Kamis, 28 September 2023

Bismillah Ada Allah




Kita tidak mungkin bisa menyenangkan hati semua orang. Mengingat kita bukan siapa-siapa. Tidak ada manusia yang sempurna dimuka bumi ini. Tidak ada juga manusia yang selau benar.

Keputusan-keputusan yang telah diambil adalah hal terbaik. Sekalipun juga pilihan, yang mengetahui resikonya dan terbaiknya adalah pengambil keputusan. Segala hal yang telah diambil maka harus dipertanggung jawabkan sepenuhnya dan dilakukan dengan sebaik mungkin.

Ketakutan-ketakutan yang ada kadang berangkat dari diri sendiri itu muncul secara alami. Rasa takut yang timbul disebabkan banyak faktor. Bisa dari diri sendiri dan dari luar atau lingkungan. Sampai pada akhirnya akan menimbulkan ketidak percayaan diri.

Saya menjadi ingat lafadz dalam Al Hikam manusia itu "mangkanat makhasinuhu masyawia, fa kaifa latakunu masyawihi masyawia". Yang intinya manusia yang dalam baiknya saja dinilai salah. Sehingga lakukan saja mana yang terbaik, selagi tidak melukai dan merugikan dunia dan akhirat.

Bismillah ada Allah yang selalu menjaga dimana pun kita berada. Yakin seyakin yakinnya kita bisa dan mampu melewatinya. Sekalipun semua manusia menolak, jika Allah sudah berkehendak maka tidak akan kurang jalan.

Kepada diriku kamu terima kasih telah mau berjuang. Kepada diriku kamu berharga dan kamu tidak perlu takut untuk melangkah. Optimis dan jadilah Filza yang seutuhnya, apa adanya. Penuh dengan ceria dan bahagia, tempatkan dirimu sebaik mungkin. 

Minggu, 24 September 2023

ketidaksiapan itu melanda

 


awalnya hanya sekedar mengenal

takut untuk lebih dekat

bukan sebab paksaan

namun mengalir alami begitu saja

harusnya tidak merasa kehilangan

tetapi sebaliknya

ketidaksiapan itu melanda

hingga galau tiada tara

Sabtu, 23 September 2023

Wayang Di Muka Bumi




Angin Yang Kencang Menghampiri

Tertiup Sejauh Ia Berhenti

Aku Sungguh Menikmati

Mengikuti Arus Yang Terjalani


Bukan Untuk Menyerah

Apalagi Bentuk Pasrah

Melapangkan Hati Kepada Penguasa

Penuh Dengan Usaha Dan Ikhtiar


Menjadi Wujud Manusia

Sebagai Wayang Di Muka Bumi

Menjalani Peran Terbaik Dari Tuhan

Tak Perlu Mencaci Maki

Selasa, 19 September 2023

Waktu

 



Waktu Begitu Cepat

Tidak Terasa Menemui Bulan Yang Sama

Waktu Begitu Lama

Seperti Sebuah Penantian

Yang Sebetulnya

Dan

Waktu Bukan Ukuran Para Penanti

Jika Sudah Jatuh Cinta

Maka Menuggu Dan Menanti Akan Terus Dijalani

Senin, 18 September 2023

Asyik Tanpa Rasa

 




Kububuhkan Rasa Untuk Menyapa

Kepada Pemilik Jagat Raya

Menengadah Meluapkan Keluh Kesah

Jangan Biarkan Asyik Yang Tanpa Rasa

Wahai Tuhan Alam Semesta

Rindu Yang Menjadi Candu

 




Rinduku Bukan Biasa Rindu

Rindu Menjadi Candu

Hingga Mengingat Saja Rasanya Tidak Perlu


Rindu Menjadi Racun

Ingin Sekali Kulenyapkan  

Hingga Menghilang Tanpa Mengenal

Meski Hanya Sebatas Waktu Itu

 



Ketika Bintang Pijar Menyala

Semua Memanggil Ditengah Hitamnya Langit

Bintang Itu Tidak Hanya Satu-satunya


Begitu Dengan Mawar Merah

Dia Berada Dihamparan Sabana Menguning

Hanya Dia Yang Terlihat


Menyala Mencoloknya Warna 

Harum Sudah Wajar Adanya

Jangan Melayu Dan Menghilang

Meski Hanya Sebatas Waktu Itu 

Sabtu, 16 September 2023

Mie Gacoan Dengan Silaturrohim



Hari ingin sekali mengajak suami makan di mie gacoan. Mie gacoan dengan slogan Mie Pedas No.1 di Indonesia. Berangkat dari rumah setelah ashar. Awalnya tujuan ke kota Tulungagung akan gandakan buku, setelah sampai ke tukang fotocopy ternyata belum bisa alias antri. Maka ada yang tujuan yang lebih utama yakni di mie gacoan.

Mie Gacoan memang terkenal sekali. Dulu ketika masih di Malang ada mie setan. Mie setan persis sekali rasanya dengan mie iblis lengkap dengan levelnya. Macam-macam menu di mie gacoan yang sekarang lebih bervariasi. Dulu ada mie angel sekarang mie hompimpa. Dan perbedaannya nama menu esnya juga demikian. Kalau di mie setan dulu ada es gendruwo, jika sekarang ada es gobak sodor.

Memang suami saya baru pertama kalinya ke mie gacoan Tulungagung. Kalau saya masih dua kali ini. Kalau di Malang pada waktu itu seperti agenda setiap weekend. Alhamdulillah meskipun pertama beliau approve dengan menunya. Kami memesan beberapa menu diantaranya somay 2, pangsit goreng 1, mie gacoan level 6, mie hompimpa level 3, minumnya ada green tea 1 dan es gobak sodor 1. Awalnya suami ingin mie hompimpa level 4. Saya pun bertanya "Are U sure?" Langsung direvisi oleh beliau jadi level 3.

Sesampai di parkiran saya sempat turun sebab membayar parkir, saya melihat mobil putih yang tidak asing dan beberapa orang turun. Saya pun dibenak sepertinya saya mengenal dengan beliau dan saya pernah tahu namun saya lupa entah dimana pernah bertemu. Datang antri dengan kostumer lain yang lumayan sangat banyak. 

Saya ada di depan beliau dengan menunggu suami yang parkir motor. Sampailah kepada kasir, saya tetep melihat beliau dan rombongan yang mendekat untuk meyakinkan beberapa menu pilihan. Saya memakai masker, tapi saya tetep berkata "Ya Allah niki sinten? Kados pernah panggeh, namun Kok nggak nemu-nemu niki memori" ingin sekali menyapa, tapi takut dan sungkan luar biasa.

Setelah pembayar selesai dan mendapatkan nomer meja, ternyata ada WA masuk. "Bu Filza...." dengan lengkap di capture logo Mie Gacoan. Langsung saya interogasi si WA ini, yang kebetulan saya mengenalnya. Ternyata Mas ini, nderekaken beliau-beliau (ning-ning) dari Pondok Pesantren Ngunut.

Kami berbeda meja, saya diujung utara beliau-beliau di ujung selatan timur. Fokus makan, dan selesai makan. Alhamdulillah Biidznillah saya berkesempatan untuk menyapa sekaligus sungkem kepada beliau-beliau. Tabarrukan mugi-mugi keluberan barokahnya. 

Jujur peristiwa ini, membuat hati bahagia dan senang. Sebab, saya pun tahu ini kesempatan langka, meskipun tidak lama sekedar menyapa entah hati ini plong sekali. Sekaligus memohon maaf sebab tidak menyapa dari awal. Di mie gacoan Alhamdulillah bisa silaturrahim dengan beliau.

Jumat, 15 September 2023

Proses Editing



Menghantarkan sebuah kumpulan tulisan para siswa tidaklah mudah. Ingin rasanya sekali duduk, langsung selesai. Namun apa daya, ternyata harus sistem nyemil. Sedikit demi sedikit harus terus dikerjakan. Agar cepat selesai dan segera menghasilkan sebuah karya. Karya yang telah di tunggu oleh mereka.

Proses pengumpulan tulisan dari anak-anak memang tidaklah mudah. Perjuangannya luar biasa dari mulai kelas empat hingga kelas lima. Memang, di tahun pelajaran yang sudah berbeda. Tetapi proses menulis tetap dijalankan agar eksistensi literasi tetap terjaga.

Ketika proses editing, beberapa cerita dari mereka membuat senyum dan rasa bangga luar biasa kepada mereka. Ternyata cerita mereka lucu apalagi terkait dengan pengalaman baris berbaris. Meskipun tulisan mereka masih dengan bahasa yang campur aduk dan kebanyakan tidak baku. Tetap, membuat bangga dan senang. Selain itu ada nilai lebih tersendiri, yakni mereka ternyata memiliki kosa kata penulisan yang kaya.

Pada kegiatan editing ini menurut saya, terdapat nilai seni. Menulis yang kreatif, segala yang ada dipikiran ditulis oleh mereka. Sebagai editor tentu harus memahami bahkan mengimajinasikan menjadi mereka. Harapannya tugas ini akan segera selesai dan bisa segera dihantarkan kepada penerbit. Tentu saja segera terbit. Semoga membawa manfaat yang besar bagi semuanya. Amin

Kamis, 14 September 2023

Puisiku Sunyi Tanpamu

 



Sunyi Sendiri Ditengah Hamparan Bumi

Meluaslah Pikiran Sedalam Lautan

Mencoba Tenang Di Tengah Terjangan Ombak

Kupilih Kata Yang Bukan Sembarang


Akankah Puisiku Sunyi?

Tanpa Nyaringnya Suara Jiwa?

Biarkan Saja Meski Tanpamu

Puisiku Akan Tetap Ada

Hanya Sebagai Bukti Kecil Suatu Karya

Rabu, 13 September 2023

Belum Memiliki Anak Apakah Aib?





Kadang manusia mengukur manusia lain, dengan ukurannya sendiri. Membuat indikator kebahagiaan orang lain, dengan indikator dirinya sendiri. Hal demikian kadang mau disalahkan pun tidak bisa.

Manusia memang unik dengan segala jalan ceritanya. Ketika umur sudah dianggap cukup, pasti ada pertanyaan "kapan menikah?" Ketika selesai menikah "kapan punya anak?" Pertanyaaan hal itu bersifat umum dan akan sebatas pertanyaan. Permasalahannya adalah jika pertanyaan kearah memaksa untuk dijawab, maka penjawab pertanyaan tersebut harus berbesar hati. Meskipun terkadang serasa tidak ingin menjawabnya.

Setiap manusia memiliki cerita tersendiri. Kadang penanya tidak memiliki niat untuk menyakiti, apalagi terkait pertanyaan seperti di atas. Kemudian ada kata perbandingan "ini sudah hamil, itu sudah lahiran" maka tujuan bertanya rasanya tidak ada. Lebih kepada kepo dan membandingkan. Apalagi yang sering terdengar "yuh disalip ini, disalip itu" kadang dibenak menjawab "emang mau kemana sih, harus salip-salipan, seperti naik motor". Konteks apapun jika tujuannya hanya membandingkan pun akan terasa sakit. Siapa yang mau dibanding-bandingkan.

Ada kategori, yang awalnya bertanya lalu memberikan doa terbaik dan beberapa sharing untuk memberikan solusi, sekaligus memberikan motivasi. Hal ini menurut saya lebih baik dari pada bertanya tapi membandingkan. Yang utama ketika pejuang garis dua, mendapati hal demikian, jawaban yang bijak adalah "pangestune".

Segala yang diberikan Allah untuk perjalanan hidup seseorang segalanya harus disyukuri. Diberikan Allah waktu untuk terus belajar dari segala kehidupan. Membangun mental yang kuat, tahan banting, meskipun kadang ada lunglainya menangis, namanya juga manusia biasa.

Ranah yang sangat pribadi tidak elok jika ditanyakan. Apalagi terkesan memaksa untuk dijawab. Belum memiliki momongan bukan aib. Sebab ada campur tangan Allah, Allah memberikan jalan kepada hambanya sendiri-sendiri. Nikmati proses yang ada. Sehingga harus bijak, dan senyum saja jika mendapati demikian. 

Ada Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya. Pokoknya jangan lupa untuk bersyukur. Dilanjutkan dengan tetap usaha dan berikhtiar sekuat tenaga. Keep Fighting Pejuang Garis Dua. Semoga yang segala yang dicita-citakan bisa hasil dan terwujud yang membawa barokah. Amin

Senin, 11 September 2023

Sebegitu Mengenanya Terhadap Mental




Pernah suatu momen merasa hancur. Bahkan menertawakan diri sendiri. Merasa takut, merasa salah terus dalam setiap melangkah. Bahkan menjadi sosok yang kurang percaya diri. Bertemu manusia lain saja, tidak tatag, kalau istilah Jawanya "wedhi karepe dewe".

Setiap hari isinya hanya menangis. Makan tidak selera bahkan. Wajah lusuh dan murung. Kadang berfikir sampai dititik yang sangat lemah. Dan itu bukan diri ini sesungguhnya, berbeda jauh dengan sebelumnya. 

Ternyata benar, ketika mental tidak sehat semakin kita memikirkannya akan semakin hancur dan ruwet. Jalan utamanya adalah berkomunikasi dengan Allah. Yang menguatkan adalah ayat-ayatNya, kalimat-kalimat toyyibahNya. Perbanyak sholat dan sholawat yang meskipun otak dan hati berkeliaran berkelana entah kemana.

Mata sembab, lapar tak dirasa. Alhamdulillah dan syukur tiada henti ketika dikelilingi orang terdekat seperti family orang tua, teman, sahabat, guru yang luar biasa. Segalanya bisa komunikasikan dengan baik dan diselesaikan dengan baik. Terutama kehadiran suami dan doanya yang tak pernah henti begitu juga dengan orang tua.

Jika teringat peristiwa itu, kadang tersenyum sendiri ternyata mampu melewatinya dengan luar biasa jalannya. Sehingga hikmah dan pelajaran berharga bisa diambil. Tidak mudah melewati ujian yang luar biasa tersebut. Sebagai manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.

Tidak boleh berlama-lama dengan hal itu. Maka harus bangkit dan kembali kejalan serta aktivitas selanjutnya. Kembali fokus dengan yang didepan mata. Lakukan dengan yang terbaik dan berdoa yang tiada henti.

Menjadi sosok manusia yang tenang, penuh kehati-hatian dan lebih bijaksana lagi. Penuh dengan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan. Setiap orang memiliki peran yang berbeda-beda. Ujian dan masalah pada orang hidup itu selalu ada. Kadang dari ujian atau masalah itu akan membuat lebih dewasa. Jika tidak menghendaki ada ujian atau masalah, maka artinya tidak hidup.

Ujian atau masalah yang kita lalui pun, sesuai takaran, ketika mendapatkannya berarti kita mampu melaluinya dan itu jelas tercantum pada surah Al Baqarah ayat 286. 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (Q.S Al Baqarah:286)

Minggu, 10 September 2023

Mental Penulis


Setiap penulis memiliki mental yang berbeda. Saya pernah membaca salah satu buletin mingguan dari SPK Tulungagung yang telah ditulis oleh Bu Eti, ada sebuah toxic di dunia penulisan. Mental penulis ketika akan menulis yang biasanya sering muncul adalah kurang atau bahkan tidak percaya diri. 

Hal ini akan dirasakan setiap orang yang akan memulai menulis atau pemula. Kadang rasa kurang percaya diri akan muncul dari diri sendiri atau bahkan dari luar. Tetapi, kita sebagai penulis harus meminimalisir hal tersebut dengan berbagai cara. 

Ketika kita memiliki tulisan, kita harus memiliki orang yang tepat untuk sekedar membaca, memberikan kritik atau saran. Orang yang tepat dalam artian ketika ada kritik atau saran, kita malah semangat bukan malah menyerah atau bahkan marah. Hingga kehilangan keahlian menulis lenyap, sebab orang yang kurang atau tidak tepat kita pilih sebagai penyemangat.

Sadar atau tidak sadar bahwa ada "fadhol" dalam menulis yakni sesuatu yang harus dan bahkan patut disyukuri ketika kita mampu menulis. Hal dasar tersebut harus sering kita munculkan, agar tetap menulis. Menulis itu tidak salah, tetapi kita harus tahu apa yang kita tulis. 

Mental yang kuat harus ditanamkan yakni dengan tekad serta semangat. Bertekad untuk tetap menulis, sekalipun tulisan kita ringan dan seputar cerita sehari-hari. Justru dari tulisan ringan akan segera menghantarkan kepada dunia. Entah dunia yang di bagian mana.

Ketika mengikuti acara kemarin, ada seorang mahasiswa yang bertanya kepada narasumber. Dia mengaku bahwa ketika sedang galau, dia menulis puisi. Puisi tersebut dia katakan sebagai "pujangga culun". Seketika itu direspon dengan baik oleh narasumber.

"Pujangga Culun" akan diantarkan sebagai puisi yang keren. Puisi sejatinya juga tulisan, dan tidak ada yang salah. Namun, puisi akan bagus ada banyak kalimat yang menggunakan majas. Misalnya majas ironi, hiperbola, personifikasi dan majas lain. Dikemas dengan menghadirkan jiwa.

Kemudian menjadi penulis harus berterus terang. Dunia tidak akan mengetahui bahwa kita penulis, jika tidak berterus terang. Jangan malu dengan tulisan kita. Terus saja menulis, apapun yang telah dihadapi bahkan komentar mereka yang mencibir.

Berterus Terang




Akan Menjadi Gemuruh Dunia

Jika Hanya Bagian Berisik

Akan Menjadi Kabar Angan

Jika Hanya Bagian Rahasia

Penutup Dan Tertutupnya Jendela


Berterus Terang Menjadi Candu

Kehalusan Kejujuran Jangan Hanya Diam

Berterus Terang Menjadi Satu

Agar Tepat Mengambil Keputusan

Dan Cepat Kuucapkan Terima Kasih

Atas Segala Perhatian

Perjalanan Pulang Dari UNESA







Setelah acara talkshow, istirahat untuk ishoma lalu dilanjutkan dengan rapat bersama Sahabat Pena Pusat. Kami dipersilahkan dalam ruangan pimpinan Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA. Ruangan tersebut sangat bersih dan dingin lengkap dengan fasilitas lainnya. 

SPK Pusat kepengurusan dan anggotanya adalah orang-orang hebat terdiri dari beberapa guru besar dari kampus ternama (Profesor) dan Bapak/Ibu Doktor. Bu Eka Zahra, beliau adalah sekretarisnya dari SPK Tulungagung dan Ibu Dr. Hitta dari UNESA sebagai ketuanya. Rapat yang berlangsung juga diikuti anggota yang lain melalui daring. Kami mengikuti rapat tersebut sampai pukul setengah lima sore.

Setelah itu sholat dan persiapan pulang. Ternyata sopir armada kami berganti, yang awalnya bernama Mas Luki, diganti dengan Mas Yusuf. Mas Luki harus terpaksa pulang karena Mbahnya wafat. Sebelum pulang tentu saja SPK Tulungagung mengabadikan momen dengan foto didepan icon FIP UNESA.

Setelah itu baru menentukan apakah kita mampir di Pakuon atau pulang. Teman-teman sepakat pulang. Nanti di rest area sholat dan makan. Perjalanan cukup padat tetapi asyik sekali disuguhkan bangunan-bangunan megah, menjulang tinggi. Sampailah kita masuk tol dan di rest area Km 726. Dalam benak saya, sepertinya saya pernah mampir disini tapi entah kapan.

Di rest area 726 fasilitasnya lengkap sekali, mulai dari toilet, masjid, minimarket, segala bentuk makanan, kopi ternama pun juga tersedia. Bu Eka mengeluhkan pusing, sehingga kami berjalan menuju mini market membeli tolak angin. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan.

Keluar tol, saya baru ingat malam ahad sehingga berdoa semoga tidak macet. Faktanya, mau menuju Kertosono macetnya luar biasa. Kalau tidak macet perkiraan pukul setengah sepuluh sampai rumah. Di Kertosono macet sekali, jalannya hanya sedikit-sedikit kendaraan besar-besar mulai dari truk, bus, mobil yang bisa menerobos kemacetan memang motor.

Di momen macet tersebut, Bapak-Bapak  dibelakang tertidur pulas ada Pak Supri, Mas Yono, Pak Thoriq dan Pak Imam. Hanya Ibu-Ibu dan sopir Mas Yusuf yang berbincang-bincang, guyonan untuk menghilangkan penat sesekali Pak Thoriq nyambung guyonan kita. Tidak lupa kita pun sambil ngemil. Ada Bu Nik, Bu Siti, Mbak Zidan, Bu Eka yang membahas angin yang cukup kencang terlihat di kaca mobil.

Bu Nik yang menurut saya lucu dan gokil, sebab hp beliau baterainya lemah tapi ketika dicas tidak malah nambah tapi berkurang, sebab ketika dicas tetap dipakai. Semua serentak tertawa. Lalu kami mendengar ada kabar duka salah satu tokoh Gus Adib wafat. 

Ketika macet saya mencoba menulis. Tiba-tiba saya mual dan minyak kayu putih sudah saya pakai, namun tetap mual. Sehingga saya akhirnya meminta tolak angin Bu Eka. Alhamdulillah membaik dan keluar dari Kertosono, Mas Yusuf melaju lancar menuju Tulungagung.

Saya tertidur pulas dan bangun ketika sudah masuk Kabupaten Tulungagung. Bu Siti adalah orang pertama kali turun, di dekat gang Kemenag, setelahnya baru Bu Nik didepan RS Bayangkara. Selanjutnya adalah Mbak Zidna diantar sampai depan rumah. Kemudian semua rombongan turun di rumah Bu Eka, tepat pukul setengah sebelas.

Alhamdulillah suami dan Pak Roni sudah standby didepan rumah Bu Eka. Langsung saya pamit dengan teman-teman yang lain. Pak Supri bersama Mas Yusuf bareng sampai kearah timur. Sebab arah travel ke bendiljati. Perjalanan ini sangat terkesan dan lancar. Saya sangat berterima kasih kepada semuanya. Semoga dilain kesempatan bisa bergabung kembali. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dan jangan lupa, jangan lelah untuk menulis.

Salam literasi

Part 3 SPK Di UNESA Bersama Ning Khilma Anis



Ning Khilma Anis, kepanggeh beliau masih yang ketiga kali. Namun rasa kagumnya tetap sama. Kita tahu beliau memang salah satu tokoh perempuan yang luar biasa di bidang menulis. Serta dari kalangan pesantren (santri), menurut saya beliau sosok inspirasi yang luar biasa.

Memang nama beliau kencang dikenal pada novel Hati Suhita dan telah difilmkan. Perjalanan dalam menulis serta pengalaman beliaulah yang hari ini benar-benar kita simak. Setiap penulis memiliki perjalanan yang luar biasa. Beliau menjelaskan dengan gamblang. Mulai dari pertama menulis hingga corak menulisnya.

Tulisan Ning Khilma memang identik dengan perempuan Jawa. Perempuan dan Pulau Jawa dengan segala budaya dan tradisi bahkan sejarahnya. Beliau mulai menulis ketika mahasiswa semester tiga. Memulai dengan cerpenis komunitas kampus di UIN Kalijaga. Yang menarik adalah beliau dengan gamblang memaparkan tips serta motivasi dalam menulis. Bahkan barokahnya menulis.

Dalam kesempatan ini beliau selalu menyampaikan pesan almarhum Abah beliau. Diantaranya adalah kuasai satu hal, pelajari, gali dan geluti. Beliau akhirnya benar-benar mempelajari, mendalami dan menggeluti dunia menulis. Hingga hasil sampai salah satu karyanya Hati Suhita, yang menurut beliau ketika itu berangkat dari keisengan menulis di FB. 

Beliau mengatakan bahwa menjadi penulis jangan alergi dengan teknologi, harus kreatif dan inovatif. Ketika beliau mendapatkan peristiwa tidak enak di FB, maka tetap harus maju. Sehingga menjadi penulis yang kreatif dan inovatif ternyata tidak cukup, harus ada kolaboratif dan adaptif. Keempat hal tersebut harus jalan. 

Selanjutnya beliau menjelaskan memang menulis itu awalnya pasti dipaksa dan terpaksa, namun jangan pernah patah semangat. Beliau memberikan resep agar tidak terpaksa diantaranya "seneng, kenceng, kepareng, wilujeng".

"Seneng" memiliki arti senang, dan orang yang senang pasti akan langgeng. 

"Kepareng" jika memang mau menulis cobalah untuk wudhu dan kirim doa-doa serta izin dan dukungan dari orang terdekat.

"Wilujeng" akan berhasil dan berkah  tambah kebaikan. Dan berkah tidak selalu dinilai dengan materi.

Ketika menulis berilah niat untuk "lung-tinulung" yang memiliki makna saling menolong. Sebab dari tulisan kadang kita akan tersadar dan berubah. Lalu ingat pesan salah satu tokoh pewayangan yakni Semar "ojo mati tanpo aran, ojo mati tanpo jeneng, lan ojo mati tanpo karya". Dan Ning Khilma juga memberikan dorongan bahwa lebih baik kita menulis walau sedikit, kita sumbangkan di jagat literasi, dari pada tenggelam diangan-angan saja. Sehingga mari menulis mungkin salah satunya dengan bergabung dengan komunitas.

Karakter tulisan Ning Khilma selain identik dengan perempuan Jawa, menurut beliau menulis hendaknya memiliki karakter yang kuat serta ada muatan intelektualnya. Semua itu didapat dengan membaca buku. Namun, membaca buku pun tidak cukup maka seorang penulis harus sering berdiskusi. Ning Khilma juga menjelaskan sebagai penulis pemula "Harus memiliki tokoh idola penulis" tentukan buku pertama sampai terakhir lalu membuat kerangka karangan.

Disitulah saya pribadi merasakan bahwa kegiatan ini berisi daging semua. Segalanya sangat penting dan membuat saya semakin bersemangat untuk menulis. Kesempatan yang luar biasa ini patut disyukuri, sebab tidak semua orang mendapatkannya. Terima kasih kepada semua teman-teman SPK Tulungagung terutama kepada Prof. Ngainun Naim, M.HI 

Sabtu, 09 September 2023

Part 2 SPK Di UNESA Bersama Dr. Much Koiri, M.Si


Acara Talkshow Literasi kali ini, dua narasumber dipersilahkan di panggung dengan dipandu oleh satu moderator yang asyik. Pesertanya selain komunitas SPK Pusat dan SPK cabang Tulungagung, sebagian besar adalah mahasiswa PGSD dan beberapa mahasiswa Sastra Inggris UNESA. Pada opening saja, moderator atau MC di talkshow tersebut membawakannya sudah dengan sangat enjoy, sehingga magnet perbincangan dan pembahasan untuk selanjutnya akan semakin menarik.

Banyak sekali catatan-catatan penting ketika dua narasumber hebat tersebut mengutarakan hal tentang menulis. Kali ini saya mencoba akan menuliskan dan merangkum bagian dari narasumber yakni Dr. Much Koiri, M.Si.

Beliau memiliki karya berupa buku yang sudah puluhan dan founder Rumah Virus Literasi. Beliau dikenal sosok yang humoris. Beliau menjelaskan bagaimana proses awal menulis hingga berkomitmen untuk melahirkan karya berupa tulisan sampai menjadi buku setiap akhir tahun akan berusaha untum diterbitkan.

Selain itu, beliau menjelaskan bahwa menjadi penulis harus mampu mereset atau meneliti, minimal membaca. Sebab menulis dan membaca itu sama hukumnya yakni wajib. Menulis itu harus berangkat dari pikiran dan jiwa.  

Beliau mengibaratkan menulis seperti menjelajah kebun. Bertanam imaginasi dan fakta sehingga menulis akan menghantarkan kepada kreatifitas. Sebagai penulis di zaman teknologi yang luar biasa ini, maka mau tidak mau harus mengikutinya dan memanfaatkan dengan baik, mulai dari IG, Youtube, TikTok, Twitter, Tread dan lain sebagainya.

Beliau juga menjelaskan tantangan sebagai penulis salah satunya adalah adanya AI. Semua serba cepat dan mudah. Maka sangat mudah sekali copas, sehingga mahasiswa atau pun penulis harus mampu menuliskan karya yang otentik. Lalu menulis tentang traveling adalah salah satu jenis tulisan yang banyak dinikmati oleh pembaca.

Itulah secuil rangkuman dan catatan isi dari narasumber Dr. Much Koiri, M.Si yang menurut saya sangat luar biasa. Kegiatan ini memberikan energi yang sangat positif terutama di dunia literasi.

Masih ada cerita keren dari narasumber Ning Khilma Anis, yuk next Part 3. 

Jumat, 08 September 2023

Perjalanan SPK Di UNESA


Pengalaman luar biasa, hari ini bersama teman-teman SPK berangkat ke Surabaya tepatnya di kampus UNESA. Berangkat dari rumah dan persiapan dari jam tiga dini hari. Dingin yang luar biasa tetap diterjang. Saya berangkat dari rumah diantar oleh suami, lengkap dengan jaket tebal dan tas ransel dan tak lupa dengan beberapa cemilan.

Kami berkumpul dititik kumpul di rumah Bu Eka, salah satu anggota SPK. Rencana pukul empat tepat berangkat, ternyata kita berangkat pukul lima. Dan beberapa kawan menunggu di beberapa titik. Dititik depan RS Bhayangkara dan RS Trisna Medika.

Perjalanan sampai di Kolak Kediri untuk sarapan. Beberapa memilih menu soto dan yang lain pecel lengkap dengan teh hangat dengan gelas lumayan besar, jam enam lebih sepuluh melanjutkan perjalanan. Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman, kemudian saya merasa ngantuk dan tertidurlah. Dan bangun-bangun sudah sampai tol Jombang.

Sempat berhenti di Pom untuk ke toilet dan mengisi token untuk tol. Setelah perjalanan cukup lama, sampai juga di kampus UNESA Surabaya pukul delapan lebih tiga puluh menit. Dan semua turun, jalan kaki, Bu Eka sempat beberapa kali tanya satpam untuk menuju lokasinya. 

Ternyata jauh dan lumayan untuk jalan kaki. Sempat salah satu teman Pak Thoriq berkata "wah Mbak Filza dan Mbak Eka jalan kaki lumayan membakar kalori" saya dan Bu Eka pun tertawa kecil. Akhirnya kami menemukanlah tempat Kopdar SPK diselenggarakan. 

Acara sudah dimulai dengan beberapa sambutan. Dan setelah mengisi daftar hadir barulah kita masuk. Namun, sebelum itu saya dan Bu Eka mencari toilet. Dan kita mengikuti acara ini dengan saksama. Acara ini sangat keren. Mau membaca selanjutnya, cus Part 2. Jargon acara ini, "Talkshow Literasi" serentak semua berkata "Berkreasi Untuk Negeri"

Yuk Lanjut Part 2

Rabu, 06 September 2023

Ubinnya Terlalu Dingin




Lorong Tak Pernah Berhenti

Suara Gledek-Gledek Silih Berganti

Orang Berlalu Lalang

Kesana Kemari Tatapan Mata Penuh Arti


Jangan Kau Keraskan Suara

Dengan Kalimat Sabar Dengan Tawa

Mereka Sedang Berharap Penuh Kembali

Bukan Tawa Terbahak

Atas Alasan Menghibur Hati


Jangan Kau Tinggikan Suara

Diruangan Yang Dingin

Ruang Berjuang Antara Hidup Dan Mati

Jangan Kau Tutupi Kuasa Tuhan


Dengan Sotoy Segala Kemungkinan

Cukup Dampingi Dengan Doa Dan Ngaji

Jangan Kau Selingi Percakapan Tanpa Arti

Semua Berharap Hanya Terbaik Kali Ini

Senin, 04 September 2023

Melupa


Begitukah Caramu Melupa

Hingga Membuatku 

Tak Berharga


Tak Mengapa Diam

Hingga Buang Muka

Amnesia Bahkan Tak Butuh


Tidak Mengapa

Kau Buat Sia-sia

Semoga Kutetap Bersahaja

Tunggu Kanku Tunjukkan

Aku Berhak Bahagia

Minggu, 03 September 2023

Menepi





Menepi Menghela Menepis

Menyala Membara Membakar

Seperti Bara Yang Memerah

Menyengat Rasa Amarah 


Jerat Dan Hempaskan

Tahan Atau Lepaskan

Hembusan Nafas Melegakan

Segera Menepi Sebelum Hilang Kendali

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...