Selasa, 08 Februari 2022

Drama Hari Ini Menjadi Pelajaran



Dikesempatan yang cerah ini, alhamdulillah kami melaksanakan vaksin dosis dua yang diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah. Pukul sembilan kami sudah siap dengan jumlah siswa yang vaksin kali ini, hampir separoh dari jumlah siswa keseluruhan. Kemudian semua guru juga siap dengan segala bentuk administrasinya. Mulai dari data skrining, sertifikat vaksin pertama dan fotocopy KK. 

Seperti biasa semua guru mengkondisikan dengan baik. Ada yang ikut armada madrasah, ada juga yang langsung di antar oleh wali muridnya. Tetapi, ada drama tentang konsumsi, konsumsi untuk guru beres. Namun, untuk siswa, orang yang mengkoordiner tidak masuk alias izin, kemudian wakilnya juga tidak pasrah kepada salah satu dari kita. Menjengkelkan sekali, untungnya masih kebawa meski kena omelan. Padahal wali kelas sudah mempunyai tugas masing-masing.

Drama kedua adalah ada beberapa siswa yang sertifikatnya hilang. Kemudian data skrining, KK tidak lengkap. Walhasil masih mencari dan melengkapi. Drama ketiga yakni sudah di lokasi, sudah antri dengan tertib, tiba-tiba ada yang terlambat saja. Misalnya sudah sudah giliran kelas IV, tapi kelas II masih ada yang baru datang. Sebagai pelayan masyarakat, kita berusaha legowo namun, kasihan anak-anak yang sudah antri duluan. Setelah divaksin anak-anak mendapatkan susu kedelai dan roti. Alhamdulillah tergolong lancar. 

Sebelum itu, juga masih ada drama lagi. Dari sertifikat yang dikumpulkan ada dosis vaksin yang tidak sesuai dengan hari ini, sehingga tidak jadi di vaksin. Ada sembilan anak yang tidak jadi di vaksin. Solusinya, mencari puskesmas terdekat dan konfirmasi terlebih dahulu, jadwal dan dosis yang sesuai di vaksin pertamanya. 

Drama terakhir, saya sudah perjalanan pulang. Tetapi, ada pesan, hp yang sempat dibuat mencari sertifikat siswa yang hilang, baru saya sadari, belum saya kembalikan kepada yang punya. Tetapi sewaktu pinjam saya pasrahkan kepada guru lain, untuk mengurusi sertifikat vaksin yang hilang di aplikasi dan memang beliau bawa alias pindah alih. Alhasil saya kembali lagi ke sekolah, dan memastikan hp itu sudah kembali. Ternyata ditengah perjalanan saya kembali ke sekolah, putrinya sudah kirim pesan bahwa Hp sudah ketemu. Bolak dan balik dong....

Semua drama hari ini menjadi pembelajaran penting bagaimana komunikasi itu bisa di bangun dengan baik dan lebih terbuka. Jangan saling melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain tanpa adanya udzur yang sangat tidak bisa ditinggalkan. Tetap semangat kawan. 

Senin, 07 Februari 2022

Hawa Dan Amira




Hawa dan Amira dua anak yang masih duduk di kelas satu. Kecil-kecil cabe rawit. Hawa dan Amira menjadi salah satu contoh bagaimana anak seumuran dia mampu menghafalkan Al-Qur'an dengan baik. Hampir satu tahun saya bersama mereka untuk belajar menghafalkan Al-Qur'an. Alhamdulillah dalam satu tahun itu progresnya sangat baik. Dua anak ini sudah mendapat empat juz hafalannya.

Awalnya di kelompok tahfidz saya, hanya sekitar lima anak. Karena tahun ajaran baru, pasti ada perombakan dan akhirnya ketambahan dua siswa ini Hawa dan Amira. Kelas satu biasanya melancarkan di juz tiga puluh. Namun, dua anak ini cukup cepat menghafalkannya dan sudah bisa membaca. Sebab menghafalkan Qur'an kalau tidak bisa membaca itu kesusahan. Meski ada metode yang menafikan hal tersebut, misalnya hanya bermodal mendengarkan.

Tujuh anak yang saya dampingi di program tahfidz di lembaga ini, saya sangat mengacungi jempol. Ada empat anak dari kelas dua, Aniqoh, Atika, Alya, Vallen dan satu anak kelas empat Nabila. Mereka sudah disiplinnya luar biasa. Saya terlambat lima menit saja, mereka sudah mulai nderes atau murojaah di hafalan yang sebelumnya. Misalnya nderes/murojaan di juz tiga puluh, juz satu atau juz dua. Kemudian ada satu anak yang membuka Qur'annya dengan tujuan jika ada yang kurang tepat. 

Tahfidz di lembaga kami bukan ekstrakulikuler, namun tahfidz adalah intrakulikuler yang merupakan program unggulan dan wajib diikuti semuanya. Baik gurunya maupun siswanya. Gurunya pun, juga ada hari untuk setoran hafalan minimal seminggu sekali. Kemudian, lulusan di Madrasah minimal mempunyai hafalan sebanyak enam juz. Faktanya berkata lain, di lulusan pertama Alhamdulillah sudah ada yang mencapai sepuluh juz. Kemudian di lulusan kedua sebelas juz. Dan angkatan ketiga tahun semoga sudah ada yang mencapai lima belas juz. 

Bukan hanya branding lembaga tahfidz tapi ini memang sesuai di lapangan, semua siswa di sini mampu menghafalkan Qur'an. Meskipun madrasah ini masih tergolong baru, kami selalu optimis dan mengoptimalkan segala potensi yang ada. Tentu, tidak bekerja sendiri, melainkan dengan selalu kompak dan bersama-sama mewujudkan generasi unggul secara prestasi akademik dan Qur'ani. 

Malang Kota Penuh Cerita


Kurang lebih enam tahun di kota bunga ini. Semua sudah tahu kita ini yang memiliki banyak taman, dominan bersuhu dingin, memiliki banyak tempat wisata, memiliki banyak tempat kuliner, mall, plasa dan tak kalah penting kota ini juga kota pendidikan. Pasalnya di kota inilah banyak berdiri kampus baik swasta atau negeri.  Ada tiga kampus negeri yang ternama dan tentu dengan jumlah mahasiswanya yang banyak. Dimana kota ini? Ya betul ini adalah kota Malang.

Masih ingat, dulu tak mau kuliah di kota ini. Namun, garis Allah berbeda, semakin fanatik maka kita akan di dekatkan, dengan maksud dan tujuan tertentu. Salah satunya mengenal seluk beluknya. Kemudian di kota inilah saya banyak menemukan banyak pengalaman.

Berangkat Sabtu, pukul delapan pagi. Saya berkesempatan kembali untuk berkunjung lagi, untuk refreshing sebagai self reward dan utamanya jenguk adik. Sebab adik masih di Malang, menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang. Senangnya, bisa mengunjungi kota ini lagi dan bertemu adik. Setelah hampir tiga tahun setelah menjadi alumni kampus UIN, baru kali berkunjung. Tetapi yang membuat kurang yakni, belum ada waktu bertemu teman-teman dekat yang berdomisili di Malang, seperti sahabatku Firda, Mbak Nur, Mbak Diana dan masih ada lagi lainnya. 

Alhamdulillah bertemu adik, dan makan bersama lalu sisanya buat jalan-jalan. Janjian di depan rektorat lama kampusnya. Dan kita pergi bersama, sepanjang jalan di Malang kadang hujan, kadang terang, nah ketika sama adik ternyata hujan deras turun. Makannya kita harus siap sedia jas hujan. 

Kita bertiga berkuliner, karena kuliner salah satu tujuan ke kota ini. Dan lagi-lagi uniknya menemukan sambal serumpet. Waw...istimewa rasanya, pedasnya sangat nendang. Dengan ayam penyetan dan udang. Disajikan dengan piring dari lempung yang dipanggang di bara api. Kami bertiga langsung berkeringat panas pedas jadi satu. 

Setelah selesai berkuliner, adik berpamitan balik. Saya dan suami pun kembali melanjutkan tujuan selanjutnya. Dan sampai malam, setelah sholat magrib kita bertolak dari kota Malang. Konsep jalan kali ini santai, sehingga kami berkendara pun sering istirahat di mini market, ngopi, ngemil, ke masjid sekedar untuk istirahat. Alhamdulillah sampai di rumah pukul setengah sepuluh malam, dan istirahat. Manfaat dari berkunjung di kota Malang ini adalah memberikan rasa senang tersendiri, self reward, dan memberikan semangat baru untuk aktivitas selanjutnya. 

Terima kasih kota Malang dengan segala ceritaku di kota ini.

Foto: Sambel serumpet

Minggu, 06 Februari 2022

Try Out Perdana




Try Out menurut bahasa artinya adalah uji coba sebuah ujian. Seminggu ini di kelas VI kami akan melaksanakan Try Out Mandiri, dengan mata pelajaran umum. Try Out ini sebenarnya seperti ulangan harian, latihan dan bertujuan membiasakan kepada siswa kelas akhir yakni kelas VI  bagaimana bentuk soal, management waktu dalam mengerjakan dan tentu kemampuan akademiknya. Kelas sangat kondusif semua terlihat fokus. Hari ini jadwalnya adalah Matematika. Jumlah soalnya adalah empat puluh soal dengan waktu seratus dua puluh menit. Harusnya cukup di waktu sembilan puluh menit, karena ini latihan perdana sengaja kami berikan waktu dua jam.

Matematika menurut sebagian siswa kami salah satu pelajaran yang sukar. Sebenarnya modal dalam belajar itu adalah latihan soal dan memahami empat dasarnya. Yakni mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian. Kemudian di butuhkan suatu pemahaman dengan rumus, baik bangun datar dan bangun ruang.

Siswa kami juga mengutarakan materi di Matematika yang paling mudah adalah pengolahan data, yang disajikan dalam tabel, diagram lingkaran, diagram batang dan yang lainnya. Mereka juga sudah faham jika ada istilah Mean, Modus, Median. Namun, mengapa konsep dasar utamanya mereka sering miskomunikasi bahkan tidak faham sama sekali. 

Sebagai guru kelas, saya tidak malu dan tidak sungkan sharing kepada rekan kerja yang kebetulan background kuliahnya memang Matematika. Bagaimana cara mengajarkan, menjelaskan agara siswa kami benar-benar faham. Sekuat tenaga dan semaksimal mungkin menggunakan metode, media dan strategi jika dasar keempat dalam Matematika di kelas bawah dia tidak matang dan tidak faham itu akan sangat sulit di kelas atas untuk memecahkan masalah. Apalagi bentuk soal cerita yang banyak memerlukan pemahamannya. Lalu tidak mau berlatih menyelesaikan soal.

Hari pertama Try Out sudah terlihat jelas di wajah mereka, dan tatapan kosong ke atas atau ke langit-langit ruangan. Ada yang entah melihat ke soal tapi pensilnya tak kunjung jalan untuk menuliskan satu angka pun. Ada yang hanya membaca dan membolak balik kertas soalnya. Seakan menggambarkan, soal ini maunya apa dan dibawa kemana. Ujung-ujungnya cap-cip-cup menghitung kancing baju untuk menjawabnya sebab bentuk soalnya pilihan ganda.

Ada tiga kertas dimeja mereka masing-masing. Satu soal, lembar jawaban dan lembar terakhir adalah kertas coretan untuk menghitung. Saya belajar dari guru saya di Madrasah Ibtidaiyah dulu, selain diperiksa lembar jawaban, beliau juga akan meriksa lembar coretan hitungan, tujuannya apa? Untuk mengetahui sebatas mana ia memahami materi dan soal yang dikerjakan berapa persen ia kuasai dan dibandingkan yang mengarang jawaban dengan cap-cip-cup.

Semoga anak-anak selalu belajar akan Matematika dengan banyak berlatih dan memahami. Tanpa merasa sukar dan jika sukar tidak untuk dijauhi bahkan tidak di pelajari. Jangan sampai. Semua mata pelajaran semua penting dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mari terus belajar dan belajar tanpa lelah.



kisah Cinta Dan Persahabatan Zoya




Last Part 4

Usut punya usut, ternyata Hubi sudah pernah ke rumah Zoya tanpa sepengetahuan Zoya. Hubi pergi ke rumah Zoya dengan Dini. Dengan maksud hanya ingin tahu rumahnya dan bersilaturrohmi. Entah apa yang terjadi. Hubi kedua kalinya pergi ke rumah Zoya tanpa Dini. Dan di momen itulah Hibu megutarakan niat baiknya untuk ke jenjang yang lebih serius.

Hubi bercerita dengan Dini bahwa dia sudah ke rumah Zoya izin ke orang tuanya untuk lebih dekat dengan Zoya. Dini pun seakan hancur lebur mendengar hal tersebut. Karena selama ini yang dekat dengan Hubi itu Dini dari pada Zoya. Sempat berdebat tidak jelas antara Hubi dan Dini sampai tidak selesai dengan baik-baik. Ternyata cinta Dini memang bertepuk sebelah tangan, Hubi hanya menjadikannya partner professional dalam organisasi.

Zoya tidak tahu menahu soal hal tersebut. Zoya hanya ingin hubungan pertemanan dan persahabatan antara dia dan Dini baik. Dini salah faham, dia mengira hal yang dilakukan Hubi adalah permintaan Zoya. Hubi sebenarnya sudah menjelaskannya, tapi Dini tetap menyalahkan Zoya. Perempuan tidak seperti laki-laki yang mungkin lebih rasional. Hubi menyarankan kepada Zoya untuk tenang, dan membiarkan Dini. Sebab Hubi berfikir lambat laun Dini akan menyadarinya. Dan perasaan, hati serta rasa seseorang itu tidak bisa dipaksa.

Sebenarnya hati Zoya sendiri masih belum jelas menjawab akan niat baik dan perasaan Hubi. Hubi cukup sabar menghadapi Zoya, terus dijalani meski tanpa jawaban, dari situlah Hubi berfikir bahwa Zoya mulai nyaman dan tumbuhlah rasa cinta dan sayangnya meski Zoya harus kehilangan keakraban dengan sahabatnya Dini. Bagusnya, Zoya tetap menghormati, menghargai perasaan Dini. Sehingga lebih baik tidak bertemu, jika bertemu harus menyisakan luka dan membuka luka lama. Cukup sambung melalui doa.

Kisah Cinta Dan Persahabatan Zoya

 



Part 3

Dini melihatnya, tapi tak kunjung membalas sapaan Zoya, dan berlalu begitu saja dengan banyak temannya. Zoya merasa tidak enak, kemudian mencoba menelfon Dini. Tapi tidak di jawab oleh Dini. Lagi-lagi Zoya merasa tidak terbebani akan hal itu dan seakan tidak terjadi suatu hal apapun.

Kemudian ada teman Hibu bernama Tomki. Kebetulan Tomki satu jurusan dengan Zoya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Tomki di kelas membisikkan pertanyaan untuk Zoya “Zoy, traktiran pajak jadian, kita tunggu lo!”

Zoya masih menanggapi dengan santai dan tanpa beban, “kamu, tak usah bergosip, ngapain aku jadian, mending langsung nikahlah”

Tomki menjawab “kamu serius ya, sama dia?”

“Dia siapa Tomki?” Tanya Zoya

Tomki menjawab, “semua anak organisasi sudah tahu kamu sama calonmu”

“Lha kok bisa? Harusnya kan aku yang tahu duluan, ngapain anak organisasi, ada-ada aja deh kalian! Sambil terkejut dan sedikit jengkel Zoya menjawab

Tomki berkata “Kamu beneran tidak tahu ya Zoy? Jujur dong”

Tersu saja dikrecoki oleh Tomki

Zoya yang posisi awalnya duduk menjadi berdiri dan menjawab Tomki “Cukup Tom, aku ini masih single, pikiranku sama sekali tidak mengarah ke cowok, aku hanya mikirin kuliahku”

Dua bulan berlalu, Zoya masih belum ada kontak dengan Dini. Namun Zoya, intensitas chatingan dengan Hubi semakin sering. Ada  pesan Tomki yang isinya Dini nitip salam lewat Tomki dengan rekaman voicenote “selamat ya Zoy, kamu memang teman makan teman”. Masih tidak faham, tapi Zoya mulai gundah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dini, intonasinya terlihat sangat marah. Kemudian, Zoya mengajak baik-baik untuk bertemu Dini lewan Tomki, tapi Dini menolaknya.

Usaha Zoya tidak samapi disitu, dia mencoba meminta tolong kepada Hubi untuk mengajak Dini bertemu. Kemudian Zoya, datang belakangan ternyata Dini pun menolaknya dengan tegas. Dini seakan memendam rasa amarahnya sampai untuk bertemu Zoya dan Hubi tidak mau, sekalipun di kampus seklebat Dini terlihat sangat menghindar.

Kisah Cinta dan Persahabatan Zoya

 



Part 2

“Zoya, sudah bangun?” (Zoya tidak serta merta langsung menjawab)

setelah pukul enam pagi Hibu mengiri pesan lagi

“Zoya, kalau ada waktu longgar, mohon di balas ya..” (Zoya, bergumam, kok pesannya tidak seperti biasa) kemudian, Zoya menjawab dengan gaya bahasanya yang akrab seperti biasa.

“Yoi Brow, aku mager nih, tap janjian mau ke Pasar Minggu sama konco-konco persiapan”. Kata Zoya

“Aku gabung ya? Boleh ya…” jawab Hibu

“lha ini cewek-cewek entar kamu cowok sendiri kagak sungkan apa :P” jawab Zoya

“okelah, next time aja, tapi boleh gak aku telfon sebenar ke kamu” kata Hibu

Zoya mulai tahu gerak-gerik Hibu, dibenak Zoya berkata pasti ini mulai tanya-tanya dan kepo tentang Dini, padahal mereka sering bareng kenapa aku yang ditelfon. Pesan Hibu pun tidak di jawab, sampai seminggu berjalan tanpa adanya kabar. Zoya tak ambil pusing, dan Dini hanya satu dua kali memberi kabar kalau dia dan Hibu lagi sibuk di organisasi.

Dua hari setelah Dini menghubungi Zoya, tiba handphone Zoya berdering dan itu telfon dari Hibu, sebenarnya Zoya tak ingin menerima telfon tersebut. Namun, dia khawatir jika terjadi apa-apa kepada Dini.

“Assalamualaikum Zoya” sapa Hibu

“Waalaikumsalam Bro, ada apa tumbenan telfon?” Tanya Zoya

Hibu terlalu banyak basa-basi, sedangkan Zoya tak begitu menanggapi sebab dia sangat cuek dan beum kepikiran akan pasangan. Setelah bercerita kesana kemari, Hubi mengutarakan semua isi hatinya. Zoya masih berfikir dia curhat tentang Dini, yang lebih dekat dengan dia. Zoya yang tak begitu menanggapi dan tidak mau mengganggu pikirannya, akhirnya ungkapan isi hati itu berlalu sebulan tanpa jawaban. Malah Zoya enggan bertemu Hubi, sebab takut akan terbawa perasaan dan kondisi.

Zoya masih nyaman akan dirinya yang single, karena dia mempunyai prinsip jika memang ada seorang laki-laki menyukai atau tertarik, langsung saja datang ke rumah dengan tujuan agar tahu akan latar belakang Zoya sebenarnya. Entah apa yang terjadi, suatu ketika di depan perpustakaan kampus yang megah itu. Dari kejauhan Zoya melihat Dini, kemudian menyapanya “Din…Din..Din”

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...