Senin, 30 Agustus 2021

Buku Keempat



Saya bukanlah orang yang ahli dalam membuat puisi. Bukan pula penyair yang hebat. Namun saya hanya bermodalkan menulis. Kemudian ada kesempatan yang baik selalu kuambil.

Menulis yang awalnya dari kata dan kususun menjadi kalimat sederhana. Yang menjadi beberapa baris dan bait. Lalu menjadi sebuah puisi.

Menulis yang setiap hari saya lakukan, entah mengalir begitu saja. Intinya tetap menulis. Dan itu proses belajar, yang selalu kuyakini akan berbuah manis.

Selalu ada jalan untuk mengabadikan momen. Dengan segala rasa yang telah terlewati. Menahan segala kekecewaan kutuangkan dalam tulisan.

Maka terwujudlah buku ke empat ini. Buku ini berjudul "Kulepas Kau Lekas" . Masih dalam nuasa menulis bersama atau antologi puisi. Dengan segala isi dari dua belas penulis. Memberikan warna-warni bunyi indah dalam rangkaian kalimat.

Semoga memberikan semangat khususnya buat saya sendiri. Ayo terus berkarya dengan menulis. Jangan lelah dan jangan bosan, teruslah belajar dengan banyak membaca dan menulis.

Teruslah berjuang, salah satunya untuk mewujudkan buku solomu. Dan fokus untuk menjadikan cita-cita yang maya menjadi nyata. Semangat

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

Kedatanganmu

 


Aku Akan Menunggu

Hingga Kau Datang

Datang Dengan Memeluk

Penuh Dengan Kerinduan

 

Maka Datanglah

Untuk Kami Yang Telah Menunggumu

Yang Selalu Bersipu Memohon

Bersujud Di Hadapnya

 

Keyakinan Kutanamkan

Bahwa Waktu Akan Menjawab

Dan Mewujudkan

Dan Hanya Allah Yang Maha Mengabulkan

 

Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 4

 


Empat minggu berjalan, tiba-tiba Bu Zaitun ke sekolah dengan membawa mobil yang masih bernomor polisi berwarna putih dan merah. Artinya itu mobil baru, dan siapa sangka Bu Zaitun bisa menyopirnya sendiri. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Bu Zaitun, sudah lama bisa menggunakan mobil bahkan mempunyai SIM.

Ketika membawa mobil di dalamnya ada beberapa judul buku yang merupakan hasil karya buku solo dari Bu Zaitun yang akan diberikan sebagai hadiah kepada semua rekannya.

Mungkin beberapa rekan yang lain tidak kaget, namun yang sangat terlihat kikuk dan salah tingkah adalah Bu Kia. Bu Melisa dengan kekhasannya mengatakan “Bu Zai, besok saya nebeng ya, kalau berangkat sekolah, itung-itung naik mobil baru”

“Boleh Bu Melisa, tapi jangan lupa membawa jeruk hehe” kata Bu Zaitun yang bercanda dengan Bu Melisa yang dirumahnya juragan jeruk.

Dengan mata sewot dan judesnya bu kia berkata “Itu mobil pinjaman ya Bu Zaitun? Sehari berapa sewanya?”

“Maaf bu, tidak saya sewakan” kata Bu Zaitun dengan santai

Tiba-tiba ada seorang bapak guru memanggil, beliau bernama Pak Subhan “Bu zai, ini bukunya dibawa kemana? Kok banyak sekali?”

“Minta tolong ya Pak Subhan, diangkat dan diletakkan di ruang guru saja, nanti saya bagi kepada bapak ibu guru yang lain” kata Bu Zaitun.

“Oke” kata pak subhan

Ketika sampai di kantor, semua kardus dibuka dan setiap rekan kerja Bu Zaitun mendapatkan dua sampai tiga judul buku karya Bu Zaitun. Ada yang sangat senang dan mendukung, namun kenapa harus ada lagi yang menyepelekan karyanya.

Pak Layu berkata “Sudahlah, kalau buku seperti ini malas untuk membacanya, dari pada buku mending dikasih uang saja”

Pak Subhan “Wah tinggal terima saja kok repot, kalau tidak mau, jatahnya Pak Layu buat saya saja”

Bu Melisa “Ini karya Pak, wajib kita apresiasi, lah Bu Kia tanpa karya saja anda apresiasi lho Pak, masa yang seperti ini anda malah tidak bisa mengapresiasi, kalau tidak bisa mengapresiasi cukup dengan diam pak”

Pak Layu “Ok, saya juga bisa membuat karya begini saja”

Bu Zaitun “boleh Pak, dengan senang hati kalau karya saya bisa memotivasi Bapak untuk ikut membuat karya yang lebih bagus dari pada punya saya, saya tunggu karya bapak dengan sangat senang”

Bu Kia “Yakin Pak? Menurut saya, Pak Layu kok belum mampu ya?”

“Jangan dipatahkan Bu, semangatnya Pak Layu” kata Bu Zaitun

“Karena dia hanya suka berkelana lewat mimpi tanpa realita lo Bu” kata Bu Kia

Semua guru tertawa dengan suara keras terutama Pak Subhan.

Banyak hikmah dari cerita singkat Bu Zaitun. Seiring berjalannya waktu, di ruang guru yang biasanya ada sekat antara satu dengan yang lain, suasana menjadi sangat produktif. Semua berlomba-loma dalam kebaikan salah satunya menghasilkan karya. Bu Melisa yang selalu berusaha mengembangkan kemampuan menggambar dan melukisnya, selalu mengupdate berita perlombaan untuk siswanya. Lalu Bu Kia yang awalnya sangat sentimen kepada Bu Zaitun, dia berubah menjadi ramah meski Bu Zai masih sering menggunakan sepeda pancalnya. Pak Layu yang selalu aktif bertanya dengan dunia tulisan mencoba membuat karya-karya pantun lucunya. Sedangkan Pak Subhan yang terus mengembangkan senam-senam kreatifnya.

Kita mungkin sering sekali menilai orang hanya pada yang terlihat saja. Hal demikian menurut saya sangat tidak baik. Karena belum tentu yang kita nilai itu selalu baik apalagi yang tak terlihat oleh mata kita. Kemudian peran ganda sebagai ibu dan guru sangat tidak mudah. Sehingga pandangnlah semua guru itu mulia, tanpa harus memandang materi yang dia punya. Lalu jika tidak bisa berkata baik, cukup menahan dengan diam.

Ada dasar paling penting dalam kitab suci Al Quran Surah An Nisa Ayat 32 bahwa:

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”

 

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 3

 


Ketika di kelas Bu Zaitun mengajar dengan professional dan tepat waktu. Pada waktu itu materi yang disampaikan adalah tentang puisi. Sehingga Bu Zaitun yang hobi menulis mengajak anak didiknya untuk berkarya dengan membuat puisi. Setelah satu minggu dan terkumpul semuanya, Bu Zaitun mencoba untuk mengetiknya dan mengantarkan ke sebuah festival literasi menulis tingkat nasional. Awalnya tidak tidak ada yang mengetahui hal demikian. Banyak dari sekolahnya yang mencibir dan tidak mendukungnya sehingga biaya yang dipakai mengikuti festival itu adalah uang pribadi Bu Zaitun.

Namun siapa sangka dalam festival itu ada sebuah semacam penghargaan atas karya terbaik yang telah dikumpulkan. Dan keajaiban Allah telah nyata Bu Zaitun berhasil mendapatkan penghargaan terbaik pertama dan diberikan fasilitas untuk mendapatkan sejumlah uang tunai dan menerbitkan buku.

Bu Melisa mengetahui hal tersebut, namun Bu Zaitun berkata untuk tidak membocorkan kepada siapapun terutama pihak sekolah dan Bu Kia sekalipun. Karena Bu Zaitun takut akan mendapat cemooh untuk kedua kalinya. Karena Bu Kia ini sangat pintar untuk meracuni dengan gosip yang ia sebar dan disalurkan kepada teman-teman yang lain termasuk pimpinan sekolah.

Namun siapa sangka Bu Melisa memberikan kabar bahagia itu kepada guru lain, kecuali Bu Kia dan pimpinan. Dengan sangat cepat, semua guru memberikan ucapan selamat dan rasa bangga melalui pesan singkat di handphone.

Satu bulan berlalu, tiba-tiba ada distributor buku menyalurkan buku hasil karya Bu Zaitun dengan siswa kelas V. Lalu Bu Zaitun membagikan dengan semua murid kelas V dengan gratis, dan semua guru termasuk Bu Kia.

“Anak-anak inilah hasil karya kalian, yang bisa membuat bangga semua orang tua dan guru. Bu guru mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya, sehingga tak menyangka kita mempunyai buku karya kelas V ini. Bu Guru sangat bangga pada kalian” kata Bu Zaitun ketika di kelas sinambi membagikan buku karya puisi bersama kelas V.

Ada salah satu muridnya Gibran berkata “Ayo, kita tepuk tangan” (semua bertepuk tangan bahagia, dan diambil foto bersama oleh Bu Zaitun)

Tiba-tiba Sania mengangkat tangan dan berkata “Bu zaitun, apakah buku ini boleh di bawa pulang?”

“Tentu saja Sania, buku ini milik kalian, tanpa Bu Zaitun minta ganti uang” jawab Bu Zaitun dengan ramah”

Gibran dan Didik berkata dengan keras lagi “mari teman-teman, kita ucapkan bersama-sama, Terimakasih Bu Guru”

Bu Zaitun berkata “sama-sama semoga barokah dan manfaat”

Serentak siswanya menjawab “Amin…..”

Namun siapa sangka kejutan terjadi lagi ketika waktu istirahat tiba. Dan semua guru berkumpul di ruang guru.

“Oalah buku kayak gini aja bangga, kan ini bukan karyanya sendiri, tapi anak-anak” kata Bu Kia yang sedang terlihat ngobrol dengan beberapa guru lain dan ada juga pimpinan sekolah.

Bu Melisa mendengarnya langsung berkata “Yang penting ada bukti karya berupa buku, dari pada hanya ngobrol hal yang tidak penting” (sambil berlalu dan bergabung di obrolan bersama Bu Zaitun)

Bu Zaitun hanya terdiam dan mencoba tidak mendengarkan karena masih banyak guru yang sangat mengapresiasinya dan ingin mengikut jejaknya. Sambil bercerita dan bertukar informasi serta cara-caranya.

Waktu terus berjalan, kehidupan seseorang tiada yang tahu. Bu Zaitun masih dengan sosok pribadinya, yang dikenal dengan guru sepeda pancalnya. Bu Zaitun masih terus berjuang seperti hari biasa, sedehana, bijaksana dan penuh prestasi.

Sejak saat itu Bu Zaitun terus menggerakkan siswanya untuk berkarya baik dalam tulisan atau gambar serta di bidang lain. Meskipun belum menyeluruh satu sekolah, setidaknya kelas yang Bu Zaitun pegang selalu selangkah lebih maju terbukti dari karya-karya anak kelasnya yang selalu ditempel di dinding kelas hingga terkesan berantakan, tapi sebetulnya itu merupakan hasil karya siswanya.

Lalu di kelasnya selalu ada pojok baca, dan siswanya ketika waktu istirahat di usahakan untuk membacanya. Bu Zaitun meyakini dengan menulis dan membaca akan membuka jendela dunia dan prestasi yang tidak disangka-sangka.

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru merupakan pekerjaan yang tidak sederhana. Ladang rizki akan bertebaran dimana-mana. Yang paling utama ditanamkan adalah niat dalam setiap langkahnya karena Allah. Dan hal demikian akan menghantarkan kepada kebermanfaatan. Kalau di sekolah Bu Zaitun sangat menjiwai sebagai guru, ketika di rumah beliau meninggalkan status menjadi bu guru. Iya, selayaknya ibu rumah tangga yang biasa, dan tidak sungkan pergi ke sawah, membantu suami di kandang ternaknya.

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 2

 


Keluarga Bu Zaitun yang sederhana ini memiliki kehangatan, kedekatan, kekompakan, kasih sayang dan perhatian terhadap satu sama lainnya. Sehingga pekerjaan rumah cepat selesai, karena keluarga Bu Zaitun juga sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi.

Ketika pukul enam lebih lima belas menit pagi, semua anggota keluarga harus dipastikan sudah sarapan meski dengan lauk yang sederhana seperti tahu atau tempe, sambel urap dengan teh hangat. Lalu semua menuju tempat kerja dan kegiatan masing-masing. Putranya bersekolah dan Ayah menuju sawah. Bu Zaitun menuju tempat kerja menggunakan sepeda pancal setianya yang sudah menemaninya hampir sepuluh tahun. Ia mengayuh dari rumah sampai menuju tempat kerjanya, salah satu sekolah swasta yang berada tepat disebelah desanya.

Sering tetangga-tetangga menyapa “Bu Zai,,,,berangkat? Hati-hati ya bu”

Dengan ramahnya ia menjawab “Terimakasih, sambil olahraga ini, Bismillah semangat”

Yang menarik dan menjadi ciri khas Bu Zaitun adalah botol air minumnya yang tidak akan pernah terlupakan. Ia dengan semangat mengayuh sepedahnya untuk bertemu semua anak didiknya. Bu Zaitun yang mempunyai hobi menulis, selain seorang ibu rumah tangga yang dengan seambrek kegiatan ia juga mengabdi sebagai guru kelas V di salah satu sekolah swasta. Sama halnya seperti di rumah, ia sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi kepada anak didiknya. Dan ia berusaha memberikan contoh kecil kepada anak didiknya, seperti dia tidak pernah terlambat ke sekolah.

Di sekolah ini Bu Zaitun merupakan guru yang terkenal dengan ketegasannya dan kedisiplinanya. Selain penyayang, dia juga tidak segan menegur dan menasehati anak didiknya yang masih kurang benar dalam berperilaku. Namun tidak jarang ada salah satu dari rekan kerjanya yang merendahkannya hanya karena sepeda pancalnya.

“Bu Haduh,,,,ini siapa masih pagi bau kecut?” kata Bu Kia kepada Bu Melisa

Beberapa guru yang di kantor terdiam. Memang dari seluruh guru yang menggunakan sepeda pancal hanya Bu Zaitun, yang terlihat berkeringat otomatis Bu Zaitun. Tapi dengan kelembutan hatinya Bu Zaitun menjawab “Mungkin saya Bu Kia, maaf ya?”

Bu Kia masih menjawab dengan sewotnya “Makannya guru itu harus rapi, harus wangi, beli dong sepeda motor atau pakai mobil, jangan pakai sepedah pancal”

Bu Zaitun terdiam, namun ada Bu Melisa yang berkata “Eh Bu, tolong dijaga perkataanya, jangan berkata kasar, roda kehidupan berputar lo”

Bu Melisa mencoba menenangkan Bu Zaitun yang tertunduk terlihat malu. Lalu Bu Zaitun meninggalkan kantor menuju kelasnya. Bu Melisa mencoba mengejarnya dan berkata kepada Bu Zaitun “Bu, jangan difikirakan, Allah Maha Tahu, terus semangat dan jangan lelah untuk mengabdi”

“Baik bu, tidak apa-apa memang saya punyanya masih sepeda pancal Alhamdulillah tidak jalan kaki” kata Bu Zaitun sambil tertawa kecil.

Namanya manusia biasa, pasti hatinya Bu Zaitun saat itu terluka. Tapi dia adalah wanita tangguh yang tidak bisa meneteskan air mata di hadapan manusia. Tapi di dalam hatinya terbesit doa “Ya Allah Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi saya dan Engkau Maha Kaya dan menjamin Rizki semua hambaMu” sambil menghela nafas yang panjang.

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 1

 


Catatan kecil perjuangan seorang wanita ibu rumah tangga yang merangkap menjadi seorang guru. Sudah menjadi pilihan dan keputusan jika peran ganda telah dipilihnya dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Namun, seiring berjalannya waktu, jalan mulus tidak terus ditemuinya. Banyak kerikil-kerikil kecil yang menyertai dalam peranannya.

Dini hari yang sunyi menunjukkan pukul tiga pagi, membangunkan sosok perempuan tangguh ini. Dia biasa disapa dengan sebutan Bu Zaitun. Menyegerakan untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Bermunajat di sunyinya malam membuatnya menjadi semakin kuat. Lirih, lembut suara memohon doa yang dipanjatkannya “Ya Allah berikan aku kekuatan, kesehatan agar semua berjalan beriringan dan membawa keberkahan”. Tetes air mata tangguhnya tak pernah terlihat oleh manusia. Karena ia sadar bahwa yang berhak tahu atas segala yang terjadi padanya hanyalah TuhanNya.

Ketika seisi rumah masih terlelap dengan mimpinya, ia harus menuju dapur, untuk mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya. Memasak nasi, membuatkan lauk pauk dan minuman hangat untuk suami dan anak. Meski itu tugas wajib seorang ibu rumah tangga, ia meyakini bahwa pengabdian kepada suami dan keluarga tidak akan pernah terlewatkan. Namun sekali lagi itu tidak mudah.

Ketika fajar tiba, dengan penuh kasih sayang ia membangunkan semua anggota keluarganya untuk bergegas sholat berjamah di masjid terdekatnya.

“Ayo nak, segera bangun, kita kejar pahala dari Allah”

“Ayo mas, bangun, bersama-sama kita memberi contoh ke anak-anak agar tidak malas ke masjid ketika subuh”.

Dua kalimat inilah yang sering diucapkannya ketika membangunkan keluarganya. Meski sudah berumah tangga lama, Bu Zaitun ketika membangunkan suami tetap menggunakan kata “Mas” sebutan mesranya. Namun, sangat berbeda di depan anaknya ia sering menyapa dengan sebutan “Ayah”.

Setelah selesai berjamaah, Bu Zaitun masih sibuk dengan bersih-bersih rumah seperti mencuci baju, menjemur, menyapu dan beberapa kegiatan lain dibantu oleh suami dan anaknya. Ayah memberi makan hewan-hewan ternaknya, sedangkan putranya menyiapkan sepedanya untuk bersekolah dan sepeda ibunya untuk bekerja.

Merdeka Belajar

 


Sudah Waktunya Kita Bangun

Dari Mimpi Dan Masa Lalu

Sudah Waktunya Semangat Kita Bangun

Untuk Menjadi Generasi Yang Unggul

 

Jangan Hanya Berpangku Tangan

Menerima Dan Mau Menjadi Bahan Bulan-Bulanan

Tunjukkan Bahwa Kita Merdeka Belajar

Menjadi Penerus Tanpa Harus Menjatuhkan

 

Menjadi Memimpin Tanpa Harus Menindas

Merdeka Belajar Sejatinya Menanamkan

Nilai Keadilan Dan Kejujuran

Karena Aku Tahu Negeriku Kini Jauh Dari Itu

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...