Kamis, 29 April 2021

Tangis



Kau Menyakiti

Datang Sesuka Hati

Ternyata Pola Hidup Ini

Hanya Sebatas Membenci


Kerasnya Hatimu

Sekerasnya Batu

Tanpa Ada Rasa Dosa

Tanpa Ada Rasa Cinta


Sampai Kapan Hidupmu Nyaman

Jangan Kau Usik Lagi

Dengan Desahan Keluhan 

Dan Minta Belas Kasihan


Sudah Cukup Berisik

Sudah Terbaca

Bahwa Kau Hanya Manusia 

Yang Tak Punya Hati Nurani


Penjelasan



Duduklah

Lalu Jelaskan

Bijaksanalah

Dalam Keputusan


Tidak Ngerti

Tidak Tahu

Ya Ulangi Lagi 

Jelaskan


Saling Lempar Tangan

Setelahnya Bersembunyi

Hanya Pengecut Dan Orang Munafik

Yang Bisa Mengelabuhi


Hati-hati

Ada Hati Yang Tersakiti

Dan Terdzolimi

Jelaskan

Jelaskan

Selasa, 27 April 2021

Semarah-marahnya



Kemarahan Yang Menggelayut

Kebencian Mendarah Daging

Kekecewaan Disaksikan Oleh Langit


Kebusukan Menyertai Niatnya

Kesombongan Bertahta Di Otaknya

Keegoisan Mengalir Di Nadinya


Selalu Dibusungkan Dadanya

Untuk Menginjak-injak Yang Lemah

Hai Siapa Anda


Semua Harus Tunduk

Semua Harus Mengiyakan

Atas Segala Kebusukan Mulutnya


Manusia Macam Apa Ini

Kenapa Ada Yang Seperti Ini

Ah Yakini Saja


Lalu Cukup Lihat Saja

Dan Cukup Amati

Allah Maha Tahu

Apa Yang Akan Terjadi


Hari Ini



Sudah banyak peristiwa dan kejadian yang di garis tebal olehku. Atas semua perlakuan dan tindakanmu. Manusia seperti apa kamu. Aku cukup mengamati awalnya. Tapi ternyata hal itu terulang kembali.

Setiap kehidupan pasti akan berputar silih berganti. Dan Allah sudah menuliskannya untuk setiap hambanya. Tidak menutup kemungkinan bahwa hati akan tetap merasakan kemarahan, kekecewaan yang amat berarti.

Seperti hari ini. 

Aku tak menyangka, ada empat gelas minuman segar. Tiga diantaranya berwarna merah muda dan satunya berwarna hijau. Dari warna terlihat menarik. Aku berprasangka baik pasti enak. 

Namun apa yang terjadi memegangnya saja tak sanggup tangan gemetar dan tiba-tiba mau muntah apalagi makan. Pasti ada sebab, mengapa demikian?

Karena Allah sudah menunjukkan siapa dibalik topengmu. Semoga selalu sehat dan panjang umur wahai manusia bertopeng.

Minggu, 25 April 2021

Keluasan Hati



Ketika Hidup Mengharuskan

Membuka Banyak Jendela

Meski Di Luar Terlalu Bising

Untuk Di Dengarkan


Jangan Hiraukan

Suara Sorakannya

Cukuplah Berdiri Tegak

Dan Tangguh Dihadapan Mereka


Karena Selalu Ada

Yang Maha Mengetahui 

Jalan Terbaik Yang Akan Kamu Lalui

Untuk Hari Ini dan Seterusnya


Ingat

KeluasanNya Tak Terbatas

Oleh Sang Maha Pemilik Jagat Raya

Yaitu Allah Subhanahuwata'ala


Terkilir Lengan Atas



Tidak tahu menahu apa sebabnya. Terjadinya begitu cepat. Ketika musin puasa siang hari mayoritas dari kita pasti tidur siang. Begitu juga denganku.

Entah apa yang salah dari diriku apakah posisiku tidurku atau yang lain. Ketika akan bangun, lengan tangan sebelah kananku terdengar suara "kretek". Masyaallah langsung rasanya lengan tangan langsung kaku. Lengan tidak bisa digerakkan. Siapapun orangnya jika di posisiku hari itu pasti menjerit kesakitan.

Saya pun merasakan demikian. Seisi rumah panik karena mendengar suara tangisanku. Ibuku mengambilkan air panas untuk menyeka. Bapak mengambilkan olesan untuk tulang. Suami di sampingku mencoba menenangkan. Karena saya pucat pasi dan berkeringat dingin dan mata berkunang-kunang. Tangan sebelah kanan tidak bisa digerakkan. Jika tersenggol saja suara "kletek" sakitnya luar biasa. Inilah yang namanya kesleo atau terkilir. 

Lengan kananku memang mempunyai riwayat jatuh dan terkilir ketika dulu SMP latihan badminton. Dan SD pun pernah terkilir juga ketika boncengan sepeda dengan mbak sepupu juga lengan tangan kanan.

Sebelum lamaran pun juga kesleo untuk kesekian kali, gegara mematikan saklar sambil bersin. Lengan tangan kanan pun seperti tidak siap dan kaget. Akhirnya juga terkilir. 

Lucunya ketika mahasiswa praktek olahraga saya masih ingat betul. Olahraga kasti saya melempar bola penuh excited untuk melempar. Tetapi apa yang terjadi, lagi-lagi lengan kananku terkilir. Dan semua temanku awalnya menertawakan karena saya suka acting. Tetapi lama-lama mereka melihat aku kesakitan dan di bopong oleh dosen saya. 

Lalu di antar ke UKM kesehatan, tetapi tidak ada perubahan lalu dibawakan ambulan. Bersama beberapa teman serta dosenku keliling mencari tukang pijet urat atau tukang pijet khusus kesleo. Disepanjang jalan aku terus menangis, karena setiap ada jalan yang tidak rata. Pasti terdengar suara "kletek" dan sakitnya masyallah. 

Lalu kenapa hari ini mesti terulang kembali namanya kesleo. Selama nikah lengan tanganku ini sudah dua kali. Semoga ini yang terakhir. Lalu bagaimana sembuhnya. Dengan di baluri beras kecur, minyak-minyak, terakhir diberi olesan tulang yakni conterpain. Oleh suamiku tetap diantar ke tukang pijet urat untuk ditata ototnya. 

Di sana oleh tukang pijetnya ya tetap dipijet dengan semacam minyak. Rasanya panas. Kalau ditanya sakit ya sakit pol. Tapi tidak terdengar suara "kretek". Alhamdulillah lengan kananku sudah bisa diangkat pelan-pelan, diputar-putar dan digerakkan.

Oleh karena itu kawan, dari cerita di atas, betapa nikmatnya dikaruniai sebuh kesehatan. Harus banyak bersyukur. Gunakan anggota tubuh kita untuk selalu mengukir amalan ibadah yang baik.  

Jumat, 23 April 2021

Buku Ketiga



Selalu memberikan kesan tersendiri ketika tulisan bisa termuat dalam buku. Iya buku merupakan karya saya ketiga yang berhasil terbit tepat di bulan Ramadhan tahun ini. Besar harapan memberikan banyak berkah baik diri sendiri atau banyak orang.

Buku ketiga ini bertemakan "SUKA DUKA MENDAMPINGI ANAK BELAJAR DI MASA PANDEMI" yang diedit oleh para dosen kami Bapak Dr. Ngainun Naim, M.HI, Ibu Dr. Evi Mualifah, M.Ag dan Ahmad Sugeng Riady. 

Tentu bahagia dan senang bisa kembali menulis dan termuat di buku antologi ini. Karena setiap menulis pasti ada namanya perjuangan. Tentu tidak mudah ketika menulis naskah ini. 

Saya hanya bermodalkan dari pengalaman yang saya alami. Sehingga saya rasa, tulisan saya masih terasa ringan. Tetapi banyak karya anggota yang lain untuk menjadi versi yang lebih.

Naskah ini berisi banyak pengalaman mendampingi belajar anak atau siswa dari berbagai versi penulis. Awalnya saya ragu untuk ikut menulis antologi kali ini, karena banyak dari anggota penulis yang banyak bergelar doktor dan berprofesi sebagai dosen. Dan ada beberapa dari dosen saya dan guru dari kampus tercinta UIN Malang.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang terlibat. Besar harapan semoga ke depan bisa melahirkan buku solo. Mari terus berkarya dengan menulis.

Malam Dua Belas



Bulan Malam Ini Penuh

Bulat Dengan Sempurna

Dihiasi Oleh Mendung

Yang Bergelombang Bercahaya


Bulan Penuh Bundar

Menemani Langkah Kami

Sepulang Dari Surau

Dengan Penuh Kegembiraan


Mengamati Sedalam Hati

Menghayati Malam Kali Ini

Bulan Sempurna

Nyatanya Sudah Dua Belas Terjalani


Rabu, 21 April 2021

Munajat



Duduk Di Tengah Keheningan

Menengadah Segala Keinginan

Tiada Apa-Apa Jika TanpaNya


Berdiri Di Antara Kesunyian

Merayap Memohon Semua Hajat

Penuh Keyakinan Akan Diwujudkan


Bersujud 

Tanda Ketidak Berdayaan

Nan Penuh Kelemahan 

Jika Tanpa TopanganNya


Atas Segala IzinMu

Bermunajat KepadaMu

Berpasrah Atas KuasaMu

Diri Ini Yang Lemah TanpaMu



Senin, 19 April 2021

Baju Baru

 


Sebuah kebiasaan yang satu ini mungkin tidak bisa dihilangkan. Apalagi jika sudah mendarah daging. Apa kebiasaan itu? 

Baju baru.

Ramadhan adalah momentum bulan yang dimeriahkan dengan segala persiapan. Baik secara rohaniah atau jasmaninya. Sebagian besar dari kita sudah hafal dan faham dari sisi rohaninya.

Mulai dari manfaat puasa, hukum dasar serta keutamaan bulan suci Ramadhan.

Namun, tak kalah menarik di masyarakat sekitar kita adalah kebiasaan segala persiapan fisik. Artinya segala yang terlihat harus dipersiapkan.

Setelah Ramadhan berlalu, semua segi persiapan fisik itu akan terlihat. Selain kue atau jajan hari raya, ampau sebagian besar pasti mempersiapkan penampilan terbaik dengan baju baru.

Bahkan Ramadhan hari pertama saja sudah persiapan membeli kain untuk baju di pakai di hari raya. Hal ini menurut saya sah-sah saja. Tentu itu hak mereka karena yang punya uang mereka. Pertanyaannya, baju baru apakah salah satu yang wajib dipenuhi ketika hari raya tiba?

Jawabannya semua kembali ke diri kita masing-masing.

Tidak dipungkiri di bulan Ramadhan semua jenis toko terutama toko baju baik secara offline atau yang lebih tren kali ini secara online pun, semua akan kebanjiran orderan.

Banyak sekali teman-teman yang jualan online omsetnya naik dua bahkan tiga kali lipat. Itulah salah satu keberkahan bulan suci Ramadhan.

Pernahkah kita ingat salah satu lagu anak yang dulu dinyanyikan oleh Kak Dhea. Kurang lebih "baju baru Alhamdulillah, dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama".

Liriknya mengandung nasehat halus, bahwa baju baru di hari raya itu tidak harus ada, namun yang perlu ditekankan adalah berpenampilan terbaik sopan, rapi dan bersih. Berpenampilan terbaik sekali lagi tidak harus segalanya baru dan mahal, kalau memang tidak memungkinkan janganlah kita memaksakan diri. 

Sopan, rapi hal demikian tentu akan menyejukkan mata jika dipandang, menciptakan kenyamanan baik buat diri sendiri atau orang lain didekat kita.

Lalu bersih hal yang paling utama harus kita jaga. Bersih dhohiriyah, fisik, jasmani dan bersih ruhaniyah, bersih hati. Setelah Ramadhan usai semua harus menjadi pribadi yang lebih baik. Sepertinya akan tidak seimbang jika baju  baru dan mahal namun tidak memberikan perubahan yang berarti buat diri sendiri.

Semangat terus, semoga Ramadhan selalu membawa keberkahan.

Bulan Sabit


Bulan Sabit

Lama Tak Melihatmu

Di Tengah Langit

Dikelilingi Bintang

Pesona Cahayamu Melangit

Jagat Raya Tahu

Bentuk Indah Sabitmu


Melihatmu

Di Tengah Kedamaian

Dan Bulan Suci

Menambah Syahdu

Hati Terbesit

Jangan Menghilang

Jangan Cepat Berlalu

Disinilah Kami Melihatmu


Bulan Sabit

Di Malam Delapan

Bulan Ramadhan

Indah Selalu

Jumat, 16 April 2021

Nyobain Kebab Turki



Awalnya saya tak begitu minat dengan  yang menurut saya "aneh". Tapi memang harus dicoba untuk mendapatkan suatu pengalaman baru. Dan lidah kita agar terlatih untuk menikmati cita rasa makanan.

Sering dikatain "ilat ndeso" mungkin karena tidak berani mencoba makanan baru dan hanya favoritnya sambal tomat. Namanya anak desa, sewaktu mahasiswa berbagi teman dari penjuru kota, tentu banyak kultur dan kebiasaan yang berbeda. Contoh dari segi makanan, dulu awal-awal masih asing dengan namanya kebab, burger, pizza dan segala jenisnya. 

Pernah suatu hari, ada teman ulang tahun dengan traktiran burger tapi saya malah milih bakso. Jadi semua satu kelas makan burger tapi saya milih makan bakso.

Lambat laun, seperti sekarang ini saya semakin penasaran gimana rasa makanan yang selalu berbalur banyak mayonize. Dua hari ini tanpa angin tanpa apa, saya kepengen banget dengan burger dan kebab.

Alhamdulillah minta rekomendasi teman burger dan kebab yang recommended. Akhirnya menemukan, tentu kita nyarinya setelah sholat tarawih menunggu suami selesai tadarusan karena di bulan Ramadhan ya.

Perpaduan sayur yang segar dan bawang bombai. Diiris sedemikian rupa. Lalu ada lembaran merah, yang merupakan daging dan diiris disesuaikan ukurannya. Setelah semua siap, di ambillah lembaran menyerupai kulit lumpia tapi agak tebal. Mungkin ini namanya kulit kebab.

Lalu disusun dan ditata dengan lapisan pertama adalah sayur segar, kemudian daging, lalu bawang bombai, mayonize dan saos sambal. Saos bisa disesuaikan dengan keinginan bisa pedas atau tidak.

Setelah itu mulai dilipat lipat dan dipanggang di atas pan dengan api yang cukup lalu  dibalurkan margarin . Wah baunya sangat sedap, tapi terbesit kalimat "kira-kira sebesar itu habis tidak ya? Enak tidak ya?"

Setelah jadi masih hangat, lalu disantap Subhanallah ternyata ada suara kresnya sayur dan daging kambing yang lembut  serta saos tomat yang pedas,  mayonize yang meluber jadi satu menambah nikmatnya. Ternyata bisa bersahabat juga si Kebab Turki di lidahku. Nah ini wajib dicoba kembali. So Yummy

Ramadhan Hari Keempat



Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan tanpa kita sadari secara mendalam. Dari tiga puluh hari Ramadhan sudah berkurang empat hari saja. Lalu, pertanyaannya sudahkah kita memaksimalkan waktu empat hari di bulan Ramadhan ini?

Survey membuktikan barisan tarawih di malam ke empat sudah maju. Artinya barisannya sudah banyak yang berkurang. Kadang kita baru terasa kalau sudah di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. 

Bulan Ramadhan adalah momen untuk mensucikan diri. Sebagai manusia, tentu banyak dosa dan kesalahan terhadap diri sendiri apalagi orang lain. Benar-benar sangat merugi jika kita tak menggunakan waktu Ramadhan ini sebaik mungkin.

Bulan Ramadhan juga sarana sebagai pembentukan rutinitas kita yang baru. Banyak sekali, contoh yang tak pernah tahajud, di bulan Ramadhan akan melaksanakan sholat tahajud, yang tak pernah nderes atau membaca Al Quran karena Ramadhan berbondong membaca dengan semangat. Nah kebiasaan yang telah di bangun jangan sampai hanya berhenti setelah Ramdhan habis.

Terus lanjutkan sampai benar-benar melekat dan akan menjadi rutinitas yang wajib di diri sendiri. Saya pribadi menulis hal ini, sebagai pedang pengingat diri ini untuk terus belajar memperbaiki diri. 

Lalu di bulan Ramdhan kita sudah tahu bahwa semua setan diikat oleh Allah untuk tidak mengganggu manusia beribadah. Pintu-pintu surga dibuka oleh Allah. Apa artinya, berapa mulyanya bulan Ramadhan ini. Allah memberikan Rahmat, membukakan pintu ampunan dan membebaskan manusia dari siksaan neraka. Tentu jika manusia beribadah sebaik mungkin dengan niatan mengharap RidhoNya.

Maka teruslah semangat menjalani ibadah di Bulan Ramadhan kali ini. Baik ibadah sunnah maupun wajib.

Salam semangat

Selasa, 13 April 2021

Tadarus Al Quran



Bagi sebagian orang, bulan suci Ramadhan adalah momen dimana untuk menggodok segala bentuk ibadah kepada Allah. Karena apapun bentuk ibadah di bulan tersebut akan dilipat gandakan. Sehingga banyak orang menyibukkan diri salah satunya dengan Tadarus Al Quran.

Nderes  Al Quran yang awalnya sebagai rutinitas biasa. Namun di bulan ini sebagai salah satu prioritas ibadah. Bagaimana tidak, dalam bulan dan hari biasa saja, membaca atau nderes Al Quran satu huruf membawa satu kebaikan atau satu hasanah. Apalagi di bulan suci Ramadhan.

Maka tak heran, kenapa banyak mushola atau masjid yang mengumandangkan Al Quran. Atau sering kita sebut tadarus Al Quran.

Target minimal dalam bulan Ramadhan adalah hatam satu kali. Target menurut saya penting, karena dengan target kita bisa mengangan-angan langkah ke depannya. 

Diantara kita pasti mempunyai banyak target ibadah sendiri-sendiri, yang kita dan Allah saja yang tahu.

Saya ambil contoh kecil, salah satu kerabat saya, dia bisa menghatamkan Al Quran di bulan suci Ramadhan itu minimal bagi dia adalah lima kali. Subhanallah

Kalau dia tidak malas, atau banyak aktivitas dia mampu hatam sebanyak tujuh kali. Luar biasa bukan, tidak memungkiri, dia mampu membagi waktu dengan sebaik mungkin.

Yang perlu diingat adalah segala sesuatu niatkan karena Allah. Kalau hanya sekedarnya saja maka akan sia-sia. Mari terus membaca Al Quran dengan istiqomah dengan niatan karena Allah. Insyallah Berkah.

Arti



Senyum
Berarti Bahagia
Tertawa 
Bermakna Berbunga
Namun Tak Selamanya

Kadang
Semua Yang Terlihat
Tak Memiliki Arti Yang Sama
Jangan Suka Bersandiwara
Meski Dunia Hanya Panggung Perantara

Menangis
Bukan Bermakna Terpuruk
Bukan Juga Bermakna Bahagia
Cukuplah Tuhan Yang Tahu
Akan MaknaNya

Senin, 12 April 2021

Tarawih Pertama



Sangat bahagia, rasanya menyambut bulan suci kali ini tak lain adalah Ramadhan. Meski masih di tengah-tengah pandemi. Kami masih diberi kesempatan merasakan bulan suci kali ini bersama-sama, alhamdulillah masih diberi kesehatan.

Melaksanakan sholat jamaah lima waktu tanpa hambatan. Tadi malam merupakan malam pertama bulan suci Ramadhan tahun ini 2021, banyak yang berbondong-bondong jamaah sholat isya' dan tarawih.

Saya kira semua masjid penuh, meski harus menerapkan protokol kesehatan. Tidak mengurangi umat Islam menyambut bulan ini dengan penuh kebahagiaan. Itulah salah satu berkah bulan Ramadhan.

Suasana di masjid Al Hikmah Mirigambar tadi malam, semua ruang di masjid penuh. Untuk jamaah putra dan putri, alhamdulillah sangat penuh. Khusus jamaah putri banyak ibu-ibu yang membawa putra putrinya untuk mengikuti sholat tarawih. Ada juga yang membawa balita untuk sekedar mengenalkan suasana Ramadhan.

Namun, tadi malam cuaca cukup agak panas, meski kipas angin hampir lima di ruangan, tidak mengurangi rasa panasnya. Cukup nikmat dalan menghayati setiap gerakan, yang tidak terlalu cepat. Imam pertama di masjid ini kakung, sehingga gerakan cukup sedang.

Terbesit harapan dan doa, semoga masjid-masjid terus penuh dalam jamaah lima waktu baik di bulan Ramadhan atau bukan. Tidak hanya awal Ramadhan, tetapi sampai terus istiqomah. Dari sebagian dari kita biasanya sepuluh awal Ramadhan masjid penuh, pertengahan berkurang banyak, baru penuh kembali akhir Ramadhan.

Awalnya sepuluh baris, shof atau barisan seiring berjalannya waktu shof akan semakin maju, lama-lama akan menjadi tiga atau bahkan dua baris. Mari terus bersama-sama belajar untuk istiqomah, memulyakan menggunakan semaksimal mungkin waktu yang kita miliki, terutama di bulan Ramadhan ini.

Semangat Terus Untuk Ibadah Menggapai RidhoNya.

Sabtu, 10 April 2021

Kabut Embun



 Kabut Putih Tebal

Mengiri Langkah

Menuju Ladang Pengabdian

Menjumpai Pagi Kabut

Dingin Merasuk

Terlihat Dan Tertangkap

Oleh Lensa Mata

Putih Tebal Menempel

Mengembun Di Sepanjang Hari

Di Hijaunya Daun Padi

Aku Sadar Bahwa

Meski Pengabdian Tiada Henti

Semangat Akan Membara

Jika Diniati Karena Mencari Ridho Illahi

Jumat, 09 April 2021

Gelap


 

Gelapnya Malam Menghitam

Datang Menemani

Dingin Menyertai

Angin Malam Menghampiri

Hanya Sendiri

Disisi Teras

Melihat Daun

Ringan Berterbangan

Ia Memutar

Mengalun Ke Kanan Dan Kiri

Seakan Berkata

Wahai Angin

Aku Akan Mengikutimu

Namun

Dimanakah Tujuanku

Kamis, 08 April 2021

Surabaya Part 3



Karena kebanyakan dari kita kurang tidur nyenyak, sewaktu tahlilan tiba, banyak yang mengangguk-angguk karena ngantuk. Saya sengaja mengeraskan suara agar tak ngantuk. Sambil melihat sekeliling rombongan lain.

Setelah berdoa bersama kita bagi untuk berbelanja. Mencari sarapan dan ke tujuan ke tiga yaitu Tugu Pahlawan. Kita mencari sarapan yaitu soto lamongan yang lokasinya agak jauh jalan kaki dekat dengan makam batu putih. Soto ini lumayan enak lalu tanya penjual pakai angkot warna apa ke tugu pahlawannya.

Kebetulan di tempat soto ada sopir angkotnya, jadi kita carter satu orang lima ribu. Karena bertepatan hari minggu, tepatnya 4 April otomatis ada CFD dekat Tugu Pahlawan. Tapi ternyata Tugu Pahlawannya sendiri di tutup. Nglesetlah kita di trotoar sambil makan sisa bekal jajan kita. Lalu di rasa sudah cukup kita jalan kaki lagi ke tempat CFD an pasarnya yang banyak menjual segala hal.

Lokasi CFDan dengan statiun semut lumayan dekat, jadi kita memutuskan untuk jalan kaki. Dan istirahat di stasiun semut mulai dari pukul o9.00 WIB sampai kereta pemberangkatan kita pukul 12.00 WIB. 

Kota Surabaya yang terkenal panas, yang awalnya banyak tujuan, dan kondisi kita sudah lelah karena banyak jalan. Akhirnya kita mager sampai kereta pemberangkatan sesuai tiket kita.

Karena kelelahan saya di kereta tidak seperti berangkatnya yang on terus ini kebalikan, saya tidur terus. Bangun-bangun sampai Kediri kota. Bahkan di Kertosono yang 20 menit berhenti teman-teman pada turun beli pentol. Saya tertidur pulas.

Inilah perjalanan kita berdelapan yang penuh keseruan dan pengalaman yang tak terlupakan. Terimakasih kawan-kawan. Next trip insyallah dengan personil yang lebih lengkap.



Surabaya Part 2



Dari delapan orang tersebut mempunyai karakter yang berbeda. Diperjalanan berangkat memang sangat asyik dan tak ada dari kami yang tertidur semu ngobrol ngalor dan ngidul. Bu shofi yang notabennya ketua organisasi pelajar NU, tentu jiwanya lebih pemberani dan banyak bahan untuk diceritakan. Bu Arina yang selalu santai semua dibawa happy berfoto-foto dan suka mengedit.

Bu Choir yang kalau lapar membuat orang disekitarnya tidak nyaman, karena mengeluh dan kali pertama naik kereta api. Lalu Bu Diah yang lemah lembut, agak penakut dan jarang keluar rumah. Ada Bu Roi yang kalem dan sering  jadi bahan ledekan. Sedang saya yang tak berhenti makan disepanjang perjalanan. Membekal tahu goreng bulat membuat suasana makin renyah.

Kami berangkat dari stasiun Sumbergempol pukul 14.17 WIB, lalu harusnya turun di stasiun Semut. Akan tetapi tujuan pertama dekat dengan stasiun Gubeng, akhirnya turun di stasiun tersebut tepat pukul 18.35 WIB. Selanjutnya sholat dan persiapan ke tujuan pertama yaitu Tunjangan Plaza 1. 

Mulai terdapat drama, karena harus pesan mobil sewa menggunakan aplikasi yang menyebabkan saya dan suami pisah rombongan. Singkat cerita sampai ke TP 1, keliling cari minum dan tak terasa kita keliling sampai TP 3. Bu Choir mulai merengek kelaparan, akhirnya cari makan di foodcourt TP 3. Semua makan di meja masing-masing, karen dibatas satu meja berdua itu pun menggunakan pembatas.

Lalu sudah cukup kita tolak ke tujuan utama yakni Makam Sunan Ampel. Masih menggunakan aplikasi penyewaan mobil, namun kali ini saya bersama dengan suami. Akhirnya sampai tetapi kondisi makam full sangat. Ramai pol, akhirnya kita memutuskan untuk cari teh panas. Karen Bu Diah mengeluh seperti masuk angin. Jalan kaki dong dekat parkiran bus atau terminal. Di sana kami ngeteh, sampai pukul 23.00 WIB. Dirasa Bu Diah sehat, kita memutuskan tidur di mushola dekat makam, yang biasa digunakan orang-orang peziaroh putri untuk istirahat.

Rombongan tepar semua kecuali saya dan Bu Arin yang tidak bisa tidur. Karena di sana banyak nyamuk dan lumayan ramai terus. Melihat kondisi pandemi seperti sekarang ini, makan wali sunan ampel tetap ramai. Seperti tidak ada perbedaan. Lalu saya dan Bu Arin terjaga sampai tahajud dan subuh dini hari. Kita bergiliran mandi karena kondisi full dan ramai. Maka harus segera antri. Lalu kita berjamaah di masjid besar. Dan berziaroh di makam.



Surabaya Part 1



Alhamdulilah 3 April kemarin kami berkesempatan untuk berziaroh ke Makam salah satu wali songo di kota Surabaya. Tak lain adalah Raden Rahmat, biasa kita sebut dengan Sunan Ampel.

Kita tahu Raden Rahmat atau Sunan Ampel adalah putra dari Syeh Ibrahim Asmorokondi yang dimakamnya di Tuban. Dan Syeh Asmorokondi merupakan putra dari Syeh Jumadil Kubro yang bermakam di Mojokerto. 

Saya dengan rombongan awalnya berjumlah sembilan orang. Karena suatu hal yang berangkat delapan orang dengan hanya dua laki-laki, selebihnya perempuan. 

Ini rombongan kecil berawal dari rujakan, lalu berlanjut dengan berziaroh. Berdelapan menggunakan kereta api, pulang pergi lewat Kertosono. Ini pengalaman baru lagi buat saya pribadi. Pasalnya selama naik kereta api tujuan Surabaya selalu lewat Malang.

Ternyata ada trik tertentu agar bisa lewat Kertosono. Yakni pahami nama kereta jam berangkat serta tujuan dengan teliti. Awalnya agak ragu ketika ada rencana naik kereta, karena di awal ada kabar kalau naik kereta harus swab. Namun, ternyata tidak hanya diwajibkan memakai masker, jaga jarak dan yang laki-laki wajib berlengan panjang.

Melalui teman-teman inilah saya belajar. Ada Bu Arin, Bu Shofi, Bu Roi, Bu Choir, dan Bu Diah, Pak Muhsin, dan saya ditemani dengan suami.



Penataran



Candi Penataran, mungkin sudah tak asing bagi kita mendengar nama candi tersebut. Dikenal karena letaknya juga di desa Penataran, kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Memang ini kali pertama saya berkunjung ke candi tersebut. Kesan pertama adalah daya tarik candi tersebut sangat bersih dan terawat. Lokasinya cukup luas.

Kemudian rerumputan dihalaman dan taman-tamannya menambah keelokan candi Penataran ini.  Batu-batunya candi tersebut terlihat masih asli dari peninggalan terdahulu. 

Konon cerita candi Penataran ini di bangun untuk pemujaan, sehingga dibangun di lereng barat daya gunung Kelud. Karena pada waktu itu warga Blitar yang sering terancam letusan gunung tersebut. 

Pada waktu itu wisatawan lokal tidak begitu banyak yang berkunjung, mungkin dibatasi karena masih di era pandemi seperti sekarang ini. Awalnya saya hanya ingin berkeliling dan mengambil beberapa foto saja. Namun rasa penasaran saya muncul, bagaimana rasanya melihat pemandangan dari atas.

Padahal saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, tapi saya nekat naik ke atas. Subhanallah memang betul, pemandangannya sangat indah, disuguhkan hijaunya daun-daun kelapa yang masih subur disekitar sana.

Di candi penataran ini ada lokasi seperti kolam kecil. Posisi letaknya dibelakang candi utama agak menurun kebawah kemudian belok kanan kita akan menjumpai kolam kecil airnya berwarna biru. Air kolam ini berisi banyak ikan, saya melihat ikan lele yang sangat panjang ekornya dan besar. Ada juga ikan seperti mujaer. Banyak banyak juga pengunjung yang duduk disekitaran kolam tersebut.

Sebagai generasi muda, kadang kita hanya berkunjung dan melihat tempat wisatanya. Namun, tidak banyak dari kita yang mengulik bagaimana sejarahnya. Maka disinilah kita sangat di wajibkan untuk belajar sejarah. 

Salah satu bukti sejarah di masa kerajaan terdahulu dengan peninggalannya yaitu candi. Selain itu candi merupakan cagar budaya yang harus kita jaga dan kita rawat. Maka sebagai wisatawan atau berkunjung di suatu tempat, kita harus menjaga kebersihannya, membuang sampah pada tempatnya.



April



Bulan yang menurut saya indah, karena dia berada di sepertiga tahun Masehi. Sebenarnya semua bulan istimewa karena mengandung banyak peristiwa yang menjadikan sejarah. Salah satu yang membuat bulan ini indah adalah bulan dimana saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat hebat.

Lalu bertepatan dengan lahirannya sepupu. Iya 10 April, dengan tanggal kelahiran yang sama meskipun tahun kelahiran berbeda kita bisa merayakannya bersama. Cara merayakannya pun tidak dengan berpesta, hanya sekedar berkumpul dengan keluarga lalu berdoa bersama.

Karena saya sangat senang berkumpul bersama keluarga melepas kangen dan silaturrohim bertukar pikiran. Saya rasa hal itu juga menjadikan kedekatan keeratan tali persaudaraan kita.

Yang tak kalah istimewanya adalah bulan April di tahun 2021 Masehi ini bertepatan dengan bulan yang sangat dinantikan kaum muslim, yakni Bulan Suci Ramadhan. Kita tahu bulan tersebut merupakan bulan yang suci, penuh maghfiroh atau ampunan dan bulan penuh keberkahan dan rahmat.

Menjalankan puasa di bulan Ramadhan sebagai orang muslim adalah kewajiban. Rasanya tidak hanya kaum muslim saja yang menyambut bulan tersebut dengan senang hati. Melainkan hampir semua orang merasakan senang. 

Sebelum pandemi banyak tradisi ngabuburit berburu makanan berbuka puasa, lalu pusat-pusat perbelanjaan ramai, kegiatan ekonomi akan meningkat. Dan mereka yang berjualan tidak semua beragama Islam tentu banyak orang nonmuslim yang berjualan dan menyambut bulan ini dengan senang juga.

Sudah dua kali Ramadhan ditengah-tengah era pandemi seperti sekarang ini. Namun, jangan patah semangat terus kencangkan ibadah untuk menggapai RidhaNya. Justru momen Ramadhan kali ini harus kita manfaatkan dengan sangat lebih untuk meminta terjuahkan dan segera musnah di bumi pertiwi ini virus tersebut.

Semoga kita selalu dalam lindungannya, sehat dan bisa menjalankan ibadah puasa di bulan yang suci ini yakni Ramadhan.

Selamat Menunaikan ibadah puasa semua.

Sabtu, 03 April 2021

Kualitas



Melihat Dengan Mata

Melangkah Dengan Kaki

Melambai Dengan Tangan

Berkata Dengan Mulut Yang Bersuara

Lembut Menenangkan Hati

Tanpa Sadar

Tanpa Diketahui

Menunjukkan Kepribadiannya

Yang Tak Pernah Melukai

Sungguh Wajar

Banyak Yang Mengagumi

Tapi Kadang Mereka Buta

Bagaimana Cara Meneladani

Keras



Tutupnya Yang Keras

Seperti Batu 

Di Hamparan Yang Panas

Menampakkan Muram Merah

Tersulut Oleh Amarah


Hanya Segelintir Harta

Membutakan Pandangan

Hanya Sebuah Titipan Sementara

Akan Hilang Atas KehendakNya

Tetap Saja Manusia Biasa

Manusia Yang Penuh Kelemahan

TanpaNya


Jangan Sesekali Kau Busungkan

Karena Hal Yang Tak Seberapa

Toh Ujungnya Sama

Kafan Putih Yang Bersama

Jumat, 02 April 2021

Kesiapan



Rasa Nyaman

Yang Kadang Kurang Tantangan

Membuka Mata Dengan Ringan

Mereka Menyapa Dan Bertanya

Tentang Kesiapan


Terdiam Dan Mencoba

Bertahan Dengan Berdiri Tegak

Namun Tak Mungkin Selamanya

Badai Angin Pasti Akan Datang

Jika Tanpa Bekal 

Rasanya Seperti Melayang

Tanpa Arah Tanpa Angan


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...