Senin, 27 November 2023

Karakter Pantang Menyerah



Jauh sebelum munculnya kurikulum 2013 yang mencanangkan pendidikan karakter, sebetulnya implementasinya sudah dilaksanakan terlebih dahulu. Pembiasaan-pembiasaan dibangun mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Melihat pentingnya sebuah karakter maka penekanan di masing-masing pembagian pendidikan karakter diperlukan dan dipatenkan dalam sebuah kurikulum.

Salah satunya adalah karakter pantang menyerah. Pantang menyerah tidak gampang putus asa, sangat perlu ditanamkan, terutama di zaman sekarang. Pada generasi muda, yang biasa disebut dengan istilah milenial, gen Z dan gen yang lain, mereka melihat beberapa hal cenderung yang instan. Memang tidak dipungkiri, salah satu yang mempengaruhinya adalah teknologi peran media sosial.

Pantang menyerah tidak boleh begitu saja dihafal atau hanya sebatas teori untuk mereka. Pantang menyerah bukanlah hal untuk memerahi penjajah yang berupa fisik seperti zaman dulu. Tetapi, pantang menyerah untuk lebih berani menjadi manusia yang berprinsip, komitmen dan ikhlas dalam segala hal.

Tiga hal dalam mewujudkan karakter pantang menyerah tidak akan lepas dan harus didasari dengan tawakkal'ala-Allah. Sehingga apapun yang telah dihadapi, meyakini akan selalu ada solusi dan hikmah. Pembentukan karakter membutuhkan namanya proses. Sehingga karakter tidak mudah menyerah harus tetap dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pantang menyerah menjadi manusia yang memiliki prinsip kuat, tentu saja tidak akan mudah terombang ambing dalam mengambil keputusan atau pilihan yang telah dihadapi. Sedangkan komitmen merupakan kesiapan yang matang untuk melakukan suatu hal dengan segala resiko atau konsekuensinya. Ketika keduanya terpenuhi maka rasa percaya diri, sikap bertahan bahkan mental yang kuat akan terbentuk.

Ikhlas sikap rela, secara teori mungkin sikap ikhlas mudah dipahami. Ikhlas yang sesungguhnya adalah rela, ridho tanpa penyesalan atau pamrih. Menyadari jalan Allah adalah terbaik setelah segala usaha dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Jika gagal maka terus berani untuk mencoba dan mencoba dan berusaha. Pantang menyerah untuk mengulangi lagi dan lagi untuk menjemput kesuksesan. Jangan sampai sebaliknya, ingin berhasil namun tidak belajar dan tidak mau berproses. 

Mari terus berproses dan pantang menyerah tetapi jangan lupa tawakkal'ala-Allah. Semoga bermanfaat dan selamat membaca

Kamis, 23 November 2023

Belanja Kata

 


Jangan relakan kamu kehilangan kata dalam menulis. Carilah semua kata dan susun agar terus menjadi kalimat. Jika dirasa masih kurang kata, maka "kulakan" atau berbelanjalah kata dan kalimat tersebut dari berbagai buku. Buku apapun untuk mungkin awalnya sekedar dibolak dan balik lama-kelamaan pasti akan dibaca.

Kurang kata tidak akan terjadi, mana kala kita benar-benar berniat untuk menulis, menuangkan segala hal. Sebetulnya ketika saya menulis tentang "belanja kata" ini adalah sebagai pengingat dan mengalaminya. 

Berbelanja kata atau "kulakan" kata, sebetulnya tidak hanya membaca buku, kita bisa melakukannya dengan travelling atau berdiskusi. Kadang kita kurang menyadari bahwa dengan silaturrahim juga bagian dari "kulakan" kata. Selain itu, ada pelajaran atau ilmu dari silaturrahim tersebut.

Paling mudah dalam "kulakan" kata adalah dengan melakukan suatu hal secara langsung. Misalnya tentang memasak bagian kegiatan sehari-hari. Berbagai bahan dan cara memasak bisa dituliskan. Tulisan-tulisan tersebut pasti akan digunakan suatu saat. 

Membiasakan belanja kata dengan sering membaca berbagai buku membuat kita semakin kaya. Kata yang telah diserap, direkam dan dilahirkan dalam tulisan akan lebih bervariasi. Selera jenis buku yang dibaca setiap orang tidak sama. Pilihannya sesuaikan dengan kebutuhan dan kesenangan saja. Sehingga tulisan yang telah tersusun akan lebih "ciamik" untuk dibaca ringan dan mengalir. Semoga bermanfaat

Dear Teachers

 



Sepertinya Aku Tak Sanggup Melupakan Dalam Menyebutkan Satu Persatu Namamu

Aku Juga Tak Sanggup Bagaimana Melukiskan Sosok Manusia Mulia Dan Sangat Luar Biasa Hebat

Tak Pernah Mengeluh Bagaimana Lelah Letih Mendidik Mengantarkan Semua Siswamu

Aku Sangat Mengingat Bagaimana Do'a-Do'a Engkau Panjatkan Untukku Dan Teman-Temanku

Berdiri Tegak Meyakinkan Bahwa Semua Bisa Dan Pantas Menjadi Juara

Selalu Mengingatkan Bahwa Semua Berharga Semua Cerdas Semua Berpotensi


Tiada Kata Lagi Yang Lebih Manis Kecuali "Pangestunipun" 

Mohon Doakan Terus 

Mohon Maaf Atas Segala Kesalahan

Dan Terima Kasih Yang Tiada Tara

Kami Mustahil Bisa Seperti Ini Tanpa Engkau Wahai Guru


Tetaplah Menjadi Sosok Inspirasi Hebat Dimanapun Berada 

Engkau Pahlawan Sepanjang Masa

Selamat Hari Guru

Jasamu Akan Dikenang Selalu



Jumat, 17 November 2023

Buku Kedua Di Mi Al Quran Jabalkat





Mengumpulkan karya dari peserta didik, memang membutuhkan proses, waktu dan perjuangan. Membuat karya dengan pelabelan "tugas" bagi mereka mungkin adalah tuntutan. Namun, siapa sangka satu tahun setengah telah berhasil mengumpulkannya menjadi buku.

Sebelumnya mengumpulkan tulisan-tulisannya, membutuhkan waktu tiga tahu dari kelas empat sampai berhasil terbit kelas enam. Untuk tahun ini, satu setengah tahun Alhamdulillah berhasil terbit. Terlepas mendapat dukungan atau tidak. Saya mengucapkan berterima kasih banyak kepada semua yang terlibat.

Saya menulis ini bukan untuk riya', pamer, ingin dihargai atau bagaimana. Saya betul-betul bangga kepada siswa-siswi kelas V. Ketika mampu menulis pantun, puisi, cerita pendek, lalu mengumpulkan, sampai pada proses edit dan berhasil terbit adalah bentuk sebuah proses belajar dan menghasilkan karya yang luar biasa. Minimal ada kenangan yang sangat hangat untuk diingat melalui karya atau buku tersebut.

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto mereka lengkap dengan tulisannya. Buku ini juga terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah pantun. Bagian kedua adalah puisi. Dan bagian ketiga ada cerita pendek pengalaman mereka.

Semoga buku ini bisa bermanfaat dan terima kasih kepada semuanya yang telah mengapresiasi. Diantaranya adalah visitor dari Madura ketika proses visitasi Akmi dan guru dari lembaga lain, dosen dan wali murid. Semoga mampu menginspirasi dan mengantero dunia. Tujuan utamanya adalah menularkan virus literasi sejak dini. Semoga kegiatan literasi ini bisa bermanfaat dan terus berlanjut. 

Salam Literasi

Jangan Patah Hanya Sebab Perkataan


Melakukan suatu hal lebih baik dari pada tidak sama sekali. Mencoba hal baru memang tidak mudah. Pasti akan menemukan ketidak tepatan, kurang pas bahkan salah. Itu bagian dari proses.

Mungkin saya adalah salah satu orang yang banyak nekatnya. Seperti halnya menulis kali ini. Saya masih ingat pesan Prof Naim, ketika ada ide segera ditulis dan menulis  mengalir saja dan tentu saja tetap kupaksa untuk menulisnya.

Mungkin bagi pembaca ada yang merasa tidak penting dan "ngene ae ditulis". Semua orang berhak menilai. Bagi saya menulis itu seni, ketika menulis pasti ada nilainya, maka penulis siap untuk bertanggung jawab dan terbuka untuk menerima saran bahkan kritikan tersebut. 

Ketika tidak pernah melakukan mungkin saja kita tidak akan pernah tahu letak salahnya atau pembenahannya. Sehingga benar sekali pengalaman adalah guru terbaik. Saya akui saya masih pemula dan masih belajar. Pernah juga dalam beberapa minggu yang lalu saya sangat patah semangat.

Kalau ditanya pernah mendapat omongan tentang buku dan tulisan yang "nylekit" tentu saja pernah. Misalnya "kata-kata dalam puisimu, pasaran" "tulisanmu tidak menarik" "lak nulis ki, kayak kae lo, keren kata-katanya, dan mendalam". Dijawab saja "nggeh, maturnuwun semoga nanti bisa terbit buku lagi dengan yang lebih baik"

Motivasinya adalah saya mencoba membaca kembali buku-buku yang ada terutama buku saya sendiri. Sehingga semangat itu kembali lagi. Jangan sampai berantakan, hanya karena perkataan. Mari tetap menulis dan terus semangat. Salam Literasi

Guru Dan Kurikulum



Setiap ganti menteri seakan ganti kurikulum. Guru harus siap dengan segala perubahan. Ketika awal menjadi tutor melaksanakan kurikulum KTSP dimana setiap pelajaran berdiri sendiri dengan materi yang luas dalam. Kemudian soal-soal yang diberikan juga akan lebih banyak.

Selanjutnya dengan kurikulum 2013, dimana mata pelajaran dijadikan pertema. Mata pelajaran tidak berdiri sendiri-sendiri. Menuntut siswa lebih aktif dengan satu kegiatan bisa melampaui beberapa kompetensi inti dan kompetensi dasar. 

Pada kurikulum ini memang lebih ringkas, dalam menjelaskannya lebih mudah dan anak-anak tidak terlalu banyak buku yang digunakan. Tetapi, mereka dituntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran. Mulai dari mengamati secara mendalam, kemudian menanyakan sampai pada mempresentasikan. Pada kurikulum ini ada penilaian sikap dan keterampilannya.

Selanjutnya adalah kurikulum merdeka atau biasa disebut dengan merdeka belajar. Untuk tingkat madrasah ibtidaiyah hari ini masih diterapkan di kelas satu dan empat dan belum merata di seluruh daerah. Perubahan kurikulum sebetulnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Kesiapan setiap daerah pun harus dikaji ulang. Namun, sebagai guru, apapun kurikulumnya tujuan utamanya adalah belajar. Proses mengetahui, mengenalkan dan mengamati. Minimal siswa memiliki pengalaman baru.

Pada kurikulum merdeka dalam pengembangan pembelajaran lebih diluaskan. Dan tentu saja disesuaikan dengan keadaan geografisnya, lokal daerahnya. Kemudian ada proyeknya dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Kurikulum merdeka juga membebaskan dalam merangkai materi dengan menyanyi maupun gerakan yang intinya mempermudah siswa dalam belajar.

Sebetulnya apapun model kurikulum, keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya cerdas secara pengetahuan. Melainkan cerdas secara spiritual. Sehingga karakter yang diharapkan bisa melekat. Tidak lupa membentuk mental yang kuat terhadap segala tantangan zaman.

Mari sebagai pendidik terus semangat untuk belajar dan belajar. Berinovasi dan kreatif, mampu memanfaatkan teknologi dengan baik dan bijak. Mengajak peserta didik untuk lebih terbuka akan dunia dengan tanpa melupakan agama dan akhlak. Salam semangat dan salam literasi.

Kamis, 16 November 2023

Guru Digugu Lan Ditiru


Guru digugu lan ditiru dari kalimat Jawa yang sangat benar. Bahwa guru pasti didengarkan dan dicontoh. Apapun tutur kata guru dan tingkah atau perilaku seorang guru pasti akan direkam oleh siswa. Bahkan cara berjalan dan cara berbicara.

Sebagai guru dalam berpenampilan juga bagian dari representasi. Kenyamanan dalam berpenampilan, kerapian akan membawa kepada suasana proses belajar mengajar. Misalnya saja, setiap hari seorang guru perempuan menggunakan bros dan warna lipstik yang sama, ketika tidak memakainya dapat dipastikan ada siswa yang menanyakan.

Segala yang diucapkan atau dijelaskan akan didengarkan oleh siswanya. Namun, adakalanya guru belum diperhatikan atau didengarkan jika posisi kelas belum siap, belum fokus untuk belajar. Sehingga guru perlu memiliki ciri khusus misalnya suara yang berwarna-warni. Menirukan suara burung misalnya, membuat ice breaking yang terbaru dan membuat mereka antusias mendengarkannya.

Guru juga memberikan nasihat kepada siswanya, sebetulnya hal itu dilakukan untuk menasihati diri sendiri. "Jangan boros, beli jajan secukupnya" hal ini dilakukan untuk mengingatkan diri sendiri. Kemudian "jangan menunda-nunda pekerjaan, sebab sama halnya melamar kegagalan" "tepat waktu dalam segala hal". Semua nasihat itu akan menjadi omong kosong, mana kala yang memberikan nasihat tidak mengamalkannya.

Guru sepanjang hayatnya akan terus belajar dan belajar. Untuk selalu lebih baik dalam segala hal. Mungkin wujud keberhasilan guru sebagian orang mengukurnya dengan keberhasilan nilai siswanya yang serba seratus atau sembilan. Namun, sejatinya keberhasilan guru akan lebih berarti jika karakter dan akhlak siswanya dan ketaatan kepada Allah bisa bertambah.

Semoga slogan guru digugu lan ditiru tidak hanya terpampang nyata untuk dibaca saja. Namun mampu untuk dihayati, sehingga hari demi hari mampu berinovasi, berkreasi dan mengembangkan dunia pendidikan yang lebih berarti dan bermakna. 

Salam Semangat

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...