Minggu, 25 September 2022

Adrenalin Menulis


Adrenalin sebetulnya adalah suatu hormon yang membantu tubuh untuk menghadapi reaksi atau kejadian sesuatu yang menegangkan. Nah, dari hormon tersebut ketika ada rasa takut, resah, tidak percaya diri, lalu rasa betul atau salah  akan muncul di benak ketika menulis. Perasaan itu muncul dan menguji kembali. Perasaan yang naik turun ketika menulis, secara tidak langsung juga akan mempengaruhi. Terlepas dari konteks yang ditulis. 

Mood dalam menulis juga sangat perlu dibangun. Pada setiap orang mood yang dihadapi berbeda, serta solusinya pun beragam. Dianalogikan bahwa ketika jatuh cinta pertama kali pada seseorang pasti bertemu berbunga-bunga dan mendebarkan. Namun, akan berbeda, jika cinta sudah tumbuh kepada rasa sayang yang mendalam. Bagi orang tersebut, pasti mencari bagaimana merawat rasa sayang tersebut dan agar tetap memiliki rasa perasaan dan cinta seperti pertama kalinya.

Menulis juga demikian, perasaan yang bermacam-macam yang dihadapi juga luar biasa. Baik dari diri sendiri atau dari orang lain. Jika tulisan yang sedikit yang membaca perasaan atau benak berkata "tulisanku sepertinya tidak manfaat atau tidak penting" lalu jika tulisan yang membaca banyak "ternyata, keren ya tulisan ini" tapi keesokannya  tidak menulis, hal ini sangat disayangkan. 

Demikian rumitnya perasaan kita hadapi, hendaknya dihempas jauh. Kadang ada perasaan "aku adalah orang begini" menuntut untuk ideal tapi tak kunjung menulis. Letakkan dan jauhkan rasa "aku" langsung saja menulis. Perkaya pengetahuan dengan membaca pilih topik yang benar untuk menulis.

Jika menulis masih di tahap tentang pengalaman, bagi saya tidak masalah. Tetapi, lambat laun akan meningkat kemampuan menulis tersebut. Jika belum sampai di tahap lebih tinggi, jangan hanya berpangku tangan. Bangun semangat dan lakukan kegiatan yang positif agar menambah wawasan yang lebih luas. Mari terus hadapi adrenalin tantangan dalam menulis dengan melakukan menulis yang tiada henti.

Salam semangat menulis

Jumat, 23 September 2022

Pengamalan Sila Keempat Pancasila


Musyawarah sepertinya istilah tersebut tidak asing bagi kita warga Indonesia. Apalagi dalam ideologi Pancasila di sila keempat dengan simbol kepala banteng. Saya sangat membenarkan dalam kehidupan betapa pentingnya musyawarah untuk mencapai mufakat. 

Pembelajaran PKN dalam tematik sejak dini diajarkan Pancasila dan pengamalannya. Tidak hanya hafal bunyi silanya dan simbolnya. Hal tersebut, bertujuan agar kita semua sadar, nilai-nilai dalam sila Pancasila memiliki makna dan diamalkan di kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam proses pembelajaran, penting dan sangat perlu ada metode diskusi, tukar pikiran dan pendapat. Serta bagaimana menanggapi jika tidak setuju atau menghadapi suatu perbedaan.

Hidup bersosial bersama orang banyak, berinteraksi dengan masyarakat lalu berorganisasi tentu banyak perbedaan serta ide. Sehingga, betul sekali jika musyawarah dalam hal demikian adalah keputusan tertinggi dalam mengambil kebijakan. Sekalipun hanya dua orang, dalam dua orang tersebut pasti berbeda ide serta pikiran maka perlu berkomunikasi, diskusi dan musyawarah.

Berumah tangga, suami istri pun tidak lepas dari komunikasi, diskusi dan  musyawarah dalam menyikapi suatu kondisi bahkan menyepakati suatu perbedaan. Bayangkan saja, di dalam rumah tangga tanpa adanya komunikasi, mungkin sangat tidak nyaman. Ada yang berkata bahwa salah satu kunci dalam rumah tangga adalah komunikasi.

Tanpa kita pungkiri pada sisi manusia pasti ada sisi egoisnya meskipun dengan kadar yang berbeda. Namun, jika sudah bermasyarakat dan hidup secara bersama dan berinteraksi sosial dengan orang banyak, hal tersebut harus bisa ditahan dan dikendalikan oleh diri kita sendiri. Sangat mudah berkata "jangan egois, aku lo betul," kadang tidak berkaca, sebenarnya betapa lebih egoisnya yang berkata tersebut. Menganggap pendapat atau idenya paling benar, diantara orang yang lebih berpengalaman dan mengalami secara langsung. Dan biasanya orang seperti ini, menganggap remeh tentang apa itu diskusi, musyawarah dan koordinasi. Segalanya diputuskan atas kemauannya sendiri.

Hal demikian, rasanya kurang elegan,  kurang bijak jika dalam urusan yang menyangkut orang banyak. Maka, jangan malu berpendapat jika pendapat kita tidak disetujui, jangan mencoba memutuskan sendiri dan atas dasar menurut "saya paling benar" jika menyangkut organisasi. Mari terus belajar, menjadi manusia yang lebih bijaksana dan peka terhadap lingkungan dan sosial.

Salam Literasi

Senin, 19 September 2022

Berjabat Tangan Dengan Kontak Mata


Itulah hal pertama kali terfikir, setelah padatnya kegiatan ini. Sebetulnya tidak selesai satu tulisan langsung posting. Ada beberapa yang mengendap belum sempat posting. Mungkin tulisan kami tidak begitu penting untuk sebagian orang. Bagi kami tidak masalah, hak setiap orang memberikan pendapatnya.

Kali ini kami akan menuliskan tentang "tatapan orang ketika mushofahah atau bersalaman atau berjabat tangan". Sepertinya hal sepele ketika bersalaman atau berjabat tangan dengan sesama. Kalau dalam muslim mungkin, yang tidak bermahrom, lebih tidak dianjurkan untuk berjabat tangan secara langsung. Namun, ketika sama laki-laki atau sama perempuannya diperbolehkan.

Hal yang kadang kita kurang memperhatikan, ketika berjabat tangan atau bersalaman hanya sekedar mengulurkan tangan. Padahal dalam berjabat tangan bukti kita menghormati dan menghargai lawan kita interaksi adalah dengan tatapan atau kontak mata. Kadang berjabat tangan, tapi masih belum menatap atau memandang yang mengulurkan tangan. Hal demikian ini kurang etis jatuhnya lebih ke kurang sopan.

Saking asyiknya ngobrol, ketika teman datang dan berjabat tangan tidak sempat menatapnya. Kalau terjadi demikian, hendaknya kita hentikan sejenak obrolan kita. Setelah berjabat tangan, boleh dilanjutkan obrolan asyiknya. Jika bertemu yang demikian, hendaknya kita ingatkan dengan baik. Jika tidak dihiraukan, yang penting sudah kita ingatkan. Itulah mengapa pentingnya akhlak, tata krama dan selalu tawadhu' dengan siapapun. 

Senin, 12 September 2022

Apakah Kurikulum Merdeka Bisa Diterapkan Di Madrasah Pedesaan?


Kurikulum merdeka yang penerapannya hari ini, ditingkatan Madrasah Ibtidaiyah belum sepenuhnya bisa dikatakan merata. Sebagai contoh di Kabupaten Tulungagung saja, pada penerapan Kurikulum Merdeka hanya Madrasah tertentu yang ditunjuk untuk menerapkannya. Hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya, kesiapan Madrasah itu sendiri dan tenaga pendidik serta anggaran untuk keperluannya.

Kurikulum Merdeka sebetulnya sangat baik, dalam memberikan makna belajar yang lebih dalam untuk peserta didik. Di kurikulum ini meleburkan arti sebuah angka atau nilai yang besar. Artinya tetap akan ada nilai, tapi bukan suatu tujuan utamanya. Mengingat semua lebih kepada praktek di lapangan. Hal inilah membutuhkan fasilitas yang baik serta tenaga pendidik atau guru yang benar-benar menguasai materi, tidak hanya teori namun juga pernah melakukannya. Guru juga hanya sebagai fasilitator. Yang berperan aktif adalah peserta didiknya.

Sebetulnya madrasah yang berada di daerah pedesaan memiliki keuntungan tersendiri dalam menerapkan kurikulum ini. Salah satunya dengan capaian pembelajaran yang mengangkat budaya lokalnya. Lalu di daerah pedesaan yang memanfaatkan misalnya karena keadaan geografisnya dataran tinggi akan lebih kepada cocok tanamnya. Semuanya bisa dimanfaatkan, dari segi ekonomi seperti di desa kami, banyaknya industri atau gilingan tebu, untuk menghasilkan gula merah. Sangat bisa di manfaatkan untuk pembelajaran.

Hanya saja, sebagai pendidik sudahkah siap untuk terjun di lapangan guna memfasilitasi peserta didik kita?

Sebagai pendidik kadang juga dilema, ketika sudah matang di kurikulum sebelumnya, lalu ada perubahan, rasanya di awal pasti membuat pusing dan bingung. Di mulai dari mana dan akan mengarah kemana. Seakan jika menteri pendidikan ganti, kurikulum juga ikut ganti. Lalu kapan, pendidikan akan jalan secara mulus dan bisa maju?

Jawaban utamanya berada di dalam hati nurani para pendidik. Sampai di mana dan bagaimana kita mengajar generasi bangsa ini. Kurikulum boleh ganti, namun jangan lupa akhlaqul karimah dan karakteristik harus tetap nomer satu. Kembali pada judulnya, jawabannya adalah kurikulum merdeka menurut kami, tetap bisa saja diterapkan  di pedesaan. Namun, harus siap dari segi tenaga pendidiknya dan fasilitas yang mendukung dalam pembelajaran. Tentunya, penerapan di kurikulum ini harus ada tahap persiapan yang sangat matang, tidak serta merta seperti sulapan "simsalabim" langsung jadi.

Salam semangat 

Membuat Jamu Tradisional


Tahu hanya sebatas teori akan jauh lebih berbeda dibandingkan tahu dengan mengalaminya langsung. Seperti pembelajaran kali ini. Setelah tahu teori akan kandungan warna serta zat dan manfaat rempah-rempah. Lalu berbagai jenis rempah-rempah, kami praktek langsung membuat jamu dari rempah-rempah tersebut.

Sebetulnya pada pembelajaran ini diibaratkan sambil menyelam minum air. Ada dua indikator yakni menuliskan kalimat prosedur dan laporan. Format-format dalam penulisannya tentu sudah kami sampaikan terlebih dahulu. Semua siswa sangat antusias. Mereka mengaku, sering mendengar nama rempah tersebut, tetapi tidak tahu cara membedakan sebab bentuknya yang hampir sama.

Ternyata, setelah dikupas dan dicuci dengan bersih, mereka mengaku tahu dari jenis baunya, warna dan rasanya. Mereka juga menyimpulkan secara mandiri, kandungan warna yang didapatkan. Seperti kunyit akan berwarna kuning, lalu kencur lebih ke warna putih dan ada daun mint seperti warna teh. Jeruk nipis, garam, madu, asam jawa untuk bahan campurannya.

Mereka bekerja secara kelompok ketika dalam proses pembuatannya, hampir semua kelompok kompak dan saling mengisi. Namun, untuk bagian mengupas tetap gurunya, sebab tidak tega dengan benda tajam. Lalu untuk menyalakan blender juga demikian.

Perlu kita tahu, jamu tradisional seperti kunyit dan beras kencur, wedang jahe manfaatnya sangat banyak. Salah satunya menyegarkan badan, menambah imunitas tubuh, mencegah pusing, meredakan batuk dan mencegah perihnya lambung. Dari kedua jenis jamu yang mereka buat, mereka lebih suka jamu beras kencurnya. Mereka merasa lebih segar dibandingkan jamu kunyit yang sedikit memiliki rasa petar.

Semoga pembelajaran kali ini memberikan manfaat yang dalam bagi mereka semua. Dan kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerja samanya. Semoga ke depan kelas IV, semakin kreatif dan pembelajaran yang diterapkan lebih bermakna. Salam terus semangat dan kompak untuk kelas IV, Excelent, Smart, and Religius. 

Sabtu, 10 September 2022

Kami Mengidolakannya


Saya pernah menuliskan sebuah puisi. Puisi tersebut untuk guruku yang menjadi inspirasiku hingga saat ini. Mungkin beliau tidak pernah merasa, jika sosoknya bisa menginspirasi murid seperti saya. Beliau sangat tawadhu'. Sebab, saya diwaktu itu kenakalan, kesalahan bahkan kekecewaan pernah saya buat untuk beliau. Normalnya, jika mengidolakan sosok guru, harusnya terus bagaimana mendapatkan label "baik" di mata beliau.

Masih saya ingat, ketika beliau menjelaskan dengan gamblang "Keteladanan Kepemimpinan Umar Bin Khottob" beliau awalnya menjelaskan dengan suara keras dan tegas namun tiba-tiba suaranya parau dan menangis. Satu kelas bingung, apa yang terjadi. Pada saat itu, hanya bisa penasaran mengapa hal tersebut membuat beliau menangis.

Penasaran itu, terus saya cari dan mencoba mencari solusi, tapi saat itu masih ada gengsi untuk bertanya langsung. Saya baca dan baca tentang Khulafaurrasyidin, satu persatu perjuangan sahabat-sahabat Nabi tersebut. Ternyata, saya menemukan jawaban dari hal itu, kurang lebih lima hari. Beliau yang tawadhu' dengan siapapun, ternyata mempunyai kepekaan hati yang amat luar biasa. Rasa syukur atas segala yang dimiliki tidak membuat beliau terlihat sedih atau bahagia, beliau selalu terlihat biasa bahkan sebetulnya beliau luar biasa prestasinya dan pribadinya. Seakan suasana apapun yang beliau miliki tetap menjadi dirinya sendiri. 

Sekarang papan, sandang dan pangan sepertinya bukan hal yang sulit didapatkan jika kita mau berusaha keras dan ikhtiar. Namun, mengapa norma, moral bahkan karakter bisa terkikis oleh perkembangan zaman? Sosok kepemimpinan juga demikian. Mungkin jawaban yang saya dapatkan demikian. Menjadi pemimpin dengan tetap menjadi sosok sederhana, bahkan meninggalkan jabatan formalnya hanya untuk kemaslahatan umat. Dan saya rasa guru saya menjadi sosok yang begitu. 

Semoga semua guru kami diberikan kesehatan, umur panjang serta keberkahan dan tetap menjadi pejuang untuk mendidik anak bangsa dari generasi ke generasi. Salam ta'dzim kami untuk panjenengan.

Selasa, 06 September 2022

Mengajarkan Seni Musik



Catatan harian ketika mengajar, dalam setiap catatan di form jurnal pasti akan menemukan keunikan dan persoalan di dalam proses mengajar. Acuan materi serta indikator pencapaian, seakan harus tercapai saat itu juga. Padahal, jika kita temukan satu atau dua lain hal akan menemukan sebuah kendala.

Salah satunya seperti menyanyikan lagu daerah dan lagu nasional. Lagu daerah maupun lagu nasional harusnya menjadi hal biasa bagi pelajar. Sebab kedua lagu merupakan bukti kekayaan budaya yang dimiliki negara Indonesia. Dan seharusnya juga menjadi kewajaran jika dikalangan mereka hafal dan sangat tahu asal lagu daerah tersebut.

Namun, hal tersebut aneh dan asing ketika mereka tidak mengenalnya. Bahkan sama sekali belum mendengarkannya. Mirisnya lagi, mereka lebih hafal lagu bahasa asing dengan tema percintaan lengkap dengan koreografinya. Rasanya, sebagai pendidik, hal ini membuat sedih yang bukan kepayang.

Notasi angka dalam tingkatan nada solmisasi menjadi bagian penting untuk mempelajari lagu-lagu tersebut. Hal ini sebagai dasar utama, agar mereka faham ketukan, untuk masuk ke sebuah nada nantinya. Semua strategi dalam mengajarkannya pun kami keluarkan, namun tetap saja sulit untuk bisa diterima, sebab masih pertama bagi mereka mempelajari hal ini. Dan solusi utamanya, mendengarkan dulu lirik yang ada lalu menirukan sampai tiga kali. Hasilnya, suaranya pecah dan sumbang ada falsetnya dalam satu kelas. Intinya tidak begitu harmoni.

Lucunya lagi, nada yang diambil juga belum kompak, ada yang harusnya tinggi mereka rendah atau sebaliknya. Inilah seni mengajar, jika kita spaneng, mengajarnya kaku hanya emosi yang muncul. Tetapi, jika mengajarnya diniati senang, anggap semua ini adalah hiburan, pasti akan merasa terhibur.

Semoga kedepannya generasi muda semakin mencintai negerinya dengan merawat serta melestarikan budaya yang mereka miliki. Tidak hanya hafal lagu daerah atau nasional, yang utamanya makna di dalam lagu tersebut minimal faham serta tahu asal daerah lagu tersebut. Mari, semua pendidik lebih semangat untuk berjuang demi anak bangsa. Salam semangat salam literasi

Kamis, 01 September 2022

Pengamatan Dari Sebuah Peristiwa



Perbandingan mental dan karakter generasi ke generasi pasti akan menemukan banyak perbedaan. Kali ini kami mencoba mengamati lalu menuliskan dengan dasar hasil observasi kecil. Mengapa saya katakan observasi kecil, sebab observasi yang kami lakukan hanya melibatkan orang yang tidak banyak lalu berasal dari lingkungan kami berada. Waktu yang kami gunakan juga tidak sampai berbulan-bulan. Kurang lebih dua minggu.

Ada beberapa alasan yang mendasari kami menulis hal ini. Pertama adalah ada peristiwa ketika anak berselisih dengan teman, tapi orang tuanya ikut-ikutan, padahal hanya masalah kecil. Kedua, banyak anak yang hanya berani berpendapat atau tampil ketika dengan orang tuanya saja. Ketiga, gaya hidup anak yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Ternyata, di lapangan kami menemukan permasalahan seperti nomer satu, bisa disebabkan oleh kurangnya kepercayaan orang tua kepada penilaian orang lain kepada anaknya, atau sebaliknya terlalu percaya kepada anaknya. Sebab di rumah dia tergolong anak yang taat, namun sebetulnya kelakuannya diluar sungguh berbeda. Tetapi, orang tua tidak terima jika anaknya dinilai tidak benar. Lalu, kemungkinan ketiga, disebabkan pola asuh nenek kakek, yang mengaggap segala hal yang dilakukan cucu itu benar. Sehingga dia selalu meminta perlindungan orang lain, mana kala ada permasalahan. Banyak orang menganggap hal ini remeh, nanti ketika dewasa jika tanpa treatment yang baik anak seperti ini akan menjadi pribadi yang sangat "megelne, nganyelne serta egois dan sak karepe dewe" 

Permasalahan kedua, mental berani untuk berkompetisi, jangan hanya ada ketika di depan orang tua. Menumbuhkan keberanian di setiap lapisan keadaan itu perlu. Artinya kita harus kuat atas nama kita sendiri, mempertanggung jawabkan serta menaruhkan nama kita sendiri. Boleh lemah tapi bukan melulu merasa kalah. Lalu berani membully teman karena Bapaknya juga guru dimana dia disekolahkan. Ini berarti kan kurang baik dari segi mentalnya. Lagi-lagi merasa dilindungi, dan mendapat keuntungan besar.

Lalu permasalahan ke tiga, gaya hidup. Gaya hidup yang mereka tiru adalah di sosial media, yang semuanya apik, motor apik, baju bermerk, ngemall belanja lalu pesan minuman di cafe bermerk dan hits  atau nongki tanpa beban. Padahal di rumah, keadaan ekonomi keluarga pas-pasan bahkan dia sendiri belum bekerja. Fenomena seperti ini, sedikit norak menurut saya. Sebab endingnya akan memaksakan demi gengsi yang tidak tahu diri terus diikuti.

Oleh sebab itu, apa solusinya dari tiga masalah tersebut? Salah satunya dekatkan diri kepada keluarga inti terutama Ayah, Ibu, kakak atau adik. Lalu belajarlah mandiri, meskipun berkecukupan, cobalah menghadapi perjuangan. Belajar sulit itu perlu, agar mental kita lebih kuat. Sehingga  tidak pernah menjadi pecundang. Hanya berani diawal saja, setelah itu menghilang entah kemana. 

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...