Setelah acara talkshow, istirahat untuk ishoma lalu dilanjutkan dengan rapat bersama Sahabat Pena Pusat. Kami dipersilahkan dalam ruangan pimpinan Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA. Ruangan tersebut sangat bersih dan dingin lengkap dengan fasilitas lainnya.
SPK Pusat kepengurusan dan anggotanya adalah orang-orang hebat terdiri dari beberapa guru besar dari kampus ternama (Profesor) dan Bapak/Ibu Doktor. Bu Eka Zahra, beliau adalah sekretarisnya dari SPK Tulungagung dan Ibu Dr. Hitta dari UNESA sebagai ketuanya. Rapat yang berlangsung juga diikuti anggota yang lain melalui daring. Kami mengikuti rapat tersebut sampai pukul setengah lima sore.
Setelah itu sholat dan persiapan pulang. Ternyata sopir armada kami berganti, yang awalnya bernama Mas Luki, diganti dengan Mas Yusuf. Mas Luki harus terpaksa pulang karena Mbahnya wafat. Sebelum pulang tentu saja SPK Tulungagung mengabadikan momen dengan foto didepan icon FIP UNESA.
Setelah itu baru menentukan apakah kita mampir di Pakuon atau pulang. Teman-teman sepakat pulang. Nanti di rest area sholat dan makan. Perjalanan cukup padat tetapi asyik sekali disuguhkan bangunan-bangunan megah, menjulang tinggi. Sampailah kita masuk tol dan di rest area Km 726. Dalam benak saya, sepertinya saya pernah mampir disini tapi entah kapan.
Di rest area 726 fasilitasnya lengkap sekali, mulai dari toilet, masjid, minimarket, segala bentuk makanan, kopi ternama pun juga tersedia. Bu Eka mengeluhkan pusing, sehingga kami berjalan menuju mini market membeli tolak angin. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan.
Keluar tol, saya baru ingat malam ahad sehingga berdoa semoga tidak macet. Faktanya, mau menuju Kertosono macetnya luar biasa. Kalau tidak macet perkiraan pukul setengah sepuluh sampai rumah. Di Kertosono macet sekali, jalannya hanya sedikit-sedikit kendaraan besar-besar mulai dari truk, bus, mobil yang bisa menerobos kemacetan memang motor.
Di momen macet tersebut, Bapak-Bapak dibelakang tertidur pulas ada Pak Supri, Mas Yono, Pak Thoriq dan Pak Imam. Hanya Ibu-Ibu dan sopir Mas Yusuf yang berbincang-bincang, guyonan untuk menghilangkan penat sesekali Pak Thoriq nyambung guyonan kita. Tidak lupa kita pun sambil ngemil. Ada Bu Nik, Bu Siti, Mbak Zidan, Bu Eka yang membahas angin yang cukup kencang terlihat di kaca mobil.
Bu Nik yang menurut saya lucu dan gokil, sebab hp beliau baterainya lemah tapi ketika dicas tidak malah nambah tapi berkurang, sebab ketika dicas tetap dipakai. Semua serentak tertawa. Lalu kami mendengar ada kabar duka salah satu tokoh Gus Adib wafat.
Ketika macet saya mencoba menulis. Tiba-tiba saya mual dan minyak kayu putih sudah saya pakai, namun tetap mual. Sehingga saya akhirnya meminta tolak angin Bu Eka. Alhamdulillah membaik dan keluar dari Kertosono, Mas Yusuf melaju lancar menuju Tulungagung.
Saya tertidur pulas dan bangun ketika sudah masuk Kabupaten Tulungagung. Bu Siti adalah orang pertama kali turun, di dekat gang Kemenag, setelahnya baru Bu Nik didepan RS Bayangkara. Selanjutnya adalah Mbak Zidna diantar sampai depan rumah. Kemudian semua rombongan turun di rumah Bu Eka, tepat pukul setengah sebelas.
Alhamdulillah suami dan Pak Roni sudah standby didepan rumah Bu Eka. Langsung saya pamit dengan teman-teman yang lain. Pak Supri bersama Mas Yusuf bareng sampai kearah timur. Sebab arah travel ke bendiljati. Perjalanan ini sangat terkesan dan lancar. Saya sangat berterima kasih kepada semuanya. Semoga dilain kesempatan bisa bergabung kembali. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dan jangan lupa, jangan lelah untuk menulis.
Salam literasi