Rabu, 16 Februari 2022

Bahagia Sederhana

Setiap orang bisa menulis, tinggal mereka mau atau tidak. Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis pasti akan lebih membekas karena ada yang membacanya. Menulis perlu adanya proses yakni dengan selalu menulis dan bersifat longterm. Namun, jika hanya berbicara akan berlalu begitu saja. Dan berbicara lebih mudah, lebih cepat berlangsung saat itu juga.

Perjalanan menulis, saya ibaratkan seperti berjalan. Berjalan pun variatif, ada yang berjalan dengan kaki, dengan kendaraan dengan kecepatan lambat, sedang bahkan kencang, lalu jalannya pun tidak melulu lurus, kadang berkelok kelok, naik turun lalu bergelombang. Begitu juga  dengan mimpi, cita-cita, kemauan, dan keinginan setiap orang pasti berbeda dan bervariatif.

Menulis kali ini menjadi salah satu kesenangan kebahagiaan yang saya miliki dan sedang saya nikmati sebagai proses belajar. Mungkin, hanya menulis, tetapi saya memaknai banyak sekali pelajaran, pengalaman dan manfaatnya di dalamnya. Saya juga berpikir bahwa dengan menulis pasti akan melahirkan sebuah karya.

Tapi bukan semata saya mendewakan diri saya sendiri. Karena siapa saya, saya bukan siapa-siapa. Hanya saja, saya ingin mewujudkan salah satu mimpi dan cita saya. Dan saya ingin mengajak teman-teman dekat saya untuk menularkan hal positif ini yakni dunia literasi dengan menulis.

Ternyata, responnya cukup baik, meski ada yang menganggap hal biasa. Ada Bu Shely, berkata ingin sekali membuat novel. Tapi, ada juga yang bilang "sakjane aku yo iso koyok ngono ae, penak, nanging aku gak iso runtut nulisku", "ngunu ae bangga, mek buku ae". Kalimat demikian, tidak sama sekali saya pikirkan, sudah hal biasa dalam hidup ada suka ada tidak. Dan kita tak bisa untuk memaksakan orang. Tapi saya juga manusia biasa. Tolok ukur bahagia, kesenangan orang masing-masing.  Sekali lagi menulis itu proses, runtut dan tidak sambil berjalan yang penting tetap dilakukan yaitu dengan praktek menulis.

Jadi teringat kutipan dari Jerome sebagai berikut:



Minggu, 13 Februari 2022

PRO DAN KONTRA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

 



Berdasarkan jurnal harian yang telah saya buat, kami sudah melaksanakan enam minggu pembelajaran dengan tatap muka di semester genap ini. Kami sangat senang jika memang ada tatap muka kali ini, sebab di kelas akhir seperti kelas VI ini sangat membantu. Mengingat hampir satu setengah tahun pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh atau daring. Di pembelajaran jarak jauh itu pun, sebagian besar anak-anak tidak maksimal untuk memahami atau menguasai materi pelajaran.

Jumat malam, sekitar pukul sembilan malam saya sudah istirahat dan tidak membuka hp lagi. Sabtu dini hari saya buka ternyata banyak pesan di grup-grup bahwa mulai hari ini harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Otomatis daring lagi, sebenarnya saya menyambutnya dengan rasa yang bercampur aduk, pasalnya anak-anak kelas VI di minggu ini masih melaksanakan Try Out Mandiri di sekolah dan belum selesai, kedua anak-anak sudah mulai terbiasa dengan pembelajaran tatap muka, mulai faham dengan materi dan mereka sangat semangat. Namun, kembali lagi, karena itu semua sudah aturan dan anjuran oleh pemerintah setempat maka, otomatis mau tidak mau harus mengikuti dan menaatinya yakni dengan melaksanakan daring meskipun dengan berat hati.

Di sisi lain, sebagian kawan menyambut dengan senang daring ini. Mereka mempunyai dasar alasan yang kuat, mereka berfikir, musim penghujan yang tidak tentu membuat kawatir akan kondisi kesehatan yang naik turun, seperti sekarang ini maraknya sakit demam dan batuk pilek. Alasan kedua yakni, jam kerja lebih bisa santai, karena tuntutan atau target yang dicapai lebih ringan. Sebagian dari siswa yang berada di kelas akhir seperti kelas VI, juga demikian. Ada yang menyambut dengan senang, sebab semua soal bisa dikerjakan secara bebas di rumah tanpa guru ada yang tidak begitu suka sebab, belum faham materi dan jika menemukan kesulitan bingung akan tanya kepada siapa.

Setiap orang, bebas menanggapi peraturan yang berubah seperti kali ini. Namun terlepas dari itu semua, kita harus ingat ternyata bumi kita memang belum benar-benar pulih. Pandemi yang awalnya saya berfikir dengan perubahan tahun baru 2022 akan pergi, ternyata masih banyak di luar sana yang masih positif covid 19. Jalan satu-satunya adalah kita menerima dengan cara harus usaha dan ikhtiar mencegahnya dengan membentengi kesehatan kita dengan baik dan benar. Lebih disiplin dalam memakai masker, menjaga kebersihan baik di rumah maupun di luar. Sehingga, adanya pro dan kontra pembelajaran jarak jauh harus kita sikapi dengan sangat bijaksana. Demi kebaikan bersama dengan tetap berjuang memaksimalkan pembelajaran.

Pembelajaran jarak jauh seperti kali ini, juga memberikan hikmah yang banyak sebagai seorang pendidik. Salah satunya, seberapa aktif dan kreatifkah kita dalam menggunakan media teknologi untuk sarana belajar mengajar kita. Memantau siswa-siswi kita dalam belajar, mengevaluasi dengan adanya tugas-tugas online. Jangan hanya memberi tugas online, tapi sebagai pendidik tidak ada evaluasinya. Maka tetap jalani dan laksanakan tugas utama kita dengan sebaik mungkin dan niatkan untuk ibadah, insyaallah dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah.

Sabtu, 12 Februari 2022

Mesin Parutku Rusak Di Tengah-tengah Proses Memasak




Hari Minggu, metime bersama keluarga. Salah satunya masak kesukaan keluarga. Hari ini menu sarapannya adalah sego tahu. Sego tahu atau nasi tahu dengan ke khasan keluarga.

Jam tujuh sudah siap untuk sarapan. Sego tahu, tentu disajikan dengan nasi hangat dilengkapi dengan kontimen lain.  Tempe goreng, irisan tahu kecil goreng setengah matang, kacang tanah goreng, irisan bawang merah goreng, kecambah kecil dan irisan daun kecei, kemudian sambel bawang cair, siram dengan kecap dan teh hangat. 

Setelah sarapan baru membuat menu siang. Sekitar jam delapan baru mulai. Dengan menu kalau dalam bahasa Jawa kelan jangan rebung dan koro ose. Saya kurang tahu bahasa Indonesianya mungkin lebih ke lodeh kali ya.

Ketika bumbu sudah siap bahan sudah siap. Salah satu bahan bakunya adalah santan. Kita tahu santan dari kelapa yang biasa harus kita parut dengan mesin. Kalau zaman dulu, pasti di parut dengan alat manual atau lebih ke tradisional.  Dan saya sama sekali tidak terbiasa. Bisa menggunakan tapi tidak maksimal, kalau Umi misal memakai parut tradisional tersebut kelapa itu sampai habis tinggal sisa kecil sedikit banget. Sedangkan saya masih besar udah saya akhiri. Karena takut kena parut tersebut. 

Nah, kali ini berbeda, biasa menggunakan mesin. Tiba-tiba mesin parut yang biasa kita gunakan setiap hari itu, tidak bisa berjalan. Nyala powernya tapi tidak berputar mesinnya. Tidak panik, kalau ada Umi, tapi kali ini Umi sudah ada acara dari pagi sama Abah. Sehingga hari ini masak sendiri. Mau pakai blender juga kekentalan santan akan berbeda. Sebab santan itu setiap perasan dalam Jawa ada namanya, seperti kanil dan gebrah. Santan kanil itu santan yang masih kental biasanya tiga kali perasan saja, dan lebih sedikit. Kalau gebrah santan yang diperas setelah kanil dan biasanya lebih banyak sampai perasan kelapanya agak bening.

Ya sudahlah, sebisa saya menggunakan parut manual tersebut. Saya parut dan parut sebisanya, dan yang penting menghasilkan santan yang cukup buat kuah lodehku. Meskipun sisa-sisa kelapa masih besar-besar. Alhamdulillah lumayan banyak, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lumayan. Dan jangan rebung dan koro ose atau apalah lodeh rebung dan koro ose sudah jadi. Dan so yummy, dengan selera pedasnya.

Oh iya ada tips buat ibu-ibu kalau memasak koro ose, agar masih segar dan warnanya tetap hijau seperti punya saya. Caranya, setelah dibuang ujungnya langsung rebus di air mendidih, setelah empuk, tiriskan baru di cuci di air mengalir. Nah, dijamin koro osenya masih hijau segar. Dan ada rasa krancinya. Selamat mencoba

Jumat, 11 Februari 2022

Berfoto Dengan Bapak Presiden

momen beliau meminta Hp saya untuk dibuat selfi



Masih ingat, sekitar Mei tahun 2017, ternyata saya sudah pernah bersalaman dan berselfi dengan orang nomer satu di Indonesia yakni Bapak Jokowi. Momen itu ketika saya masih mengajar di Malang. Kebetulan ada penyaluran seribu Kartu Indonesia Pintar di Diknas Kota Malang dan sekolah kami SDI Plus Al-Kautsar Malang, mendapatkan kesempatan untuk mengisi acara yakni seni musik dan tari, saya dan Pak Ali mendampinginya.

Pada waktu itu Gubernur Jawa Timur, masih Pakdhe Karwo yang saya ingat beliau berjalan tepat di belakang Pak Presiden dengan paspamres serta pengawalan yang ketat. Sepanjang jalan veteran mulai dari matos ke barat, sudah banyak polisi, TNI guna untuk pengamanan. Selain beliau berkunjung di Diknas Pendidikan Kota Malang beliau juga ke kampus UIN Maliki Malang. 



Kalau melihat di berita google di alamat https://www.google.co.id/amp/s/m.tribunnews.com/amp/regional/2017/05/23/berikut-agenda-dan-rute-kunjungan-presiden-jokowi-ke-kota-malang

diceritakan secara rinci kunjungan kerja beliau. Diwaktu berfoto selfi, itu diantara ibu guru dan para pendamping para pengisi acara saya berada paling depan. Belum ada pandemi, sehingga berkurumun, berkumpul desak-desakan.

Bapak Presiden setelah mengisi acara, kemudian berhenti di hadapanku, dan suatu kehormatan hp saya di minta. Dan beliau jejer tepar disamping saya. Dan beliau mengutus salah satu pampers untuk memfoto. Tapi apa daya, semua ibu-ibu, mamak-mamak bergerombol di belakang saya. Dan secara sigap paspampres menghadangnya. Beliau menyampaikan, sehat selalu semua mohon pamit. Setelah dari itu, rombongan menuju jalan Sumbersari ke UIN Malang.



Di situlah, pengalaman pertama bertemu Bapak Presiden, beliau sangat rapi dan tinggi, sepatu kulit mengkilap, wangi memakai kemeja putih berbalut jaz biru dongker klimpleng, ada bros kenegaraannya. Paspampresnya semua rapi, ganteng, tinggi dan sangat sigap. Hmm, itu cerita masih di ajak selfi, belum secara langsung foto memegang piagam tertentu. Kemudian di abadikan dan disiarkan secara Nasional. 

Oleh karena itu, mari terus bercita-cita tinggi, terus berjuang, tanpa lelah untuk berprestasi di bidang masing-masing. 

Salam semangat. 

Haiah Tahfidzil Qur'an

ini foto bersama, dan nderes di taman lama rektorat kelompok ngaji terkeche pada masanya, sebagian lupa namanya ada Oca krudung kuning, Nuril yang kerudung biru mereka seangkatan sama saya. Sedang yang tiga kakak tingkat.

Sekitar semester tiga kalau tidak salah sembilan tahun lalu. Ketika itu saya mengambil program SYAUQI di Haiah Tahfidzil Qur'an milik kampus UIN Maliki Malang. Di naungan Haiah Tahfidzil Qur'an ini mewadahi, bagi mahasiswa yang sudah maupun sedang berproses menghafalkan Qur'an. Maupun yang akan menghafalkan Qur'an artinya belum sama sekali mempunyai hafalan. 

Sejak mahasiswa baru, sudah di kenalkan dengan program ini, program ini juga merupakan salah satu program dari Ma'had di kampus UIN Maliki Malang. Di dalam program Haiah Tahfidzil Qur'an atau di singkat HTQ, ada program SYAUQI. Kali ini SYAUQI yang ke enam. Program SYAUQI, memanfaatkan waktu liburan kampus, kita tidak pulang ke kampung halaman, atau pun jalan-jalan rekreasi namun, dengan adanya progam ini kita bersama peserta lain masuk semacam ke pondok kilat Qur'an. Liburan di semester genap kampus, pasti dua minggu lebih bahkan hampir satu bulan. Di situlah waktu yang digunakan untuk memperdalam Al-Qur'an, utamanya menghafalkan, kita pun difasilitasi ruang untuk tidur, belajar, nderes, dan di masjid kampus sebagai pusat kegiatan baik Mastar (Masjid At-Tarbiyah) atau Masul (Masjid Ulul Albab) UIN Maliki Malang. 

Pondok kilat Qur'an ini ada program wajibnya seperti sholat jamaah fardhu maupun sunnah, termasuk qiyamul lail pun, juga diwajibkan, ngaji kitab, murojaah bersama. Setelah sholat malam, kita gunakan untuk nderes dan menyiapkan tambahan Qur'an. Guna untuk disetorkan kepada guru atau Ustad Ustadzah yang menyimak kita. Pembagian guru atau Ustad Ustdzahnya sudah terkonsep dengan baik dari awal. 

Mulai dari situlah pengalaman demi pengalaman saya dapatkan. Merasakan kembali nyantri, mondok lagi, tirakat lagi, kemudian merasakan jungkir baliknya bagaimana harus tetap istiqomah, semangat mengukir hafalan demi hafalan. Jangan salah, meski terlihat hanya ngaji dan menghafalkan juga ada evaluasinya, wisuda dan tentu ada apresiasi bagi yang terus istiqomah. Di Uin Maliki Malang sudah biasa, lulus menjadi mahasiswa S1, Al Qur'an nya pun juga hatam bilghoib. Kalau zaman saya dulu, wisuda Qur'an ada setiap tahun dengan kelipatan juz lima. Artinya setiap lima juz bisa ikut wisuda itu pun juga harus mengikuti seleksi melalui banyak ujian. Kurun waktu delapan semester atau empat tahun hitungannya sudah hatam tiga puluh juz. 

Bagi saya sudah sangat beruntung bagi saya bisa bergabung di keluarga Haiah Tahfidzil Quran. Di situ jugalah saya bisa belajar berorganisasi, karena banyak sekali cabang-cabang keilmuan Al Qur'an. Bahkan ada grup paduan suaranya, yang dalam setiap acara besar UIN Maliliki Malang juga ikut ditampilkan dan juga menyanyikan mars Haiah Tahfidzil Qur'an.

Skenario Allah sangat indah Alhamdulillah sampai sekarang saya diberi kesempatan untuk belajar, belajar dan terus istiqomah dengan Al Qur'an. Semoga selalu memberikan manfaat dan syafaatnya Qur'an kelak nanti dan menjadikan suatu amal ibadah. Aminn

Salam semangat

Belajar Mc Bersama Bapak Izzul Haq



Master Of Ceremoni atau Mc atau pemandu acara, pembawa acara apapun istilahnya pada intinya sama. Master Of Ceremoni adalah pembaca suatu acara. Di pondok dulu, saya sering di paksa untuk menjadi pembawa acara. Sampai pada suatu kesempatan saya diikutkan seminar besar. Dan itu saya ikuti ketika masih kelas sepuluh di bangku SMA. 

Banyak hal yang saya pelajari, lalu kesempatan lagi masih tentang membawa acara. Di semester tiga awal di kampus, berkesempatan bertemu tokoh publik figur di dunia televisi nasional. Beliau yakni Bapak Izzul Haq. Di program TVone Damai Indonesiaku, beliau pemandu acaranya. Dan saya masih ingat, beliau ke Malang, sebab Damai Indonesiaku dilaksankan di UMM dengan salah satu narasumber pada waktu itu yakni Alm K.H Hasyim Muzadi. 

Nah, sebelum itu, beliau mengadakan seminar di UIN Malang, tepatnya di Fakultas Psikologi. Entah, saya lupa persisnya, saya bisa menjadi salah satu peserta di sana. Kemudian beliau menyampaikan materi-materinya dan memberikan contoh membawakan suatu acara. Kemudian dipandu moderator, saya mengacungkan tangan, awalnya mau bertanya dan beliau meminta sekalian untuk praktek membawakan acara. 



Dan saya di syuting layaknya pembawa acara TV beneran. Lalu, dimintai pendapat dan lain-lain sampai saya mendapatkan hadiah kaos yang bertanda tangan beliau. Kemudian berfoto bersama bahkan dengan semua krunya. Beliau sangat hamble, dan sangat mengapresiasi siapapun yang ingin bertanya dan mencoba praktek meski ada peserta lain yang blepotan karena grogi. 



Yang tidak menyangka lagi. Pada waktu itu, orang rumah digegerkan ada saya di tayangan TvOne. Salah satu yang melihat Tv tersebut adalah tetangga saya namanya Mbak Kukus. Mbak Kukus, keesokannya bilang ke ibu saya, dan jadi pembahasan ibu-ibu di toko sayur. Padahal gambar saya muncul tidak sampai lima menit nama juga tertulis jelas Filza Mahasiswa UIN Malang. 

Mengingat sedikit masa kuliah senangnya mencari pengalaman baru di berbagai kegiatan positif. Hingga dari pengalaman-pengalaman tersebutlah menjadi modal untuk membentuk karakter mental kuat. So, jangan meremehkan setiap perjalan hidupmu, karena tidak menutup kemungkinan kamu yang sekarang adalah versi terbaikmu dari hasil kamu yang dulu banyak belajar. Dan jangan lelah untuk terus belajar dan belajar. 

Rabu, 09 Februari 2022

Cerita Mikrofon


Mikrofon merupakan salah satu alat elektronik yang berfungsi untuk mengeraskan suara. Sebenarnya dari fungsi inilah yang akhirnya memiliki daya guna yang banyak, diperlukan dan dibutuhkan dalam suatu acara tertentu. Seperti, penyanyi pasti akan membutuhkannya artinya salah satu kebutuhan pokok atau primernya. Majlis ta'lim kalau jamaahnya banyak juga memerlukannya. Pemandu acara besar, upacara dan acara-acara keagamaan misalnya Maulid Nabi Muhammad, Isra Mi'raj, Jantiko, Yasinan dan lainnya juga tak bisa lepas dengan alat yang satu ini.

Mikrofon sendiri juga akan membawa kepada banyak cerita bagi setiap orang yang menggunakannya. Termasuk saya sendiri, dan ini memang berawal dari pengalaman sendiri. Setidaknya saya mengelompokkannya ada tiga macam orang ketika memanfaatkan serta menggunakan mikrofon. Kelompok pertama, ada orang yang jika tidak dipaksa maka enggan menggunakannya, faktornya pun banyak seperti tidak percaya diri, grogi dan merasa tidak bagus suaranya, malu dan sebagainya. 

Kelompok kedua, orang yang sangat fleksibel  menggunakan mikrofon, artinya dia sudah terbiasa menggunakannya, terlatih, dan berpengalaman biasanya orang di tipe ini mau ada mikrofon atau tidak dalam suatu acara, akan biasa saja. Sebab dia berpikir, keberadaan mikrofon pasti disesuaikan dengan acaranya. Kalau ada ya digunakan jika dia mengisi acara, jika tidak ada ya tidak masalah. Konten yang disampaikanpun meski suara pas-pasan karena pembawaannya enjoy, tentu akan mudah diterima.

Kelompok ketiga, gila akan mikrofon. Gelisah jika dalam suatu acara tidak memegang, padahal bukan tugasnya, bingung sendiri. Salah tingkah, kalau ada teman lain yang memegang, seakan tidak sabar, ini giliranku, kenapa masih kamu pakai. Dan lebih sukar di ajak bergatian jika mikrofon hanya satu sudah terlanjur dipegangnya. Intinya, ingin menguasai suara dan agar di dengar oleh sekelilingnya. Lalu, memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Meski suara pas-pasan langsung terjang, volumnya dinaikkan, seakan tidak peduli telinga sekitar.

Jika cerita mikrofon itu demikian, minimal kita bisa belajar, bahwa siapapun yang memegang mikrofon, menurut saya akan selalu memberikan efek kepada pendengarnya dan apapun konteksnya. Sehingga, kita perlu banyak belajar. Grogi adalah proses alami untuk belajar, percaya diri boleh tapi jangan berlebihan dan tidak perlu grusa grusu jika menggunakan mikrofon. 

Salam semangat

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...