Rabu, 31 Maret 2021

Mewah

 


Langit Yang Luas

Tanpa Batas 

Dihiasi Sinar Matahari

Paduan Warna Warni Bumi

Indah Tiada Yang Menandingi

Sudah Sangat Jelas

Pasti Sinarnya Digandrungi


Hijau Merunduk

Menguning Berisi

Itulah Padi

Mari Selalu Menghiasi Diri

Menjadi Insan Yang Berbakti

Tanpa Harus Berkata Tapi

Raden Ajeng Kartini

 


Mewangi Namamu

Di Bumi Pertiwi

Sosok Pemberani

Yang Luas Akan Pemikiran Hati


Yang Tak Kenal Lelah

Dan Putus Asa

Demi Masa Depan Negeri


Ibu Kita Kartini

Telah Mengabadi

Menjadi Sebuah Lagu

Yang Selalu Indah Tuk Dinikmati

 

Senin, 29 Maret 2021

Kursi Goyang



Terlalu Nyaman

Di Ujung Meja Panjang

Melihat Barisan

Kursi Yang Berhadapan


Terlalu Empuk

Sambil Kaki Mengunkang-ungkang

Menikmati Banyak Suara

Ketidak Sesuaian


Buka Telinga

Buka Hati Lebar-lebar

Mencoba Memahami

Banyaknya Permintaan

Hingga Tekanan


Hai 

Kursi Goyang

Jika Tak Siap

Bertemu Denganmu

Jangan Kau Membuat Arogan


Kursi Goyang

Meski Kau Bisa Memutar-Mutar

Ke Kanan Dan Kiri

Bahkan Kebelakang

Sungguh Tak Mudah

Duduk Diatasmu


Kartini



Melekat

Atas Jiwa Ragamu

Untuk Negeri Ini


Menghidupkan

Kaum Wanita

Saat Itu


Arti Perjuangan

Untuk Menjunjung

Kesetaraan Hak


Sungguh Pemberani

Namamu Kartini

Sang Pejuang Ibu Pertiwi

Sabtu, 27 Maret 2021

Rujakan

 


Rasanya sangat lama tidak berkumpul. Memang di era pandemi ini,kita sudah tahu hal demikian di kurangi bahkan di larang. Kemudian ada kesempatan berkumpul tapi harus menjaga jarak.

Menjaga jarak inilah yang kadang saya pribadi kurang merasakan chemistry. Bersosialisasi secara jarak jauh dan dekat, tentu sangat berbeda. Yang awalnya saling musafahah atau berjabat tangan dan makan bersama-sama hal itu harus kita hindari terlebih dahulu.

Kita sebagai manusia tidak bisa protes yang berlebihan karena ini sudah atas kehendakNya. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan prosedur kesehatan yang sedemikian rupa diatur. 

Mumpung ada waktu luang dan kesempatan, tanpa terencana dengan panjang. Kita bersama adakan "rujakan". Merujak buah bersama teman-teman guru. Dengan niat silaturrohim, menjalin keharmonisan dan kekompakan. 

Awalnya tidak direncanakan dengan matang. Hanya kesepakatan-kesepakatan palsu. Karen banyak kesibukan, namun ada celetuk salah satu teman guru "senajan mek sedilut, ayo diusahakan kumpul bersama" (meskipun hanya sebentar, ayo diusahakan).

Alhamdulillah dihari Jumat itu terlaksana. Kita sama sekali tidak iuran, hanya semua bersuara keikhlasan membawanya. Ada yang membawa tahu goreng, bengkoang, semangka, mentimun, minuman saset, ada juga yang membawa seblak pedas.

Wah mantaplah. Untuk tempat, di rumah saya, penyedia lamper (layah) beserta huleknya cabai, dan bumbu lainya.

Rasanya sangat bahagia bisa bercengkrama dan berkumpul bersama. Semoga selalu solid dan kompak, rujakan berikutnya lebih lengkap personilnya.

Perjuangan



Sudah Saatnya

Kita Bangkit

Jangan Lengah

Atas Perubahan


Jangan Lelah

Jangan Lemah

Jangan Takut


Jangan Pernah Melupakan

Mereka Pelukis Sejarah

Tanpa Mereka 

Tak Akan Merekah


Ibu Pertiwi

Diri Ini Berjanji

Akan Menjaga Negeri Surgawi

Indonesia Jaya Abadi


Wanita



 Wanita

Unik Akan Perasaan

Tak Bisa Dikasari

Maunya Dimengerti


Wanita

Dengan Segala Misteri

Sering Kali Susah Dipahami

Tak Jarang Membingungkan Hati


Wanita

Dengan Segala Keharuman

Menampakkan Kebahagiaan

Hingga Senyumannya Menjadi Hiasan


Wanita

Dengan Segala Kesedihan

Menampakkan Kelayuan

Hingga Tak Mampu Menahan Tangisan


Wanita

Kaulah Sumber Kekuatan

Tetaplah Menjadi Bunga Yang Menawan

Meski Badai Melawan

Sampaikan Saja



Memutar

Seperti Jarum Jam

Selalu Berdetik


Ketidak Samaan

Akan Selalu Terjadi

Jangan Jadikan Alasan


Teruslah Menyampaikan

Utarakan Saja

Jangan Kau Kubur


Agar Keresahan

Dan Ketakutan Itu Hilang

Terus Saja Sampaikan

Dengan Cara Yan Ia Suka


Kamis, 25 Maret 2021

Sembab




 Mata 

Sudah Sembab

Air Mata

Tanpa Henti Menetes


Tak Tahu 

Kesalahan Dan Dosa

Bagai Debu

Tertiup Angin

Halus Tak Terhitung


Manusia

Tanpa Kekuatan

Jika TanpaMu

Jika Tanpa AmpunanMu

Robbi

Tersorot




Tersorot

Oleh Cahaya Biru

Aku Tak Bisa Mengeja


Tersorot

Oleh Cahaya Kuning

Aku Tak Bisa Bergeming


Tersorot Lagi 

Dan Lagi

Silaunya Hati Nurani


Tersentuh

Dan Tersipuh

Akan Tugas Yang Tiada Henti


Kuatkan 

Tegakkan

Badan Dan Hati

Biar Aku Siap Menghadapi

Mata




Lensa Yang Terhebat

Adalah CiptaanMu

Yang Tiada Tanding


Sebagai Wujud 

Terimakasih

Lindungi dan Rawatlah


Jangan Kau Sia-siakan

Karena Dialah 

Kau Bisa Memandang

Indahnya CiptaanNya


Selasa, 23 Maret 2021

Belajar Literasi Bersama



Kita tahu literasi mulai di bumikan sejak lama. Literasi pun berkembang pesat seiring berjalan waktu. Karena kita tahu betapa pentingnya literasi itu.

Saya masih berusaha untuk mencoba sedikit demi sedikit mengajak anak-anak disekolah saya untuk gemar di bidang literasi. Seperti membaca dan menulis. Ada salah satu murid kelas 3 di madrasah kami yang sudah berkarya dengan menulis dan mencetak dua buku cerita anak. Karena berawal dari fasilitas oleh orang tuanya. Saya pribadi sangat mengapresiasinya. Dan tidak menyangka karyanya sehebat itu.

Awalnya saya mengaggap akan sulit untuk mengawalinya disekolah. Karena banyak faktor, tetapi tidak salah untuk mencoba dan berusaha.

Saya melihat kelas 3 seperti dia saja bisa,  bagaimana kelas yang 5 yang kebetulan bersama saya. Tentu hal itu menyemangati memotivasi saya untuk terus bergerak di literasi menulis.

Mungkin bekal saya, dalam bidang literasi menulis masih sangat minim. Dan masih terus belajar. 

Bersama-sama kelas 5 di tahun ajaran ini. Berproses perlahan-lahan berusaha mengumpulkan karya barisan kata indah milik mereka. Ternyata tidak mudah, perlu perjuangan. 

Memang dari 27 siswa di kelas 5 ini tidak semua berbakat untuk menulis, dan tidak semua mengumpulkan, namun setidaknya mereka berusaha keras untuk menghasilkan minimal satu karya. Sebenarnya, saya sudah lama mencanangkan mengumpulkan karya mereka di bidang menulis. Tentu kedepannya untuk di bukukan. Setahun yang lalu pernah akan kerjasama dengan teman di Yogjakarta untuk menerbitkan karya anak-anak ini sewaktu duduk di kelas 4. Tapi ada beberapa hal yang belum diizinkan oleh pimpinan karena banyak pertimbangan. Awalnya saya sedih dan kecewa. Namun, kali ini saya akan terus mencoba mengantarkan karya anak-anak. Bagaimana pun caranya.

Sekarang masih proses ketik mengetik. Disinilah perlu waktu yang panjang, karena harus mengecek di plagiarisem secara online. Untuk lebih berhati-hati, dan disinilah saya menemukan beberapa yang terdeksi. Secara otomatis tentu tidak saya lanjutkan untuk mengetiknya. Dan mencoba menyemangati mereka untuk menulis ulang dengan karyanya sendiri. 

Ada banyak yang murni karyanya sendiri. Isinya yang lebih unik. Disela-sela keribetan dalam mengetik tentu kita membacanya dan disitulah menemukan kesenangan dan terheran-heran membaca karya mereka. Meski masih duduk di kelas 5, mereka mampu melahirkan dan menuliskan kata-kata indah. Saya bangga kepada mereka.

Saya yakin ini karya kecil ini dapat memberikan kebahagian tersendiri bagi mereka. Dan semoga selalu diberikan kemudahan dalam mengerjakan ini. 

Saya melalukan hal demikian tentu mendapatkan inspirasi dari beliau guru sekaligus dosen saya. Belajar dari beliau bahwa guru bersama muridnya pun mampu merealisasikan gerakan dunia literasi menulis. Siapa lagi kalau bukan beliau Bapak Dr. Ngainun Naim. Dan beliau sudah banyak mendampingi guru-guru untuk mewujudkan karya bersama siswanya. 

Sehingga mari terus belajar menggerakkan literasi. 


Minggu, 21 Maret 2021

Juga Manusia




Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin terlihat fisik yang sempurna, tapi hati siapa yang tahu. Karena memang pemilik kesempurnaan hanyalah Allah SWT.

Namanya belajar pasti akan melakukan yang namanya sebuah proses. Di dalam proses tersebut akan menemukan trial and eror. Tidak melulu benar, kadang dibenturkan pada suatu yang salah dulu agar kita tahu mana yang lebih benar dan tepat. 

Begitu pun seorang yang sudah menjadi guru, tentu akan terus belajar. Karena belajar itu tiada batas.

Sudah banyak dasar Al Quran dan Hadits yang menjelaskannya. Bahwa menuntut ilmu atau belajar sampai liang lahat. Artinya sudah sangat jelas, belajar tidak pandang usia, tidak pandang profesi apalagi status sosial.

Belajar menjadi guru, pasti berproses dengan waktu yang ada. Menjadi guru pun tidak semudah orang berdiri dihadapan orang banyak. Berdiri dihadapan siswa atau orang banyak harus banyak bekal ilmu butuh mental yang kuat dan sangat luar biasa.

Sekali lagi tidak mudah menjadi guru itu. Pasti sebagian dari kita teringat bagaimana belajar jadi guru di Praktek Kerja Lapangan (PKL) harus membawa sapu tangan atau tisu, banyak duduk dari pada berdiri hanya untuk menutup kegrogian atau kelemahan jadi guru pemula.

Lalu, ketika guru berhasil dihadapan siswanya menyampaikan segala materi keilmuan dengan lancar tanpa hambatan. Guru tersebut dapat dipastikan dia mempunyai guru diatasnya yang lebih hebat, yang lebih luas keilmuan dan kemuliaan akhlaknya, menyelipkan doa untuk muridnya dan yang lebih dahulu memberikan ilmunya kepada murid yang juga mengikuti menjadi guru.

Sekarang banyak generasi muda menjadi guru muda tentu lebih milenial. Dan tidak jarang guru muda tersebut satu instansi atau satu lembaga dengan gurunya sendiri. Lalu pertanyaannya? Apakah kita sudah memulyakan, menghormati dan menghargainya, atau mendoakannya ?

Saya teringat pesan guru saya, sekaligus posisinya sebagai orang tua dan tentu pernah menjadi wali murid. Beliau  menurut saya sosok yang sangat bijaksana dalam melihat kondisi, situasi dan memahami karakter siswanya serta mendalami sekali peran dhohir batinnya menjadi guru serta panutan untuk murid-muridnya.

Beliau berpesan dalam suatu kesempatan "kalau memang kamu ingin jadi guru yang sesungguhnya, hormati, mulyakan terus guru-gurumu meski banyak kekurangan atau bahkan lebih pintar dari kamu dan  terus selipkan doa kepadanya lalu kepada semua murid-muridmu minimal fatihah".

Beliau juga bercerita ketika posisi sebagai orang tua. Beliau memasrahkan secara penuh anaknya kepada gurunya. Karena beliau percaya dan sangat meyakini, bahwa ketika sebagai orang tua hatinya sudah ridha dan ikhlas memasrahkan/menitipkan anaknya kepada gurunya, maka akan mempermudah anaknya dalam mengikuti segala proses mencari ilmu dan kemanfaatan dan kebarokahan akan didapatkan. 

Saya pun mengamati keluarga beliau ini, semua anak-anaknya sukses di bidang masing-masing menjadi orang-orang penting. Ada yang sebagai dosen, guru, pegawai bank, penghafal Al Quran dan pedagang besar oleh-oleh haji. Subhanallah

Saya menjadi banyak belajar dari beliau. Beliau dulu ketika semasa sekolah sangat disiplin, tegas dan kadang pun marah jika kita sebagai muridnya berlaku yang tidak baik atau tidak sesuai. Beliau pun juga manusia, tentu ada sisi kelemahannya. Tetapi, hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat kami pada beliau.

Saya meyakini bahwa seseorang sudah mendalami peran sebagai guru secara dhohir dan batinnya tentu guru tersebut tidak mungkin akan ada niat jelek atau menjerumuskan ke hal yang negatif untuk muridnya. 

Maka guru juga manusia yang wajib kita mulyakan, hormati dan hargai karena guru adalah orang tua kedua. Jangan  seenaknya terhadap guru. Tidak ada mantan murid atau mantan guru.

Selain itu guru adalah pahlawan yang rela berkorban untuk mendidik, mencerdaskan dan membimbing kita. Kebahagian tersendiri menjadi guru, jika murid-muridnya bisa sukses di bidangnya masing-masing. 

Terimakasih Guru-guru
Terimakasih atas semua jasamu
Engkau tetap di hati
Teruslah berjuang
Jangan lelah
Karena Demi Anak Bangsa

Tak Mengerti



Diriku Tak Tahu

Akan Menulis Apa

Diriku Hanya Insan

Yang Hanya Kadang

Mengabadikan Keadaan


Diriku Tak Paham

Bagaimana Pandangan Orang

Diriku Hanya Insan

Yang Terus Mencoba 

Tampil Dengan Versiku

Yang Terbaik Untuknya


Diriku Memang Tak Pandai

Merangkai Kata Yang Sempurna

Diriku Hanya Insan

Yang Hanya Belajar 

Mengukir Cinta

Dengan Tinta Yang Aku Punya


Jumat, 19 Maret 2021

Pitutur

Sering dari kita membaca Al Quran tapi hanya sekedar membaca. Jarang mendalami dan  mengetahui artinya. Hari ini ada yang berbeda.

Saya membaca Al Quran di akhir surah Ali Imran. Ayat ini saya rasa sudah sering kita dengar. Disitulah saya menemukan ayat yang memotivasi saya pribadi untuk menjadi insan yang lebih baik dan selalu menata hati.

Tepatnya surah Ali Imran ayat 190-191. Yang kurang lebih mempunyai arti:






Dari ayat 190 sudah jelas bahwa langit dan bumi diciptakan kemudian silih bergantinya malam mempunyai tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Kemudian diperjelas lagi dengan ayat 191. Bagaimana orang yang berakal itu? Dan siapa sebenarnya orang yang berakal itu?

Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam segala keadaan. Dan ketika itu pun mengingat penciptaaNya. 

Di situlah kita kadang sebagai manusia telalu sibuk dengan dunia. Terlalu sibuk dengan pekerjaan. Padahal kalau kita tahu dalam aliran nadi di setiap detiknya ada nama Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Dan selalu mengingatnya dalam keadaan apapun. Dan akhirnya kita bisa berpulang dalam keadaan insan iman dan ihsan husnul khotimah. Aminn


Senin, 15 Maret 2021

Kekasih



 Kekasihku

Di Dalam Relung Hatiku

Berdiam Berujung Kaku


Kekasihku

Tak Pernah Kau Merayu

Dan Mengambil Simpatiku


Kekasihku

Jangan Kau Gantung

Rasa Anganku

Bersamamu

Bundar



Bun

Kau Panggil Dengan Keras

Ditengah Keramaian


Bun

 Terdengar

Dengan Jelas Di Telinga


Bun 

Bun

Suara Itu Terus Menggelayut

Dia Mencoba Mencari 

Panggilan Itu


Dia Langkahkan Kakinya

Dekatkan Badannya

Dengan Senang Sumringah

Terpampang Nyata Di Wajahnya

Karena Sebutan

Bun


Sejenak Aku Yang Mendengar Berfikir

Bun itu Bunda

Namun, Ternyata Bukan


Tak Kuduga Bun 

Adalah Bundar 

Aku Melongo Terheran-heran


Lalu

Panggilan Ulang Terjadi

Ditengah Keramaian


Bun

Bun

Bundar

Seakan Menyapa Akrab

Dengan Tanpa Dosa

Minggu, 14 Maret 2021

Sujud



 Ketika Tujuh Titik

Menempel Pada Bumi

Disitulah Tiada Yang Lebih Berharga

Selain Kepasrahan 

Atas Segala Yang Terjadi


Terlepas Dari Itu

Segala Cerita Dunia

Hanya Sebatas Jembatan

Untuk MenggapaiNya


Bersujud KepadaNya

Atas Segala Kenikmatan

Yang Diberikan OlehNya

Air Mata



 Tak Mampu Menjelaskan

Hanya Mata Berkata

Seakan Tak Ada Cerita


Mulut Membisu

Keremukan Hati

Siapa Yang Tahu


Hanya Mata Berkata

Sudah Waktunya

Tuk Menyudahinya


Jangan Sesekali Bertanya

Bagaimana Aku Hidup

Setelah Tetesan Air Mata

Tak Henti Karenamu

Minggu, 07 Maret 2021

Sajakku



Menulis Kata

Merangkai Hingga Menjadi Kalimat

Mengukir Sebuah Makna

Melukiskan Luka Dan Perih

Akan Perasaan


Menuai Kehangatan 

Menjadi Tulisan Abadi

Yang Menjelma Menjadi Sejarah

Perjalan Hati

Satu



Keistimewaan Angka Satu

Menjadi Yang Paling Awal

Diantara Angka Tiga Puluh Satu


Tetaplah Menjadi Istimewa

Karena Momen Terbaik

Harapan Serta Impian 

Segelintir Orang

Pengais Rizki


Jangan Kau Tunda

Jangan Kau Undur

Dengan Beribu Alasan

Atas Kurangnya Tanggung Jawabmu


Aku Bertanya



Loyalitas

Prioritas

Hingga Profesionalitas

Ku Pertanyakan Pada Diri


Sampai Dimana 

Seperti Apa

Evaluasi

Serta Pembenarannya


Sudahkah Pantas

Juga Setimpal

Akan Keadilan

Yang Telah Terbagi


Coba Saja

Buka Mata Hati

Seluas Langit

Setinggi Matahari


Posisikan Diri

Untuk Menjelma

Menjadi Mereka

Bukan Hanya Peduli

Kepentingan Pribadi

NKRI



 Puluhan Ribu Negara Di Dunia

Tak Bisa Ku Memilih

Untuk Dilahirkan Di Negara Mana

Dan Negara Yang Seperti Apa


Tuhanku Menetapkan

Dan Yaqin Bahwa Itu Terbaik

Diantara Yang Terbaik


Inilah Negaraku

Negara Kesatuan Republik Indonesia

Yang Makmur Subur 


Keliling Dunia 

Adalah Cita-Citaku

Namun, Ku Tak Pernah Lupa 

Akan Kampung 

Dan Negara Kecintaanku

Indonesia


Aku Bangga

Menjadi Warga Negara Ini

Meski Berjuta Cerita 

Yang Mungkin Mengundang Kontroversi

Tapi Tak Lupa Akan  Prestasi

Jayalah Terus 

Indonesiaku

Aku Bangga Padamu

Cerita Pagi

 


Pagi-pagi di hari libur. Sambil menikmati sarapan dengan menu nasi pecel. Suami memutar musik gambus.

Musik gambus yang sudah dicover oleh generasi sekarang. Salah satunya di chanel esbeye dengan vocal Mbak Alma. Dia masih muda tapi luar biasa suaranya.

Begitu merdu menenangkan hati dan pikiran. Meski liriknya tidak begitu tahu maknanya. Karena di musik gambus, rata-rata menggunakan bahasa Arab. Saya sangat menikmatinya.

Mengingatkan kepada saya, mengenal dan mengetahuinya sejak di pesantren dengan dikenal extrakulikuler Marawis. Dulu juga ada tarian zafen. Pokoknya senang dan seru.

Mendengarkan musik gambus tanpa saya sadari saya ikut menyanyi. Iya saya tahu suara saya pas-pasan. Sekelas penyanyi kamar mandi. Hehehe setidaknya hafal liriknya dan cukup menghibur suami. 

Lalu, saya bertanya " mas suwanten kulo nopo sahe?" (mas suara saya apa bagus?). Beliau menjawab dengan halus dan tersenyum lebar "sahe kok" (bagus kok). Masih saya tanya ulang. Kok jawabnya begitu pakai kata "kok" berarti maksa. 

"Hahaha pasti repot jawabnya kalau sama perempuan ya" kata beliau. Jujur salah, bohong apalagi salah pol. 

Menulis Yang Kualami



Saya membaca buku beliau Dr. Ngainun Naim yang berjudul "Menulis Itu Mudah". Di dalamnya ada berbagai jurus untuk membangun literasi menulis. Salah satunya jurus menulis yang diketahui.

Tulislah apa yang kamu ketahui. Tidak perlu menulis sesuatu yang rumit, kompleks dan sulit untuk di tulis. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mudah dipahami.

Tiga kalimat tersebut sudah menepis bahwa menulis itu tidak sulit. Menebas alasan bahwa menulis itu rumit. Lalu alasan apa lagi yang membuat kita ragu untuk menulis.

Saya merasakan betul, nikmanya menulis meski kadang dihantui rasa malu dan beribu pertanyaan. Apakah tulisan ini layak dibaca, tulisan ini baik dan tulisan ini bisa diterima orang lain atau tidak.

Namun, saya terus menulis. Dan membuang jauh-jauh dan tak mempedulikan hantu malu itu. Pengalaman menulis itu sangat luar biasa.

Saya juga merasakan ketika menulis pasti akan membuka wawasan yang luas. Yang awalnya wawasan atau pengetahuan itu satu. Karena menulis, mengharuskan membaca dan mencari pengetahuan atau sekedar informasi baru. Maka secara otomatis, menulis akan membawa kita lebih baik dan menambah ilmu.

Kadang kita tidak tahu yang harus kita tulis. Yang paling mudah bagi saya menulis aktifitas yang kita alami. Dan suatu hal yang kita ketahui.

Bisa jadi, ada kejadian yang sama terjadi di orang lain dengan apa yang kita alami. Mungkin ada masukan, nasehat atau saran dari yang sudah kita tulis. Bahkan juga kritikan.

Pengalaman saya sendiri memang sebagian tulisan yang saya tulis kebanyakan pengalaman dan tentu saya alami. Sebagai penulis pemula, kita harus siap jika ada kritikan.

Hadapi dengan tenang saja. Seperlunya saja kita membaca. Yang paling utama tulisan itu tidak mengundang kejelekan, mengandung syara atau merugikan. 

Apakah ada yang berkomentar jelek dan mematahkan semangat menulis saya? Wah tentu ada. Tapi yang berkomentar atau mengritik tersebut, belum pernah menulis. Jadi saya tenang saja.

Terus saja menulis. Bagi yang belum menulis, mulai saja dan mencoba menulis. Rasakan nikmatnya menulis. Dan bahagianya jika tulisan yang kita tulis dibaca oleh orang lain. 

Sabtu, 06 Maret 2021

Mencintai Al Quran Dengan Cara Menjaganya

 2013 di semester tiga masih terhitung baru sebagai mahasiswa. Di kampus ada sebuah naungan untuk mahasiswa yang menghafal Al Quran. Baik yang sudah punya hafalan atau baru akan menghafal Al Quran.

Singkat cerita setiap liburan semester lumayan panjang itu dimanfaatkan oleh pengurus untuk karantina Al Quran. Nah saya juga ikut bergabung. Sekitar tujuh minggu saya tidak pulang. 

Di karantina tersebut, memang semi pesantren kilat menghafal quran, mengaji kitab kuning, qiyamul lail dan wirid tirakat lainnya.

Disitulah saya mulai menghafalkan Al Quran. Pada waktu itu, alhamdulillah saya juz 30 sudah lolos. Akhirnya mulai hafalan di juz 1. 

Pesertanya memang tidak sedikit. Sehingga satu ustdzah memegang enam sampai delapan santri. Pengalaman yang luar biasa.

Kalau dulu nyantri dengan sekolah. Tapi pada saat itu, benar-benar hanya fokus untuk menghafal Al Quran. Dan selesai dari karantina tidak langsung hilang begitu saja. 

Melainkan harus setoran demi setoran dan ngaji di waktu luang kuliah. Sudahlah pokoknya niat menghafal karena Allah begitu saja. Memang di kampus sudah biasa, mahasiswa pada waktu dikelas atau di gazebo kampus  dan di mushola ngaji untuk nambah yang akan disetorkan ke ustadz.

Berjalannya waktu ke waktu meski belum khatam, minimal saya punya tabungan. Kalau nambah atau membentuk hafalan itu mudah. Tapi, yang butuh perjuangan akan "ngrekso" atau menjaganya.

Kitab Al Quran yang dari dulu setia mendampingi saya pada waktu itu sampai hari ini alhamdulillah masih awet. Meski terlihat lusuh, ada coretan pensil dari ustdzah memberikan cerita sejarah sendiri.

Saya juga mengucapkan kepada semua guru ustadz dan ustadzah yang mendampingi dan membimbing berkecimung dalam Al Quran. Beliau Ustadz Awan, Ustadz Arif, Ustdzah Hilfatin. Beliau bertiga adalah tempat saya setor. Kalau sekarang bersama Ibu Titik yang selalu sabar mengingatkan membenarkan bacaan saya. Semoga sehat selalu dan panjang umur.

Allah selalu menakdirkan kepada kita hal yang tidak disangka-sangka dan saya percaya itu yang terbaik. Memang saya belum khatam, dan belum wisuda hafal Al Quran bil Ghoib 30 juz. Namun, saya diberikan kesempatan lain yaitu naik di podium, menjadi mahasiswa terbaik di hadapan wisudan/wisudawati yang hampir 1500 orang. Setidaknya saya berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk orang tua dan keluarga saya.

Lalu, berjalannya waktu. Hafalan Al Quran itu berhenti karena saya juga menyambi kerja dan kuliah S2. Kebayang kan betapa padatnya jadwal pada waktu itu. Sampai-sampai saya kurus dengan berat badan 57kg dari yang awalnya hampir 75kg.

Ah itu bagian dari cerita. Kerja kuliah terus begitu. Akhirnya, harus boyong balik ke kampung halaman karena harus menikah.

Hal yang luar biasanya adalah Allah menakdirkan lagi dan lagi hal yang sangat sangat terbaik. Saya masuk di lembaga yang berbasis Al Quran. 

Jika masuk lembaga tersebut, secara otomatis Al Quran adalah hal utamanya. Dari siswa sampai semua gurunya minimal hafal juz 30. Hati saya sangat tergugah kembali.

Hafalan yang dulu sempat berhenti, alhamdulillah tiada henti sampai sekarang diizinkan untuk menghafalkan lagi dan lagi, membenahi dan melancarkannya. 

Subhanallah tidak menyangka. Memang mempunyai hafalan itu sangat asyik. Hati lebih tenang. Dan sekarang saya dan teman-teman guru juga terus berproses untuk menghafalkan Al Quran.

Meski sedikit demi sedikit, saya yaqin kalau istiqomah insyallah pasti khatam. Dan hafalan Al Quran itu tidak pandang bulu dan umur, apalagi status sosial. Jauh.... pokok intinya ngaji menghafalkan dan menjaga Al Quran untuk ibadah mencapai RidoNya.

Saya jadi teringat di salah satu kitab Alala bahwa ada beberapa syarat menuntut ilmu yang manfaat dan barokah. Salah satunya adalah sesuatu yang diulang diulang secara terus menerus dengan waktu yang lama. 



Jumat, 05 Maret 2021

Melayang

Kau Hadir

Tanpa Aku Minta

Sudah Cukup Lelah

Karena Hanya

Sebuah Kenangan

Tak Bisa Kupegang

Tapi Melayang 

Di Pikiran



Datang

Aku Datang 

Berlari Tanpa Henti

Seakan Nafas Panjang

Terus Menerus Ada

Hanya Untuk 

Menepati Sebuah Janji

Tunggulah Hingga

Aku Datang




Kamis, 04 Maret 2021

Jatuh



Jatuh Bukan Tak Berdaya

Jatuh Bukan Tuk Sengaja

Jatuh Bukan Tak Mampu

Jatuh Bukan Yang Dimau


Namun 

Karena Jatuh 

Akan Membawa Pelajaran Baru


Jatuh Pun Bukan

Alasan Tuk Berhenti

Untuk Mencoba Dan Berusaha


Selasa, 02 Maret 2021

Merekah Kenangan



Dingin Menggigil

Menusuk Tulang

Semilir Angin

Tersusun Rapi

Tertumpuk Kenangan

Manja


Kucoba Bongkar

Mencari Bilah Bilah

Serpihan Bungan Kenangan

Yang Merekah Indah

Senin, 01 Maret 2021

Buku Kedua 2021



Buku antologi kedua penuh cerita. Lahirnya buku aantologi kedua ini awalnya saya membeli salah satu buku puisi karya Gus Obie Rojabi. Kemudian kepo dengan segala isinya serta penerbitnya. 

Kemudian mulailah mempelajari dan berkenalan di akun penerbitnya  yakni "halaman Indonesia". Dan penerbit tersebut mau mengadakan menulis bersama. Tanpa berfikir panjang, aku pun ikut didalamnya.

Alhamdulillah komunitas tersebut dalam waktu sangat dekat mengadakan penulisan antologi puisi. Sekali lagi aku ngikut tanpa berfikir. Apakah saya mampu menulis puisi dengan baik. Yang penting ikut, karena pada waktu itu sudah tinggal tiga hari mendekati deadline pengumpulan naskah.

Alhamdulillah tiada henti, karena sudah ada beberapa tabungan menulis salah satunya di blog. Saya mencoba mengambilnya dengan sedikit mengedit. 

Kemudian saya kirim dari bulan Desember 2020 akhir. Hampir seminggu sekali oleh  penerbit di beri update berita tentang proses sampai terbentuk buku ini. Mulai dari proses editing naskah, desain cover, layout dan lain-lain.

Baru akhir februari 2021 ini bisa terbit. Dan sampai ke saya tepat 1 Maret 2021 pukul 11.00 siang via pos. Wah senangnya bukan main.

Meski antar penulis ini tidak mengenal secara langsung. Minimal karyanya bisa dinikmati bersama. Buku ini sangat sederhana namun menyimpan sejuta pesan yang mewakili perasaan penulis puisinya.

Saya pribadi mengucapkan terimakasih banyak kepada penerbit halaman Indonesia Yogjakarta yang memberikan kesempatan dan wadah menulis. Terutama bagi saya yang masih proses terus belajar menulis.

Antologi puisi ini merupakan karya kedua saya di tahun 2021. Meski belum menulis secara Solo, lahirnya buku ini memberikan nuasa yang berbeda, memberikan ilmu baru dan tentu pengalaman untuk nanti ke depan menyusun buku solo.

Semoga segera rilis buku solonya 

Insyallah

Soon 

Segera 

Bismillah.

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...