Jumat, 10 Desember 2021

Hutang Itu Mubah, Mengembalikan Itu Wajib



Hutang adalah sesuatu yang kita pinjam. Ketika kita berani hutang atau pinjam, maka sudah hukumnya wajib untuk mengembalikan.

Memang, hutang itu mudah. Konteks hutang pun macam-macam. Namun, pada kesempatan ini yang saya tulis adalah hutang yang berkaitan dengan uang. Kita tahu dalam segala hal seperti hutang pun itu juga ada tata caranya atau adabnya. 

Salah satunya adalah suatu kesepakatan. Kesepakatan yang biasanya dijadikan janji atau jangka waktu untuk mengembalikan hutang tersebut. Lalu, bentuk mengembalikan, seperti dicicil. Saya tidak membahas akad dalam meminjam atau hutang, karena bentuknya banyak, seperti ada bagi hasil kalau dalam sistem syariah.

Saya mencoba menekankan adab atau tata cara hutang. Sebagian dari kita, ketika perlu dengan sangat dan mendesak lalu kita bisa hutang. Baik kepada teman, tetangga atau bahkan kerabat.

Kita memutuskan untuk hutang piutang, maka segala resiko atau tanggung jawab harus kita pegang teguh. Lalu tentukan kesepakatannya. Ingat! Sekali lagi jika sudah berani hutang, maka wajib mengembalikan. Sehingga tidak pandang teman, saudara, atau bahkan tetangga kalau hutang itu tetap wajib/harus mengembalikan.

Jikalau sudah menerima uang dari hasil hutang, jangan lupa mengucapkan terimakasih. Karena bentuk rasa hormat menghormati sudah menolong. 

Selanjutnya yang lebih utama adalah, memberikan janji untuk mengembalikan di tanggal dan jangka waktu. Misalkan berapa bulan, berapa hari, atau bahkan berapa tahun mohon dengan segala usaha di kembalikan artinya tepati janjimu. Kalau toh, terpaksa dan benar-benar belum bisa mengembalikan, kembali lagi kepada adab, berkata jujur dan minta maaf belum bisa memenuhi janji. 

Kalau membangun janji kedua, misalkan bulan depan dipenuhi hutang tersebut, kita seharusnya segera sadar diberikan kesempatan kedua. Maka bagaimana caranya untuk menempati janji mengembalikan.

Terbentuknya kesepakatan untuk hutang pasti terjadi antara kedua belak pihak. Katakanlah peminjam dan yang meminjami. Kadang yang pinjam itu dengan santai tak merasa beban karena hutang. Namun, yang meminjami kalau sudah terlalu lama dan sering tidak tepat janji, itu membuat hati sungkan untuk menagihnya atau sekedar tanya.

Hal tersebut harus benar-benar diperhatikan. Sebagai peminjam kita harus sadar diri, mawas diri, hati-hati, tanggung jawab dan lebih tidak menonjolkan suatu yang kurang pantas. Sebagai orang yang meminjami, jangan segan, jangan sungkan, jangan malu, untuk bertanya hak kita. 

Memang, setiap individu berbeda, ada yang malu sekedar untuk menanyakan tanggungan, akhirnya yang hutang mohon maaf tidak tahu diri, dengan hati yang mungkin berat direlakan atau diikhlaskan tanggungan orang tersebut. Menurut saya hal ini berbahaya. Karena kita tidak tahu nanti beban akhiratnya. 

Lalu ada model orang pinjam, hanya janji-janji palsu dibangun. Seminggu lagi, sebulan lagi, dan lagi lagi hanya janji palsu. Dan tiba-tiba susah dihubungi, di telefon tidak sambung, di kirim pesan lewat WhatsApp tidak mau membaca. Kalau menemukan orang seperti ini, datangi rumahnya, jika masih belum bertemu, temui salah satu keluarganya. Bahkan naudzubillah kalau memang sangat merugikan jangan malu minta bantuan pihak berwajib. Karena jika hutang tidak mau mengembalikan, dan segala usaha tidak berbuah hasil, ini sudah ke ranah penipuan.

Apa yang perlu kita simpulkan di sini. Hutang itu boleh.

Hutang itu Mubah.

Hutang juga tidak dilarang.

Mau hutang banyak sedikit itu hak masing-masing. 

Namun ada tata caranya.

Ketika sudah berani hutang, WAJIB Mengembalikan.

Jangan hanya janji palsu.

Sudah Tak Asyik Lagi




Renyah Tawanya

Besar Simpatinya

Tapi Entah Mengapa Tak Ada Rasa


Merdu Suaranya

Lembut Sentuhan Kalimatnya

Namun Hilang Tak Berbekas


Bukan Tak Mau Mendengar

Dan Bukan Tak Mau Melihat

Sudah Tak Aysik Lagi


Memang Tak SeAsyik Dimasa Dulu

Aku Menerima Dan Menanggapinya

Tulus Atau Berubah


Itu Yang Kurasa

Seperti Ikhlas Saja

Jika Kau Harus Pergi Jauh Di Sana

Selasa, 07 Desember 2021

Rujak Buah Di Kelas Kita


Sudah menjadi agenda wajib untuk anak kelas angkatan ini. Jika sudah selesai ulangan dan remidi di beberapa pelajaran. Maka rujakan adalah bentuk kekompakan untuk dilaksanakan bersama-sama.

Kami bersama-sama bertanggung jawab dan bergotong royong agar rujakan ini terlaksana. Merencanakan waktu, kemudian menulis apa saja keperluan. Yang sungguh menakjubkan adalah dari kita tidak ada yang memaksakan untuk membawa apa.

Sekali lagi kita bersama mengacungkan tangan, untuk menawarkan diri dengan apa yang kita bawa demi kebersamaan. Ada yang membawa buah mangga, pepaya, blimbing, bengkoang, jambu kristal, air minum nutrisari jeruk beserta tekonya, gelas, pisau, piring, garpu, lengser, ada beberapa yang membawa jajan snack, semua  dipersiapkan dengan baik.

Lalu saya membawa sambal dengan dua varian, pedas sangat dan sumer (tidak terlalu pedas) dan membawa kerupuk. Kita bersama mengupas, mencuci, mengiris di masing-masing lengser atau baki. Sayu kelas dijadikan tiga kelompok, dua kelompok putri dan satu kelompok putra.

Lalu ada kotak makan sedang kami bagikan kepada guru yang ada di ruang guru. Alhamdulillah semua suka sambalnya, hingga ada salah satu siswa yang mengkoreti hingga tetes terakhir. Lalu ada dari beberapa guru mengomentari bahwa rujaknya enak, dan lebih sering diadakan saja. 

Dari tiga kelompok yang paling cepat habis adalah kelompok siswa putra. Dengan lengser atau baki yang lumayan besar, otomatis isinya banyak dan kerupuknya juga demikian. Mereka sambil ngobrol asyik bersama teman, sambil makan rujak buah tak terasa hitungan menit habis.


Semoga kelas VI, di angkatan ke tiga ini lebih kompak. Dan saling memberikan dukungan, sukses dan lulus dengan ilmu yang manfaat dan barokah. Ingat selalu, berjuang dengan berproses terus untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Terimakasih anak-anak kelas VI, saya bangga kepada kalian. Jangan lupa tetap semangat untuk selalu belajar, belajar dan belajar.




Minggu, 05 Desember 2021

Reuni Keluarga



Minggu berkumpul dengan sanak saudara. Hari ini Alhamdulillah berkesempatan mengikuti reuni keluarga dari pihak suami yakni Bani Bajuri Khodijah. Acara ini rutin diadakan setiap enam bulan sekali. Enam bulan lalu bertepatan di bulan Syawal. 

Lalu di tahun ini bertepatan bulan Desember hampir di penghujung tahun 2021. Saya sangat bersyukur, kembali merekatkan tali persaudaraan, saling menyapa, menanyakan kabar antara keluarga. Yang biasanya hanya via WhatsUp sekarang bisa bermusafahah secara langsung.

Acara reuni keluarga ini tidak hanya bertemu kemudian bercengkrama hangat. Namun ada susunan acaranya, yakni dengan kirim doa bersama atau tahlil. Kirim doa atau tahlil ini kita tujukan kepada canggah, buyut, kakek nenek yang sudah mendahului kita.

Acara dimulai pukul 09.00 pagi dan selesai sekitar pukul 11.00 WIB. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Suami bertugas sebagai pembawa acara, Pakdhe Zaini memimpin tahlil dan Bapak Astur memimpin doa. Dan diakhiri dengan foto bersama. Di acara foto bersama ini sangat ramai dan kompak. 

Semoga acara reuni keluarga ini, terus berlanjut. Diadakan reuni, kadang dari sebagian generasi hanya sekedar tahu bahwa ada hubungan saudara namun nama kadang kurang hafal. Dan itu terjadi kepada saya. Sehingga manfaat reuni ini menurut saya pribadi, sangatlah penting.

Sabtu, 04 Desember 2021

Berubah




Sifat yang sangat manusiawi yaitu berubah. Berubah menjadi baik, menjadi buruk. Berubah menjadi dekat, menjadi jauh. 

Semua tidak bisa disalahkan. Karena itu sudah sifat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Tetapi, dari berubah itu sebagai manusia atau pelaku kita harus butuh banyak persiapan.

Persiapan untuk segala perubahan yang kita alami. Tidak hanya yang kita alami tetapi perubahan itu apabila terjadi dari manusia lain kepada kita.

Tidak usah risau kepada segala perubahan. Apapun bisa terjadi. Karena roda kehidupan terus berputar.

Ada hal yang sangat utama jika kita menemui segala perubahan tersebut, diantaranya:

1. Tetap Husnudzon, berbaik sangka apapun yang perubahannya

2. Tetap Berbuat Baik, tetap menebar minimal 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan santun)

3. Berkata, Menjawab Seperlunya, kadang kita berfikir kita dekat dengan orang, sampai ngobrol atau komunikasi seluas selebar merambat kemana-mana tanpa kita sadari. Dan kurangnya kepekaan terhadap pertanyaan, pernyataan ada jebakan yang kadang tersembunyi, mencari sisi lemah kita. 

Namun, tenang saja jika kita sudah menerapkan nomer satu, yaitu husnudzon. Anggap saja angin lewat. Orang yang mencari sisi lemah orang lain, mohon maaf biasanya dia mempunyai masalah, mempunyai penyakit hati dalam dirinya sendiri tanpa ia sadari. 

4. Pasrahkan segala yang berubah itu memiliki hikmah yang sangat besar. Boleh jadi berubahnya seseorang kepada kita bentuk kasih, sayang, pengingat untuk selalu Taqorrub kepada Allah.

5. Easy Going bisa kita artikan cuek. Cuek berbeda dengan antisosial. Cuek di sini memiliki makna, biasa saja. Tak usah berlebihan dalam bersikap kepada orang. Berlebihan dalam suka atau sebaliknya. Karena manusia tidak tahu, kalau kita terlalu baik kepada seseorang, kita tidak siap terhadap berubahnya sikap atau keadaan. Maka yang datang hanyalah kecewa dan benci.

Sekali lagi, BERUBAH ITU MANUSIAWI, DAN TIDAK ADA YANG BISA DISALAHKAN. YANG BENAR ADALAH PERSIAPKAN PERUBAHAN YANG AKAN ENGKAU TERIMA DARI MANUSIA LAIN.

Jumat, 03 Desember 2021

Berkata "iya"



Rasanya berkata "iya" itu sangatlah enteng. Seperti tanpa beban, jika memang kita mampu melaksanakan dan sanggup. Lalu berkata "iya" saja tanpa berfikir panjang.

Masalahnya adalah, ketika kita sering berkata "iya" terhadap sesuatu yang tanpa melihat latar belakang, sebab musababnya kadang malah menjerumuskan kepada hal tak diinginkan. Misalnya, karena sering berkata "iya" maka lawan bicara kita akan menganggap bahwa segala tumpuan tugas akan dilaksanakan oleh kita.

Padahal "iya" bisa jadi rasa terpaksa, karena ulah kita sendiri yakni dengan seringnya atau akumulasi dari kita sendiri, sering berkata "iya". Akhirnya jatuhnya akan terlihat sebagai orang yang dianggap selalu bisa. 

Orang Jawa sering mengatakan "entengan" mempunyai arti ringan, tapi bukan gampangan. Sehingga, jika bertemu orang "entengan" sering berkata "iya" terhadap segala sesuatu tugas, janganlah kita "memanfaatkan" sering menambah bahkan "dibrukne" segalanya dibebankan kepada dia, yang bukan seharusnya tugasnya. 

Sebagai contoh jika sering berkata "iya", orang akan menilai setuju terhadap tugas yang telah berikan, lebih kepada sungkan untuk menolaknya. Rasa sungkan itu tempatkan pada porsinya, kalau setidaknya bukan tugas kita, kita belum mampu mengerjakan, kita harus berani menolaknya dengan baik. Atau berkata kalau sekedar membantu saya bisa, tapi jika semuanya mohon maaf belum bisa. Kalau tidak seperti itu, semakin lama tak terasa anda akan capek, lelah menghadapi orang yang bisanya hanya menyuruh. Dan tiba-tiba hilang rasa (illfeel).

Maka sebelum berkata "iya" hati-hati, perhatikan dengan betul isi yang dibicarakan, dengarkan dengan saksama segala lawan arah komunikasinya. Jika toh menolak, maka harus dengan tutur kata yang sangat baik.

Jangan semua dipukul rata, setelah membaca tulisan ini. Artinya sudah berbeda konteks lagi jika berkata "iya" kepada orang tua, guru atau orang yang kita anggap mulya dan panutan. 

Rabu, 01 Desember 2021

Apa Kabar Disiplin?




Jangan dibudayakan mengulur waktu. Sering diantara kita meremehkan waktu, sehingga terbangunlah kebiasaan "ngaret" atau molor dan telat. Banyak sekali contoh disekitar kita budaya yang kurang baik ini. 

Kedisiplinan itu harus kita bangun sejak dini dan dimulai dari diri sendiri. Jika sudah terbiasa disiplin, dimana pun dan kapanpun akan terbawa. Contohnya sudah bersama-sama teman dengan lingkungan kerja semua akan terasa manfaatnya. Kalau pada diri kita tidak ada sedikit penanaman disiplin, sudah terlihat hasilnya jika bersama orang banyak, dia akan cenderung meremehkan orang lain. Dan terlintas kata "halah ngono ae, gampang, westo bene" dan sebagainya.

Hal-hal demikian harus kita hindari. Disiplin tidak hanya kepada waktu, namun ketepatan dalam mengemban tanggungjawab, tugas serta amanah yang kita punya. Karena saya meyakini setiap manusia hidup dia pasti mempunyai tugas yang wajib ia kerjakan. Apalagi berurusan dengan orang banyak. Harusnya sangat-sangat dimanage sedemikian baiknya.

Kalau tidak siap memenuhi kedisiplinan dan  tanggungjawab terhadap tugasnya terus terang, berkata jujur apa adanya tanpa berbelit-belit seribu, seratus bahkan sejuta alasan untuk mengambil hati orang agar di maklumi. Jangan paksa banyak orang untuk memaklumi kelakuan kurang disiplin ini. Apapun alasannya seperti "ah saya masih repot, masih sibuk". Hai, manusia jika dituruti repot dan sibuk, orang yang mohon maaf menganggur pun akan merasa sibuk, dengan belenggu perasaannya sendiri. 

Jadi, jika kita masih diberi kesehatan, kesempatan mari, tempatkan diri sesuai tempatnya, disiplin dengan menghargai waktu karena disiplin menurut saya sama dengan menghargai diri sendiri.  Semua peristiwa yang ada disekitar kita harus pintar-pintar memilah dan memilih hikmahnya. Baiknya diambil jeleknya buang sejauh mungkin.

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...