasang kekasih yang sudah sah dimata Allah dan negara. Banyak sekali motivasi-motivasi, nasehat-nasehat tentang pernikahan kita temukan di media-media sosial seperti sekarang ini. Tentu kita harus memilah dan memilih dan mengoreksi kebenarannya itu. Sehingga keberadaan guru juga penting untuk menanyakan tentang hal tersebut.

Pernikahan banyak yang mengharapkan kesakralan. Kalau menurut saya pribadi, pernikahan sakral dimulai dengan sebuah inti dari pernikahan itu sendiri. Yaitu ijab qobul, antara ayah sang pihak kemanten perempuan dan calon suami. Saya teringat waktu mengaji di pondok dulu dengan Ustadz saya bernama Ustadz Huda, beliau berpesan kepada kami satu kelas, kalau menikah di dalam ijab qobul, hadirkan orang-orang soleh, kalau perlu berbagai profesi dan tempat yang baik. Kenapa demikian? Karena ketika ijab qobul tersebut, semua malaikat  juga hadir ikut menghadiri mengamini, dan  "arsh" bergoncang. Kemudian jika setelah nikah, hamil insyallah putra atau putrinya akan mengikuti jejak orang soleh dari salah satu yang hadir di waktu ijab qobul tersebut. 

Pernikahan memang indah. Pernikahan ibarat sebuah buku. Jika duduk di atas koade atau dekorasi dengan sebuah riasan baju gemerlap itu masih seperti sampul buku yang baru dan harum. Kemudian di dalam buku atau pernikahan itu ada beberapa bab perjalanan yang harus dimulai dan dijalani. Lembar per lembar hari perhari, tahun pertahun. Lalu kesuksesan buku atau pernikahan tergantung bagaimana keduanya menulis perjalanan, pembelajaran dalam setiap bab yang menjalaninya.

Mengingat dawuh-dawuh beliau guru-guru kami, dati instagram Gus Ahmad Kafabihi Lirboyo. Pernikahan yang sakral adalah pernikahan yang harus ada musyawaroh, istikhoroh dan niatan karena Allah. Kedua, pernikahan yang sakral adalah sebuah perjalanan sepasang hamba Allah untuk meraih surgaNya Allah, bukan malah membiarkan dalam kemaksiatan. Ketiga pernikahan sakral adalah dalam sebuah mahabbah (cinta) itu pasti ada bughdu (marah). Marah diartikan bahwa tidak rela jika yang dicinta tersesat dalam kemungkaran.

Maka, sangat benar dalam pernikahan adalah sebuah ladang pahala bagi keduanya, baik suami apalagi istri. 

Saya juga menemukan tulisan perancang busana, designer terkenal Indonesia Ibu Anne Avantie dalam instagram milik pribadinya menulis "tidak ada pasangan suami istri yang cocok, adanya di cocok-cocokan. Dan juga tidak ada yang pas, tapi harus di pas-paskan. Kalau mau langgeng sampai akhir hayat"

Diakhir bulan Desember, penghujung dan penutup tahun ini banyak yang menyelenggarakan pernikahan. Alhamdulillah, bisa hurmat di beberapa acara bahagia sanak saudara dan beberapa teman. Adanya acara seperti itu, ajang untuk mengecas kembali keromatisan, keharmonisan pasangan suami istri yang sudah terlebih dahulu menikah. Agar tetap bahagia seperti kemanten baru.

Senin, 28 Desember 2020

Black Shoes


Black Shoes, lima tahun lalu aku menemukanmu di negeri sebrang. Kau menemani sepanjang perjalananku. Dikala denganmu kumulai mencari dan meniti karir mulai setitik jarum kecil. Memulai belajar apa itu pendidik, bagaimana menjadi pendidik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain wali murid dari model A sampai Z dan apa itu tupoksi apa itu SOP. 

Panas hujan kuterjang. Mruput, dimana teman-teman sekos masih menuai mimpi di pulau kasur, aku sudah besiap menuju sekolahan. Klotak-klotak bunyimu. Kadang membuat beberapa teman terbangun.

Perjuangan senin sampai jumat pulang pukul 16.00 WIB. Jam kerja menghiasi jalan-jalan kota Malang dan tentu sudah sangat padat. Seandainya, telat berangkat pasti ketendang macet di lampu merah pertigaan Dinoyo.

Namanya juga masih mahasiswa, keja senin sampai jumat penuh. Cara membayar hutang tidur atau sekedar jalan-jalan ke Matos, MOG, makan di luar dan bersama teman-teman di hari sabtu dan minggu. Tapi tidak lupa, tetap ada jam untuk nugas. Tetap dengan sepatu itu. Kini kamu menjadi sejarah perjalananku. 


Jumat, 25 Desember 2020

Perempuan


Kalau versi lirik lagu yang diciptakan oleh musisi handal Indonesia yaitu Ahmad Dhani, dan dinyanyikan oleh Mulan Jamilah. Perempuan adalah Makhluk Tuhan yang paling seksi. 

Seksi menurut saya masih terlalu luas untuk mendefinisikan perempuan. Karena perempuan tidak hanya sebatas fisik saja. Dan tidak tergantung seberapa tebal make up nya, Selain itu,  perempuan mempunyai banyak hal yang lebih unik untuk dijelaskan secara mendetail.

Perempuan, banyak yang bilang ruwet dari segala macamnya. Dari hal-hal yang sepele, mandi yang cukup lama, makan yang tidak bisa cepat dan baju yang terlalu banyak. Mix and matchnya tas, baju dan sepatu. Selalu lebih rempong dan rumit. Dalam hal baju saja semua dikonsep sedemikian rupa oleh perempuan ini. Mau ke pasar pakai ini, pergi ke resepsi pakai itu. Dan terbukti, semua itu menambah estetika kehidupan. Sekali lagi perempuan itu unik.

Kalau kita menoleh ke sejarah islam, itulah kenapa Allah menciptakan Siti Hawa.  Allah menghendaki bahwa Siti Hawa adalah sosok yang kuat dalam berbagai hal, indah dalam segala pola fikir serta seluruh hatinya. Belum lagi dari sisi perjuangan, perempuan tidak kalah tangguh dengan kaum Adam. Dulu seperti Siti Hawa yang berjuang dan mecari penyeimbang hidupnya yaitu Nabi Adam. Yang tidak mengenal lelah dan arah hanya demi cita-cita untuk memenuhi cinta kepada Khaliqnya. Dengan menemukan sosok Nabi Adam, yang akan menambah cintanya kepada Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

Maka, perempuan harus multitalent. Multitalent artinya harus berakhlak karimah itu modal utama kemudian cerdas hati, cerdas pikiran. Semua bidang dia mampu mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik. Pekerjaan rumah tangga mahir, selalu taat suami sudah otomatis. Madrasah yang baik buat anak-anaknya. Selalu manfaat menebar kebaikan kepada yang lain. Tangguh di segala terjangan berbagai cobaan. Itulah perempuan versiku.

Bagaimana perempuan versimu?Silahkan di tulis di kolom komentar ya!





Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...