2013 di semester tiga masih terhitung baru sebagai mahasiswa. Di kampus ada sebuah naungan untuk mahasiswa yang menghafal Al Quran. Baik yang sudah punya hafalan atau baru akan menghafal Al Quran.
Singkat cerita setiap liburan semester lumayan panjang itu dimanfaatkan oleh pengurus untuk karantina Al Quran. Nah saya juga ikut bergabung. Sekitar tujuh minggu saya tidak pulang.
Di karantina tersebut, memang semi pesantren kilat menghafal quran, mengaji kitab kuning, qiyamul lail dan wirid tirakat lainnya.
Disitulah saya mulai menghafalkan Al Quran. Pada waktu itu, alhamdulillah saya juz 30 sudah lolos. Akhirnya mulai hafalan di juz 1.
Pesertanya memang tidak sedikit. Sehingga satu ustdzah memegang enam sampai delapan santri. Pengalaman yang luar biasa.
Kalau dulu nyantri dengan sekolah. Tapi pada saat itu, benar-benar hanya fokus untuk menghafal Al Quran. Dan selesai dari karantina tidak langsung hilang begitu saja.
Melainkan harus setoran demi setoran dan ngaji di waktu luang kuliah. Sudahlah pokoknya niat menghafal karena Allah begitu saja. Memang di kampus sudah biasa, mahasiswa pada waktu dikelas atau di gazebo kampus dan di mushola ngaji untuk nambah yang akan disetorkan ke ustadz.
Berjalannya waktu ke waktu meski belum khatam, minimal saya punya tabungan. Kalau nambah atau membentuk hafalan itu mudah. Tapi, yang butuh perjuangan akan "ngrekso" atau menjaganya.
Kitab Al Quran yang dari dulu setia mendampingi saya pada waktu itu sampai hari ini alhamdulillah masih awet. Meski terlihat lusuh, ada coretan pensil dari ustdzah memberikan cerita sejarah sendiri.
Saya juga mengucapkan kepada semua guru ustadz dan ustadzah yang mendampingi dan membimbing berkecimung dalam Al Quran. Beliau Ustadz Awan, Ustadz Arif, Ustdzah Hilfatin. Beliau bertiga adalah tempat saya setor. Kalau sekarang bersama Ibu Titik yang selalu sabar mengingatkan membenarkan bacaan saya. Semoga sehat selalu dan panjang umur.
Allah selalu menakdirkan kepada kita hal yang tidak disangka-sangka dan saya percaya itu yang terbaik. Memang saya belum khatam, dan belum wisuda hafal Al Quran bil Ghoib 30 juz. Namun, saya diberikan kesempatan lain yaitu naik di podium, menjadi mahasiswa terbaik di hadapan wisudan/wisudawati yang hampir 1500 orang. Setidaknya saya berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk orang tua dan keluarga saya.
Lalu, berjalannya waktu. Hafalan Al Quran itu berhenti karena saya juga menyambi kerja dan kuliah S2. Kebayang kan betapa padatnya jadwal pada waktu itu. Sampai-sampai saya kurus dengan berat badan 57kg dari yang awalnya hampir 75kg.
Ah itu bagian dari cerita. Kerja kuliah terus begitu. Akhirnya, harus boyong balik ke kampung halaman karena harus menikah.
Hal yang luar biasanya adalah Allah menakdirkan lagi dan lagi hal yang sangat sangat terbaik. Saya masuk di lembaga yang berbasis Al Quran.
Jika masuk lembaga tersebut, secara otomatis Al Quran adalah hal utamanya. Dari siswa sampai semua gurunya minimal hafal juz 30. Hati saya sangat tergugah kembali.
Hafalan yang dulu sempat berhenti, alhamdulillah tiada henti sampai sekarang diizinkan untuk menghafalkan lagi dan lagi, membenahi dan melancarkannya.
Subhanallah tidak menyangka. Memang mempunyai hafalan itu sangat asyik. Hati lebih tenang. Dan sekarang saya dan teman-teman guru juga terus berproses untuk menghafalkan Al Quran.
Meski sedikit demi sedikit, saya yaqin kalau istiqomah insyallah pasti khatam. Dan hafalan Al Quran itu tidak pandang bulu dan umur, apalagi status sosial. Jauh.... pokok intinya ngaji menghafalkan dan menjaga Al Quran untuk ibadah mencapai RidoNya.
Saya jadi teringat di salah satu kitab Alala bahwa ada beberapa syarat menuntut ilmu yang manfaat dan barokah. Salah satunya adalah sesuatu yang diulang diulang secara terus menerus dengan waktu yang lama.