Senin, 30 November 2020

Ketika Juga Menjadi Jangan

 


Berawal dari kata "juga" dan "jangan". Sungguh membuatku malu kepayang. Di suatu pagi, saya sedang mencuci beberapa pakaian. Sambil menunggu mesin pengering, saya membuka handphone. Mulai membuka beberapa aplikasi, instagram, YouTube, dan WhatsApp.

Saya membuka aplikasi WhatsApp dan membuka salah satu grup. Lalu saya membaca sambil mengeluarkan pakaian dari mesin pengering. Bertemu sebuah kalimat kurang lebih seperti ini  "mohon juga dikirim ya". Apa yang terjadi di mata dan fokus saya di otak. Hemm... saya membacanya dengan "mohon jangan dikirim ya". Sungguh kesalahan yang fatal dan memalukan, karena pesan tersebut dari guru saya.

Kata "juga" dan "jangan" dari segi makna saja sudah sangat berbeda. Kata  "juga" bisa sebagai kata hubung. Tentunya menghubungkan dua hal yang berbeda atau sama. Kata "juga" bisa jadi suatu perintah. Misal seperti contoh kalimat di atas "mohon juga dikirim ya". Dari kalimat itu sudah jelas, itu bermakna perintah.

Sedangkan kata "jangan" dalam makna bahasa Indonesia sudah mengarah pada suatu larangan. Kecuali dalam bahasa Jawa Timuran, "jangan" bisa diartikan sebagai lauk pauk. Mari, kita bandingkan dua contoh di atas. Pertama, "mohon juga dikirim ya". Kedua, "mohon jangan dikirim ya". Amati dan rasakan kedua kalimat tersebut, sungguh berbeda maksud dan maknanya.

Tetapi, kenapa saya bisa salah fokus?.

Sudah jelaslah, karena membacanya kurang teliti, kurang konsentrasi karena fokusnya antara jemur baju dan membaca pesan. Sehingga menimbulkan kesalahan makna perintah menjadi suatu larangan. Oleh karena itu, membaca dengan sungguh-sungguh adalah kunci dalam memahami segala makna tersurat maupun tersiratnya. Membaca juga membutuhkan konsentrasi dan fokus.

Untuk Bapak Guru yang saya hormati, saya sungguh mohon maaf, akibat salah baca pesan njenengan. ๐Ÿ™๐Ÿป

Seberapa penting ilmu?


Ilmu agama dan ilmu umum. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Saya teringat dawuh  guru saya "berhati Masjidil Haram, berotak London". Dulu sewaktu masih di pesantren, saking seringnya kita dengar tentu selalu hafal dengan kalimat tersebut. Namun, namanya anak di masa seragam putih abu-abu, semua seperti angin berlalu.
Berjalannya waktu ke waktu, perjalanan mencari ilmu serta pengalaman yang diperoleh, maka semakin faham dan tahu apa maksud dari kalimat tersebut. Yaitu tentang ilmu agama dan ilmu umum.
Kedua ilmu tersebut menurut saya tidak bisa dipisahkan. Porsinya pun harus sama, artinya tidak boleh berat sebelah. Ilmu umum tanpa didasari ilmu agama akan kacau. Misalnya saja, seorang anak yang genius menemukan alat atau robot yang bisa mencuci baju. Jika tidak didasari dengan ilmu agama yang kuat. Dia bisa saja, merasa dirinya paling hebat, akhirnya menjadi orang yang takabur atau bisa jadi  robot yang diciptakan tidak menggunakan konsep fiqih, bagaimana mencuci bersih dan suci pada suatu pakaian, atau bahkan sebaliknya. Dari uraian tersebut, keseimbangan kedua ilmu itu penting dilakukan.
Di jaman modern ini, penuh dengan kecanggihan tekhnologi maka keberadaan ilmu agama sangat diperlukan. Namun, jangan salah, ilmu pengetahuan umum di era kemajuan ini semakin maju dan berkembang kita harus mengikutinya. Mau tidak mau tetap mengikutinya. Jika tidak ingin berubah menjadi lebih maju, ibarat orang berlomba lari teman sudah lari demi garis finis tapi kita masih berjalan ditempat.
Keseimbangan antar kedua ilmu itu penting. Seperti Rasulullah bersabda sebagai berikut:  

ู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุงْู„ุนِู„ْู…ِ، ูˆَู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ุขุฎِุฑَู‡َ ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุงู„ْุนِู„ْู…ِ، ูˆَู…َู†ْ ุฃَุฑَุงุฏَู‡ُู…َุง ูَุนَู„َูŠْู‡ِ ุจุงِู„ุนِู„ْู…ِ

"Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu." (HR. Bukhori dan Muslim)

Itulah penjabaran dari kalimat "berhati masjidil haram berotak london". Intinya setinggi apapun ilmu kita, jangan meremehkan antar ilmu yang lain. Dan di manapun kita berada hendaknya selalu kita tetapkan karena mengharap RidhoNya.

Minggu, 29 November 2020

Cinta

Setiap manusia, sudah menjadi kodratNya mempunyai rasa cinta. Allah menganugerahi rasa cinta, bukan tanpa alasan. Bayangkan saja, jika manusia tanpa rasa cinta, sayang atau tepo seliro dan welas asih terhadap sesama. Mungkin perpecahan, perselisihan akan selalu terjadi setiap detiknya. 

Rasa cinta itu harus dibuktikan secara nyata. Misalnya, jika ada seseorang mengaku cinta, tetapi tanpa bukti konkret, hal itu hanya ilusi saja. Seperti cinta kita kepada Allah Maka harus kita buktikan secara nyata. Allah menjelaskan dalam Al Quran tentang cinta, dalam surah Ali Imran Ayat 31 sebagai berikut: 

 

ู‚ُู„ْ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชُุญِุจُّูˆู†َ ุงู„ู„َّู‡َ ูَุงุชَّุจِุนُูˆู†ِูŠ ูŠُุญْุจِุจْูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ۗ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ

Artinya: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di ayat tersebut, sudah jelas sekali cara membuktikan rasa cinta kita kepada Allah diantara ada "ikutilah Aku". Maka harus selalu kita taati segala perintahNya dan laranganNya, apapun itu. Contoh sederhananya, memenuhi segala kewajiban rukun Islam serta rukun ImanNya. Sepertinya terdengar umum menaati serta menjauhi laranganNya. Namun, jangan salah, kata "fattabi'unii" atau "ikutilah Aku" bisa dibuktikan dengan mengikuti segala sunnah RasulNya. Artinya, mencintai Allah itu dapat dibuktikan dengan banyak jalan. 

Seperti halnya mencari jodoh, masih selalu saya ingat, dawuh guru saya berkaitan tentang cinta. Pada waktu itu, saya yang menginjak jenjang masa remaja detik-detik mau diambang kelulusan dan menyandang sebagai alumni di madrasah tersebut. 

Tepatnya di bulan Ramadhan dihadapan para siswa, yang sedang mengikuti kegiatan  pondok Ramadhan. Setelah sholat dhuhur beliau menyampaikan apa sebenarnya makna cinta. Karena secara tidak sengaja, beliau menemukan surat milik salah satu santri yang kebetulan isinya dia sedang jatuh cinta kepada seseorang.

Lalu, beliau bertanya "apa sebenarnya cinta itu?". Semua santri terdiam, entah tahu atau susah menjelaskannya. Saya yang diantara mereka pun ikut berfikir bahkan mempunyai konsep bahwa cinta itu rasa senang atau suka terhadap seseorang. Tanpa ada embel-embel syarat tertentu.

Tetapi, konsep baru saya temukan akan makna Cinta itu sendiri dari beliau. Kata cinta terdiri dari lima huruf, yaitu C-I-N-T-A. Ada makna dibalik semua susunan huruf tersebut, diantaranya:

C=Carilah Ridha Allah

I=Ingin Selamat

N=Nurut Orang Tua

T=Tetapkan Semua Hal Untuk Ibadah

A= Allhamdulillah

Susunan makna perhuruf pada kata cinta di atas menurut saya sangat mendalam. Ternyata, konsep yang saya bangun di masa remaja waktu itu, masih kurang tepat. Membangun cinta dalam hal mencari jodoh, dasar paling awal dan utama adalah karena Allah. Lebih luasnya, cinta terhadap segala hal, harus kita libatkan Sang Pemberi Cinta itu sendiri yaitu Allah SWT. 

Tidak ada larangan menyukai, saling menyayangi dan mencintai antar sesama manusia. Namun, ada porsinya. Karena antara cinta dan nafsu jika tanpa benteng yang kuat, akan berbahaya.

Cinta, di akhir kata tersebut ada huruf "a" dimaknai dengan Alhamdulillah. Maka sudah jelas jika cinta yang dibangun atas dasar nama Allah, pasti akan menemukan kebahagiaan dan rasa syukur yang dalam.

Begitu juga di penjelasan akhir ayat di atas bahwa jika kita mampu mengikuti, membuktikan rasa Cinta kita kepada Allah, maka sudah jelas Allah akan balik mencintai, mengasihi serta mengampuni dosa kita. Subhanallah...

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apa makna cinta sesungguhnya? Sudahkan kita buktikan cinta kita terhadapNya? Dan seberapa besar cinta kita kepadaNya dan para utusanNya?

Jumat, 27 November 2020

Delicious Of Sambal Tomat

Sebagai pencinta kuliner pedas, ukuran rasa pedas yang menurut orang lain abnormal namun di lidah sudah terbiasa. Selain itu, tidak akan bosan dengan aneka cita rasa yang dikeluarkan dari puluhan cabai dengan perpaduan bumbu lain dalam suatu menu. Cabai biasanya sebagai bahan pokok untuk bumbu dalam memasak. Atau hanya disajikan menjadi menu pendamping seperti cabai dimakan secara langsung untuk lalapan atau dibuat sambel. Apapun yang dimasak tanpa cabai, menurut saya, masakan tersebut kurang sedap dan nikmat.

Mengenal berbagai macam sambel. Tentunya banyak sekali ibu-ibu hang sudah handal untuk membuat sambel. Ada berbagai jenis sambel yang bisa kita ketahui seperti, sambal korek, sambal santan, sambal pecel, sambal tomat, sambal bawang, sambal teri, sambal ikan asin, sambal jlantah (sisa minyak goreng) dan masih banyak lagi. Bahan pokok untuk membuat berbagai macam sambal tersebut ya cabai itu sendiri.

Sambal Tomat adalah sambel terfavorit buat saya, karena sambel tomat menurut saya, ada cita rasa yang lengkap, perpaduan pedas, segar dan sedikit rasa asam dari tomat membuat lebih sedap. Ditambah aroma bawang putih yang segar. Mantab sekali.

Lalu keahlian dalam tehnik mengolah sambel atau mengulek nya, itu juga berpengaruh pada cita rasa yang dikeluarkan. Nah, saya akan berbagi sedikit tips untuk cara mengolah sambal tomat agar tetap segar dan nikmat. Siapkan beberapa alat dan bahan, diantaranya:

1. Cabai (ambil sesuai selera), kalau saya biasanya 25 cabai atau 35 cabai

2. Tomat (2 atau 3 buah)

3. Bawang Putih ( 1 siung saja)

4. Garam

5. Cobek dan huleknya

Iyakan, bahannya saja sangat sederhana dan simpel.

Untuk Langkah dalam mengolahnya,

1. Cuci terlebih dahulu semua bahan (cabai, tomat dan bawang putih)

2. Iris tomat menjadi 6 bagian

3. Jadikan cabai dan tomat irisan dalam satu wadah mangkuk yang tahan rebusan,

Ingat bawang putih jangan ikut direbus.

4. Kemudian rebus (bahasa jawanya di dhang atau sambil diletakkan diatas menanak nasi)

5. Tunggu sampai lima hingga sepuluh menit untuk menunggu cabai dan irisan tomat agak lunak

6. Tips, biasanya, ada kandungan air tomat di mangkuk rebusan tersebut, bisa dibuang agar tidak terlalu banyak campuran air ketika sudah di haluskan

7. Siapkan lemper atau layah beserta huleknya untuk menghaluskan bahan tersebut, jangan lupa dicuci yerlebih dahulu.

8.Masukkan bawang putih mentah dan garam secukupnya lalu rebusan tomat dan cabai campurkan untuk dihaluskan bersama

9. Haluskan dengan cara mengulek secara perlahan dan sedikit memutar dan merata

10. Tips, tidak usah terlalu lembut, sehingga ketika disantap ada tekstur kasarnya sedikit.

11. Tara... sambal tomat segar siap disajikan


Kemudian, apa menu yang pas buat sambal tomat itu sendiri. Sering saya padukan dengan sayur kubis atau bayam yang sudah direbus serta tahu goreng dengan nasi yang hangat. So..Yummy Delicious 

Yakin tidak mau mencoba...

Yuk segera jangan ragu, untuk mencobanya...


Untaian Doa




    Manusia diantara makhluk yang lain adalah makhluk yang sempurna karena dikaruniai oleh Allah sebuah akal dan pikiran. Sehingga manusia dapat membedakan mana hal baik dan buruk. Disisi kesempurnaan sebagai manusia, tetap saja, manusia tempat salah, lupa dan penuh dengan kekurangan. Berbeda dengan Rasul Nabi kita, Muhammad SAW, paling sempurna dengan akhlak kemuliaannya dan beliau dijamin Allah Ma'shum (bebas dari dosa) dan sudah menjadi keharusan untuk mengidolakan, meneladani segala hal tentang beliau.

    Nabi Muhammad yang sudah dijamin Allah, ma'shum, tetap selalu istighfar dan berdoa kepada Allah. Setiap sekonnya beliau mengingat Allah, lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa, yang berlumur dosa setiap detiknya? Maka, kewajiban sebagai manusia yang penuh dengan dosa serta kelemahan, salah satunya dengan Berdoa.

    Berdoa adalah bentuk salah satu ibadah, dzikir atau mengingat untuk selalu memohon kepda Allah Yang Maha SegalaNya. Dalam Al Quran banyak sekali Firman Allah yang menjelaskan tentang Berdoa. Sebagian dari kita mungkin sudah familiar dengan salah satu firman Allah tentang berdoa, yaitu dalam Al Quran Surah Al Ghafir ayat 60: 

ูˆَู‚َุงู„َ ุฑَุจُّูƒُู…ُ ุงุฏุۡนُูˆูۡ†ِู‰ۡۤ ุงَุณุۡชَุฌِุจۡ ู„َู€ูƒُู…ۡؕ ุงِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠูۡ†َ ูŠَุณุۡชَูƒุۡจِุฑُูˆูۡ†َ ุนَู†ۡ ุนِุจَุงุฏَุชِู‰ۡ ุณَูŠَุฏุۡฎُู„ُูˆูۡ†َ ุฌَู‡َู†َّู…َ ุฏَุงุฎِุฑِูŠูۡ†َ

    Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina."

    Sudah sangat jelas, lantang dan gamblang Allah menjelaskan tentang Doa. Doa-doa yang kita panjatkan akan dikabulkan olehNya. Di kelanjutan ayat tersebut, diterangkan juga sebuah peringatan, jika kita sebagai manusia tidak mau berdoa, hanya mengandalkan otak serta kemampuan yang dimiliki, maka orang tersebut tergolong orang yang sombong dan pantas untuk masuk Neraka Jahanam. Naudzubillah..

    Untaian lafal doa yang kita lantunkan merupakan bentuk untaian kalimat-kalimat tayyibah yang isinya memuja, memuji keagungan dan memohon segala hal baik untuk diri kita , keluarga, serta orang-orang di sekeliling kita. Maka dalam memanjatkan doa, bisa dilakukan dalam segala kesempatan. Memang, lebih dianjurkan dimana waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Namun, juga tidak salah, akan lebih bagus jika dalam setiap hembusan nafas kita mengingat Allah dengan selalu berdoa dalam hati.

    Doa yang kita panjatkan, ada yang secara langsung, seperti halnya ketika kita membeli bakso, pesan langsung dapat di makan ditempatnya. Ada kala doa-doa yang dipanjatkan masih membutuhkan waktu yang tepat untuk kita dapatkan. Apapun hajat kita, bentuk pontang-panting ikhtiar yang dilakukan, JANGAN LUPA BERDOA. Tetapi, jangan disalah artikan, hanya mengandalkan doa tapi tidak mau berusaha hanya modal pangku tangan. Jangan ya..

    Jadi, jika diantara kita yang mungkin ada beberapa doa yang masih belum terwujud jangan putus asa, jangan bosan untuk selalu mengulang-mengulang doa tersebut. Bisa jadi doa tersebut, tidak sekarang bisa saja nanti untuk anak cucu keturunan kita. Dan bentuk doa-doa yang kita ulang-ulang sebagai bukti husnudzon kita kepada Allah. Yaqin Se Yaqinnya Doa Itu Akan Terwujud Dengan Waktu Yang Pas, Tepat Menurut Allah bukan kaca mata manusia biasa. Fighting๐Ÿ’ช๐Ÿป
 

Kamis, 26 November 2020

Berproses

Siapapun akan selalu menantinya. Malam Jumat atau hari Jumat adalah sayyidul ayyam, malam yang istimewa, selalu dianjurkan untuk memperbanyak sholawat, membaca Al Quran maupun sedekah.

Malam ini, malam jumat yang istimewa tidak sepertinya biasanya, setelah rutinan yasinan dan tahlil. Sambil menunggu waktu sholat isya' rebahan sambil membuka WhatsApp grup kelas dan grup olimpiade anak-anak. Sambil ngecek pembelajaran dan beberapa hasil sertifikat olimpiade.

Mendapat pesan dari beliau Bu Ma'rifah Hidayah tentang untaian sajak yang berjudul "Salam Satu Jiwa, Salam Literasi" di Grup Gubuk Literasi Pergunu Tulungagung, kemudian saya baca. Belum sempat selesai, masih membaca kira kira dapat satu bait, ada pesan lagi dibawahnya kemudian ada file. Ternyata, file tersebut hasil pengumuman lomba menulis "Spirit Literasi Pergunu" dalam rangka Hari Guru Nasional tahun 2020.

Tak disangka-sangka, nama saya muncul di barisan pertama dan ada keterangannya. Dari posisi awal rebahan auto menjadi posisi duduk. Membaca dengan seksama. Masih belum percaya file tersebut saya kirim ke handphone suami, agar lebih jelas lagi. Dan kebetulan suami masih rutinan jadi handphone di rumah. Ku baca ulang-ulang memang benar namaku di barisan pertama. Bisa dicek di tabel berikut ya:

Alhamdulillah, syukur tiada henti, impian akan semakin dekat untuk menjadi nyata. Pengumuman ini akan menjadi tombak awal untuk perjalanan kedepannya. Bukan untuk riya', saya ingin membuktikan bahwa menulis itu akan merubah hidup seseorang menjadi lebih baik, menulis sebagai ladang untuk kebaikan, untuk lebih manfaat dan tentunya mencari Ridho dan barokahNya.

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran pengurus Pergunu Tulungagung di bawah pimpinan Bapak Muslim, yang telah menyelenggarakan dan memberikan kesempatan saya mengikuti acara workshop literasi di awal bulan November 2020 lalu, bersama pakar literasi yang hebat. Dan terimakasih juga saya sampaikan kepada dewan juri Bapak Moh. Anshori, Ibu Ma'rifah Hidayah dan Bapak Nurhadi. Khususnya kepada sang inspirator literasi Bapak Dr. Ngainun Naim, MH.I.

Saya juga mohon untuk motivasi serta  bimbingan dari beliau untuk selalu ajeg dalam menulis.

Menulis yang baik adalah melakukan kegiatan menulis itu sendiri. Jadi, jangan ragu untuk menulis apapun, yang penting menulis.


Rabu, 25 November 2020

Untuk Guruku


 

Kami Bisa Berdiri
Sampai Detik Ini
Tak Lain 
Hasil Akumulasi
Bimbingan, Pengajaran, 
Serta Pengarahan
Darimu Wahai Guruku

Dikala Itu
Semangat Teriakanmu
Membangkitkan Rasa Percaya Diriku
Atas Segala Kemampuanku
Wahai Guruku,
Segala Yang Terlihat Darimu
Cerminan Kemuliaan Jasamu

Kuucapkan Bermilyaran Terimakasih
Atas Segala Jasa Pengorbananmu
Demi Anak Bangsamu
Kini Engkau Abadi 
Disanubariku
Dan
Kami Akan Meneruskan Perjuanganmu


Selasa, 24 November 2020

Pengingat

Jika Tiba Waktunya

Tak Bisa Menolak

Tak Bisa Menghindar

Dan 

Dimana Pun Kau Mengumpat

Pasti Akan Terlihat


Sudahlah

Kamu Memang Lemah

Waktu Akan Terhenti

Tanpa Kau Sadari

Kapan

Dimana

Apa Yang Kamu Lakukan

Dan Tak Mengenal Mengapa


Itu Haq !

Sungguh Terjadi !

Menghampiri 

Setiap Makhluk Yang Bernyawa


Hanya

Beberapa Kain Kafan Putih

Yang Ikut Menemani

Semua Sama

Sekali lagi

Hanya Kain Kafan Putih 

Yang Melekat Menemani

Di Bawah Keabadian Bumi


Adakah Alasan

Untuk Tidak Meminta

Memohon Ampun KepadaNya

Atas Dosa-dosa 

Yang Kita Lakukan


Mari Bersama-sama Mengaca

Bagaimana Jika TakdirNya

Datang Lewat Malaikat Utusan 

Pencabut Nyawa

Akankah Kita Siap?



Minggu, 22 November 2020

Tidak Salah Untuk Bermimpi

  Meraih mimpi bersama kalian. Mimpi bagi sebagian orang mungkin mustahil, atau hanya halusinasi saja. Namun, tak semua orang sependapat dengan hal itu. Kali ini ada yang berbeda, mimpi setinggi angkasa, tidak ada salahnya untuk mencoba untuk mewujudkannya.

  Tidak peduli, orang berpendapat apa, selagi selalu optimis, yakin seyakinnya, ikhtiar yang pol-polan berdoa dengan sungguh, lurus akan tujuan baik atas mimpimu. Allah pasti akan mengabulkan dan mewujudkannya mimpi-mimpimu. Jadi jangan takut bermimpi, yang mustahil bagi orang lain, namun nyata bagimu.


Bersama Kalian Melukis Mimpi

Melukis, Mengukir, Membuat Sketsa

Dalam Untaian Mimpi

Bagai Doa-Doa Atas Langit

Tak Terlihat 

Oleh Kasap Mata Manusia


Namun,

Untaian Lukisan Mimpi

Pasti Nyata Terwujud

Jika Jerih Payahmu

Tak Kenal Lelah


Tuhan

Pasti Melihat, Mendengar,

Dan Mewujudkan Mimpi 

Menjadi Suatu Nyata


Jangan Takut

Menggapai Bintang

Yang Menjadi Mimpi

Mimpimu

Sabtu, 21 November 2020

SEPERTIGA MALAMMU

   


Salah satu nikmat gratis yang diberikan Allah yang setiap manusia rasakan adalah nikmatnya tidur. Bayangkan saja jika manusia yang tidak bisa tidur, mungkin dunia medis akan mendiagnosa orang tersebut menderita insomnia. Setidaknya, manusia dalam sehari mempunyai waktu untuk tidur kurang lebih tujuh sampai delapan jam.

    Namun, di sela-sela waktu tidur malam, menurut saya ada kewajiban waktu,untuk selalu mengingatNya. Entah hanya lima atau sepuluh menit atau bahkan berjam-jam. Itu semua tergantung dan kembali ke diri kita masing-masing. Iya, memang berat, salah satu alasannya adalah, dingin bertemu air, membuat kadang kita malas untuk bangun, biasanya malah tarik selimut dan ubah posisi lebih nyaman, untuk melanjutkan melukis mimpi di pulau kapuk. 

    Marilah kita belajar bersama, untuk membiasakan diri memenuhi waktu untukNya. Sebenarnya bukan Allah yang perlu waktu mustajab itu, tapi kita, sebagaimana manusia, sangat dan sangat memerlukan, memohon, mencari RidhoNya dan bebas untuk Berdoa Apapun Yang Terbaik, serta Meminta Ampun KepadaNya.

Kring........
Berdering Lah alarm
Menunjuk Sepertiga MalamMu
Bangun
Atau
Kembali Tidur Lagi
Putusan Yang Amat Sulit

Duduk
Berfikir
Mengumpulkan Nyawa
Keputuskan
Bangun dan Berdiri
Dikesempatan Langka itu
Di Waktu MustajabMu
Kutinggalkan Selimut Lembutku Begitu Saja

Ku Berlalu
Menghampiri Air Kran
Mengalir Deras
Dingin 
Menusuk Tulang Belulang

Sunyi Sepi
Hujan Deras Mengiringi
Menambah Syahdu 
Suasana Hati

Disujud Malamku
Iringan Kalimat-kalimat Tayyibah
Memuji, Mengagungkan, Memohon
Engkau Sang Maha Segala Kebaikan

Pesan Guru 2

Tertulis, sepuluh baris dari tinta berwarna hijau, di sampul sebuah kado anime Conan yang sudah lusuh dan memudar. 
Kemungkinan itu sudah sangat lama, terlipat dengan rapi di dalam salah satu buku catatanku.

Iya itu pesan guruku,
Beliau berpesan dan menuliskan

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Panah waktu hanya ada satu arah
Perhatian harus diarahkan
Anak panah harus segera dilepas
Melesat secepat kilat
Buktikan bahwa kamu yang terhebat!

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Ingat belajar yang giat
Ma ortu tetap taat
Jangan lupa
ISLAM,
IMAN,
IHSAN,
Jaga kuat kuat!





Kamis, 19 November 2020

NGURI-NGURI BUDAYA TRADISONAL

 


    Negara kita memiliki identitas yang kental akan budaya tradisonalnya. Namun, bukan berarti jika kaya akan budaya tradisional, kita boleh dengan mudah acuh atau bahkan melupakannya. Sebagai generasi yang hidup di era millenial seperti sekarang ini, budaya tradisonal sering kegeser sedikit demi sedikit tanpa kita sadari. Oleh karenanya, nguri-nguri atau menjaga dan melestarikan adalah tugas utama kita.

    Indonesia sebagian besar terdiri dari kepulauan. Oleh karena itu, budaya yang dimiliki tentunya semakin banyak. Setiap daerah mempunyai ciri khas akan budaya tradisionalnya mulai dari makanan, rumah, pakaian, alat musik, tarian tradisional, lagu daerah bahkan senjata tradisional. Lalu, apakah kita sudah megetahui dan hafal semua budaya yang ada pada daerah kita masing-masing?

    Nguri-nguri budaya tradisonal menurut saya sangat penting, mengapa? Karena menjaga dan melestarikan jika tidak diawali dari diri kita, maka siapa lagi. Budaya tradisional lahir jauh sebelum kita dilahirkan. Kita hanya tinggal menikmati, meneruskan akan budaya tradisional tesebut tetap hidup dan lestari saja, masih ogah-ogahan karena terlena oleh perkembangan zaman yang semakin modern.

      Zaman boleh semakin modern, tapi budaya merupakan bukti identitas kentalnya suatu daerah dan jangan sampai dilupakan. Contoh saja, banyak sekali diantara kita tidak tahu apa lagu daerah kita masing-masing. Kalau sudah tidak tahu sama sekali, apa lagi menyanyikannya? Tentu tidak akan bisa. Problem ini membuat  prihatin.

    Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk kembali nguri-nguri budaya tradisional itu? Yang paling mendasar adalah harus kita awali dengan mengenal. Dengan mengenal, kita akan mengetahui secara garis besarnya atau secara umum, misalkan tari tradisional. Kita harus mencari tahu dan membaca apa itu pengertian tari tradisional terlebih dahulu, Kemudian, kenali daerah asal tarian tersebut. Tahap selanjutnya adalah pelajari gerakan serta makna yang ada dalam gerakan tersebut. 

    Hal ini sangat bagus dilakukan dari pada tidak sama sekali mengetahui apapun budaya milik daerah kita masing-masing. Apakah nguri-nguri itu harus bisa melakukan sama halnya kita mempelajari tari maka harus bisa menari? Tentu tidak. Menurut saya, mengetahui jenis tari daerah masing-masing sudah bagus dari pada tidak sama sekali. Syukur-syukur sambil belajar teori kita bisa belajar dengan praktek. Tidak masalah badan kita kaku, tidak selayaknya penari profesional. Tapi kita bisa melakukannya dan mau belajar.



    


Rabu, 18 November 2020

Sajak Yang Lalu

 

 

Tenang

Heningnya Malam

Bintang Menyembunyikan Cahaya Cantiknya

Bulan Menenggelamkan Senyumnya

Langit Yang Takbersahabat

Untuk Hari Esok Pagi Yang Lebih Indah

Cinta,

Membuat

Pagi Bagaikan Malam

Malampun Bagaikan Pagi

Yang Tak Ada Ujungnya

Yang Tak Terhitung Akan Waktu

Cinta,

Kau

Membutakan Arah

Menulikan Sejuta Suara

Demi Cinta Yang Telah Terbangun

Memang,

Cinta

Tak Mengenal Sejuta Alasan 




Sunday, ‎August ‎7, ‎2016, ‏‎5:54:06 AM

Selasa, 17 November 2020

Pesan Dari Guru

        Pagi ini, secara tidak segaja, saya menemukan sebuah file, bernama "Proyek Hidup" di laptop. Awalnya saya tidak ingat apa isi file tersebut. Namun, setelah saya buka, saya agak terkejut. File tersebut kumpulan dari beberapa tulisan atau ketikan saya dimasa lalu. Diwaktu saya masih di pesantren dan menjadi mahasiswa. Ada kumpulan puisi, pesan-pesan dan beberapa cerita hikmah dari pengalaman pribadi. Salah satu dari itu, saya ingin berbagi tulisan saya di laman ini, tentang pesan dari guru.

 


Pendidikan Sangat Penting

Pendidikan Menjadi Tombak

Sekaligus Pendidikan Sebagai Perisai


Pendidikan Adalah Lindungan Bagi Pemiliknya

Jangan Salahkan Pendidikan

Jika Kelaukan Tak Sesui Dengan Pendidikan 

Karna

Pendidikan Bukan Menjadikan Orang Cerdas


TAPI......

BAGAIAMANA MAMPU BERAKHLAK MULIA

PENGETAHUAN MENGHANTARKAN HATI UNTUK BERBUAT BAIK

ORANG TERDIDIK YAITU ORANG YANG MAMPU BERSIKAP


Jadilah Guru Yang Bisa Mengemban Amanat KENABIAN

Karna Kertas Putih dan Kosong itu  Bebas Untuk Kamu Ukir

Dengan Akhlak Yang Baik Atau Sebaliknya



Pesan Dari Guru
4/5/2014

Senin, 16 November 2020

Kopi


Kopi

Seduh Dengan Air Panas

Atau Dingin

Apapun Nuasa Hati

Tetap Enak Dinikmati

    Semakin Pahit

    Akan Makin Melekat

    Karna 

    Ingin Menolak Rasa Sakit

    Nuasa Hati Bahagia

    Tuangkan Rasa Manis

    Dengan Tambahan Senyummu

        Kopi

        Sejuta Cerita

        Menolak Bosan

        Kadang

        Karnamu Lupa Akan Waktu

                Kopi

                Hampir Semua Orang

                Mengagumi

                Cita Rasa Kau Ciptakan

                Merasuk

                Di Apapun Keadaanku

         

    


Minggu, 15 November 2020

 

KEBERSAMAAN

Di sela-sela kesibukan yang tak pernah berakhir, mari kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat. Minggu adalah hari yang sangat diidam-idamkan hampir semua orang. Karna dengan hari Minggu kadang orang dapat menghabiskan waktu dengan keluarga dan lebih bersantai menikmatinya, tanpa suatu tuntutan apapun.

Hari Minggu kemarin, ada yang berbeda, saya bersama teman-teman rekan kerja melaksanakan kegiatan piket untuk bersih-bersih, merawat dan menanam pohon di bumi perkemahan LP Ma’arif Tulungagung. Bumi Perkemahan tersebut terletak di Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol. Ini kali kedua, saya pergi kesana.

Pertama kali mengetahui dan berkunjung di Bumi Perkemehan karena adanya agenda lomba menanam pohon bersama siswa dan siswi kami. Pada waktu itu dari sekolah kami diwakili oleh kelas lima anandan Miftahul Jannah dan Muhammad Rizki Akbar. Menurut saya pengalaman ini sangat menarik, karena harus mendaki gunung kecil, menempuh perjalanan naik turun, membawa cangkul dan sabit, air, pupuk, sekam serta beberapa minuman.

Nah, pada waktu itu didampingi Ibu-ibu guru saja, kebetulan Bapak Gurunya hanya satu. Terbayangkan, bagaimana ibu-ibu harus mendampingi dengan naik tanjakan, dan belum musim penghujan seperti sekarang ini, panas pasti, rempong jelas. Namun, kita lakukan dengan riang gembira terbukti keringat semangat kita bercucuran tanpa henti.

Pada waktu itu ada upacara pembukaan, kemudian diarahkan bagian-bagian kavling yang harus ditanami. Dan kita tidak persiapan untuk pemberian nambor atau nama, serta asal lembaga untuk ditancapkan di tanah yang kita tanami pohon tersebut. Ya sudah, seadanya, yang penting pohon yang kita tanam bisa tumbuh subur. Ada tiga pohon bambu yang kita tanam. Diambil foto kemudian di upload di Instagram dan diberikan sebuah keterangan. Alahamdulilah sudah kita laksanakan dengan baik.

Foto awal ke Bumi Perkemahan

Kunjungan kedua ke Buper atau bumi perkemahan ini agak berbeda, karena dengan Bapak/Ibu guru yang lebih lengkap. Kita niatkan untuk ibadah merawat dan menanam pohon serta tahadus bini’mah piknik kecil-kecilan Bismillah, berangkat dan sampai dilokasi kurang lebih pukul setengah delapan.

Seperti biasa ibu-ibu akan lebih repot untuk mempersiapkan bekal untuk piknik kecil ini, dari pada alat kebersihan yang telah disiapkan dan beberapa label serta nama lembaga yang disiapkan dari sekolah. Menggunakan mobil sekolah. bagian tengah penuh dengan segala bekal piknik kecil mulai dari nasi, urap, ayam panggang, jus mangga dan jambu, tahu goreng, air mineral, krupuk dan lain sebagainya. Kemudian bagian belakang Bapak-bapak guru bertangung jawab dengan segala alat tanam menanam serta alat kebersihan seperti cangkul, sabit, sapu lidi dan lain sebagainya.

Sesampai diparkiran, semua barang kita turunkan, namun apa yang terjadi. Kedua kalinya label nama pohon serta asal lembaga tertinggal. Hihihi… ya sudah tidak masalah, yang penting kompak untuk membawa semua bekal dan alat kebersihan dibawa ke atas gunung. Semua guru mengambil yang membawanya naik ke gunung tersebut. Dengan senyum dan tawa bahagia diiringi nafas yang terengah-engah tetap semanagt sampai ke bumi perkemhan.

Foto Perjalanan Menuju Buper


 

Sangat lega telah sampai pada gapura buatan beberapa tongkat Pramuka, serta Bendera Merah Putih dan Bendera LP Ma’arif Tulungagung. Kemudian, kami memlih tempat yang nyaman untuk piknik kecil-kecilan sebelum kita menuju tempat menanm pohon dan bebersih. Setelah dirasa cukup untuk istirahat, lalu kita menuju tempat kavling yang sudah bagian dari lembaga kami. Namun lokasinya agak puncak gunung tersebut. Ibu-ibu sinambi membawa sapu, terus berkata “kok tidak sampai-sampai” (sambil terengah-engah nafasnya). Terdengar dari deretan depan “lima menit lagi sampai bu”.

Cukup menguras tenaga karena kita naik ke puncak dengan kondisi tanah setelah diguyur hujan di malam harinya, sehingga sepatu kita mau tidak mau membawa beban tanah tebal “ndabel” membuat langkah semakin berat. Sedikit-dikir berhenti untuk menguranginya dengan ranting-ranting yang sudah berguguran. Setelah sampai, Subhanallah diujung depan lokasi kavling kita menanam pohon, sungguh indah pemandangannya sedap di mata dedaunanan hijua segar, pohon-pohon tumbuh subur. Sehingga kita bebersih dan menanam pohonn dengan diiringi menikmati udara segar dan sejuk.

Foto Pemandangannya Indah Bukan?


Foto Membersihkan Sepatu “Ndabel”

    

Usai sudah menanam dan bebersihnya, kami pun turun dan berkumpul ditempat awal tadi. Kita bersama-sama melepas lelah dan minum air mineral. Tentunya dengan menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, kita bedakan sampah organik dan anorganik. Mencuci tangan, dibumi Perkemahan ini juga ada selang yang menghubungkan dengan sumber air yang bersih, jadi kita bisa mencuci tangan dengan air mengalir.

            Tara… tiba saatnya kita piknik menikmati bekal yang sudah kita siapkan. Dengan antusias kita semua membuka, membagi rata bekal yang sudah disiapkan. Tetap jadi favorit saya adalah urap dan sambel super pedas, So Yummy. Kita nikmati sambil bercengkrama kecil dan bersantai. Dengan diiringi doa sebelum makan, sambil hati terus berdziki padaNya Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, sungguh nikmat kebersamanaan ini.



BELAJAR LITERASI


Istilah Literasi bagi saya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak menjadi mahasiswa baru di Malang. Adanya peraturan baru dalam dunia Pendidikan yakni Kurikulum 2013 Literasi mulai dicanangkan, dan diterapkan. Menurut saya istilah literasi pasti akan lari kepada arah membaca dan menulis. Hal ini saya lakukan ketika mendapat kesempatan menjadi salah satu tenaga pendidik di SD Plus Al-Kautsar dan SD Negeri Ketawanggede Kota Malang empat tahun lalu.

Literasi awalnya bagi saya hanya sebuah kegiatan dan rutinitas biasa untuk siswa, sedangkan untuk para tenaga pendidik literasi hal yang tidak wajib dilakukan. Namun ada hal menarik saya temukan yang membuat pikiran saya terbuka akan konsep yang saya bangun diawal menurut saya kurang tepat atau bahkan salah.

Hal itu terjadi ketika, Sabtu, 7 November 2020 saya diberi kesempatan untuk mengikuti Seminar dengan PERGUNU (Persatuan Guru Nahdhatul Ulama’) Tulungagung dengan tema Seminar Optimalisasi Literasi bersama Pakar Literasi yakni Dr. Ngainun Na'im M.HI. Beliau adalah salah satu dosen IAIN Tulungagung. Dalam seminar tersebut kami diajak untuk berfikir literasi itu tidak sulit, literasi itu memang menulis dan membaca atau membaca dan menulis. Hal ini terbukti ketika kita menulis, pasti kita membacanya atau sebaliknya.

Di Seminar kali ini dengan peserta kurang lebih seratus peserta, kita bersama-sama untuk belajar bagaimana kegiatan literasi dengan menulis. Menulis itu mudah tidak perlu berfikir panjang, ya sudah lakukan saja kegiatan menulis itu dan apa saja yang kamu tulis bebas. Kalau istilah orang Jawa “yo wes nuliso lan pokok e nulis, sembarang opo wae iso ditulis”. Beliau menyampaikan teori salah satu ahli, menulis bisa diawali atau berangkat dengan sebuah perasaan. Misalnya, seorang yang patah hati, dia secara tiba-tiba mampu menulis dengan kalimat yang indah dan puitis. Maka, seharusnya sebagai guru atau tenaga pendidik tentunya mempunyai peluang banyak untuk menulis. Tapi apakah kita sudah melakukannya?

Ilmu baru serta informasi penting di seminar ini, yakni ada beberapa langkah yang harus ditananamkan ketika kita ingin menulis, yang pertama adalah semangat, tekatkan niat yang kuat, untuk selalu menulis. Tetapi tidak cukup hanya dengan niat dan semangat saja. Tapi harus dibuktikan dengan dilakukannya kegiatan menulis. Kedua tananamkan mindset, atau cara berfikir kita, bahwa menulis itu mudah, tanpa berfikir terlalu dalam.

Ketiga, budayakan banyak membaca, karena dengan membaca kita akan memperoleh wawasan yang luas, selain itu kosa kata atau kalimat yang kita perolehpun akan semakin banyak. Keempat, ketika menulis usahakan lebih santai tapi serius artinya menulis jangan terlalu spaneng dan jangan terlalu tegang maka ngemil dalam menulis itu diperlukan. Istirahat untuk hanya sekedar jalan kaki atau minum kopi akan membuat kita lebih segar ketika menulis dan ini menghindari kebuntuan dalam menuangkan kalimat.

Selanjutnya, praktek menulis, musuh terbesar ketika menulis adalah diri sendiri, kadang timbul kurang percaya diri akan tulisan kita, merasa tidak menarik di susunan kata atau kalimatnnya. Banyak faktor yang membuat kita takut, tidak percaya diri atau malas menulis. Menurut saya, perasaan seperti itu harus segera dihilangkan. Karena prinsip pribadi saya, lebih baik menulis meski itu kurang bagus, ketimbang tidak sama sekali. Jadi percaya diri saja, untuk proses menjadi sebuah tulisan yang baik dan benar, itu seiring berjalannya waktu dan yang penting menulis.

Lalu, nikmati proses menulis itu, hingga menulis menjadi kebiasaan yang wajib dalam diri kita. Beliau menyampaikan bahwa menulis itu bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, tergangung diri kita. Apakah mau menulis atau tidak. Tidak ada suatu alasan untuk tidak menulis, karena sekarang diabad 21 yang penuh kemajuan, segala teknologi bisa kita manfaatkan untuk media menulis, seperti di Story WhatsApp, Facebook, Instgram, atau Colour Note. Media tersebut lebih mudah kita dapatkan di Smartphone kita masing-masing. Ketimbang menulis secara manual di kertas. Kemudian, apakah masih tidak terdorong menulis?

Langkah ketujuh adalah disiplin. Dalam menulis diperlukan kedisiplinan yang dalam bahasa Jawa “ajeg” atau istiqomah, semisal lima belas menit setelah sholat subuh, luangkan untuk menulis. Hal ini juga pernah saya peroleh dari Dosen sekaligus Guru Besar UIN Maliki Malang Prof Imam Suprayogo, beliau tidak melewatkan diwaktu setelah berjamaah subuh untuk menulis artikel dan itu setiap hari tanpa terlewatkan. Terakhir adalah jangan mudah menyerah, dalam proses belajar menulis, namanya manusia biasa. Ketika menulispun kesalahan pasti ditemukan, maka jangan menyerah, terbuka akan masukan, saran bahkan kritikan yang membangun. Karena berangkat dari berproseslah akan mewujudkan tulisan-tulisan yang baik.

Sebelum tulisan saya ini akhiri, saya menemukan kalimat di salah satu slide presentasi beliau Dr. Ngainun Na'im M.HI kurang lebih “Menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita”. Kalimat itu terlihat sepele, tapi bagi saya pribadi itu sangat menohok, karena dengan pengalaman yang ada beberapa kali dengan menulis di masa lalu ada sebuah kesempatan emas yang belum sempat saya dapatkan dan sampai detik ini tetap saya ingin perjuangkan semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Mimpi itu lama tenggelam, tiba-tiba muncul disaat mengikuti seminar ini. Saya yakin menulis akan selalu berbuah manis jika kita mempunyai komitmen yang kuat.


Nama    : Filzatun Nafsi, S.Pd.I, M.Pd

Alamat : Desa Mirigambar, RT 03 RW 04, Kecamatan, Sumbergempol

Asal Lembaga: Mi Al Quran Jabalkat, Sambijajar, Sumbergempol

Jumat, 13 November 2020


BALADA PERGINCUAN

Memukau

Mempesona

Manis

Menempel Di Bibir

Para Hawa

        Tidak Cukup Satu

        Tuk Memilikinya

        Puluhan Ratusan Bahkan Ribuan

        Warna dan Merk

        Dari Merk Biasa

        Sampai Luar Biasa

Oh Gincu....

Membuat Adam Semakin Bingung

Taburan Manismu

Menambah Indah Warnamu


Kamis, 12 November 2020

KERINDUAN

 


Saya mempunyai Kakek dari pihak Umi saya yang biasa saya panggil Mbah Kakung. Alhamdulillah, kurang lebih umur beliau 78 tahun. Beliau bernama H. Hasyim Yusuf, beliau masih energik, sehat, bisa naik motor sendiri, masih aktif dalam berbagai kegiatan seperti ngimami di masjid, jamaah tahlil atau yasin, bahkan merumput untuk hewan ternaknya. Kata beliau kegiatan merumput adalah suatu hiburan tersendiri.

Beliau satu-satu Mbah Kakung saya, karena Nenek dan Kakek dari pihak Abah saya, sudah berpulang sejak lama. Dan enam tahun lalu tepatnya bulan Februari Mbah Uti dari pihak umi saya, beliau Hj. Masfufah Binti Abdul Jamal telah berpulang juga. Semoga selau mendapat Maghfirohnya Allah, serta ditempat di SurgaNya. Amin....

Mbah Kakung mempunyai kebiasaan selalu jalan pagi. Kebetulan rumah kami berdekatan, sehingga beliau selau transit di rumah. Di pintu masuk selau beliau mengucapkan paswordnya  “kopi-kopi”. Kalau sudah mendengar pasword tersebut secara otomatis, saya harus membuatkan kopi panas kesukaan beliau.

Pagi ini ada yang berbeda, sinambi merebus air, beliau bercerita tentang almarhum Mbah Uti. Sebelumnya beliau bercerita tentang mimpi beberapa temanya datang, setelah terbangun beliau mengirimkan Fatihah.Timbulah percakapan kecil antara beliau dan saya.

Kakung      :“opo aku iki, wes wayahe nyusul yo”.

Saya          : “hust,,,,Kakung niki, sanjang nopo to”

Kakung      : “lha lek wes wayahe, nyapo lo, ndeliko o nek ndi wae ya pasti

 ketemu, gek piye arep nolak”

(sambil nyrupu kopi)

Saya          :”Ampunlah Kakung, gek matur nopo”

(dalam hati jengkel, ngapain harus berkata seperti itu)

 

Namun, tiba-tiba beliau terdiam sekejap dan berkata “Mugo-mugo Mbahmu Uti, mendapat SurgaNya Allah, Mbah Utimu, biyen saking tresnone mbi aku, sayang lan cintane iku kelewat, sampek gak iso medakne cemburu lan nesu”.

Kurang lebih bahasa Indonesinya, Mbah Uti itu sangat menyayangi dan sangat cinta kepada Mbah Kakung, karena saking cinta dan sayangnya, beliau tidak bisa membedakan cemburu dan marah. Mbahkung bercerita suatu waktu beliau akan membeli pupuk untuk sawah, kemudian mampir ke temannya, karena tidak tepat waktu pulangnya Mbah Uti, marah dengan mengomel dan hal itu aan tetap di bahas setiap kesempatan. Tapi Mbah Kung untungnya mempunayi sifat yang cuek dan tidak mau berpikir panjang. Didengarkan dan disenyumi aja ketika tahu Mbah Uti mengomel.

 Itulah namanya jodoh, selalu melengkapi. Namun tiba-tiba Mbah Kung berkata ”Iku lo, sing ngangeni”. Ketika mendengar hal itu, serasa hatiku trenyuh, serta berkaca-kaca. Dari sedikit cerita pagi ini, saya menangkap bahwa beliau rindu atau kangen dengan belahan jiwanya, banyak moment-moment yang beliau ingat bersama almarhumah Mbah Uti.

Saya banyak belajar dari Mbah Kakung saya, dalam berbagai hal, terutama bagaimana menghadapi karakter orang lain dan bagaimana menghadapi masalah baik secara pribadi maupun sosial. Kemudian, bagaimana melukiskan rasa sayang dan cintanya sampai keikhlasan hati dalam berumah tangga dengan almarhumah Mbah Uti. Oleh karena itu, terlahirlah susunan kata menjadi kalimat dibawah ini kami persembankan untuk mewakili hati kerinduannya Mbah Kung kepada almarhumah Mbah Uti. Selalu kami kirimkan Fatihah kepada beliau yang telah tenang disisiNya.

 


KERINDUAN

Tanpa kusadari setiap

Detik waktu berjalan

Sungguh Indah dikala itu

Aku dan kamu menjadi satu

                             Penggalan cerita

                             Tangis Tawa

                             Indah Sedih

                             Tumpah Jadi Satu


Atas Izin Tuhan

Bukti Cintamu Abadi

Hingga nafas terakhimu

Kau Di Pelukan Cintaku


Ya..


Maut Yang Memisahkan


Antara Kau dan Aku


Namun, sekali lagi


Bukti Cintamu Abadi


Kini aku Merindumu


Wahai Belahan Jiwaku

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...