Minggu, 23 Oktober 2022

Menjadi Pengabdi Masyarakat


Perjalanan pengabdian selalu indah. Semakin luas lingkungan serta teman dalam dunia kerja membuat sadar, bahwa masih banyak kekurangan. Belajar tidak akan terbatas, belajar tidak melulu di kelas. Justru kehidupan adalah ladang untuk belajar.

Kadang teori kehidupan terlalu mudah untuk dihafalkan. Tetapi, terjun secara langsung membuat semakin tahu dan faham bahkan membenarkan atau malah berbanding terbalik dengan teori yang ada. Sebagai contoh pada umumnya, siswa sekarang hafal simbol sila pancasila bahkan butir-butirnya. Namun, masih kurang dengan pengamalan dalam dunia nyata.

Menjadi tantangan utama sebagai pengabdi masyarakat. Menjadi pendidik mulai dari paud sampai perguruan tinggi termasuk bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sehingga ada suatu kewajiban serta hak untuk meluruskan terutama berkaitan dengan attitude siswa. 

Pengabdian kepada masyarakat juga bentuk rasa peduli kita terhadap sesama. Betul sekali jika, seperti apa masa depan Indonesia? Jawabannya tergantung dengan apa yang kita kerjakan sekarang dan menjadi apa kita sekarang. Jangan merasa berat dengan segala profesi yang kita miliki sekarang. Mari terus tanamkan rasa syukur dengan terus berjuang.

Tuntutan masyarakat kadang tidak pernah terbatas. Cara pandangnya pun bermacam-macam. Hal tersebut wajar, sebab masyarakat bukan individual melainkan multi dari berbagai faktor. Cara berfikir kitalah yang harus ditata dan meluas, jika memang kita sebagai pengabdi masyarakat dan melayaninya sepenuh hati. Terima kasihlah kepada Allah yang memberikan kesempatan untuk terjun di masyarakat dengan mendapatkan pengalaman yang berharga.

Salam Semangat

Jumat, 21 Oktober 2022

Kata Siapa Media Sosial Tidak Penting?

 


Eradigital yang kita nikmati sekarang, bukan terjadi begitu saja. Ada proses yang sebetulnya kita jalani namun tanpa terasa. Seperti kecanggihan dunia informasi dan teknologi hari ini. Hampir semua orang mampu mengoperasikan internet. Bahkan menggunakan dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Seperti halnya media sosial seperti Facebook, Instagram, What's up, Twitter  yang memberikan wadah kepada siapapun untuk menunjukkan segala informasi, memfungsikan sesuai keinginan. 

Ada untuk lapak berdagang, ada untuk hiburan semata, ada juga untuk berdakwah atau syiar, promosi dan masih banyak lagi fungsinya. Tergantung masing-masing orang  

tujuan, kemanfaatan dalam menggunakannya.  Namun mengapa, masih ada segelintir orang yang menganggap bahwa media sosial tidak baik untuk dakwah atau syiar? Artinya perlu digali orang yang berpendapat demikian atau menarik untuk di angkat sebagai bahan penelitian, sebab kita perlu mengumpulkan berbagai macam variabel alasan yang masuk akal untuk menentukan dan menyimpulkannya. Setidaknya diakhir akan menemukan sebuah kesimpulan alasan mengapa dia berpendapat demikian.

Padahal kita tahu peran media sosial, jika dimanfaatkan untuk melebarkan dakwah atau syiar hal-hal positif akan menjadi ladang pahala juga bagi yang menggunakannya. Sebaliknya jika media sosial digunakan hanya untuk menyebarkan kebohongan atau hoax maka hal tersebut juga melahirkan dosa yang berlipat-lipat. Misalnya, kegunaan media sosial untuk keperluan kelembagaan, kegiatan kelembagaan, kegiatan pendidikan, proses belajar mengajar itu penting sekaki. Selain sebagai bukti untuk wali murid juga sebagai syiar atau dakwah bahwa lembaga ini hidup dan terus mengadakan inovasi dengan adanya suatu kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Mengapa hal demikian, masih belum dimaksimalkan bahkan dilarang? Kadang-kadang menasihati orang bodoh lebih baik dari pada menasehati orang sok pinter atau sok tahu. Lihat dulu konteks dan keadaan lingkungan serta kemanfaatannya. Jangan tergesa-gesa menyalahkan sehingga akan terlihat kurang mumpuninya. 

Salam Semangat

Jangan Jalan Ditempat


Pengamatan berjalan hampir empat tahun membuatku sadar. Pengalaman yang semakin hari semakin bertambah tentu saja akan menghasilkan suatu ilmu, pelajaran serta hikmah. Sejatinya manusia hanyalah lelakon saja. Di pewayangan ada dalang yang lebih berkuasa. Maka Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa di hidup kita.

Segala urusan yang terjadi kita wajib melakukan yang terbaik. Dipersiapkan dengan baik, dikelola dengan baik, diputuskan dengan bijaksana dengan diskusi atau musyawarah. Utamanya tanyakan terhadap diri sendiri? Setelah itu baru yang terdekat?

Menjadi manusia jangan menutup diri. Menganggap paling hebat, paling tahu dan paling betul. Tidak mau di kritik apalagi menerima saran. Zaman sekarang bukan zamannya individualisme. Melainkan zaman kolaborasi melek dengan informasi teknologi. Mengadopsi boleh saja, tapi jangan lupa untuk memodifikasi.

Masih ingat betul dalam surah Al Baqarah kita diperintahkan  "Berlomba-lomba dalam kebaikan" tidak berlomba-lomba dalam kemalasan. Kebaikan bisa berarti memodifikasi suatu hal dengan sangat kreatif. Ingat bahwa modifikasi berbeda dengan imitasi.

Jangan sampai mengatas namakan takdir Allah, jika belum berupaya semaksimal mungkin. Jangan sampai mengeluh sebelum bekerja keras dan ada hasil yang nyata. Janji palsu, semua manusia bisa melakukannya hanya modal mulut. Namun, jangan salah akhirat tanggungannya, apalagi urusan dengan umat. Pesan kepada yang masih menganggap medis sosial tidak penting "Ayo bergerak, jangan stagnan tanpa perubahan"

"Tunjukkan Tanggung Jawabmu"

Sabtu, 15 Oktober 2022

Mengatasi Lingkungan Yang Toxic


Toxic menurut bahasa bermakna racun. Lingkungan yang toxic memiliki arti lingkungan yang beracun atau tidak sehat. Bukan karena keadaan fisiknya, melainkan yang dimaksud dengan lingkungan yang toxic lebih kepada makna keadaan mendalam yang memberikan suatu pengaruh  kurang baik pada kesehatan mental.

Lingkungan yang lebih mengarah kepada keadaan fisik yakni seperti keadaan yang bebas dari segala bentuk pencemaran, mulai dari sampah, limbah atau polusi. Sedangkan lingkungan yang toxic, menurut saya lebih mengarah kepada efek atau pengaruh keberadaan kita di lingkungan tersebut. Hal tersebut bisa disebabkan dari faktor dalam misalnya dari orang-orangnya yang berada di lingkungan tersebut. Lalu ada dari faktor luar, misalnya keadaan yang mempengaruhi ketidak nyamanan adanya lingkungan tersebut.

Pernahkah anda merasakan di lingkungan yang toxic? Lalu apa yang anda lakukan untuk mengindari lingkungan toxic tersebut? Mungkin sedikit berbagi, jika ditanya pernah berada di lingkungan toxic, tentu saja pernah. Biasanya lingkungan yang toxic salah satunya ditandai dengan ketidak adilan perlakuan antara satu dengan anggota yang lain, lalu ketidak keterbukaan dalam suatu urusan, yang utamanya adalah pendapat, kritik serta saran sudah tidak mempan.

Bagaimana mengatasinya? Pertama, paling ekstrim adalah keluar dari lingkungan toxic apapun caranya, jika di dunia kerja mungkin resign adalah pilihan yang tepat. Kedua, cuek artinya abaikan segala yang terjadi, yang paling utama sudah mendapat hak dan menjalan kewajibanmu selesai. Tipikal kedua ini, jatuhnya egois dan kata yang sering diucapkan adalah terserah. Ketiga, tutup telinga apapun suaranya, tetap fokus pada diri kita dan bertanggung jawab akan tugas. Keempat adalah anti sambat, tidak perlu ngobrol dengan semua orang, diam saja, jika tidak perlu tidak usah bersuara.

Sebagai manusia biasa jika berada di lingkungan toxic lama kelamaan pasti tidak bisa bertahan. Apalagi setiap tingkah laku kita dikomentari tidak benar dan tidak tepat, belum lagi jika mental yang dimiliki tidak sekuat yang dibayangkan. Kalau orang Jawa bilang "kecklean" lebih susah untuk menyikapi, sebab hatinya terlalu sensitif, sehingga lingkungan membawa dia semakin sedih. Maka pilihan yang tepat kamu harus keluar dari lingkungan toxic tersebut.

Ada pepatah mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, setiap manusia pun boleh memilih, jangan pernah kita menghalangi pilihan orang. Mungkin sekedar masukan, tapi jangan sampai memaksa. Jadi, dari lingkungan yang begitu menyiksa seperti lingkungan toxic, anda bebas memilih untuk bertahan dengan solusi di atas atau memilih untuk selesai dan keluar dari lingkungan tersebut. 

Keep Fighting

Kamis, 13 Oktober 2022

Kota Pare Kediri



Pare, Kediri terkenal dengan kampung inggrisnya. Saya diberikan kesempatan ke kota ini, meskipun menurut anda sudah tidak terlalu istimewa, bagi saya hal ini cukup mengesankan. Mengapa? Kampung Inggris yang saya kunjungi kemarin, suasananya ramai dan peserta didiknya menurut saya yang unik.

Keunikan ini disebabkan salah satunya lintas daerah. Banyak students yang berasal dari luar Jawa Timur, Jawa Barat suku Sundanya pun juga banyak. Cara berpakaian pun juga berbeda. Bahkan ada yang mengimitasi idolanya dari Korea, istimewa.

Dijuluki Kampung Inggris sebab hampir setiap rumah didirikan sebuah tempat kursus Bahasa Inggris. Setiap rumah kursus tersebut memiliki program unggulannya sendiri-sendiri. Misalnya speaking, reading, grammar, listening. Selanjutnya hampir setiap rumah ada kos-kosan dan sewa sepeda pancal. Sepeda pancal di desain tidak ada boncengannya. Sehingga peserta didik di sana seperti akan sehat, sebab mayoritas memakai sepeda.

Selain unggul dalam Bahasa Inggrisnya, ada juga program Bahasa Arab dan tempat kursusnya juga lumayan banyak. Di sana tinggal memilih, tergantung dengan program yang diambil dan diinginkan. Ada juga tempat nongki, pedagang makanan ringan, maupun berat. Lalu ada lapangan tenis, yang luas serta tempatnya yang rimbun akan pohon mangga.

Kampung Inggris di Pare ini memberikan kesan tersendiri. Terutama bagi suami yang dua tahun lebih diperjalanan kariernya di sana untuk kursus. Alhamdulillah setelah menikah, bisa mengajak istrinya berkunjung di kampung Inggris ini. 

Minggu, 09 Oktober 2022

Jangan Menutupi Kebenaran




Menemukan Kejanggalan

Menemukan Bau Busuk

Berusaha Disembunyikan

Kebatilan Sedikit Dianggap Kecil

Jangan Salah Kawan 


Kami Tidak Bodoh

Atas Kebusukan Kebatilanmu

Nepotisme Kau Kedepankan

Demi Keuntungan Sesama Bestimu


Kebenaran Sudah Sewajarnya 

Dibongkar Tanpa Harus Takut

Halal Haram Sudah Tak Kauhiraukan

Apapun Cara Tetap Diperjuangkan


Satu Tujuan Agar Kesadaran Terbuka

Bahwa Itu Bukan Hakmu

Tanpa Keringat Percaya Diri Selangit

Senyum Sumringahnya Mendapat Tunjangan


Pantaskah Anda?

Anda Tidak Malu ?

Apakah Anda Kerja ?

Adanya Cuti Berlanjut Resign Selama Ini

Kenapa Masih Dapat ?

Anda Punya Otak Dan Hati?

Dimana? 

Anda Sadar ?

Sabtu, 01 Oktober 2022

Krisis Moral Tentang Sampah


Fenomena yang terjadi, ternyata krisis moral tidak hanya dilakukan seperti para elit yang memiliki pejabat mentereng yang sekarang menjadi tersangka koruptor. Krisis moral sudah merambah kepada masyarakat yang berada di bawah, yang justru dilakukan bukan karena tidak tahu. Seperti hal sepele tentang sampah.

Sampah pampers dan pembalut meraja lela dipinggir jalan raya besar. Pinggir jalan tersebut yang justru dilalui oleh banyak orang dan merupakan fasilitas umum. Bahkan jalan raya yang dicari oleh oknum pembuang sampah tersebut sengaja dipilih yang sepi rumah, misalnya jalan raya yang sekelilingnya sawah, sungai, jembatan dan pohon-pohon besar. Jika demikian, sampah yang dibuang berceceran di jalan raya, dengan bau menyengat dan sangat mengotori jalan.

Membuang sampah yang seperti itu, bagian dari krisis moral. Pasalnya hal sepele tentang sampah saja, bisa merugikan banyak orang dan sangat tidak terpuji. Coba dipikirkan jika membuang sampah bekas pampers bayi atau pembalut, apa tidak khawatir tentang akibat atau istilah Jawanya "sawan" yang ditimbulkannya. Apalagi di tempat umum.

Pengalaman saya pribadi, melihat di depan mata, pasangan suami istri membawa bayinya, dengan mengendarai sepeda motor keluaran terbaru dengan pakaian yang keren, lalu membawa kresek merah sebanyak tiga kantong, dan tanpa dosa dia melempar kantong tersebut ke sungai. Seketika saya sorot dengan lampu kota, mencoba akan menegur, tapi mereka keburu malu. Sehingga mereka tancap gas sekencang-kencangnya. 

Apa yang harus dilakukan, jika menemukan seperti ini? Pertama, hati nurani serta kepribadian kita harus waras dan sadar jika hal tersebut tercela. Sekarang, jejak digital sangat mudah untuk mengabadikannya. Namun, kita harus berani bertanggung jawab. Sepertinya jika belum viral, atau disebar luaskan oknum tersebut tidak memiliki jera sekalipun denda. Padahal tertera poster, slogan atau himbauan "Yang membuang disini, berarti monyet" kalimat ini sangat dalam maknanya, bagi mereka yang sadar. 

Selain itu, anehnya dan membuat sangat prihatin, jika ada satu kantong di pinggir jalan, mengapa ada yang menirukan. Artinya oknum yang membuang pertama secara tidak langsung mendorong orang lain untuk menirukan. Maka bukan pahala baik yang mengalir, adanya dosa yang makin menumpuk sebab menularkan kebiasaan jelek tersebut. 

Oknum tersebut, kadang-kadang melakukannya sebab tidak memiliki lahan untuk pembuangan. Mencari solusi yang instan, sehingga merugikan, banyak orang bahkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu ayo, mencari solusi yang tepat dan terbaik untuk sampah yang dihasilkan. Saya pribadi sangat miris, jika nantinya ada akibat yang harus diterima baik untuk bayinya atau orang tuanya yang melakukan hal demikian. Lewat tulisan ini minimal kita tahu dan belajar, lalu jangan pernah melakukannya.

Selain mengotori fasilitas umum, hal tersebut merusak lingkungan. Lingkungan yang bersih, juga menunjang kesehatan kita. Jika nanti bencana datang, disalahkan Tuhan. Padahal itu akibat perbuatan manusia itu sendiri. Mari lebih bijaksana dan sadar akan cinta lingkungan. 

Salam Semangat

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...