Jadi manusia itu harus banyak rasa. Jangan hanya satu rasa. Itu tak menarik. Tertulis di sebuah truk ketika saya dalam perjalanan ke luar kota.
Tiga kalimat itu mungkin terlihat sepele karena hanya sebuah tulisan yang menempel di box sebuah truk. Lalu saya berfikir. Ternyata tulisan sederhana itu mengandung makna terdalam bagi saya.
Ilmu dan pesan apa yang bisa kita ambil dari tiga kalimat di atas. Manusia itu memang dianugerahi oleh Allah dua hal yakni akal dan hati. Dasar itu yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain.
Namun, fenomena sekarang banyak yang lupa, keduanya tak bisa seimbang. Ketika akalnya sangat cemerlang, lupa hati, yang bisa merasakan. Rasa bagaimana menghargai, rasa tepo seliro, rasa berterimakasih, hingga rasa kejujuran pada diri sendiri.
Lalu, jika mempunyai hati yang sangat halus, membuat kita jarang berani mengungkapkan pendapat. Atau bahkan cenderung pasif terhadap lingkungan. Dan tak mau belajar tentang lebih banyaknya ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan.
Maka keduanya pun harus diimbangi. Dengan apa kita menyeimbangkan itu semua. Tentu dengan terus belajar, mendekatkan diri kepada Allah lalu sering-sering introspeksi kepada diri sendiri, sering bersosialisasi dengan baik. Jika mendapat saran, maka harus terbuka mendengarkan, menerima dengan lapang dada. Jangan mengedepankan rasa tersinggung. Kalau tersinggungnya didahulukan, dijamin hati akan lelah.
Kadang kerasnya hati tidak akan menyadarkan bagiamana rasanya diposisi orang lain. Maka itulah, manusia harus punya rasa yang berwarna berwarna.
Berwarna dalam arti, benci boleh, suka boleh, kasih sayang, kecewa, sedih, senang, bahagia, sakit, memaafkan, dongkol, mangkel, gedhek, terharu semua rasa itu wajar kita miliki, tapi sewajarnya, sesuai takaran. Yang baik kita pertahankan, yang kurang baik, jangan terlalu ditanam berlama-lama.
So, hidup hanya sekali, ikuti alur hati, jalani sebaik mungkin. Dengan iringan rasa syukur. Ingat kita SEMUA HANYA MANUSIA BIASA, PULANGNYA PUN AKAN SAMA.